4.19.2008

Mahasiswa dan Indonesia

Rengasdengklok, 16 Agustus 1945
Langit Karawang hari itu menjadi saksi berkibarnya Merah Putih di beberapa sudut Rengasdengklok. Angin semilir meniup dwiwarna yang suci bagi bangsa ini. Melambai-lambai seolah memekikkan pada setiap yang lewat, “Indonesia akan segera merdeka!”
Sejak hari sebelumnya, tonggak-tonggak bambu yang ujungnya terikat kain persegi empat berwarna merah putih dipancangkan di depan beberapa rumah. Para pejuang muda Rengasdengklok sudah tidak sabar, Indonesia harus merdeka sekarang juga!
Pagi buta, saat ayam jantan masih menyisakan kokok nyaringnya serombongan orang datang dari Jakarta. Di antara mereka, seorang pria setengah baya yang tampak berwibawa berjalan tegap di depan rombongan. Sesekali ia berbicara dengan pria berkacamata yang tak kalah wibawa di sampingnya. Mereka kemudian masuk sebuah rumah sederhana, milik seorang Tionghoa. Beberapa orang yang telah menunggu menyambut dengan pekikan, “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hatta, Indonesia sudah merdeka, Jepang sudah modar!”
Sebuah ruang tamu yang tidak seberapa luas menjadi saksi pertemuan golongan tua dan golongan muda itu. Mereka berunding, membicarakan sesuatu yang penting. Masa depan bangsa mereka yang berabad-abad menjadi bulan-bulanan penjajah.
“Anda harus segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia segera!” Seorang pemuda angkat bicara pada dua orang yang berwibawa itu.
“Segera?”
“Ya, segera! Hari ini, di sini! Kami sudah menyiapkan naskahnya,” tambah pemuda itu.
“Tidak! PPKI* sedang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan kami bertanggung jawab selaku pimpinannya.” Sergah orang yang baru datang dari Jakarta itu.
“Tidak bisa, PPKI adalah tipu muslihat Jepang, bangsa ini harus merdeka tanpa campur tangan penjajah...!” Pemuda itu makin tidak sabar. Suasana dalam ruangan itu makin memanas. Namun, dua orang “tetua” yang sedang dalam “penculikan” dan sedang “dituntut” oleh orang-orang muda itu bergeming dengan pendiriannya.
Para pemuda itu kemudian berunding menghadapi keteguhan sikap senior mereka. Beberapa di antara mereka menyusun perebutan kekuasaan tapi tidak semuanya mendukung rencana itu. Perjuangan mereka penuh liku-liku. Berat memang, memadukan keinginan-keinginan yang bersilangan.
Kabar berita dari rekan-rekan mereka di Jakarta tiada kunjung datang. Seorang pria muda dari kumpulan itu bergegas menuju Jakarta, hendak berunding dengan kawan-kawan seperjuangan mereka di sana.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Jarum jam membentuk kurva bersudut 120 derajat, menunjukkan pukul 08.00. Pria berwibawa yang biasanya tampak tegap itu masih meringkuk di atas tempat tidur. Ia menggigil, meriang.
Pating greges...*,” katanya pada dokter yang merawatnya.
Malaria tertiana menyerang pria berwibawa itu. Semalaman ia begadang dengan kawan-kawannya untuk merumuskan “masa depan” tanah air mereka di rumah itu. Rumah seorang laksamana Jepang yang simpati.
Sebuah suntikan chinineurethan intramuculair dan pil brom chinine dari dokter membuatnya merasa lebih baik. Pukul 09.00 ia bangkit dari tempat tidur, wibawanya telah kembali. Dikenakannya pakaian putih-putih yang semakin menampakkan kegagahannya.
Jum’at pagi itu, halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 Cikini itu terlihat sibuk. Beberapa orang tampak menegakkan sebuah tiang bambu, tepat di depan rumah. Beberapa lagi menyiapkan mikrofon. Mereka menyiapkan sebuah hajat besar dengan peralatan dan upacara sederhana, kemerdekaan Indonesia.
Pria berpakaian putih-putih itu berjalan tegap keluar menuju halaman. Rekannya yang berkacamata mendampinginya. Orang-orang yang hadir di rumah itu segera bersiap.
Pukul 10.00 pria berpakaian putih-putih itu membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Siaran radio menyiarkan langsung ke seluruh pelosok negeri. Di ujung kesederhanaan sebatang bambu, Merah Putih berkibar gagah di langit nusantara, Jum’at pagi itu. Pria-pria muda yang hadir menyaksikan peristiwa itu berpandangan, lalu tersenyum. Mereka menarik nafas lega, Indonesia sudah merdeka!

