7.11.2009

Menggapai Purnama di Jabal Musa (bag. 1)
-Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Nekad-


Keputusan untuk melakukan perjalanan seorang diri ke Jabal Musa-Sinai kutentukan dalam tempo yang cukup singkat. Sebenarnya rencana untuk mendaki Jabal (Gunung) Musa sudah terpikirkan jauh hari sebelumnya. Bahkan menjadi sebuah keinginan selama bertahun-tahun sejak menginjakkan kaki di bumi Musa ini.

Perjalanan I
Sedikit cerita mundur. Waktu itu tanggal 23 April 2004, aku dan tiga orang teman; Fuad, Abid dan Hasan dengan nekat menjadi backpacker ke Sinai. Acara backpack dadakan itu disebabkan keterlambatan kami mengikuti rombongan tour. Mau kembali sudah kepalang tanggung, malu dengan kawan-kawan di rumah yang malam sebelumnya tahu kami bersiap untuk berwisata. Dengan modal pas-pasan dan kenekatan akhirnya kami memutuskan untuk menjadi backpacker ke semenanjung bagian timur Mesir itu.

Setelah tanya sana-sini dengan bahasa Arab yang masih terbatas, sampailah kami di Mahattah Dauliyah Abbasiyah atau Terminal Internasional Abbasiyah. Terminal ini adalah gerbang keluar-masuk bis-bis antar kota dan antar negara di Kairo.

Keinginan kami adalah mendaki Jabal Musa di St. Katherine-Sinai. Waktu itu status kami masih mahasiswa yang baru beberapa bulan di Mesir, masih baru. Ketika membeli tiket dan ditanya tujuannya kami sempat bertukar pandangan. Kemana? Tak ada satupun yang tahu pasti. Yang penting ke Sinai, tempat Musa bertemu Tuhan.

Akhirnya dengan segenap rasa percaya diri, kami sebutkan sebuah nama tempat yang kami yakin berada di semenanjung Sinai. Tempat itu juga disebutkan dalam al-Qur’an, Thursina. Dari sini sebuah perjalanan yang tak terlupakan sepanjang hayat –insya Allah- dimulai.

Setelah membayar tiket seharga masing-masing LE 35 (Tiga puluh lima Egyptian Pounds atau waktu itu setara sekitar Rp 50.000,-) kami ditunjukkan oleh penjaga loket bahwa bis yang akan kami tumpangi segera berangkat. Tampak sebuah bis bertuliskan East Delta dengan penumpang yang sudah naik semuanya. Mesinnya sudah menyala dan hampir saja kami terlambat.

Setelah sekitar 4-5 jam dalam perjalanan, bis berhenti di sebuah kota kecil. Sopir bis memberi tahu bahwa kami telah sampai tujuan, Thursina. Turun dari kendaraan, kami menuju sebuah terminal. Setelah bertanya tentang tujuan kami pada orang-orang di sana, sadarlah kami bahwa kami telah KESASAR!

Seharusnya sejak di Kairo kami harus memesan tiket bis menuju St. Katherine untuk mendaki Jabal Musa bukan ke Thursina. Untuk melanjutkan perjalanan ke St. Katherine cukup sulit karena uang kami sudah menipis. Mungkin hanya cukup untuk beli makanan dan beli tiket balik ke Kairo. Begitulah resiko backpacker nekat dan tanpa persiapan berarti. Tidak disarankan bagi siapapun untuk melakukan seperti yang kami lakukan. Kecuali bisa mengakhirinya seperti apa yang kami lakukan; menerima kesesatan itu dengan lapang dada.

Ternyata kesasar pun tidak seseram yang kami bayangkan ketika pertama kali tahu bahwa kami tersesat. Kekecewaan kami terobati ketika kami menemukan sebuah pantai lokal yang eksotis dan indah di Thursina. Sebuah teluk di Laut Merah yang tenang. Tak ada ombak besar, hanya riak dan gelombang air laur tertiup angin. Akhirnya kami menghabiskan senja yang indah di sana sebelum malamnya kembali ke Kairo, membawa kenangan tak terlupakan.


Senja di Pantai Thursina. Dokumentasi pribadi.


Perjalanan II
Tahun 2005 (atau 2006, aku agak lupa), aku ikut rombongan tour –bukan backpacker- yang hendak mendaki Jabal Musa. Selain mendaki gunung rombongan juga menuju pantai Syarm el-Syeikh. Untuk yang kedua kalinya, aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk napak tilas perjalanan Nabi Musa di pegunungan Sinai.

Di tengah jalan bis mogok, mesinnya “ngambek”. Kami harus menunggu bis pengganti dari Kairo sampai 3 jam lebih di Ras Sidr, tempat kami berhenti. Diputuskan ke pantai dulu baru nanti sorenya ke St. Katherine.

Perjalanan kami terhenti di tengah jalan menuju St. Katherine. Kendaraan kami dilarang melanjutkan perjalanan. Jalan menuju St. Katherine sedang diperbaiki, kendaraan dilarang masuk pada malam hari. Pihak travel menawarkan untuk menambah perjalanan hingga esok hari. Tapi kebanyakan peserta tour dan panitia menolak. Akhirnya kami kembali ke Kairo. Padahal aku sudah ingin sekali mendaki ke sana.

Alhamdulillah, Allah lalu mengganti penantian selama bertahun-tahun itu dengan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak banyak orang merasakannya.

Perjalanan III
Sebulan sebelum melakukan perjalanan, aku dan dua orang kawan sudah berencana akan mendaki Jabal Musa. Menjadi backpacker, berangkat tanpa ikut rombongan tour/travel. Kawanku sempat memberi saran agar ikut rombongan tour. Lebih murah dan lebih mudah. Tapi bagiku, menjadi backpacker adalah saatnya belajar lebih banyak. Lebih dekat dengan alam, masyarakat dan lingkungan.

Backpacker bagiku adalah seorang yang melakukan perjalanan dengan bekal pas-pasan namun mendapat pengalaman yang segudang. Bagaimana mengatur dan memutuskan untuk menggunakan bekal itu sebaik-baiknya. Seru sekaligus menegangkan. Dari situ aku banyak belajar, bertanya dan menikmati pertualangan.

Kali ini aku menjadi seorang backpacker nekad – bukan nekat-. Kalau nekad itu dengan penuh tekad, artinya dengan keberanian menghadapi berbagai resiko namun berusaha mengurangi kemungkinan resiko itu dengan perencanaan yang cukup. Kalau nekat itu seperti bonek, tanpa persiapan yang berarti, asal berangkat. Namun pengertian dalam paragraf ini mungkin tidak akan Anda dapati di kamus, karena memang karanganku sendiri.

Dua hari sebelum keberangkatan kedua kawan saya tadi tidak jadi ikut ide backpack yang aku tawarkan karena beberapa hal. Sehingga dengan mundurnya 2 orang anggota tim itu, aku harus merencanakan ulang keberangkatan.

Aku berpikir jika harus menunda lagi, mungkin kesempatan tidak akan datang lagi. Minggu depan adalah hari-hari kembali pada rutinitas yang cukup padat. Dan yang terpenting mumpung bekal yang ada masih memungkinkan untuk berangkat. Namanya juga backpacker, kalau bekal banyak namanya turis!

5 Juli 2009
Malam, aku berusaha mencari teman barangkali ada yang mau menyertaiku. Sejak awal aku bertekad –bukan nekat- jika memang tidak ada teman, sendiri pun jadi, menikmati alam simbol keagungan Allah. Namun malam itu muncul keraguan. Apakah akan berangkat sendiri?

Keraguan itu juga mendapat saham dari situasi keamanan yang lumayan “seram”. Beberapa hari sebelumnya ada kejadian salah tangkap empat mahasiswa Indonesia oleh Polisi Mesir, yang menjadi berita nasional di Indonesia. Dua orang yang disiksa Polisi Mesir itu adalah teman baik dan satu angkatan denganku. Semoga kalian diberi kesabaran.

Sampai ketiduran karena malam semakin larut, belum ada keputusan. Persiapan khusus untuk perjalanan pun belum kulakukan.

6 Juli 2009
Setalah Sholat Subuh aku mantapkan niat untuk pergi, sendiri. Saat itu juga aku melakukan persiapan untuk backpack. Jaket, pakaian ganti, handuk kecil, bolpoin, buku tulis dan peralatan survival sesuai saran Martyn Forrester dalam bukunya yang juga masuk tas punggungku: Survival, a complete guide to staying alive. Ia menyarankan untuk membawa plester luka, perban roll, lilin, pemantik api, kacamata hitam, pisau/cutter, gunting, tisu steril, lampu senter, obat-obatan, peluit, dll. Dari daftar itu yang ada di rumah hanya plester luka, perban roll dan kacamata hitam dan beberapa obat-obatan, hehe.. lengkap sudah penderitaan. Aku putuskan untuk mencari barang-barang itu di perjalanan sekaligus membeli logistik (makanan dan minuman).

10.30
Keluar dari rumah, tujuan pertamaku adalah Ragab Sons di bilangan Hay Tsamin, dekat rumah. Supermarket serba ada itu tampaknya cukup representatif untuk memenuhi beberapa keperluanku. Walaupun akhirnya tidak semuanya ada di sana.

Tujuan kedua adalah rumah seorang kawan yang mempunyai kamera foto. Maksudnya mau pinjam kamera karena backpacker satu ini tidak –eh belum punya kamera sendiri. Sebelumnya ia sudah kutelpon aku mau pinjam kamera. Kebetulan aku telah persiapkan baterei cadangan cukup banyak termasuk yang bisa diisi ulang. Ternyata kameranya rusak.

Ingin berusaha cari yang lain sudah tak ada waktu lagi. Kuputuskan berangkat tanpa kamera. Agak sayang memang. Tapi tak apalah. Kalau mau mundur berangkat karena tak ada kamera, cukup sulit. Dalam hati aku merasa bahwa kesempatannya adalah hari ini, atau harus menunggu lama lagi.

11.00
Di saat seperti itu, Opick, seorang kawan yang berkecimpung di dunia travel menelepon. Ia bertanya sesuatu padaku. Kebetulan, aku langsung bertanya tentang transportasi ke St. Catherine untuk memastikan. Pengalaman tahun 2004 lalu sudah terlalu lama untuk diingat detailnya. Inilah jawaban Opick,”Pergi saja ke Mahattah (Terminal) Turgoman di Ramses, ada bis yang berangkat pukul 11.00, tiap hari hanya ada satu kali perjalanan ke St. Katherine, untuk balik dari St. Katherine ke Kairo juga sekali sehari pukul 6 pagi.” Aku lihat jam tangan, sudah pukul 11.00 lebih. Ya, aku terlambat…

(bersambung....)

Labels: ,

4 Comments:

Blogger allabout_anya said...

wow, pemandangan senja yang indah banget.....:)

Monday, July 27, 2009 1:14:00 pm  
Blogger Faisal Zulkarnaen said...

@allabout_anya
Makasih kunjungannya...

Tuesday, July 28, 2009 2:09:00 pm  
Blogger hasido said...

Hasido menyukai ini... ;-)

Saturday, January 02, 2010 2:53:00 pm  
Blogger Faisal Zulkarnaen said...

@Purnama, kenapa Ru, ada namamu yah di situ. Ikut yok....naik gunung.

Monday, January 04, 2010 9:18:00 pm  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home