7.14.2009

Marwa el-Sherbini

image from wikipedia.org
1 Juli 2009 yang lalu seorang muslimah asal Mesir ditusuk sebanyak 18 kali sampai mati di sebuah pengadilan di Jerman. Anehnya media massa bungkam. Aku baru tahu beritanya hari ini, 13 hari setelah kejadian. Harusnya kasus luar biasa ini sudah aku ketahui dari media massa dan internet yang hampir tiap hari ku akses. Apa yang terjadi dengan dunia yang bungkam? Mana media yang dulu sibuk dengan kematian Michael Jackson?

Marwa el-Sherbini, 32 tahun, istri seorang akademisi asal Mesir yang sedang belajar di Jerman. Ia sendiri juga seorang apoteker. Pada saat dibunuh ia dikabarkan sedang hamil 3 bulan. Persoalannya bagaimana mungkin sebuah pengadilan - yang tentunya ada pengawalan dari pihak keamanan- melakukan keteledoran dengan membiarkan itu terjadi.

Suami Marwa, Elwi Okaz yang berusaha menolong istrinya malah menjadi sasaran penembakan oleh polisi yang mengawal sidang itu. Kini ia dikabarkan masih dirawat di rumah sakit. Bagaimana dengan pembunuhnya?

Alex, 28 tahun, seorang Jerman keturunan Rusia pada tahun 2008 yang lalu melakukan tindakan rasis pada Marwa dengan mengeluarkan kata-kata "teroris" dan menarik hijab yang dipakainya. Namun 2 minggu yang lalu Alex menusuk Marwa dengan pisau di sebuah mahkamah. Di depan para pengadil, pihak keamanan, suami dan anaknya yang berumur 3 tahun.

Saya tidak ingin blog ini menjadi media massa baru di dunia maya. Silahkan cari keterangan selengkapnya tentang kasus ini di internet. Saya hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi di sebuah negara yang -katanya- maju dan modern.

Beberapa orang mengatakan bahwa hal ini hanya tindakan kriminal biasa dan tidak mencerminkan masyarakat dan negara Jerman. Silahkan bicara begitu. Tapi kasus ini diawali dengan tindakan rasial pelaku. Dan coba fahami apa yang dipikirkan oleh polisi Jerman yang menembak suami Marwa. Begitukan cara pandang orang Eropa mengenai muslim. Jika Anda seorang muslim, maka Anda punya potensi yang sangat besar untuk menjadi penyerang yang arogan(?).

Bayangkan juga seandainya yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang wanita barat yang sedang hamil 3 bulan ditikam 18 kali di sebuah pengadilan di negara muslim, di depan anak dan suaminya. Jika memang mereka menganggap bahwa kejadian ini hanyalah pelaku individual mereka juga harus menanggalkan pemikiran serupa terhadap Islam. Menganggap secara merata bahwa Islam adalah agama kekerasan karena tindakan individual umatnya. Saatnya orang Barat bisa membedakan antara mana perilaku muslim dan mana ajaran Islam. Tidak semua perilaku muslim sesuai dengan ajaran Islam. Semoga mata mereka segera terbuka.

Bukan maksud tulisan ini bahwa jika seorang non-muslim meninggal dengan cara serupa kemudian menjadi tidak penting dari kasus ini. Saya lebih perhatian dengan kasus ini karena Marwa memperjuangkan haknya yang diatur HAM. Kebebasan beragama dan menjalankan agamanya. Dan ia mempejuangkan keIslamannya.

Dalam Islam diajarkan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak (alasan yang dapat dipertanggungjawabkan) adalah sama dengan membunuh umat manusia seluruhnya.

Mengulang kembali beberapa pertanyaan yang belum terjawab:

Bagaimana sang pembunuh bisa membawa pisau di sebuah tempat terhormat seperti pengadilan?

Apa yang dilakukan para petugas keamanan saat pelaku bisa menusukkan pisau sebanyak 18 kali?

Apa yang dipikirkan polisi ketika menembak suami korban?

Kemana sebagian besar media internasional yang sangat sibuk dengan kematian Michael Jackson?

Bahkan sampai sekarang saya belum menemukan beritanya di media massa nasional di Indonesia.

Allahu a'lam.

Saya hanya bisa berdoa semoga Marwa mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya bersama para syuhada dan sholihin.

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home