Alexandria, medio Juli 1945
Pantai di Laut Tengah pada malam itu masih mendeburkan ombak pada karangnya, seperti biasa. Semilir angin laut mengalunkan rhapsody kehidupan, seolah menyampaikan pesan dari satu tempat ke tempat lainnya. Kerlip lampu perahu nelayan melengkapi orkestra alam.
Sebuah jam kayu di dinding ruangan menunjuk 22.00, saat itu. Empat puluh kelasi kapal berwajah melayu berkumpul, membincangkan sesuatu. Perkumpulan itu dipimpin beberapa mahasiswa yang berwajah melayu juga. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
Suasana malam di ruangan itu terasa emosional. Para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di negeri Musa itu berpesan agar para kelasi itu mulai menabung. Jika setiap saat jihad kemerdekaan dikumandangkan, sebaiknya mereka meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.
Para kelasi yang sehari-hari berada di lautan samudra itu menyanggupi, “Jika fatwa sudah turun, kami akan memenuhi.”
Sumpah para kelasi itu tidak main-main. Tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, dua orang kelasi Indonesia berjalan kaki dari Tunisia menuju Kairo. Mereka ingin bergabung dengan mahasiswa dari tanah airnya yang banyak bermukim di Mesir, untuk melanjutkan perjuangan.
“Kami menerima fatwa yang dibawa teman-teman kami dari Indonesia, tentang haramnya bekerja di kapal penjajah,” jawab kedua kelasi itu ketika ditanya kawan-kawannya di Mesir tentang perjalanan jauh yang mereka tempuh.

Kairo, suatu masa di 1946
Sekelompok mahasiswa Indonesia itu melakukan demonstrasi. Beberapa pemuda berwajah Arab mendampingi rekan-rekan mereka di kampus Al-Azhar. Mereka melakukan long march ke beberapa sudut Kairo. Meneriakkan kemerdekaan bagi negerinya. Kemerdekaan yang seharusnya tidak perlu lagi diteriakkan dan sudah menjadi hak semua bangsa di muka bumi. Kemerdekaan tanpa penindasan.
Di beberapa gedung, bendera-bendera negara sekutu diturunkan. Menyamarkan agar tidak menjadi sasaran demonstrasi. Di depan kedutaan Hindia Belanda, pelajar-pelajar perantauan itu secara heroik mencampakkan paspor-paspor Hindia Belanda milik mereka.
Tak lama setelah itu, sebuah sesi persidangan Liga Arab di kota ini berlangsung haru. Beberapa mahasiswa Indonesia mendengarkan dengan seksama ketika sebuah resolusi tentang negeri mereka dibacakan. Akhirnya mereka lega, upaya diplomasi mereka dalam forum itu membuahkan hasil. Mereka menjadi saksi dukungan asing untuk kemerdekaan Republik Indonesia untuk pertama kalinya.

Kairo, Agustus 2007
Abdi berjalan dengan gontai meninggalkan lorong koridor Fakultas Ushuluddin. Pengumuman hasil ujian membuatnya bermuram durja. Ia harus mengulang lagi satu tahun di Tingkat Pertama ini. Al-Azhar tidak semudah yang dibayangkannya. Dengan lesu ia melangkahkan kaki meninggalkan gerbang universitas tua itu.
Saat memasuki rumah, Hasan menyambutnya dengan wajah muram. Ia segera menegrti nasib sahabatnya itu sama dengannya. Harus mengulang satu tahun lagi. Tanpa banyak berkata-kata Abdi duduk di samping Hasan yang sedang terpekur.
“Kita harus berbuat sesuatu!” Hasan memecah kesunyian.
“Ya, sebenarnya aku sadar bahwa aku terlalu aktif di organisasi, bergerak ke sana dan kemari sampai akhirnya sulit membagi waktu untuk belajar, tak tega aku menolak ajakan senior,” Abdi mulai curhat tanpa diminta.
“Aku pun begitu, terlalu sering berdiskusi dan terlalu asyik dengan geng-ku sehingga pelajaran di kuliah kurang ku perhatikan,” tutur Hasan.
Mereka lalu terdiam.
Abdi menarik nafas lalu berujar,“Sebenarnya apa yang kita lakukan tidak salah, namun seringkali kita kelewatan.....terutama soal waktu.”
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya Hasan.
“Tampaknya kalo bersama-sama kita akan lebih kuat menghadapi semua ini!”
“Ya, aku setuju. Kamu boleh tetap aktif di organisasimu dan aku juga tidak akan berhenti dengan diskusi-diskusi di kelompokku. Hanya saja kita harus merancang sesuatu agar kita bisa tetap bertahan pada koridor tujuan awal kita.”
Hasan dan Abdi meneruskan ide-ide yang ada dalam otak mereka. Mereka berdua sepakat akan berkampanya melawan rasib* di kalangan mahasiswa Indonesia. Hasan menghubungi kawan-kawan diskusinya, mengajak mereka memecahkan masalah perkuliahan bersama-sama. Abdi melakukan hal yang sama pada kawan-kawan organisasinya. Beberapa kali, para mahasiswa bebeda latar belakang ini berkumpul untuk merancang program demi Kampanye Anti-Rasib.
Hari demi hari, kampanye yang dimotori Hasan, Abdi dan kelompok mereka masing-masing semakin gencar. Orang-orang muda ini berusaha menciptakan suasana dan lingkungan berorientasi pada perkuliahan tanpa harus menarik diri latar belakang mereka; aktivis, pemikir, jago diskusi, bisnismen dan yang lainnya. Mereka juga menyampaikan kampanyenya ke PPMI agar bisa membuat rancangan program Kampanye Anti-Rasib yang lebih nyata dan terlihat hasilnya. Pucuk dicinta ulam tiba, Presiden PPMI dan kabinetnya segera mengadakan pertemuan membahas ide yang muncul dari “rakyat” mahasiswa Indonesia di Mesir.
Tak lama, PPMI merencanakan program Kampanye Anti Rasib secara lebih menyeluruh. Salah satunya adalah merancang bimbingan belajar yang mendatangkan dosen-dosen Al-Azhar. Melalui lobi yang mereka lakukan pada pihak rektorat, didampingi KBRI Kairo, akhirnya Al-Azhar memfasilitasi program itu dan menyediakan fasilitas dan dosen-dosen yang tulus ikhlas membimbing para mahasiswa Indonesia.

Kairo, 18 Agustus 2008
Siang yang terik itu, tidak mengurangi semangat para mahasiswa itu hadir di Auditorium Muhammad Abduh. Wajah para mahasiswa Indonesia yang hadir saat itu tersenyum cerah. Sabtu siang yang cerah itu, PPMI Mesir akan menerima penghargaan dari Universitas Al-Azhar atas keberhasilan mereka dalam Kampanye Anti-Rasib yang dapat mengurangi angka rasib hingga 90 persen.
Beberapa bulan setelah kampanye itu diresmikan oleh PPMI, organisasi persatuan pelajar Negara lain mengikuti kampanye yang dilakukan mahasiswa Indonesia. Kini, PPMI Mesir menjadi percontohan organisasi persatuan pelajar asing di Mesir. Karena itu Al-Azhar kini tidak hanya membimbing mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa asing lainnya.
Di sebuah sudut auditorium luas itu, Abdi dan Hasan tersenyum puas. Ternyata kebersamaan membuat mereka merasa lebih kuat. Entah rancangan apalagi yang ada di otak mereka sekarang. Penghargaan hari itu adalah kado terindah Peringatan Kemerdekaan RI ke-63 bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.

*) Keterangan:

- PPKI : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

- Pating greges (Jawa): Meriang semua

- Rasib (Arab) : Gagal dalam ujian

Cerpen di atas adalah sebuah cerpen fiksi-sejarah yang saya ikutkan lomba di peringatan 17-an di Kairo tahun 2007 lalu, dan alhamdulillah belum menang :). Jadi dari pada blog ini nganggur melulu dan membosankan, akhirnya cerpen ini saya posting di sini. Karena itu segala kritik, saran dan komentar terbuka lebar untuk semua.

Labels: , , ,

10.08.2007

BOLA AJAIB

Bagi para Masisir, ingatkah Anda dua tahun yang lalu di Cairo Int'l Book Fair 2005, ketika ada orang Jerman bisa melayang di samping tembok hanya dengan menempelkan satu tangannya di tembok tersebut. Sayang sekali saya tidak mendapatkan foto atraksi yang dalam beberapa hari sudah bikin heboh suasana Cairo Book Fair 2005 saat itu.

Kali ini ada lagi yang aneh (yang katanya) buatan orang Jerman. Kita namakan saja bola ajaib.
Silahkan buka link ini.

Cara bermain:

1. Bayangkan dalam pikiran Anda sebuah angka dengan dua digit. Misalnya: 10, 15, 27, 58, sampai 99.

2. Jumlahkan 2 digit dari angka yang Anda bayangkan. Misalnya angka tersebut adalah 32, maka jumlahkan 3+2=5.

3. Kurangi angka yang Anda bayangkan dengan hasil penjumlahan dua digit tadi. Jadi, 32-5=27.

4. Lihat hasil penghitungan tadi, di sini 27, lalu ingat-ingat simbol angka hasil penghitungan itu di deretan yang ada.

5. Langkah terakhir klik lingkaran/bola besar yang berwarna biru. Lihat bagaimana hasilnya!

Selamat mencoba!

NB: Kira-kira ada yang bisa memecahkan bagaimana Bola Ajaib itu bekerja, apa secara ilmiah bisa dijelaskan atau....? Mohon beri komentar jika ada yang tahu! Soalnya setiap saya coba berkali-kali hasilnya selalu tepat. Dan, bagi yang mudah merasa merinding silahkan berhati-hati mencoba Bola Ajaib ini, sebab saya tidak bertanggung jawab jika ada hal-hal yang tidak diinginkan! Misalnya karena kaget terus loncat sampai menjebol atap rumah, atau loncat dari jendela apartemen! Hehe...

Catatan: Sekitar 1 jam setelah postingan ini dibuat dan bermeditasi sebentar ;), saya sudah menemukan bagaimana Bola Ajaib ini menebak pikiran kita! Tapi tidak usah saya kasih tahu biar pengunjung bisa menikmati keanehannya! Syukur-syukur kalau pengunjung sekalian bisa ikut mengetahui. Ayo, buat paranormal, dukun pijat, dukun santet, dukun bayi, para ilmuwan, ahli web dan internet, para hackers sampai tukang becak, tunjukkan bahwa orang Indonesia juga tidak kalah dengan orang Jerman! :)

Labels: ,

10.04.2007

ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [4]


.....

Suneo : It is certainly that I'll never forget him, isn't?

Giant : That kid...suddenly disappeared and came back to the future...

Giant: DORAEMON...we all...after all...after all what we had done, I thought we are friends?!

BRAKKK.....

Giant: What was that, he even didn't say good bye!? Just easily leaving us!

Suneo: Just forget about his leaving to the future...

Dekisugi: He was suddenly leaving us is a fact that we have to receive. Beside that, about Nobita...

Dekisugi: Do you know about 'time paradox'?



Suneo: 'Time paradox'? A theory about contradiction during travel through the time because many things that potentially changing history?

Dekisugi: That's right, Suneo.

Dekisugi: Nowadays, our civilization's developing is bogging and faces deadlock, right?

Dekisugi: Whereas, looking to the fact that had been showed by Doraemon when we're children...developing of human being know is too slow.

Giant: Oh, yes, that's right. When we were children, we often imagining that a trip to space in our adult age is something ordinary.

Suneo: That's true. Going anywhere with time door, a machine that produce meals only with one button, even a maid robot, right?

Dekisugi: Yes, I'm thinking like that. That's why, as an observer, I am struggling seriously and carefully for such those things possibly happen. Waiting for DORAEMON era.
I even didn't take a part in your adventures every summer holiday, did you know that?

Giant: Dekisugi?

Dekisugi: Tonight, an invention that will bring all human civilization to new era in one big step has been finished by an inventor.

Dekisugi: Because this project has a high risk and able to change history and time continuity..."the future" has informed me, as very important person in the world this time, that intervention on that invention is prohibited.

Giant: Hey... It's OK you talking about that with us.

Suneo: Don't say that the inventor is...

Dekisugi: In his childhood, He swore...and I understand...nothing changed with him...

Dekisugi: No doubt, this is 'a time paradox', but.....

....actually 35 years ago, dreams of the whole world has been entrusted to him...



Nobita: Honey...Shizuka, please come here!

Shizuka: Didn't you say that this place is dangerous and restricted, did you? Honey...Nobita?

Shizuka: Doraemon...

Nobita: I'll try to switch on, now...







I want this.....
I want that...

DORAEMON : Nobita! Have you done your homeworks?

I want these and those, so many,
All, all, all, can be achieved
Can be achieved by amazing pocket...
I want to fly freely in the sky.
'Hey, bamboo chopper!!'
La,la,la ~!
I do love Doraemon!
I do love Doraemon!

[THE END!]

Labels: ,

ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [3]


Dorami: ...Alright. I understand. I know you never want Doraemon's memories of you losing.
Thank you, nice to see you, Nobita. I hope one day you will be able to repair my brother. I'm sure for that.

Nobita: Me...?

















NATIONAL TEST RESULT

1. Nobita 498
2. Dekisugi Hidetoshi 475
3. Yamato Koufu 410

Shizuka: Nobita...you're great! You get the highest score even in National Test!

Dekisugi: Congratulation Nobita! No one matches you anymore.

Nobita: Thank you.

Nobita: But score isn't what I want. It's the knowledge...better knowledge. I have to struggle more.

Shizuka: Don't push your body too hard. That won't good for your health. It's have been long time since last time we went to the hill at the school's backyard. Let's go there now!

Nobita: Thanks Shizuka, but there are things that has to be analized.



Dekisugi: Nobita has changed.

Shizuka: No! He hasn't.
Though Nobita is careless, frivolous, like to peek into my bathroom, and not diligent, but...
He always strives wholeheartedly. He also gives attention to people surrounding, though he's often unlucky but he always smile. He is a strong person, you see!

Shizuka: After Doraemon has gone, he continously forces himself without saying anything. I understand his feeling. Nobita... Nobita is...

Dekisugi: Shi...Shizuka...?

Shizuka: I'll certainly invite him to picnic!
Eventhough, I have to die, I'll make him following the picnic!

Nobita...!!!



TV Presenter : And, our guest star today is Technician Robotic Leader, Dr. Nobi.

Nobita : Halo.

Dekisugi: Yes, Nobita-kun! The pioneer of high technology of Japan. He is amazing, isn't he?

Suneo: You are the great President Dekisugi!

Giant: Hey, Nobita just came from abroad, didn't he? Want to call hem?

Suneo: Oh right, it has been long time we have not made a gathering.

Dekisugi: No, no need. Today I want to talk with both of you only.

Remember Doraemon....?



Labels: ,

ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [2]


Nobita: Enough! Let me bring him to his factory in the future.
Dorami: Nobita!!!
(Blaarrrrr.....)

Dorami: You can't do that. Intervention in your present era is being prohibited.
Since hearing there was something wrong, I had tried
to go there. But Time Patrol won't allow me passing them.

Dorami: They even did't listen to me. This thing never happens before.
Nobita: So, what should I do?


Nobita: If I put back his ears, the memory will remain, right? There must be a tool can be used in his pocket?

Dorami: You cannot use his pocket while he is in functional interruption. Moreover, I don't think we are able to handle such precise modification.
Nobita: If so, call his creator!

Dorami: His creator's whereabout is very important and secretly covered. Even my memory has been modified for keeping the secret.

Nobita: (puufh)

Dorami: Nobita, perhaps they will confiscate this Time Television soon....
There are just two choice now....

Dorami: First, bring my brother to his factory to cange the battery.May be we can pass The Time Patrol if we move quickly.
Dorami: Although losing his memory, I'm sure you can live together with him once more....
Secondly, we'll be waiting someone from the future fixing my brother.
Nobita's Mom: Nobita! Doraemon! Dinner's ready!

Nobita's Dad: Why are they?

Nobita's Mom: I don't know, there is no even an answer. Maybe they are quarreling again.
Nobita: ...Doraemon
Do you remember the first time we met?






Nobita: That time was on new year, right?
I was very surprised because you immediatelly jumped and said "You are very gravely!"

Nobita: We have gone to many various places, future and past time...mysterious things, Atlantis, Space...
Nobita: I don't know how many time we escaped danger. Everytime got panic, you always become useless...

Nobita: Everytime someone mocked me, you're thinking of me as it your own problem...
I never told you right, but actually I was very happy.

Nobita: We're always fighting because a simple thing! But we also made up again, didn't we?

Nobita: Hey, say something Doraemon! Just a word...
Nobita: Doraemon, ugh...please...speak...

to be continued...

Labels: ,

9.30.2007

ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [1]

"Hei, baling-baling bambu!"

Anyone ever heard that yell? Yes, that's a yell in Doraemon Series soundtrack which means "Hi, bamboo-chopper!".
When i was a boy in primary dan secondary school, I almost never missed this film. As some of you remember, it was showed in RCTI, one of Indonesian TV channels every Sunday morning at 8 o'clock. I don't know whether it is now still running in RCTI or another Indonesian TV or not.

I love it's stories about adventures through time machine, hi-tech and another things impossible -for recent time-. Perhaps in the future those stories can be real in our life, who knows? So i can fly with bamboo-chopper. ;P

Since leaving my home for staying in boarding school, I just rarely watched it. Sometimes i read it's books. I borrowed them from my friends or book rental. It has been 4 years i didn't read them. Just once or twice i watched the film in computer during these time.

One more, a cartoon series that i loved much, TIME QUEST (TQ). The adventures of TQ brought me to many different happenings in different times. As example they go to the time when Leonardo Da Vinci still alive, etc. But as i remember, it's stories had been ended so fast after several months shown in tv. It's unlike Doraemon which has comics and shown in tv for many years.

Several time ago, i got an information from a friend of mine that the story of Doraemon has been ended. Haha...I will be missing them. Nobita, the crying boy. Shizuka, the beautiful girl. Giant, the big and annoying boy. Suneo, the rich and bigheaded boy. Dekisugi, the clever boy. Dorami and of course DORAEMON, a robot cat with fantastic pocket.

Here it is...i tried to translate from Bahasa Indonesia into English with my very down to earth English. If you find any mistake regarding the translation, feel free to give me an advice. Hope you enjoy it! Or feel sad because it ended?!

Nobita: Doraemooon! Thing at that time, borrow me thing I ever used that time please!
Doraemon: (silent)

Nobita: This time, i have no patience with Giant!
Doraemon: (kluk)

Nobita: Ou...what's going on with you, Doraemon? Hey, talk to me! Oh please, are you thinking of mocking me too? Or you're angry?

Doraemon: (stay still)

Nobita:Hey, Doraemon i'm calling you!

Doraemon: (falling; bump...)



Nobita: ...Doraemon?

Dorami: umm...

Nobita: How is it? Dorami? Doraemon doesn't make any move since I arrived, nothing change.

Dorami: It seems he is out of battery.

Nobita: Out of battery? Ah...that easy thing. So just replace the battery quickly.











Dorami: It's not that easy. Old robotic-cat version as my elder brother should have support circuit memory in his ears. It's used when changing battery.

Nobita: ??
Dorami: But my brother has lost his ears so his memory has no support.

Nobita: (uptight)

Dorami: In other words, if the battery changed, his memory will be lost. His memory of YOU will be lost too, forever!

Nobita: What??? Doraemon's memories will be lost?!
I don't understand, it's just out of battery. I think if we change the battery he'll soon be recovered.

Dorami: Calm down Nobita! All type robot needs energy. Even the fabulous one only keep important memories. More like humans...

To be continued.....


Labels: ,

9.17.2007

22

Bu,
Ingatkah engkau dulu? Pada hari seperti hari ini, pagi-pagi sekali engkau sudah sibuk di dapur. Engkau memasak bubur merah dan bubur putih. Di atas tampah beralas daun pisang, bubur itu engkau taburi gula merah dan parutan kelapa. Lalu kita undang kawan-kawan bermainku, pagi-pagi sekali sebelum mereka berangkat ke sekolah. Lalu mereka melingkar mengelilingi tampah berisi bubur merah dan putih itu di dapur yang dindingnya bambu. Kami duduk jongkok sambil menengadahkan tangan. Engkau mulai berdoa dan kami semua mengamini. Selesai berdoa, dengan lahap mereka menyantap bubur itu dengan menggunakan sendok suruh, potongan daun pisang yang ditekuk. Ya, mereka riang sekali, walau hanya bubur. Oh ya Bu, waktu itu aku juga ikut makan, nikmat sekali rasanya. Engkau hanya mengawasi kami yang sibuk makan sambil tersenyum, engkau tidak ikut makan. Hari itu engkau puasa, untukku. Doa, orang berpuasa itu makbul kata para ulama. Selesai makan, daun pisang disingkap dan mereka berebut uang logam pecahan 100 Rupiah yang sejak awal sudah engkau taruh di sana. Ya, mereka berebut sambil tertawa-tawa. Dari hasil berebut ada yang dapat 2 keping, ada yang dapat 3 keping, ada yang dapat cuma 1, tapi ada juga yang tidak dapat sama sekali. Akhirnya engkau berusaha bertindak adil dengan memahamkan mereka yang dapat lebih dari satu untuk memberikan kepingan logam itu pada yang tidak dapat. Akhirnya semuanya dapat kepingan logam itu, sama rata karena memang sudah engkau siapkan sesuai undangan. Mereka gembira sekali, saya juga gembira. Lalu mereka pamit sambil mendoakan,"Kabul kajate!" Ungkapan singkat yang kira-kira berarti,"Semoga Tuhan mengabulkan hajat kita!"

Bu,
Kadang, tidak hanya tanggal seperti ini saja engkau mengadakan "pesta" seperti itu. Pada hari weton-ku, Selasa Pahing engkau juga membuat bubur merah dan putih. Bahkan seringkali engkau puasa pada hari itu. Jadi kadang dalam setahun aku punya "pesta" ulang tahun lebih dari satu kali. Aku selalu gembira jika kawan-kawan datang dan ikut berdoa di rumah kita. Walau tanpa lilin. Walau tanpa kado dan tanpa nyanyian selamat ulang tahun, aku benar-benar gembira. Bu, ingin rasanya masa itu datang lagi. Kapan Bu, engkau membuatkan untuk kami bubur merah putih dengan taburan kelapa dan gula merah, di atas tampah beralas daun pisang, seperti dulu?

Anakmu,
yang merindukan bubur merah putih buatanmu.

Labels:

9.07.2007

BLOGONESIA

81%How Addicted to Blogging Are You?

Mingle2 - Dating Site




Blogonesia adalah sebuah sindrom baru yang ditemukan oleh Agus Setiawan, PhD., seorang blogwan asal Indonesia yang pernah bermukim di Hamburg, Jerman. Pertama kali dipublikasikan melalui blognya sejak tanggal yang tidak disebutkannya, karena tidak tertera di artikelnya. Mungkin sekitar tahun 2005, karena dia menyebutkan Nadine, Putri Indonesia 2005 dalam publikasinya tentang Blogonesia. Untuk lebih jelasnya dapat ditanyakan langsung melalui blog beliau di: http://agusset.wordpress.com .

Agus Setiawan menemukan sindrom ini setelah mengalaminya sendiri. Ia mengatakan tentang BLOGONESIA bahwa:

"bisa jadi ia merupakan suatu jenis “penyakit” kronis yang tengah saya derita. Jika ada penyakit yang bernama amnesia, dimana memori seseorang mengalami gangguan akibat suatu hal, maka blogonesia bisa jadi merupakan sebuah penyakit yang menyerang memori saya sehingga mengalami ketergantungan untuk nge-blog dan blog walking. “Penyakit” ini cukup berbahaya karena dapat menular dengan mudah melalui dunia maya, meskipun komputer anda dipasangi firewall." (Agus Setiawan)

Beliau menyebutkan bahwa salah satu gejala pengidap Blogonesia adalah melonjaknya tagihan telepon bagi pengguna internet dial up. Selain itu beliau mengatakan bahwa Blogonesia akan menyerang manusia dalam durasi yang cukup lama setiap kali kambuh - minimal 1 jam- walaupun sudah pakai RSS Reader atau layanan feed reader sejenis.

Agus Setiawan menulis juga,"Sejauh ini –berdasarkan pengalaman– penyakit blogonesia yang sering kambuh di kantor akan menurunkan kinerja dan produktivitas kita dalam urusan kantor: terlihat serius bekerja di depan komputer tetapi ternyata sedang asyik nge-blog atau kasih comment di blog tetangga." Tentu saja hal ini membahayakan kelangsungan hidup masyarakat, terutama jika misalnya PNS di Indonesia banyak yang terjangkit sindrom ini. Bisa dibayangkan berapa banyak pekerjaan yang terbengkalai?

Dalam perkembangan dunia blog atau dikenal dengan blogsphere kini sudah ditemukan alat pengetes untuk mengetahui seberapa jauh Blogonesia sudah menjangkiti sesorang. Seperti yang anda lihat di panel yang saya pasang pada permulaan tulisan ini, dari hasil tes saya sudah mengidap 81% Blogonesia. Meskipun tingkat akurasinya belum teruji secara luas dan tampaknya belum ada riset yang menguji fasilitas ini- atau saya yang memang belum tahu-tidak ada salahnya bagi kita untuk mencobanya. Untuk mencoba tes ini silahkan klik panel di atas. Dengan mencoba barangkali kita bisa menyadari sejauh mana sindrom itu menyerang otak kita. Karena banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya terjangkiti sindrom ini sejak blogspere digemari sejumlah besar penduduk bumi.

Menurut pandangan penulis, Blogonesia tidak melulu merugikan manusia namun ada maanfaat setelah sesorang terjangkiti oleh sindrom ini. Salah satunya menurut saya adalah meningkatkan aktivitas membaca dan menulis. Harapan penulis, suatu saat ada pakar blog yang dapat mengarahkan para pengidap sindrom Blogonesia dari efek-efek negatif yang ditimbulkan menjadi hal-hal yang positif.

Demikian!


*Catatan: pembaca sebaiknya tidak terlalu serius membaca tulisan ini apalagi sampai mengerutkan dahi, karena tulisan ini adalah sebuah keisengan setelah mencoba tes di mingle2.com. Selain itu tulisan ini tidak didasarkan pada riset ilmiah apapun, namanya juga iseng!

Salam

Labels:

8.28.2007

Kenangan

Setelah teringat kampung saat tujuhbelasan, kini ingatan saya tentang masa kanak-kanak tiba-tiba muncul begitu saja, di dalam benak. Sebuah lagu/pantun lama yang tiba-tiba muncul saat membersihkan kamar mandi beberapa hari yang lalu. Pertama kali diajari pantun ini waktu masih TK, seingat saya. Entahlah, atau mungkin saat saya masih balita. :P...Begini....

Bocah cilik-cilik
Jejer larik-larik
Sandangane Resik
Tumindake becik

Islam agamaku
Allah Pengeranku
Muhammad Nabiku
Al-Qur'an Kitabku


Artinya kira-kira begini....

Bocah kecil-kecil
Berjajar rapi
Pakaiannya bersih
Tingkah lakunya sopan

Islam agamaku
Allah Tuhanku
Muhammad Nabiku
Al-Qur'an Kitabku

Tanpa saya sadari lagu ini berkesan mendalam bagi saya, sebuah pendidikan bagi tunas Islam yang masih sangat muda, dengan cara yang mudah dicerna oleh anak-anak yaitu melalui pantun yang dilagukan. Membuatnya tidak terlupakan selama hayat dikandung badan!

Labels:

8.19.2007

17 Agustus

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka
nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdekaaa...
s'kali merdeka tetap merdekaaa..
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia
tetap sedia
membela negara kita...


Lagu di atas dahulu sering saya nyanyikan bersama kawan-kawan di sekolah dasar. Kesempatan paling sering adalah saat mengikuti karnaval mengelilingi beberapa desa di kecamatan kami, Sumobito. Saat paling terkenang adalah saat menjadi polisi cilik, dengan kumis melintang dan senjata plastik terkokang..hahaha...jadi terkenang.:(

Yang juga tak kalah meriah adalah lomba Agustusan di kampung masing-masing. Biasanya karang taruna setempat mengadakan berbagai lomba. Saya yang waktu itu masih imut-imut selalu ikut setiap ada lomba, kecuali satu "Panjat Pinang".

Di dusun saya Kaliwungu, jarang ada pinang sehingga sebagai ganti pinang kami menggunakan pohon pisang raja yang tingginya sekitar 3-4 meter. Tidak terlalu tinggi memang tapi batang pisang yang licin itu diguyur oli.....nah ini yang membuat saya nggak mau ikut. Mending nonton aja dari pada badan dan rambut kena oli, susah dihilangkan. Kalau nonton kan gak kotor tapi ikut gembira..hehe..

Ada lagi lomba yang tak terlupakan seumur hidup, Sepak Bola Sarung. Setiap pemain harus memakai sarung dan mukanya ditutup dengan topeng berbentuk kerucut. Topeng ini hanya ada satu lubang kecil di ujungnya. Inilah yang membuat sepak bola ini meriah. (hahahaha.....jadi tertawa sendiri sebelum cerita) Bayangkan saja dengan lubang kecil para pemain tentu gelagapan mencari kemana bolanya lari, termasuk saya. Tidak jarang kami bertabrakan baik dengan pemain sendiri atau pemain lawan...gedebag...gedebug . Tapi tetap tertawa-tawa dan gembira, penontonnya juga. Keunikannya tidak hanya itu, seringkali di saat menggiring bola suara musik dangdut memaksa para pemainnya harus berjoget di tempat...(huahahah...gak bisa berhenti senyum2 sendiri membayangkannya). Walau RT tempat tinggal saya gak pernah menang, tapi gak merubah keceriaan kami sedikit pun. (Sayang dulu belum ada kamera di kampung kami jadi gak bisa upload gambar di sini >>> Emang sekarang udah ada yah? :P).

Masih banyak lomba-lomba lain yang pasti seru, kocak, mengasyikkan, dan ceria. Ada balap karung, makan kerupuk, kepruk kendhil (memukul kendi), menggigit koin yang di tancapkan di jeruk bali yang diberi abu, memasukkan paku dalam botol, balap kelereng, tarik tambang dan masih banyak lagi kreasi orang kampung. Beda kampung pasti ada ciri khas dan perbedaan jenis lomba. Kalau di kampung Anda bagaimana?

Agustusan di Kairo? Saya tak mampu cerita banyak. Hampir tiada kesan. Kapan yah Masisir punya lomba Sepak Bola Sarung...? Lebih gila dan lebih semarak dari pada kompetisi sepak bola yang sering dilanda "hawa panas". Kalau ada, saya mau ikut!


Nah, sehari setelah saya posting tulisan di atas, ada berita dari kampung halaman di Radar Mojokerto Jawa Pos Group...berikut salinannya....

Radar Mojokerto Jawa Pos
Senin, 20 Agt 2007
Karnaval, Hiburan Rakyat


JOMBANG - Pawai karnaval dan pawai mobil hias yang diikuti peserta dari sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs yang digelar Minggu (19/8) kemarin siang seolah menjadi oase bagi masyarakat yang haus hiburan gratis selama ini. Terbukti, sepanjang rute sejak garis start di Alun-Alun menuju Jl KH Ahmad Dahlan-Jl dr Sutomo-Jl Kusuma Bangsa-Jl Urip Sumoharjo-Jl KH Wahid Hasyim-Jl Diponegoro dan berakhir di Alun-alun dipenuhi ribuan massa. Sejak sekitar pukul 12.00, massa telah mulai memadati tepi jalan di rute yang dilalui rombongan. Petugas Satlantas Polres Jombang harus berusaha ekstrakeras mengatur arus lalu lintas dengan sistem buka tutup. Meski demikian, kepadatan hingga kemacetan lalu lintas di sejumlah ruas jalan tak terelakkan.

Bupati Suyanto, Wabup Ali Fikri, Sekkab Widjono Soeparno dan jajaran Muspida yang terdiri dari Ketua DPRd Abd Halis Iskandar, Kajari Sumardi SH, Ketua PN Agung Suradi serta Dansat Radar 222 TNI AU Kabuh Letkol Roy Romanza turut menyaksikan di tribun kehortaman yang dipasang di simpang empat Jl dr Wahidin Sudirohusodo-Jl dr Sutomo.

Suasana lalu lintas di sekitar rute sempat mengalami kekacauan lantaran pada pukul 15.30, hujan turun cukup lebat. Sejumlah peserta yang masih melintas sebagian besar memilih bertahan meski penonton berlarian mencari tempat berteduh. Sejumlah peserta drm band bahkan nekat bertahan meneruskan perjalanan meski dengan resiko kerusakan alat musik akibat kehujanan.

Selain itu, panjangnya rangkaian peserta karnaval dan pawai kendaraan hias mengakibatkan penambahan rute secara mendadak. Semestinya, setelah melintas di Jl KH Wahid Hasyim dan mendekati simpang empat Kebon Rojo, peserta menempuh rute ke selatan. Lantaran saat itu, masih ada peserta yang masih belum diberangkatkan di grais start, peserta nomor urut pertama terpaksa diminta berputar mengelilingi utara, barat dan selatan Kebon Rojo sebelum melanjutkan rute ke Jl KH Wahid Hasyim dan berakhir di Alun-alun.

Selanjutnya, karnaval dan pawai kendaraan hias untuk jenjang SMA dan umum akan dilangsungkan siang hari ini dengan rute yang diperluas dari rute untuk peserta kemarin. (lal)

Labels: