7.11.2009

Menggapai Purnama di Jabal Musa (bag. 1)
-Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Nekad-


Keputusan untuk melakukan perjalanan seorang diri ke Jabal Musa-Sinai kutentukan dalam tempo yang cukup singkat. Sebenarnya rencana untuk mendaki Jabal (Gunung) Musa sudah terpikirkan jauh hari sebelumnya. Bahkan menjadi sebuah keinginan selama bertahun-tahun sejak menginjakkan kaki di bumi Musa ini.

Perjalanan I
Sedikit cerita mundur. Waktu itu tanggal 23 April 2004, aku dan tiga orang teman; Fuad, Abid dan Hasan dengan nekat menjadi backpacker ke Sinai. Acara backpack dadakan itu disebabkan keterlambatan kami mengikuti rombongan tour. Mau kembali sudah kepalang tanggung, malu dengan kawan-kawan di rumah yang malam sebelumnya tahu kami bersiap untuk berwisata. Dengan modal pas-pasan dan kenekatan akhirnya kami memutuskan untuk menjadi backpacker ke semenanjung bagian timur Mesir itu.

Setelah tanya sana-sini dengan bahasa Arab yang masih terbatas, sampailah kami di Mahattah Dauliyah Abbasiyah atau Terminal Internasional Abbasiyah. Terminal ini adalah gerbang keluar-masuk bis-bis antar kota dan antar negara di Kairo.

Keinginan kami adalah mendaki Jabal Musa di St. Katherine-Sinai. Waktu itu status kami masih mahasiswa yang baru beberapa bulan di Mesir, masih baru. Ketika membeli tiket dan ditanya tujuannya kami sempat bertukar pandangan. Kemana? Tak ada satupun yang tahu pasti. Yang penting ke Sinai, tempat Musa bertemu Tuhan.

Akhirnya dengan segenap rasa percaya diri, kami sebutkan sebuah nama tempat yang kami yakin berada di semenanjung Sinai. Tempat itu juga disebutkan dalam al-Qur’an, Thursina. Dari sini sebuah perjalanan yang tak terlupakan sepanjang hayat –insya Allah- dimulai.

Setelah membayar tiket seharga masing-masing LE 35 (Tiga puluh lima Egyptian Pounds atau waktu itu setara sekitar Rp 50.000,-) kami ditunjukkan oleh penjaga loket bahwa bis yang akan kami tumpangi segera berangkat. Tampak sebuah bis bertuliskan East Delta dengan penumpang yang sudah naik semuanya. Mesinnya sudah menyala dan hampir saja kami terlambat.

Setelah sekitar 4-5 jam dalam perjalanan, bis berhenti di sebuah kota kecil. Sopir bis memberi tahu bahwa kami telah sampai tujuan, Thursina. Turun dari kendaraan, kami menuju sebuah terminal. Setelah bertanya tentang tujuan kami pada orang-orang di sana, sadarlah kami bahwa kami telah KESASAR!

Seharusnya sejak di Kairo kami harus memesan tiket bis menuju St. Katherine untuk mendaki Jabal Musa bukan ke Thursina. Untuk melanjutkan perjalanan ke St. Katherine cukup sulit karena uang kami sudah menipis. Mungkin hanya cukup untuk beli makanan dan beli tiket balik ke Kairo. Begitulah resiko backpacker nekat dan tanpa persiapan berarti. Tidak disarankan bagi siapapun untuk melakukan seperti yang kami lakukan. Kecuali bisa mengakhirinya seperti apa yang kami lakukan; menerima kesesatan itu dengan lapang dada.

Ternyata kesasar pun tidak seseram yang kami bayangkan ketika pertama kali tahu bahwa kami tersesat. Kekecewaan kami terobati ketika kami menemukan sebuah pantai lokal yang eksotis dan indah di Thursina. Sebuah teluk di Laut Merah yang tenang. Tak ada ombak besar, hanya riak dan gelombang air laur tertiup angin. Akhirnya kami menghabiskan senja yang indah di sana sebelum malamnya kembali ke Kairo, membawa kenangan tak terlupakan.


Senja di Pantai Thursina. Dokumentasi pribadi.


Perjalanan II
Tahun 2005 (atau 2006, aku agak lupa), aku ikut rombongan tour –bukan backpacker- yang hendak mendaki Jabal Musa. Selain mendaki gunung rombongan juga menuju pantai Syarm el-Syeikh. Untuk yang kedua kalinya, aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk napak tilas perjalanan Nabi Musa di pegunungan Sinai.

Di tengah jalan bis mogok, mesinnya “ngambek”. Kami harus menunggu bis pengganti dari Kairo sampai 3 jam lebih di Ras Sidr, tempat kami berhenti. Diputuskan ke pantai dulu baru nanti sorenya ke St. Katherine.

Perjalanan kami terhenti di tengah jalan menuju St. Katherine. Kendaraan kami dilarang melanjutkan perjalanan. Jalan menuju St. Katherine sedang diperbaiki, kendaraan dilarang masuk pada malam hari. Pihak travel menawarkan untuk menambah perjalanan hingga esok hari. Tapi kebanyakan peserta tour dan panitia menolak. Akhirnya kami kembali ke Kairo. Padahal aku sudah ingin sekali mendaki ke sana.

Alhamdulillah, Allah lalu mengganti penantian selama bertahun-tahun itu dengan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak banyak orang merasakannya.

Perjalanan III
Sebulan sebelum melakukan perjalanan, aku dan dua orang kawan sudah berencana akan mendaki Jabal Musa. Menjadi backpacker, berangkat tanpa ikut rombongan tour/travel. Kawanku sempat memberi saran agar ikut rombongan tour. Lebih murah dan lebih mudah. Tapi bagiku, menjadi backpacker adalah saatnya belajar lebih banyak. Lebih dekat dengan alam, masyarakat dan lingkungan.

Backpacker bagiku adalah seorang yang melakukan perjalanan dengan bekal pas-pasan namun mendapat pengalaman yang segudang. Bagaimana mengatur dan memutuskan untuk menggunakan bekal itu sebaik-baiknya. Seru sekaligus menegangkan. Dari situ aku banyak belajar, bertanya dan menikmati pertualangan.

Kali ini aku menjadi seorang backpacker nekad – bukan nekat-. Kalau nekad itu dengan penuh tekad, artinya dengan keberanian menghadapi berbagai resiko namun berusaha mengurangi kemungkinan resiko itu dengan perencanaan yang cukup. Kalau nekat itu seperti bonek, tanpa persiapan yang berarti, asal berangkat. Namun pengertian dalam paragraf ini mungkin tidak akan Anda dapati di kamus, karena memang karanganku sendiri.

Dua hari sebelum keberangkatan kedua kawan saya tadi tidak jadi ikut ide backpack yang aku tawarkan karena beberapa hal. Sehingga dengan mundurnya 2 orang anggota tim itu, aku harus merencanakan ulang keberangkatan.

Aku berpikir jika harus menunda lagi, mungkin kesempatan tidak akan datang lagi. Minggu depan adalah hari-hari kembali pada rutinitas yang cukup padat. Dan yang terpenting mumpung bekal yang ada masih memungkinkan untuk berangkat. Namanya juga backpacker, kalau bekal banyak namanya turis!

5 Juli 2009
Malam, aku berusaha mencari teman barangkali ada yang mau menyertaiku. Sejak awal aku bertekad –bukan nekat- jika memang tidak ada teman, sendiri pun jadi, menikmati alam simbol keagungan Allah. Namun malam itu muncul keraguan. Apakah akan berangkat sendiri?

Keraguan itu juga mendapat saham dari situasi keamanan yang lumayan “seram”. Beberapa hari sebelumnya ada kejadian salah tangkap empat mahasiswa Indonesia oleh Polisi Mesir, yang menjadi berita nasional di Indonesia. Dua orang yang disiksa Polisi Mesir itu adalah teman baik dan satu angkatan denganku. Semoga kalian diberi kesabaran.

Sampai ketiduran karena malam semakin larut, belum ada keputusan. Persiapan khusus untuk perjalanan pun belum kulakukan.

6 Juli 2009
Setalah Sholat Subuh aku mantapkan niat untuk pergi, sendiri. Saat itu juga aku melakukan persiapan untuk backpack. Jaket, pakaian ganti, handuk kecil, bolpoin, buku tulis dan peralatan survival sesuai saran Martyn Forrester dalam bukunya yang juga masuk tas punggungku: Survival, a complete guide to staying alive. Ia menyarankan untuk membawa plester luka, perban roll, lilin, pemantik api, kacamata hitam, pisau/cutter, gunting, tisu steril, lampu senter, obat-obatan, peluit, dll. Dari daftar itu yang ada di rumah hanya plester luka, perban roll dan kacamata hitam dan beberapa obat-obatan, hehe.. lengkap sudah penderitaan. Aku putuskan untuk mencari barang-barang itu di perjalanan sekaligus membeli logistik (makanan dan minuman).

10.30
Keluar dari rumah, tujuan pertamaku adalah Ragab Sons di bilangan Hay Tsamin, dekat rumah. Supermarket serba ada itu tampaknya cukup representatif untuk memenuhi beberapa keperluanku. Walaupun akhirnya tidak semuanya ada di sana.

Tujuan kedua adalah rumah seorang kawan yang mempunyai kamera foto. Maksudnya mau pinjam kamera karena backpacker satu ini tidak –eh belum punya kamera sendiri. Sebelumnya ia sudah kutelpon aku mau pinjam kamera. Kebetulan aku telah persiapkan baterei cadangan cukup banyak termasuk yang bisa diisi ulang. Ternyata kameranya rusak.

Ingin berusaha cari yang lain sudah tak ada waktu lagi. Kuputuskan berangkat tanpa kamera. Agak sayang memang. Tapi tak apalah. Kalau mau mundur berangkat karena tak ada kamera, cukup sulit. Dalam hati aku merasa bahwa kesempatannya adalah hari ini, atau harus menunggu lama lagi.

11.00
Di saat seperti itu, Opick, seorang kawan yang berkecimpung di dunia travel menelepon. Ia bertanya sesuatu padaku. Kebetulan, aku langsung bertanya tentang transportasi ke St. Catherine untuk memastikan. Pengalaman tahun 2004 lalu sudah terlalu lama untuk diingat detailnya. Inilah jawaban Opick,”Pergi saja ke Mahattah (Terminal) Turgoman di Ramses, ada bis yang berangkat pukul 11.00, tiap hari hanya ada satu kali perjalanan ke St. Katherine, untuk balik dari St. Katherine ke Kairo juga sekali sehari pukul 6 pagi.” Aku lihat jam tangan, sudah pukul 11.00 lebih. Ya, aku terlambat…

(bersambung....)

Labels: ,

7.18.2008

Cerita Guruku Tentang Orang Indonesia

Dalam sebuah kelas Bahasa Arab yang saya ikuti, suatu hari saya mendapatkan sebuah pengalaman yang mengesankan. Mungkin bagi orang lain adalah hal biasa. Namun pengalaman itu menggedor-gedor jantung saya. Bangga dan bersyukur terlahir sebagai bangsa Indonesia.


Suatu sore yang cerah di musim panas, saya hadir dalam kelas itu. Kami sekelas mengikuti pengajar menerangkan seperti biasa, dengan diktat khusus yang menjadi pegangan peserta. Pengajar ini termasuk tipe pengajar yang saya sukai. Metode pengajarannya bagus, dinamis, berpengalaman, komunikatif dan berwawasan luas. Beliau memperoleh gelar Doktor dari Universitas Al-Azhar dan telah menulis banyak buku dalam Bahasa Arab. Meski demikian beliau rendah hati dan cukup humoris, sehingga banyak siswa yang menyukainya. Kegiatan beliau sehari-hari adalah mengajar bahasa Arab bagi orang asing. Profesi itu telah beliau jalani sejak lebih dari 12 tahun.


Sore itu beliau mengajar seperti biasa. Biasanya selain bahasa Arab ketika menerangkan sebuah kalimat atau tata bahasa beliau kadang-kadang merujuk pada Qur'an Hadist atau kisah-kisah dan ajaran Islam. Selain Walaupun Islam itu tidak harus Arab namun bahasa Arab sangat erat dengan Islam karena kitab suci umat Islam diturunkan dalam Bahasa Arab. Selain dalam studi Bahasa Arab beliau juga mendapat gelar Master (S2) dalam Studi Islam, jadi pengetahuan keislamannya tidak diragukan. Pun begitu, beliau mempunyai jiwa besar yang terbuka. Umur beliau sekitar 40-tahunan.


Ketika mengajar beliau sering sekali menyelipi dengan humor. Suasana kelas jadi tidak kaku.

Ketika pelajaran selesai dan waktu masih ada maka beliau mengajak kami untuk melakukan Dialog dan Percakapan. Dalam sesi ini beliau mengajak siswanya untuk aktif berbicara, lalu beliau memberi pertanyaan dan komentar. Hal ini dimaksudkan agar siswanya terbiasa berbicara dalam Bahasa Arab.


Beliau memberikan beberapa pilihan tema diskusi agar dipilih oleh siswanya. Akhirnya kebanyakan kami memilih "Sopan Santun Seorang Pelajar Muslim". Beliau membebaskan kami untuk mengutarakan pendapat apapun dengan tema itu. Kebetulan dalam kelas itu siswanya berasal dari berbagai negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Pakistan, Inggris, Nigeria, Rusia, China dan Ukrania. Kami berjumlah sekitar 30 orang dan kebanyakan dari Indonesia dan Malaysia.


Akhirnya suatu ketika seorang siswa dari Indonesia mendapat kesempatan untuk berbicara. Siswa ini berpendapat bahwa seorang pelajar Muslim harus memperhatikan 3 hal yaitu adab dengan guru, adab dengan buku dan adab dengan tempat belajar. Adab dengan guru misalnya tidak meninggikan suara di depan guru, tetap santun dalam ketika berbeda pendapat, dan sebagainya. Sedangkan dengan buku, seorang pelajar harus menjaganya sebaik mungkin, merawatnya, tidak meletakkannya di sembarang tempat dan sebagainya. Selain itu seorang pelajar tidak menjadikan tempat belajarnya sebagai tempat bermain-main.


Pendapat siswa tadi tentu tidak asing bagi santri pesantren di Indonesia. Apalagi ia juga mengatakan bahwa pendapatnya merujuk pada sebuah buku berjudul Ta'lim al-Muta'allim, sebuah buku sopan santun seorang pelajar yang sangat masyhur di kalangan pesantren di Indonesia.


Mendengar pendapat tersebut beliau lalu memberikan komentarnya. Beliau mengatakan bahwa pendapat tersebut cocok sekali dengan pengalaman beliau selama mengajar Bahasa Arab untuk orang asing selama belasan tahun. Beliau juga telah pergi ke berbagai negara di Eropa, Asia dan Amerika untuk menjadi pengajar bahasa Arab.


Beliau mengungkapkan bahwa selama pengalaman mengajar sekian lama ia sangat mengagumi pelajar Indonesia dan Malaysia dalam hal sopan santun. Cocok sekali dengan pendapat tadi. Bahkan beliau menegaskan bahwa kekagumannya ini bukan basa-basi semata. Sebelumnya beliau sempat berseloroh,"Saya tidak dibayar orang Indonesia untuk mengatakan ini."


Orang Indonesia dan Malaysia itu sangat santun pada guru melebihi bangsa manapun di dunia ini. Karena dalam kelas itu dari bermacam negara, beliau buru-buru menjelaskan bahwa bukan berarti pelajar-pelajar dari negara lain tidak santun. Beliau bilang bahwa negara lain juga banyak yang santun namun secara umum bahwa orang Indonesia dan Malaysia berada di urutan teratas. Beliau tidak membedakan negara manapun ketika mengajar.


Mendengar pernyataan tersebut tentu saja kami bangga bercampur haru. Namun dalam hati kami agak segan juga, takut siswa negara lain tidak enak hati. Ternyata kalimat beliau tidak berhenti sampai di situ. Beliau malah memberikan bukti-buktinya. Semakin merahlah muka kami. Beliau bilang, jika kalian tidak percaya tanyakan pada semua kawan-kawan saya sesama pengajar, akan kalian dapat jawaban yang sama. Dua negara itu adalah yang terbaik.


Beliau lalu bercerita, selama sekian tahun mengajar beliau tidak pernah mendapati sekalipun ketidaksopanan dari pelajar Indonesia dan Malaysia. Jika bertemu di jalan mereka selalu menyapa memberikan jalan tidak pernah sekalipun menghalangi jalan. Bahkan ketika beliau bertemu orang Indonesia dan Malaysia di koridor kelas yang sempit, mereka akan merapat ke dinding sebisa mungkin. Memberikan jalan pada beliau.


Bahkan suatu ketika beliau bertemu mereka di halte, sama-sama sedang menunggu kendaraan. Ketika bis yang ditunggu datang, mereka mempersilahkan beliau naik terlebih dahulu. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata mereka tidak ikut naik dan menunggu bis berikutnya. Dari ungkapan beliau sangat kentara kalau beliau mengagumi akhlak pelajar-pelajar Indonesia dan Malaysia. Makin tidak enak hati kami. Di situ tidak hanya orang Indonesia dan Malaysia.


Beliau juga bercerita, suatu hari datang serombongan mahasiswi berjumlah 23 orang dari berbagai negara ke rumah beliau. Kursi di ruang tamu rumah beliau tidak terlalu luas menampung semuanya. Lalu beliau memperhatikan sebagian dari mereka duduk di lantai. Ternyata semua yang duduk di lantai adalah mahasiswi Indonesia, sedangkan yang duduk di kursi dari negara-negara lain. Bagi beliau orang Indonesia itu sederhana dan santun.


Bertahun-tahun mengajar orang Indonesia dan Malaysia beliau berfikir bahwa sopan santun seperti itu tentu berasal dari sebuah bangsa yang santun. Setiap orang tua dari pelajar itu tentu memberikan ajaran sopan santun terhadap guru. Tentu ayah atau ibu mereka berkata,"Nak, pergilah belajar dan hormatilah gurumu!" Mereka mendidik sopan santun dengan baik kepada anak-anaknya sebelum keluar rumah. Dengan rendah hati beliau mengungkapkan, "Dalam hal kesantunan kami ingin belajar dari orang Indonesia dan Malaysia." Menurut beliau seperti itulah seharusnya akhlak seorang Muslim.


Semakin tidak enak hati kami ketika beliau membandingkan dengan negara lain. Tentu saja sebagai seorang akademisi beliau juga menyadari bahwa banyak faktor yang melatar belakangi tindak tanduk suatu masyarakat seperti kondisi alam, letak geografis, kondisi sosio-kultural dan kenyataan sejarah.


Karena kecintaan beliau dengan pelajar Indonesia dan Malaysia, beliau tidak pernah menolak undangan mereka untuk mengisi suatu acara. Beliau sering diundang pelajar-pelajar asing untuk mengisi seminar dan pelatihan. Jika ada pelajar Indonesia atau Malaysia yang mengundang maka ia pasti menghadirinya. Walaupun beliau sibuk, beliau pasti berusaha menghadiri undangan tersebut. Bahkan ketika ada dua undangan dalam satu waktu, beliau memilih untuk hadir di undangan pelajar Indonesia walau tanpa honor sementara undangan lainnya beliau akan mendapat honor besar.


Tidak saya sangka, selama belajar dari beliau sejak beberapa bulan yang lalu baru kali ini beliau mengungkapkan pernyataan seperti itu. Namun saya lihat beliau tidak pernah membeda-bedakan siswanya ketika mengajar, selama siswa-siswa yang belajar dengan beliau menjaga adab dan sopan santun.


Mendengar semua itu saya jadi berfikir, benarkan demikian? Apakah sebegitu hebat moral bangsa Indonesia di mata negara lain? Sehingga kita seringkali tidak menyadari dan menyia-nyiakan kekuatan moral bangsa kita. Pengajar kami itu berbicara sesuai dengan pengalaman beliau bertahun-tahun. Tidak dapat kita serta-merta menyalahkan pendapat beliau atau membenarkannya secara langsung.


Saya lalu terfikir tentang adab dan kesopanan orang Jepang. Mereka juga sangat sopan bahkan dalam beberapa hal melebihi orang Indonesia. Saya fikir mungkin guru saya itu jarang atau tidak pernah mendapat siswa orang Jepang. Mungkin karena kebanyakan orang Jepang bukan Muslim sehingga jarang yang belajar bahasa Arab. Mungkin seandainya guru saya itu juga mengajar orang Jepang mungkin pendapat beliau akan lain. Ya, tentu saja karateristik sopan santun dalam Islam mempunyai perbedaan dengan ajaran lain.


Kemudian saya ingat juga cerita tentang pelajar-pelajar Indonesia yang belajar di Eropa atau Amerika dan negara-negara lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang pada awalnya sangat kental dengan adab ketimuran dan sopan santun lalu berubah drastis setelah lama di luar negeri. Banyak juga yang pertamakalinya mengalami kejutan budaya lalu menjadi terbiasa. Bagi kita yang belum pernah ke Belanda (saya juga belum :), jangan senang dulu jika suatu saat mendapat undangan makan malam dari seorang kawan dari negeri Kincir Angin itu. Setelah makan kita harus bayar makanan yang kita makan atau esoknya datang tagihan melalui email kita.


Intinya saya bangga dan bersyukur dilahirkan sebagai bangsa Indonesia yang mewarisi nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur sejak dahulu. Bahkan sebelum Islam masuk ke Indonesia. Islam diterima di Indonesia dengan baik tanpa peperangan seperti yang terjadi di negeroiiTidak heran lagi jika nilai-nilai seperti itu terumuskan dalam UUD negara kita. Seringkali kita tidak sadar banyak orang yang mengagumi bangsa kita dari segi kepribadian dan keluhuran bangsa. Sayangnya banyak orang Indonesia sendiri tidak menyadari hal itu.


Setelah mendengar pendapat guru saya yang orang Mesir itu saya menengok ke tanah air. Keprihatinan saya tegugah, nilai-nilai luhur itu mulai terkikis dan tergerus budaya asing yang merusak. Akankah kita mampu mempertahankannya dhingga anak cucu nanti? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Cairo, 17 Juli 2008





Labels: ,

4.19.2008

Mahasiswa dan Indonesia

Rengasdengklok, 16 Agustus 1945
Langit Karawang hari itu menjadi saksi berkibarnya Merah Putih di beberapa sudut Rengasdengklok. Angin semilir meniup dwiwarna yang suci bagi bangsa ini. Melambai-lambai seolah memekikkan pada setiap yang lewat, “Indonesia akan segera merdeka!”
Sejak hari sebelumnya, tonggak-tonggak bambu yang ujungnya terikat kain persegi empat berwarna merah putih dipancangkan di depan beberapa rumah. Para pejuang muda Rengasdengklok sudah tidak sabar, Indonesia harus merdeka sekarang juga!
Pagi buta, saat ayam jantan masih menyisakan kokok nyaringnya serombongan orang datang dari Jakarta. Di antara mereka, seorang pria setengah baya yang tampak berwibawa berjalan tegap di depan rombongan. Sesekali ia berbicara dengan pria berkacamata yang tak kalah wibawa di sampingnya. Mereka kemudian masuk sebuah rumah sederhana, milik seorang Tionghoa. Beberapa orang yang telah menunggu menyambut dengan pekikan, “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hatta, Indonesia sudah merdeka, Jepang sudah modar!”
Sebuah ruang tamu yang tidak seberapa luas menjadi saksi pertemuan golongan tua dan golongan muda itu. Mereka berunding, membicarakan sesuatu yang penting. Masa depan bangsa mereka yang berabad-abad menjadi bulan-bulanan penjajah.
“Anda harus segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia segera!” Seorang pemuda angkat bicara pada dua orang yang berwibawa itu.
“Segera?”
“Ya, segera! Hari ini, di sini! Kami sudah menyiapkan naskahnya,” tambah pemuda itu.
“Tidak! PPKI* sedang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan kami bertanggung jawab selaku pimpinannya.” Sergah orang yang baru datang dari Jakarta itu.
“Tidak bisa, PPKI adalah tipu muslihat Jepang, bangsa ini harus merdeka tanpa campur tangan penjajah...!” Pemuda itu makin tidak sabar. Suasana dalam ruangan itu makin memanas. Namun, dua orang “tetua” yang sedang dalam “penculikan” dan sedang “dituntut” oleh orang-orang muda itu bergeming dengan pendiriannya.
Para pemuda itu kemudian berunding menghadapi keteguhan sikap senior mereka. Beberapa di antara mereka menyusun perebutan kekuasaan tapi tidak semuanya mendukung rencana itu. Perjuangan mereka penuh liku-liku. Berat memang, memadukan keinginan-keinginan yang bersilangan.
Kabar berita dari rekan-rekan mereka di Jakarta tiada kunjung datang. Seorang pria muda dari kumpulan itu bergegas menuju Jakarta, hendak berunding dengan kawan-kawan seperjuangan mereka di sana.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Jarum jam membentuk kurva bersudut 120 derajat, menunjukkan pukul 08.00. Pria berwibawa yang biasanya tampak tegap itu masih meringkuk di atas tempat tidur. Ia menggigil, meriang.
“Pating greges...*,” katanya pada dokter yang merawatnya.
Malaria tertiana menyerang pria berwibawa itu. Semalaman ia begadang dengan kawan-kawannya untuk merumuskan “masa depan” tanah air mereka di rumah itu. Rumah seorang laksamana Jepang yang simpati.
Sebuah suntikan chinineurethan intramuculair dan pil brom chinine dari dokter membuatnya merasa lebih baik. Pukul 09.00 ia bangkit dari tempat tidur, wibawanya telah kembali. Dikenakannya pakaian putih-putih yang semakin menampakkan kegagahannya.
Jum’at pagi itu, halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 Cikini itu terlihat sibuk. Beberapa orang tampak menegakkan sebuah tiang bambu, tepat di depan rumah. Beberapa lagi menyiapkan mikrofon. Mereka menyiapkan sebuah hajat besar dengan peralatan dan upacara sederhana, kemerdekaan Indonesia.
Pria berpakaian putih-putih itu berjalan tegap keluar menuju halaman. Rekannya yang berkacamata mendampinginya. Orang-orang yang hadir di rumah itu segera bersiap.
Pukul 10.00 pria berpakaian putih-putih itu membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Siaran radio menyiarkan langsung ke seluruh pelosok negeri. Di ujung kesederhanaan sebatang bambu, Merah Putih berkibar gagah di langit nusantara, Jum’at pagi itu. Pria-pria muda yang hadir menyaksikan peristiwa itu berpandangan, lalu tersenyum. Mereka menarik nafas lega, Indonesia sudah merdeka!

Alexandria, medio Juli 1945
Pantai di Laut Tengah pada malam itu masih mendeburkan ombak pada karangnya, seperti biasa. Semilir angin laut mengalunkan rhapsody kehidupan, seolah menyampaikan pesan dari satu tempat ke tempat lainnya. Kerlip lampu perahu nelayan melengkapi orkestra alam.
Sebuah jam kayu di dinding ruangan menunjuk 22.00, saat itu. Empat puluh kelasi kapal berwajah melayu berkumpul, membincangkan sesuatu. Perkumpulan itu dipimpin beberapa mahasiswa yang berwajah melayu juga. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.
Suasana malam di ruangan itu terasa emosional. Para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di negeri Musa itu berpesan agar para kelasi itu mulai menabung. Jika setiap saat jihad kemerdekaan dikumandangkan, sebaiknya mereka meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.
Para kelasi yang sehari-hari berada di lautan samudra itu menyanggupi, “Jika fatwa sudah turun, kami akan memenuhi.”
Sumpah para kelasi itu tidak main-main. Tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, dua orang kelasi Indonesia berjalan kaki dari Tunisia menuju Kairo. Mereka ingin bergabung dengan mahasiswa dari tanah airnya yang banyak bermukim di Mesir, untuk melanjutkan perjuangan.
“Kami menerima fatwa yang dibawa teman-teman kami dari Indonesia, tentang haramnya bekerja di kapal penjajah,” jawab kedua kelasi itu ketika ditanya kawan-kawannya di Mesir tentang perjalanan jauh yang mereka tempuh.

Kairo, suatu masa di 1946
Sekelompok mahasiswa Indonesia itu melakukan demonstrasi. Beberapa pemuda berwajah Arab mendampingi rekan-rekan mereka di kampus Al-Azhar. Mereka melakukan long march ke beberapa sudut Kairo. Meneriakkan kemerdekaan bagi negerinya. Kemerdekaan yang seharusnya tidak perlu lagi diteriakkan dan sudah menjadi hak semua bangsa di muka bumi. Kemerdekaan tanpa penindasan.
Di beberapa gedung, bendera-bendera negara sekutu diturunkan. Menyamarkan agar tidak menjadi sasaran demonstrasi. Di depan kedutaan Hindia Belanda, pelajar-pelajar perantauan itu secara heroik mencampakkan paspor-paspor Hindia Belanda milik mereka.
Tak lama setelah itu, sebuah sesi persidangan Liga Arab di kota ini berlangsung haru. Beberapa mahasiswa Indonesia mendengarkan dengan seksama ketika sebuah resolusi tentang negeri mereka dibacakan. Akhirnya mereka lega, upaya diplomasi mereka dalam forum itu membuahkan hasil. Mereka menjadi saksi dukungan asing untuk kemerdekaan Republik Indonesia untuk pertama kalinya.

Kairo, Agustus 2007
Abdi berjalan dengan gontai meninggalkan lorong koridor Fakultas Ushuluddin. Pengumuman hasil ujian membuatnya bermuram durja. Ia harus mengulang lagi satu tahun di Tingkat Pertama ini. Al-Azhar tidak semudah yang dibayangkannya. Dengan lesu ia melangkahkan kaki meninggalkan gerbang universitas tua itu.
Saat memasuki rumah, Hasan menyambutnya dengan wajah muram. Ia segera menegrti nasib sahabatnya itu sama dengannya. Harus mengulang satu tahun lagi. Tanpa banyak berkata-kata Abdi duduk di samping Hasan yang sedang terpekur.
“Kita harus berbuat sesuatu!” Hasan memecah kesunyian.
“Ya, sebenarnya aku sadar bahwa aku terlalu aktif di organisasi, bergerak ke sana dan kemari sampai akhirnya sulit membagi waktu untuk belajar, tak tega aku menolak ajakan senior,” Abdi mulai curhat tanpa diminta.
“Aku pun begitu, terlalu sering berdiskusi dan terlalu asyik dengan geng-ku sehingga pelajaran di kuliah kurang ku perhatikan,” tutur Hasan.
Mereka lalu terdiam.
Abdi menarik nafas lalu berujar,“Sebenarnya apa yang kita lakukan tidak salah, namun seringkali kita kelewatan.....terutama soal waktu.”
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya Hasan.
“Tampaknya kalo bersama-sama kita akan lebih kuat menghadapi semua ini!”
“Ya, aku setuju. Kamu boleh tetap aktif di organisasimu dan aku juga tidak akan berhenti dengan diskusi-diskusi di kelompokku. Hanya saja kita harus merancang sesuatu agar kita bisa tetap bertahan pada koridor tujuan awal kita.”
Hasan dan Abdi meneruskan ide-ide yang ada dalam otak mereka. Mereka berdua sepakat akan berkampanya melawan rasib* di kalangan mahasiswa Indonesia. Hasan menghubungi kawan-kawan diskusinya, mengajak mereka memecahkan masalah perkuliahan bersama-sama. Abdi melakukan hal yang sama pada kawan-kawan organisasinya. Beberapa kali, para mahasiswa bebeda latar belakang ini berkumpul untuk merancang program demi Kampanye Anti-Rasib.
Hari demi hari, kampanye yang dimotori Hasan, Abdi dan kelompok mereka masing-masing semakin gencar. Orang-orang muda ini berusaha menciptakan suasana dan lingkungan berorientasi pada perkuliahan tanpa harus menarik diri latar belakang mereka; aktivis, pemikir, jago diskusi, bisnismen dan yang lainnya. Mereka juga menyampaikan kampanyenya ke PPMI agar bisa membuat rancangan program Kampanye Anti-Rasib yang lebih nyata dan terlihat hasilnya. Pucuk dicinta ulam tiba, Presiden PPMI dan kabinetnya segera mengadakan pertemuan membahas ide yang muncul dari “rakyat” mahasiswa Indonesia di Mesir.
Tak lama, PPMI merencanakan program Kampanye Anti Rasib secara lebih menyeluruh. Salah satunya adalah merancang bimbingan belajar yang mendatangkan dosen-dosen Al-Azhar. Melalui lobi yang mereka lakukan pada pihak rektorat, didampingi KBRI Kairo, akhirnya Al-Azhar memfasilitasi program itu dan menyediakan fasilitas dan dosen-dosen yang tulus ikhlas membimbing para mahasiswa Indonesia.

Kairo, 18 Agustus 2008
Siang yang terik itu, tidak mengurangi semangat para mahasiswa itu hadir di Auditorium Muhammad Abduh. Wajah para mahasiswa Indonesia yang hadir saat itu tersenyum cerah. Sabtu siang yang cerah itu, PPMI Mesir akan menerima penghargaan dari Universitas Al-Azhar atas keberhasilan mereka dalam Kampanye Anti-Rasib yang dapat mengurangi angka rasib hingga 90 persen.
Beberapa bulan setelah kampanye itu diresmikan oleh PPMI, organisasi persatuan pelajar Negara lain mengikuti kampanye yang dilakukan mahasiswa Indonesia. Kini, PPMI Mesir menjadi percontohan organisasi persatuan pelajar asing di Mesir. Karena itu Al-Azhar kini tidak hanya membimbing mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa asing lainnya.
Di sebuah sudut auditorium luas itu, Abdi dan Hasan tersenyum puas. Ternyata kebersamaan membuat mereka merasa lebih kuat. Entah rancangan apalagi yang ada di otak mereka sekarang. Penghargaan hari itu adalah kado terindah Peringatan Kemerdekaan RI ke-63 bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.

*) Keterangan:

- PPKI : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

- Pating greges (Jawa): Meriang semua

- Rasib (Arab) : Gagal dalam ujian

Cerpen di atas adalah sebuah cerpen fiksi-sejarah yang saya ikutkan lomba di peringatan 17-an di Kairo tahun 2007 lalu, dan alhamdulillah belum menang :). Jadi dari pada blog ini nganggur melulu dan membosankan, akhirnya cerpen ini saya posting di sini. Karena itu segala kritik, saran dan komentar terbuka lebar untuk semua.

Labels: , , ,

4.25.2007


SUASANA KULIAH DI MESIR

Kampus Al-Azhar di Kairo mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Namun, ada beberapa hal yang mungkin belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tentang Mesir, salah satunya adalah bagaimana suasana perkuliahan di Kairo. Tulisan ini akan mengupas—walau tidak semua—suasana kuliah di Mesir dengan latar belakang kampus Al-Azhar, khususnya menyangkut mahasiswa-mahasiswi asal Indonesia.

Masjid Al-Azhar didirikan tahun 970 M oleh Panglima Jauhar As-Shiqili pada masa Khalifah Muiz Lidiinillah dari Dinasti Fathimiah. Bersamaan dengan itu embrio kampus Al-Azhar pun lahir dalam bentuk halaqoh-halaqoh (pengajian-pengajian) di beberapa ruangan masjid yang disebut Ruaq. Seiring berjalannya waktu Al-Azhar menjadi universitas sebagaimana lazimnya semua universitas lainnya dengan berbagai disiplin ilmu baik ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu sains. Namun dalam pandangan masyarakat internasional Al-Azhar lebih dikenal dengan studi tentang agama Islam. Saat ini Al-Azhar mempunyai lebih kurang 400.000 mahasiswa dari dalam dan luar negeri yang tersebar hampir di seluruh cabangnya di penjuru Mesir, selain di Kairo.

Salah satu ciri khas Al-Azhar adalah sistem kuliahnya yang masih memelihara tradisi lama. Meskipun sudah diselaraskan dengan sistem modern, namun suasana belajar tradisional masih sangat terasa. Sistem penyampaian kuliahnya adalah dosen menyampaian materi dan mahasiswa mendengarkan. Dalam satu kelas jumlah mahasiswa bisa lebih dari 100 orang sehingga kesempatan mengenal dosen secara dekat cukup sulit. Tanya jawab hanya diberikan kesempatan di akhir penyampaian materi, namun kesempatan ini seringkali sulit didapatkan terutama untuk program S-1. Pada program S-2 kesempatan untuk tanya jawab dan mengenal dosen lebih besar karena mahasiswanya cenderung lebih sedikit.

Program S-1 bidang adaby (sosial) di Al-Azhar ditempuh dalam waktu 4 tahun. Sama seperti di Indonesia, satu tahun mata kuliah dibagi menjadi dua semester. Jika di Indonesia dibagi dengan SKS, kuliah di Al-Azhar jauh lebih simpel. Kehadiran di kuliah tidak diwajibkan sehingga penilaian dosen hanya didasarkan pada hasil ujian. Mahasiswa disediakan buku diktat yang dibeli dari tiap fakultas. Tugas membuat makalah, paper, dan skripsi bisa dikatakan hampir tidak dikenal oleh mahasiswa S-1 Al-Azhar. Hanya beberapa fakultas atau dosennya saja yang memberi tugas ini pada mahasiswanya.

Walaupun tidak wajib, kehadiran di kuliah akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengetahui karateristik dosen sehingga dapat memprediksi soal-soal yang akan keluar saat ujian nantinya. Bahkan di Al-Azhar ada tradisi bagi kebanyakan dosen—tidak semua—untuk memberikan kisi-kisi materi yang akan keluar dan disebut tahdid (batasan materi). Pada saat menyampaikan kuliah, dosen seringkali menyebut beberapa istilah untuk materi yang sedang disampaikannya seperti muhim jiddan (sangat penting), muhim (penting), qiro’ah (dianjurkan untuk dibaca), atau mahdzuf (tidak diperlukan). Sebuah materi yang diberi label muhim jiddan atau muhim mempunyai kemungkinan besar untuk keluar saat ujian, sedangkan qiro’ah dan mahdzuf sering digunakan oleh dosen untuk materi yang tidak diujikan.

Ujian di Al-Azhar dilaksanakan dua kali dalam setahun. Sistem ujian dibagi menjadi dua bagian yaitu ujian lisan (syafawi) dan ujian tulis (tahriri). Ujian lisan meliputi Al-Qur’an dan mata kuliah khusus fakultas/jurusan, sedangkan ujian tulis meliputi seluruh mata kuliah. Untuk bisa naik tingkat, mahasiswa minimal harus mendapatkan nilai maqbul (cukup) di setiap mata kuliah, standard nilai ini berbeda-beda tiap fakultas. Jika seorang mahasiswa mempunyai lebih dari dua mata kuliah yang tidak mencapai nilai maqbul, maka dia tidak dapat naik tingkat. Artinya, Al-Azhar memberikan toleransi maksimal 2 mata kuliah yang tertinggal untuk naik tingkat dan tetap mengulang pada tingkat selanjutnya. Bila dalam tiga tahun berturut-turut seorang mahasiswa tidak naik tingkat, maka ia dinyatakan DO (Drop Out) dari fakultas. Jangan coba-coba untuk mencontek atau berlaku curang dalam ujian, karena ancamannya adalah dikeluarkan dari universitas. Pengawasannya sangat ketat, dalam satu ruangan ada lebih dari dua pengawas, bahkan di sejumlah tempat ada polisi kampus. Tapi tidak perlu terlalu tegang, karena peserta ujian bisa memesan teh hangat atau air putih selama ujian.

Dengan sistem belajar mengajar Al-Azhar saat ini, mahasiswa mempunyai kebebasan seluas-luasnya menyangkut penyerapan ilmunya. Hal ini membuat karateristik lulusan Al-Azhar sangat bervariasi. Seorang mahasiswa di Al-Azhar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dalam ujian, namun hal ini tidak menjamin kualitas keilmuannya. Al-Azhar menekankan kemandirian pencarian dan riset keilmuan pribadi mahasiswanya. Jika mahasiswa aktif mencari di luar kampus maka kesempatan itu terbuka luas karena suasana keilmuan di Kairo sangat terasa sekali. Kajian keilmuan tersebar hampir di seluruh penjuru Kairo dengan pemateri doktor-doktor yang mumpuni di bidangnya. Selain itu buku-buku bisa didapatkan dengan mudah dan murah khususnya ilmu-ilmu keislaman.

Universitas Al-Azhar memisahkan antara kampus untuk mahasiswa dan kampus untuk mahasiswi. Kegiatan di luar kuliah dalam kampus (ekstrakulikuler) bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Organisasi mahasiswa dalam kampus hanyalah Senat Fakultas, namun tidak ada satupun mahasiswa asing yang aktif di organisasi ini. Kegiatan senat ini pun tidak banyak diketahui oleh mahasiswa asing. Mahasiswa Indonesia lebih banyak membuat kegiatan dengan sesama kawan dari Indonesia.

Mahasiswa dan pelajar asal Indonesia di Mesir saat ini berjumlah sekitar 4000 orang. Sebagian besar sedang menyelesaikan program S-1 di Al-Azhar baik di Kairo maupun di kampus Al-Azhar di kota provinsi seperti Zaqaziq, Thanta atau Manshurah. Selain di Al-Azhar, sebagian kecil ada yang kuliah di Universitas Cairo, Ain Syam, Institut Liga Arab, Universitas Al-Menia, American University in Cairo dan lainnya. Pelajar dari Indonesia juga mulai banyak mendaftar di Ma’had Al-Azhar yang mempunyai kurikulum setingkat SMA.

Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (disebut Masisir) membentuk sebuah induk organisasi bernama Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang berdiri sejak tahun 1995 dan mulai 3 tahun lalu menggunakan Student Government System (SGS) atau Sistem Pemerintahan Mahasiswa. Dalam SGS ini PPMI seolah-olah sebuah negara kecil yang mempunyai system pemerintahan seperti di Indonesia. PPMI dipimpin oleh seorang Presiden yang bersama kabinetnya menjadi badan eksekutif mahasiswa. PPMI juga mempunyai Majelis Permusyaaratan Anggota (MPA) sebagai lembaga tertinggi organisasi dan Badan Perwakilan Anggota (BPA) sebagai lembaga legislatif sekaligus yudikatif organisasi PPMI.

PPMI disebut induk organisasi persatuan pelajar dan mahasiswa Indonesia karena dalam lingkungan PPMI banyak terdapat organisasi-organisasi dengan berbagai corak dan kepentingan. Dalam lingkungan PPMI ada beberapa organisasi kekeluargaan yang dibentuk berdasarkan asal daerah dan ditetapkan sebagai badan otonom PPMI. Terdapat 16 organisasi kekeluargaan yang menaungi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Di antara organisasi tersebut adalah Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA), Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM), Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB), Kelompok Studi Walisongo (KSW) untuk pelajar dari Jawa Tengah, Keluarga Masyarakat Jawa Timur (GAMAJATIM), Forum Silaturahmi Keluarga Madura (FOSGAMA), Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS), dan lainnya.

Selain organisasi yang bercorak kekeluargaan dan asal daerah, berbagai organisasi dengan berbagai latar belakang dan kepentingan juga banyak bermunculan menghiasi dinamika mahasiswa Indonesia di Mesir. Ormas-ormas besar di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Washliyah mempunyai cabang resmi di Kairo.

Dalam dunia jurnalistik, mahasiswa Indonesia di Mesir mempunyai banyak sekali buletin, majalah atau jurnal. Media-media pers Masisir ada yang independen dan ada juga yang berada dalam naungan organisasi lain. Beberapa media Masisir yang banyak dikenal adalah Terobosan (independent), Informatika (ICMI), Tanwirul Afkar (NU), Sinar Muhammadiyah, dan sebagainya.

Forum Lingkar Pena (FLP) yang bergerak di bidang kepenulisan dan mempunyai banyak cabang di berbagai kota di Indonesia juga dideklarasikan di Kairo. FLP Mesir beberapa waktu yang lalu mengundang penulis-penulis Indonesia seperti Gola Gong, Pipiet Senja, Fauzil Adhim, Helvi Tiana Rosa, dan Irwan Kelana untuk memberikan pelatihan bagi Masisir.

Bidang seni dan budaya juga mempunyai perkembangan pesat dalam beberapa tahun ini. Grup nasyid, tim shalawat dan band mulai bermunculan di kalangan Masisir. Bahkan grup nasyid Da’i Nada sudah membuat album pertamanya di Kairo. Salah satu organisasi yang sering menarik minat orang Mesir untuk mengundang tampil dalam berbagai acara adalah Tim Shalawat dari Ikatan Persaudaraan Qari’ Qari’ah Indonesia (IPQI) – Mesir. Anggota IPQI sering diundang untuk mengalunkan tilawah ayat Al-Qur’an dan shalawatan oleh orang Mesir hingga tampil di beberapa saluran televisi Mesir. Mereka sangat kagum jika ada orang tidak berbahasa Arab ('Ajam) namun fasih baca Al-Qur'an, bahkan dengan tilawah atau dilagukan dengan kaidah tertentu.

Organisasi yang juga banyak terdapat di Masisir adalah organisasi almamater. Organisasi almamater ini beranggotakan alumni sekolah atau pondok pesantren tertentu di Indonesia, seperti Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor - Ponorogo, Forum Silaturahmi Alumni Bahrul Ulum (FISMABA) Tambak Beras – Jombang, dan lain sebagainya. Demikianlah gambaran singkat suasana pekuliahan dan mahasiswa Indonesia di Mesir.(sal)


*Tulisan ini juga dimuat di minimagz As-Salam Edisi II yang diterbitkan oleh Ikatan Alumni PP Sunan Ampel (IKAPPSA) Jombang dengan beberapa perubahan.




Labels:

3.04.2007

Umat Islam di Indonesia Saat Ini;
Mewaspadai Ancaman dan Tantangan*

Pada masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi 1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai hal, terutama politik. Terbukti dengan bermunculannya berbagai partai politik yang membawa nama Islam. Namun pemasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar saudara seakidah.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Umat Islam yang menjadi bagian terbesar masyarakat Indonesia pun tidak terlepas dari kemajemukan. Berbagai golongan dan madzhab berkembang dalam tubuh umat Islam Indonesia. Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan.

Baru-baru ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap Islam. Yang mengherankan, di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov. Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang, Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik, Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan); (Republika, 17/06/2006) membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi undang-undang dan peraturan. Harian Republika (17/5/2006) memberitakan protes yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam. Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan landasan Konstitusional negara.

Jika ditelaah lebih lanjut adalah wajar jika misalnya umat Islam harus bisa membaca al-Qur’an dan memakai pakaian syar’i bagi Muslimah. Toh hal tersebut tidak akan diterapkan pada non-muslim. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim yang paling toleran pada umat beragama lain. Muslim Indonesia tidak pernah mengusik kehidupan beragama non-Muslim. Salah satu contohnya adalah perayaan Nyepi di Bali, kaum Muslim di sana menghormati hari raya orang Hindu tersebut. Lantas mengapa upaya untuk menjalankan syariat Islam selalu ditentang habis-habisan?

Beberapa waktu lalu sebuah isu kontroversial yang dapat memicu perpecahan ramai diberitakan media massa. Dalam sebuah Dialog Lintas Agama dan Etnis di Purwakarta, Jawa Barat tanggal 23 Mei 2006 dihembuskan isu pengusiran Gus Dur dari acara tersebut. Isu tersebut dengan cepat menyebar di masyarakat sehingga menimbulkan berbagai reaksi yang berlebihan di beberapa daerah. Ada upaya adu domba antar umat Islam, dalam kasus ini secara spesifik antara massa Fron Pembela Islam (FPI) dan massa pendukung Gus Dur. Padahal Gus Dur sendiri menyatakan tidak ada pengusiran dalam kasus Purwakarta tersebut. Sebelum acara Gus Dur mengatakan kepada panitia bahwa ia tidak akan mengikuti acara sampai habis, dan sudah menjalankannya (Kompas, 27/5/2006).

Dari beberapa contoh di atas dapat kita lihat adanya indikasi upaya adu domba dan melemahkan kekuatan umat Islam yang notabene adalah umat terbesar bangsa ini. Jika umat Islam saling berseteru antar kelompok maka akan ada pihak yang bertepuk tangan dan mengambil keuntungan demi kepentingan dan tujuannya sendiri. Pihak seperti inilah yang menghendaki perpecahan di tubuh umat Islam terus berjalan dengan menciptakan berbagai isu, seperti pembelokan berita dan menciptakan opini negatif tentang Islam pada masyarakat secara terus menerus.

Indikasi adanya konspirasi penghancuran dan melemahkan umat Islam di Indonesia ini datang dari dalam dan dari luar. Untuk itu umat Islam harus waspada dalam menghadapinya baik yang dari dalam dan dari luar. Kedua kemungkinan sama-sama kuatnya, bahkan bisa berjalan beriringan dan saling mendukung. Penghancuran Khilafah Islam di Turki tahun 1924 yang dijalankan oleh Mustafa Kemal Attaturk –yang notabene adalah muslim- dan menggantinya dengan negara sekuler adalah sebuah sejarah penghancuran umat Islam dari dalam yang mendapat sokongan Inggris dan Perancis. Hendaknya hal itu tidak akan terjadi di Indonesia.
Upaya menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya sudah tampak jelas di Indonesia dengan jargon-jargon Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme. Berbagai penafsiran tentang ajaran Islam secara liar terjadi dan terbuka luas, bahkan sudah lama masuk pada kampus-kampus Islam seperti UIN, IAIN dan STAIN. Organisasi-organisasi yang mengasong jargon-jargon tersebut mendapatkan dana yang tidak sedikit dari pihak asing. Sangat naïf jika dikatakan bahwa penyandang dana tersebut tidak mempunyai maksud dan tujuan tertentu, bukankah mereka tidak mengenal amal jariyah? Hasilnya pun sudah tampak jelas; penghinaan terhadap Allah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung oleh sejumlah mahasiswa, dilegalkannya praktek perkawinan homoseksual oleh sejumlah akademisi di IAIN Semarang, dilegalkannya pernikahan muslimah dengan laki-laki non-muslim oleh dosen fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan masih banyak lagi pemikiran dan ajaran nyeleneh yang disebarkan di Indonesia.

Sekularisme adalah paham yang memisahkan sama sekali antara agama dan kekuasaan. Artinya pemerintah tidak mempunyai kepentingan untuk mengatur kehidupan umat beragama. Jelas ini paham yang mengobrak-abrik ajaran agama Islam. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam selain menjadi pemimpin agama juga sebagai kepala negara di Madinah. Kejayaan Islam selama berabad-abad juga berada di bawah kekhalifahan yang berjalan di atas rel agama. Para pengusung sekularisme sudah sejak lama berusaha membuat Indonesia menjadi negara sekuler. Namun sampai sekarang tidak berhasil, hal ini dikarenakan ajaran agama sudah melekat kuat sejak lama pada masyarakat Indonesia.

Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia diciptakan dalam berbagai macam suku, ras, warna kulit dan berbagai perbedaan lainnya. Hal inilah yang disebut dengan pluralitas atau keanekaragaman. Namun Pluralisme Agama yang diusung oleh beberapa kalangan akademisi di Indonesia menimbulkan keraguan masyarakat akan agamanya sendiri yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan semuanya menuju jalan kebenaran. Mereka (para pengasong Pluralisme Agama yang mengaku muslim) menganggap Islam bukanlah yang paling benar. Teologi gombal seperti ini bahkan sudah ditolak oleh Vatikan pada tahun 2001 dengan dikeluarkannya dekrit “Dominus Jesus” oleh Paus Yohanes Paulus II. Jadi setiap agama berhak mengklaim kebenaran pada agamanya. Toleransi antar umat beragama itu tidak masuk pada tataran akidah. Sesuai dengan ajaran al-Qur’an, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” jelas dan tidak ambigu.

Di era globalisasi seperti sekarang ini liberalisasi nilai-nilai moral agama memunculkan ide-ide dekonstruktif dari lingkungan IAIN dan sejumlah perguruan tinggi Islam yang membuat moral masyarakat muslim tidak berdaya menghadapi sebuannya di media massa. Serbuan-serbuan dekonstruksi moral yang dilakukan sebagian alumni IAIN atau sejenisnya tentu saja lebih dahsyat dari pada serbuan dari luar-seperti yang dilakukan sebagian orientalis. Sebab, para alumni atau akademisi IAIN dan sejenisnya mempunyai legitimasi sebagai ‘ulama’ yang seharusnya menjaga agama, sebagaimana diamanahkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam (Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi; Adian Husaini, GIP, 2006).
Sedangkan upaya melemahkan kekuatan umat Islam dari luar hendaknya juga diwaspadai. Amerika Serikat dan Barat tentu tidak tinggal diam dalam menanggapi prediksi Samuel Huntington bahwa setelah komunis (Rusia), ancaman bagi peradaban Amerika dan barat adalah Islam. Jika kita sering mengikuti perkembangan di Irak, Afghanistan dan Palestina maka akan tampak jelas standar ganda AS, Israel dan barat yang menyuarakan perdamaian namun menginvasi negara-negara Islam. Karena tujuan sebenarnya adalah untuk melemahkan umat Islam. Kita tahu bahwa AS dan barat berusaha keras menggagalkan proyek energi nuklir Iran sedangkan AS sendiri menggiatkan pengayaan Uranium (Republika, 27/06/2006). Secara simpel dapat kita simpulkan bahwa negara adidaya itu berusaha untuk melemahkan negara-negara Islam satu per satu. Sejak peledakan gedung WTC (11 September 2001), AS telah memproklamasikan perang terhadap terorisme dan hanya membuat dua pilihan, “Either with us or with terrorist (Bersama kami atau bersama teroris).”

Setelah melihat apa yang dilakukan AS dan sekutunya terhadap negara-negara Islam dapat kita tarik benang merah dengan keadaan umat Islam di Indonesia. Indonesia adalah negara besar dengan umat Islam terbesar di dunia. Beberapa waktu lalu beberapa petinggi AS dan Inggris berkunjung ke Indonesia. PM Inggris Tony Blair berkunjung ke Indonesia pada akhir Maret 2006 yang lalu. Tony Blair menegaskan maksud kedatangannya ke Indonesia adalah karena urgensi sebagai negeri muslim yang menurutnya dapat menjadi simbol penyatuan demokrasi dan Islam. Padahal dalam kesempatan lain Blair menyatakan bahwa Islam merupakan ideologi jahat/Evil Ideology (BBC News, 16/7/2005). Dalam waktu yang berturut-turut Menlu AS Condoleezza Rice dan Menhan AS Donald Rumsfeld juga berkunjung ke Indonesia. Tampaknya hal-hal seperti itu harus dicermati dengan baik oleh umat Islam. AS melalui petinggi-petinggiya berusaha meyakinkan pemerintah Indonesia agar bergabung dengan Proliferation Security Initiative (PSI). PSI adalah sebuah kerjasama keamanan permanen yang dengan itu AS dapat masuk dengan atau tanpa izin ke wilayah Indonesia dengan dalih menjaga keamanan dan memberantas teroris.

Media Massa dan Opini Masyarakat
Peranan media massa dalam membentuk opini masyarakat sangatlah penting. Media mampu membuat sebagian besar pembacanya mempunyai pandangan tertentu dalam menanggapi sebuah pemberitaan sesuai dengan misi media tersebut. Karena itu umat Islam harus waspada terhadap segala pemberitaan yang menyangkut kepentingan umat. Dalam kasus di Purwakarta misalnya pemberitaan yang simpang siur menyebabkan terjadinya berbagai reaksi yang hampir berakibat fatal.

Wacana tentang Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme dapat hidup dan berkembang pesat di Indonesia juga karena jasa media massa. Para pengasongnya dengan gencar melakukan sosialisasi di berbagai media. Sehingga apa yang mereka bawa dari peradaban di luar Islam sedikit demi sedikit mempengaruhi masyarakat terutama generasi muda.

Dekonstruksi moral yang meracuni masyarakat berkembang pesat melalui media massa di Indonesia. Dari IAIN Yogyakarta, Muhidin M. Dahlan menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah” (SriptaManent dan Melibas, 2005, cet. ke-7) yang memuat kata-kata: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan.” Sungguh sebuah pernyataan yang berbahaya.
Playboy asal Amerika dengan sangat gigih diperjuangkan agar bisa terbit di Indonesia. Padahal masyarakat yang menolak dan menentang cukup banyak. Bahkan kantornya diisukan pindah ke Bali pada saat baru menerbitkan edisi perdananya karena banyak protes masyarakat. Tampaknya ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk menyebarkan hal-hal yang bertentangan dengan adab dan budaya masyarakat Indonesia. Dekonstruksi moral yang pada awalnya dianggap tabu, dapat menjadi hal yang biasa bagi masyarakat bila disebarkan secara terus-meneru dan berulang-ulang.

Adian Husaini dalam bukunya, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (GIP, 2006) mengisyaratkan adanya skenario dan grand design dibalik apa yang sedang terjadi pada umat Islam di Indonesia. Masyarakat harus waspada menghadapi berbagai fenomena yang terjadi. Hendaknya kita tidak mudah terpancing dan menelan mentah-mentah apa yang datang baik dari luar maupun dari dalam. Persatuan umat sangat penting untuk menghadapi berbagai arus negatif yang mengalir di masyarakat. Wallahu a’lam bishowab.
*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin TERAS yang diterbitkan oleh Forum Silaturahmi Alumni Bahrul Ulum Tambak Beras di Kairo, dan secara iseng saya muat di sini sekedar mengumpulkan kembali tulisan2 saya yang berceceran.

Labels: