<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534</id><updated>2011-11-07T22:25:04.588+02:00</updated><category term='Tulisanku'/><category term='Tulisan Ringan'/><category term='Korupsi'/><category term='Kurban'/><category term='English'/><category term='Indonesiaku'/><category term='Kata Mutiara'/><category term='Islam ramadhan Idulfitri fatwa rukyat hilal hisab wawancara mufti'/><category term='IdulAdha'/><category term='Hikmah'/><category term='pramuka'/><category term='Humor'/><category term='Sajak'/><category term='Cerpen'/><category term='Berita'/><category term='Aneh'/><category term='Nasehat'/><category term='Perjalananku'/><title type='text'>A L M U S A F I R</title><subtitle type='html'>Sang Pengembara | The Traveler</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-3290403079341444676</id><published>2011-11-07T22:13:00.001+02:00</published><updated>2011-11-07T22:15:28.370+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurban'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IdulAdha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aneh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Korupsi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>KURBAN</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sholat Idul Adha baru saja selesai dilaksanakan ketika Matahari mulai menebarkan kehangatah. Para jamaah mulai beranjak dari tempat duduk mereka untuk saling bersalaman dan mendoakan satu sama lain. Cuaca pagi itu cerah, secerah wajah-wajah mereka yang menyambut hari raya dengan suka cita. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Seutas senyum terkembang di bibir Pak Salim ketika pengurus Masjid Al-Hidayah mengumumkan daftar pemilik hewan kurban yang akan disembelih pada Idul Adha tahun ini. Maklum saja, setiap tahun pengusaha sukses yang sering naik haji ini selalu berada di posisi teratas daftar penyumbang hewan kurban untuk masjid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Hari Raya Kuban tahun ini Pak Salim menyerahkan 5 ekor sapi dan 20 ekor kambing kepada panitia penyembelihan. Daging hewan-hewan itu dibagikan untuk masyarakat sekitar masjid. Tentu saja, setiap Idul Adha masyarakat di kampung Pak Salim yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah bergembira karena bisa menikmati daging kurban. Tidak ada warga kampung yang tidak memperoleh daging. Bahkan karena banyaknya daging kurban, mereka juga membagikannya pada beberapa warga di kampung lain dan panti asuhan yatim piatu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Oleh masyarakat sekitar Pak Salim dikenal sebagai orang yang dermawan. Ia suka bersedekah bagi warga yang membutuhkan. Ia juga tidak segan-segan untuk menyumbang fasilitas umum terutama Masjid Al-Hidayah. Meski kaya raya, ia dan keluarganya tetap dikenal sebagai orang yang ramah dan rendah hati. Ia juga kerap hadir dalam kegiatan di masjid dan kegiatan sosial lainnya. Jika tidak selalu sholat berjamaah di masjid, itu dapat dipahami karena ia adalah seorang bisnisman yang sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;“Pak Salim, selamat atas hewan kurbannya, semoga amal Bapak dan keluarga diterima Allah,” seorang pengurus masjid menyapa Pak Salim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;“Amin…terima kasih Pak, semoga amal kita semua diterima Allah. Saya hanya berusaha mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan pada kami,” kata Pak Salim merendah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Mereka berdua kemudian berjalan ke tempat penyembelihan di tepi tanah lapang yang biasanya digunakan anak-anak muda bermain bola. Hari itu setiap orang berbahagia merayakan hari raya. Yang mempunyai hewan kurban bergembira karena bisa melaksanakan perintah Allah. Yang menerima daging kurban turut merasakan keberkahan hari raya, bisa menikmati daging yang mungkin tidak mampu dibeli tiap hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Pak Salim merasa terkejut luar biasa ketika bangun tidur di suatu pagi. Ketika membuka mata ia merasa aneh dengan sekelilingnya. Ia merasa sangat yakin bahwa malam tadi, setelah menikmati sate kambing, ia tidur di atas kasur yang empuk di kamarnya. Pagi itu ia mendapati dirinya terbaring di sebuah kandang. Bau kotoran dan kencing binatang begitu menusuk hidung dan membuatnya merasa mual. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Keterkejutannya berkali lipat ketika ia merasa ada yang aneh dengan badannya. Ia tidak percaya dengan keadaannya saat ini. Ia menatap kaki dan tangannya dengan seksama. &lt;i&gt;Mustahil! &lt;/i&gt;Kedua kaki dan tangannya berubah menjadi kaki binatang. Ia mencoba mengusap kedua matanya, barangkali ia salah lihat. Namun ia tidak mampu melakukannya. Kedua tangannya tidak mampu mencapai mukanya. Kaki dan tangannya telah benar-benar menjadi kaki kambing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Pak Salim juga merasa mulutnya menjadi panjang, monyong seperti mulut kambing. Tidak hanya itu ia merasa mampu dengan mudah menggerak-gerakkan telinganya. Kedua telinganya juga memanjang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Badannya yang gemuk juga tidak lagi berbentuk manusia. Semuanya dipenuhi dengan rambut putih dan belang hitam. Ia terloncat karena panik luar biasa. Namun ia tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya. Kini ia harus bertumpu pada kaki dan tangannya yang sekarang berbentuk empat kaki kambing. &lt;i&gt;Tidak mungkin!&lt;/i&gt; &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ah, ia terkejut luar biasa dengan keadaannya. Ia berteriak minta tolong. Tapi yang terjadi hanya menambah kepanikannya. Yang keluar dari kerongkongannya adalah suara kambing yang serak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia berteriak lagi, memanggil istri dan anak-anaknya. Sungguh sayang, usahanya sia-sia. Yang terdengar hanyalah suara kambing yang mengembik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini mustahil&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;! Ia lalu berusaha berlari untuk mencari pertolongan. Tiba-tiba lehernya terasa sakit. Ia tercekik. Sebuah tali mengikat lehernya. Ia mencoba melepaskan tali itu. ‘Tangannya’ berusaha menggapai tali dilehernya. Tapi ia merasa tidak mampu menyentuh lehernya. Ia meronta-ronta dan berteriak. Semakin ia meronta, lehernya semakin tercekik. Semakin keras ia berteriak, sia-sia, yang keluar hanya suara kambing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tali di lehernya terikat kuat di sebuah tiang. Ia tidak kuasa melepaskannya lalu kembali berbaring di tempat itu karena kelelahan. Sekarang ia tidak lagi peduli jika harus berbaring di atas tanah dengan rumput dan kotoran binatang berserakan di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Air mata mulai menetes dari kedua matanya. &lt;i&gt;Ini tidak mungkin!&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Aku adalah seorang manusia. Aku seorang suami dan ayah bagi anak-anakku. Aku seorang pengusaha yang kaya. Bagaimana mungkin keadaanku sekarang jadi begini? Ya Allah, apa yang terjadi?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sambil terus bercucuran air mata, Pak Salim masih tidak percaya dengan keadaannya sekarang. Bagaimana mungkin sebagai seorang manusia, badannya berubah menjadi seekor binatang? Ia memang pernah mendengar kisah Bani Israel yang dikutuk menjadi kera karena durhaka pada Tuhan. Tapi itu zaman dahulu! Ribuan tahun lalu. Bagaimana mungkin itu terjadi pada dirinya? Ia hidup di zaman modern. Tidak pernah sekalipun ia tahu ada manusia yang badannya berubah menjadi binatang di zaman yang serba canggih ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ah, ini hanya mimpi. Ini tidak mungkin terjadi padaku. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia kembali meronta-ronta dan menghentak-hentakkan kakinya. Percuma, hanya membuat lehernya semakin sakit. Ia meratapi nasibnya yang sangat tidak masuk akal. Ia berdoa dalam hati agar segera dibangunkan dari tidurnya dan berharap ini hanya mimpi. Lama ia berdoa dan meratap, menyesali dosa-dosanya. Tak ada yang terjadi. Tak ada yang berubah. Ia juga tidak terbangun dari mimpi. Haji Salim Sulaiman telah berubah menjadi kambing!?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ia hampir tertidur karena lelah ketika tiba-tiba lehernya terasa tercekik. Seseorang menarik tali yang mengikat lehernya. Tarikannya begitu kuat sehingga ia harus berdiri agar lehernya tidak sakit. Orang itu terus menarik tali di lehernya. Ia meronta. Percuma. Ia ingin berteriak bahwa ia seorang manusia. Sia-sia. Suara yang keluar adalah embikan kambing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Orang itu terus menuntun ‘Pak Salim’ ke suatu tempat. Ia hanya mampu pasrah mengikuti penuntunnya. Ia dibawa ke sebuah kerumunan manusia. Seorang di antara mereka membawa sebuah parang panjang. &lt;i&gt;Jangan-jangan....? Ah, tidak!&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Apakah mereka akan menyembelihku?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tiba-tiba mereka memegangi kaki-kaki “Pak Salim” dengan kuat.&amp;nbsp; Tubuhnya lalu diangkat dan dibaringkan di depan sebuah lubang. &lt;i&gt;Ah, jangan! Aku Salim Sulaiman, seorang manusia, jangan disembelih!&lt;/i&gt; Ia mencoba meronta dan berteriak. Tetapi tangan-tangan itu begitu kuat memegangi tubuhnya. Mereka juga mulai memegangi mulutnya sehingga suaranya tertahan. Akhirnya ia hanya mampu meneteskan air mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Seseorang yang membawa parang mulai memegang kepalanya. Ah, ia mengenali pria itu! Dia adalah Pak Suyanto, mantan rekan bisnisnya. &lt;i&gt;Bukankah ia sedang dipenjara?&lt;/i&gt; Air matanya mengalir semakin deras. Ia menyesali perbuatan yang telah dilakukannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Beberapa tahun yang lalu perusahaan Pak Salim memenangkan sebuah tender proyek dari pemerintah senilai milyaran rupiah. Ia dan beberapa orang yang terlibat didalamnya menggelapkan sejumlah dana proyek. Dengan menyuap beberapa pihak, mereka berhasil menutupi perbuatan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Beberapa bulan kemudian, sebuah tim dari Komisi Pemberantasan Korupsi mulai melakukan pemeriksaan terhadap proyek tersebut. Karena khawatir kejahatan mereka terbongkar, Pak Salim dan beberapa koleganya yang terlibat korupsi dalam proyek tersebut berusaha melakukan tipu muslihat. Dengan jaringan yang dimilikinya, mereka berhasil melakukan konspirasi untuk memojokkan Pak Suyanto yang tidak tahu apa-apa. Mereka membuat bukti-bukti palsu sehingga seolah-olah Pak Suyanto adalah pelaku penggelapan dana proyek pemerintah tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Ketika KPK menemukan bahwa ada penggelapan dana proyek tersebut, Pak Salim juga sempat diperiksa. Namun hal-hal yang menunjukkan keterlibatannya tidak dapat dibuktikan di pengadilan. Semua bukti dan saksi-saksi yang sudah disuapnya membuat pengadilan menyatakan Pak Suyanto sebagai pelaku korupsi dana proyek. Walaupun sudah berusaha mengelak dari tuduhan namun Pak Suyanto tidak dapat berkutik karena semua sudah diatur sebuah skenario. Dan, sutradaranya adalah Salim Sulaiman. Akhirnya Pak Suyanto dikenakan hukuman penjara beberapa tahun dan harus mengembalikan dana yang ‘dikorupsinya’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Itu hanyalah satu kasus saja yang berhasil diketahui oleh KPK. Beberapa kali korupsi yang dilakukan Pak Salim berhasil ditutupi dengan baik. Bahkan tidak satu pun keluarganya yang tahu. Mereka hanya tahu bahwa suami dan ayah mereka adalah seorang yang baik dan dermawan. Mereka tidak tahu bahwa hewan-hewan korban, sedekah dan ongkos haji selama ini didapatkannya dengan cara mencuri. Kini ia baru menyesali kebusukannya sendiri. Ia bertobat dalam hati. Namun ia juga ragu, apakah tobatnya masih diterima oleh Tuhan dalam keadaan begini? Tobat seorang yang dikutuk menjadi kambing?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Sebuah benda dingin menempel di leher ‘Pak Salim’. Ia menatap wajah orang yang akan menyembelihnya dengan penuh penyesalan. Dalam hati ia merasa sangat menyesal. Ia telah berdosa pada Pak Suyanto dan keluarganya yang ikut menanggung fitnah yang dirancangnya. Pak Salim teringat keluarganya, istri dan anak-anaknya. Tak kuasa menghadapi apa yang sedang dihadapinya, ia lalu memejamkan matanya dan pasrah. Orang yang akan menyembelihnya mulai mengucapkan doa. Suaranya lamat-lamat terdengar di telinga ‘sang kambing’. &lt;i&gt;Bismillahi Allahu Akbar....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Istri Pak Salim terkejut ketika suatu pagi ia tidak mendapati suaminya di tempat tidur. Anak-anaknya juga tidak tahu kemana ayahnya pergi. Padahal hari ini mereka sekeluarga hendak berkunjung ke rumah seorang kerabat untuk reuni keluarga sekaligus merayakan hari raya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Tiba-tiba telepon di rumah mereka berdering. Istri Pak Salim bergegas mengangkat gagang telepon. Di seberang sana terdengar suara seorang pria yang sangat dikenalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;“Ma, maafkan Papa! Papa menyesal selama ini telah membohongi Mama dan banyak orang. Papa adalah seorang koruptor. Papa sudah menyerahkan diri. Sekarang Papa ada di Kantor Polisi....” Istri Pak Salim tiba-tiba merasa lemas, jantungnya berdetak keras dan keringatnya bercucuran. Kata-kata suaminya kemudian menjadi tidak jelas di telinganya. Karena gemetar ia menjatuhkan gagang telepon dari tangannya dan terduduk tak berdaya di lantai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Di Kantor Polisi, Pak Salim menunduk dengan mata sembab. Ia tahu istrinya akan terkejut mendengar pengakuannya. Namun ia tidak punya pilihan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Pagi tadi, ketika azan Subuh berkumandang, ia terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang aneh luar biasa. Terkejut, menyesal dan gemetar. Namun ia bersyukur telah terbangun dari mimpi buruknya. Ia masih Salim Sulaiman, seorang manusia. Mimpi itu seolah-olah nyata. Seakan-akan ia baru saja mengalaminya, menjadi kambing kurban.. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kemerduan Azan Subuh sedikit menenangkannya. Ia lalu berdiri dan bergegas pergi ke masjid. Setelah selesai sholat berjamaah dan bertobat pada Tuhan ia pergi ke kantornya untuk mengambil bukti-bukti semua korupsi yang dilakukannya. Dengan bukti itu ia mengakui kejahatannya dan menyerahkan diri. Akibat perbuatannya mungkin banyak manusia dan harta yang telah menjadi korban keserakahannya. Ia tidak ingin menunda penyesalannya walau sedetik, sebelum semuanya terlambat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;Kairo, Idul Adha 1430 H/ November 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-3290403079341444676?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/3290403079341444676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=3290403079341444676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/3290403079341444676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/3290403079341444676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2011/11/kurban.html' title='KURBAN'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-832074187807716807</id><published>2011-09-04T05:25:00.000+02:00</published><updated>2011-09-04T05:25:00.727+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam ramadhan Idulfitri fatwa rukyat hilal hisab wawancara mufti'/><title type='text'>Wawancara dengan Prof. Dr. Syaikh Muhammad Syalaby dari Lembaga Fatwa Mesir tentang penentuan awal bulan Hijriah</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Berikut salah satu petikan wawancara Kru Jurnal OASE bersama Salah Satu Tokoh Ulama Mesir, Ketua Para Mufti di Lembaga Fatwa Darul Ifta AlMisriyah, yang telah di terbitkan dalam Jurnal OASE – Cairo edisi XVII, 2008.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Dalam Masalah Penentuan awal Bulan Hijriyah yang selalu menuai konflik dan perpecahan umat islam, khususnya pada bulan-bulan besar. Kru Oase Pada tanggal 26 Maret 2008 dan tanggal 3 April 2008 telah bersilaturahim pada lembaga Fatwa Mesir Dar Ifta’ dan berhasil menemuai Rais Amin Fatawa Prof. Dr. SYaikh Muhammad Syalaby bagian Lajnah yang menangani secara khusus tentang penentuan awal bulan hijriyah. Berikut hasil petikan wawancara kru oase dengan beliau;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana mekanisme yang dipakai di Mesir khususnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Metode utama yang digunakan di Mesir adalah metode Rukyat, jika tidak terlihat hilal barulah memakai metode hisab.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana detail pelaksanaan rukyat di Mesir? Apakah setiap orang boleh bersaksi?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Tidak boleh setiap orang melakukan persaksian, tapi mekanisme rukyat yang berlaku di Mesir, dilakukan oleh sebuah panitia khusus yang terdiri dari 6 unsur, dan setiap unsur terdiri dari beberapa orang. Ada unsur dari keamanan Nasional, unsur pemerintah lokal, unsur ahli iptek, unsur ulama dll. Jika satu unsur saja telah melihat hilal maka dianggap sah karena sudah terdiri dari beberapa orang. Jika semua unsur tersebut tidak melihatnya maka dianggap tidak terlihat. Jika demikian barulah beralih kepada metode hisab, apa yang dikatakan oleh hisab itulah yang menjadi patokan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Secara administratif bagaimana mekanisme penentuan awal bulan hijriyah di Mesir, siapa yang berhak mengumumkan keputusan? Siapa yang menentukan panitia rukyat (pengamatan) dan lain-lain?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Mekanisme penentuan awal bulan Hijriyah di Mesir, khususnya bulan Ramadhan dan Syawal adalah memakai metode rukyat hilal. Rukyat tersebut dilakukan oleh sebuah panitia khusus. panitia ini dibentuk oleh Darul Ifta (Lembaga fatwa) sendiri, dan sistem ini sudah lama di pakai oleh negara mesir. Panitia khusus yang terdiri atas 6 unsur tersebut disebar ke seluruh penjuru Mesir. Sedangkan mekanismenya adalah sangat sederhana, jika telah terlihat Hilal, maka itu yang dijadikan patokan. Jika tidak, maka merujuk pada hisab falaki. Inilah yang menjadi kesepakatan bersama sebagaimana yang tertuang dalam Muktamar Jedah pada tahun 90 an.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jika Hisab telah mengatakan adanya hilal misalnya, mengapa harus dilakukan rukyat? Mengapa tidak langsung berpedoman pada hisab saja?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Karena metode sebenarnya yang dapat dijadikan patokan adalah Rukyat, bukannya hisab. Jika rukyat tidak berhasil, barulah beralih ke hisab. Oleh sebab itu kita katakan bahwa hisab adalah Yu`khodz fi an Nafyi La fi al Isbat (hisab hanya boleh dipakai jika tidak terlihat hilal). Jika hisab mengatakan misalnya, bahwa awal bulan baru adalah besok pagi, sedangkan rukyat belum dilakukan maka kita tidak menerima hisab tersebut. Harus melalui rukyat terlebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Imam Subki pernah melontarkan pendapat, bahwa jika seseorang telah mengaku melihat hilal, tapi secara hisab, hal tersebut belum memungkinkan, maka yang dipakai pedoman adalah hisab dan rukyat tersebut tidak dianggap. Bagaimana menurut Duktur mengenai hal ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Tidak, hal tersebut tidak boleh, karena apa yang terkandung dalam hadis sudahlah jelas, "puasalah karena melihat hilal dan berbukalah (hari raya) karena melihatnya". Walaupun secara hisab hilal dikatakan tidak mungkin terlihat, tapi secara rukyat, hilal telah terlihat, baik rukyat tersebut menggunakan mata telanjang ataupun memakai peralatan lain semisal teleskop dan sebagainya, lalu telah benar-benar diteliti bahwa yang dilihatnya adalah hilal, bukan benda angkasa lain, semacam bintang atau mars, telah diteliti juga mengenai keadilan (kapabelitas) yang melihat, maka yang menjadi patokan adalah rukyat, dan wajib bagi kita untuk menerimanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jadi harus diteliti dahulu bahwa yang terlihat adalah benar-benar hilal?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Ya, harus begitu. Ini supaya tidak terjadi kekeliruan dalam rukyat. Jangan sampai benda angkasa lain, semacam planet mars atau bintang, dikira hilal. Kekeliruan ini pernah terjadi dua tahun yang lalu di sebuah negara. Ada saksi yang mengatakan telah melihat Hilal, lalu berpuasalah negara tersebut pada keesokan harinya, yaitu hari sabtu. Akan tetapi setelah diteliti secara detail dan berdasarkan pengakuan saksi sendiri, bahwa ternyata yang dilihatnya bukanlah hilal, tapi benda angkasa lain. Lalu secara resmi negara tersebut mengumumkan bahwa hari puasa yang sebenarnya adalah jatuh pada hari berikutnya yaitu hari ahad.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana menurut Duktur mengenai sebuah pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari rukyat dalam hadis adalah rukyat bil Ilmi atau dapat dikatakan hisab, dan bukan rukyat pengamatan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Makna asli (haqiqi/denotatif) dari rukyat adalah melihat dengan mata telanjang. Sedangkan rukyat bil ilmi adalah makna majazi (kiasan) darinya. Jika disebut rukyat begitu saja (muthlaq) maka maksudnya adalah makna aslinya dan bukan makna majazinya (konotatif/kiasan). Dalam bahasa Arab sendiri terdapat kaidah, sebuah lafal harus dimaknai dengan makna aslinya selama masih dimungkinkan, dan tidak boleh berpindah kepada makna kiasan, jikalau makna asli tersebut masih memungkinkan. Dan dalam kasus ini tidak ada sesuatu pun yang menghalangi untuk memaknai rukyat secara makna asli. Rukyat yang dipahami semua orang adalah melihat dengan mata, karena itu memang makna aslinya, sedangkan rukyat bil ilmi adalah rukyat memakai akal bukan memakai mata, dan ini disebut makna majazi (kiasan) atas rukyat. Oleh sebab itu rukyat harus dipahami bahwa maksudnya adalah melihat dengan mata, jangan dipahami rukyat bil ilmi. Ini sebagaimana kata 'Ain yang makna aslinya adalah mata orang atau mata binatang. Walaupun 'Ain ini bisa juga berarti mata-mata (spionase) tapi itu adalah makna kiasan. Jika disebut 'Ain begitu saja (mutlaq) maka yang akan dipahami adalah makna aslinya yaitu mata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jadi pendapat yang mengatakan bahwa rukyat adalah rukyat bil ilmi adalah salah?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Yang berpendapat demikian dapat dikatakan menyelisihi Syariat. Karena secara syar'i telah jelas, bahwa yang dimaksud rukyat adalah melihat dengan mata kepala. Ini dengan dalil hadis yang mengatakan "jika tertutup bagimu (Ghumma alaikum) maka lengkapkanlah bilangan bulan Syaban menjadi 30 hari". Tertutup di sini maksudnya adalah jika penglihatan mata terhalang, baik karena awan, mendung atau memang belum terlihat, dan ini hanya terjadi jika melakukan rukyat dengan mata kepala, bukannya dengan hisab. Karena kalau dilakukan dengan hisab maka tidak mungkin tertutup (Ghumma). Begitu juga hadis-hadis lain yang senada mengisyaratkan bahwa yang dimaksud rukyat adalah melihat dengan mata kepala bukannya dengan akal. Jika rukyat dalam hadis tersebut dimaknai dengan rukyat bil Ilmi maka yang menjadi pedoman adalah hisab karena hisablah yang merupakan rukyat dengan akal. Jika demikian maka hisab dipakai fil isbat wan Nafyi (hisab dipakai jika terlihat hilal ataupun tidak). Sedangkan apa yang menjadi kesepakatan Jedah tidaklah demikian. Muktamar Jedah yang berlangsung pada tahun 90 an yang dihadiri oleh ulama-ulama terkemuka islam memutuskan bahwa hisab falaki hanya dipakai fi an Nafyi duna al Isbat (hisab hanya dipakai jika tidak terlihat hilal).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana pendapat Duktur jika Hisab dipakai fi Halat an Nafyi wa al Isbat (Hisab bisa dipakai secara umum)?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Ini merupakan pendapat yang menyelesihi semua ulama fikih, juga menyelisihi hasil keputusan muktamar Jedah yang notabenenya di hadiri oleh semua ulama yang berkompeten di bidang tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana jika dalam suatu negara terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriyah yang disebabkan perbedaan metode yang dipakai, sebagaimana yang terjadi di negara kami, Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Bagaimanapun yang dijadikan patokan adalah keputusan Waliyul Amri (pemerintah) karena dialah yang memiliki otoritas penuh untuk menyelesaikan setiap pertikaian. Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan bahwa Hukmu al Hakim Yarfa' al Hilaf (keputusan Hakim / pemerintah adalah yang bisa menyelesaikan perbedaan). Oleh sebab itu jika pemerintah telah mengambil keputusan, maka itulah yang harus ditaati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Ada fenomena menarik yang terjadi di Indonesia. Indonesia ada beberapa ormas yang mempunyai metode tersendiri dalam penentuan bulan Hijriyah, terutama bulan puasa dan hari raya. Ormas-ormas tersebut memiliki anggota yang sangat loyal. Nah, seringkali terjadi perbedaan mengenai penentuan tersebut yang disebabkan perbedaan metode yang dipakai. Bagaimana menurut Duktur mengenai fenomena tersebut?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Memang Negara Kalian Paling Aneh Sendiri! Yang memberi keputusan harusnya pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jika pemerintah tidak begitu kuat di mata masyarakat, dan kebanyakan masyarakat lebih percaya untuk mengikuti ormasnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Hal ini tidak boleh terjadi, karena akan menyebabkan kekacauan. Akan terjadi perbedaan dalam masyarakat, si A puasa hari Rabo, si B puasa hari Kamis misalnya, dan seterusnya. Ini akan menimbulkan keresahan. Setiap teritorial yang memiliki wilayah hukum tersendiri, yang memiliki waliyul amri (pemerintah) tersendiri haruslah ditaati oleh setiap masyarakat. Dan pemerintah tersebutlah yang harus menyelesaikan setiap perbedaan yang ada dalam masyarakatnya. Setiap pemerintah harus bisa memersatukan rakyatnya, rakyat jangan dibiarkan berbeda karena akan menjurus kepada pertikaian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana pandangan Duktur mengenai banyaknya ormas di Indonesia yang seringkali berbeda satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Ormas-ormas tersebut perlu pengaturan dan penataan. Tanpa penataan yang baik, hanya akan mengantarkan kepada pertikaian. Perbedaan-perbedaan antar golongan seringkali berhubungan dengan kepentingan dan akhirnya terjadilah pertikaian yang tidak diinginkan, semuanya akhirnya hanya berpedoman atas kepentingannya masing-masing, semuanya akhirnya tidak memakai akal sehat dalam berpikir sehingga terjadilah kekacauan. Yang paling baik adalah bersatu, jadilah sebuah kekuatan sosial yang kokoh yang selalu berpegang teguh kepada ajaran agama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jikalau terjadi perbedaan antara ormas-ormas tersebut, maka apa yang harus dilakukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Jika terjadi perbedaan, maka pemerintah-lah yang harus memilih dari perbedaan-perbedaan tersebut untuk dijadikan sebuah keputusan, karena keputusan pemerintah lah yang dapat menghilangkan perbedaan (hukm al Hakim Yarfa' al Hilaf). Sebagaimana yang digariskan dalam ilmu fikih, jikalau pemerintah telah menetapkan sebuah keputusan, maka itulah yang menjadi patokan, semuanya harus tunduk dan patuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Jadi keputusan pemerintah bersifat mengikat? Jika ada yang keluar darinya, bagaimana hukumnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Jika pemerintah telah memutuskan sesuatu dan ada yang melanggarnya, maka yang melanggar berdosa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Bagaimana hukum para pengikut ormas?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Jika pendapat ormas berbeda dengan keputusan pemerintah, maka bagi pengikut ormas harus meninggalkan pendapat ormasnya dan mengikuti keputusan pemerintah. Jika pengikut tadi bersikeras untuk mengikuti pendapat ormasnya, maka mereka berdosa. Karena ini bisa diserupakan dengan para pembuat makar (bughot) yang keluar dari Imam. Allah telah berfirman: " Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali ". (QS. An Nisa : 115). Maka setiap penduduk suatu negara harus menaati pemerintahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Oase : Apakah di negara Mesir sendiri pernah terjadi perbedaan sebagaimana yang terjadi di Indonesia?&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;DI : Tidak pernah sama sekali. Semuanya tunduk kepada pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Darul Ifta. Hampir pernah terjadi perbedaan, salah satu jama'ah islam yang ada di Mesir mengatakan, kami mengikuti Negara Saudi. Lalu kami katakan kepada mereka, kamu telah melakukan pelanggaran, karena dalam suatu negara telah memiliki waliyul amrinya sendiri yang wajib ditaati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-832074187807716807?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/832074187807716807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=832074187807716807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/832074187807716807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/832074187807716807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2011/09/wawancara-dengan-prof-dr-syaikh.html' title='Wawancara dengan Prof. Dr. Syaikh Muhammad Syalaby dari Lembaga Fatwa Mesir tentang penentuan awal bulan Hijriah'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6041202401899052339</id><published>2011-06-26T05:01:00.000+02:00</published><updated>2011-06-26T05:01:28.965+02:00</updated><title type='text'>Para Ahli Kubur dari Jombang</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header"&gt;  &lt;/div&gt;Oleh : Emha Ainun Nadjib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya bikin dengan asumsi  dasar bahwa para pembaca percaya ada Allah dengan kekuasaan-Nya. Di  salah satu tayangan televisi, muncul seorang kiai dengan nasihat sangat  bijak, kurang-lebih begini: "Jangan minta kepada Ponari, Ponari itu  makhluk. Jangan minta kepada batu, batu itu makhluk. Jangan berlaku  syirik sehingga menjadi manusia musyrik. Mintalah Khaliq, Allah Swt...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat  pendek tapi cespleng. Media massa sangat mengerti kecerdasan  masyarakat, sehingga cukup pendek saja. Setiap yang mendengarkan fatwa  itu meneruskan sendiri dalam hati dengan logikanya: "Jangan minta  kesembuhan kepada dokter, dokter itu makhluk. Jangan minta kepada pil  dan obat-obatan, pil dan obat-obatan itu makhluk. Jangan berlaku syirik,  sehingga menjadi manusia musyrik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah ya Rabbi ya Karim,  wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Kalau Nabi Musa pegang  tongkat, bersama pasukannya dikejar tentara Firaun, mendapat perintah  dari Allah, "Pukulkan tongkatmu ke air laut!" Lantas laut terbelah,  pasukan memasuki belahannya, kemudian Firaun dan tentaranya mengejar ke  belahan itu, namun tenggelam karena air menutup kembali, mohon dengan  sangat jangan simpulkan bahwa yang dipegang Musa itu "tongkat sakti",  sehingga Nabi Musa juga "Maha Dukun" yang sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dengan  sangat, jangan rumuskan bahwa tongkat Nabi Musa mampu membelah laut,  mampu menerbitkan mata air dari batu kering, meskipun insya Allah bisa  bikin pecah kepala kita. Apalagi lantas dengan metodologi ilmiah  tertentu, para pakar meneliti tongkat itu mengandung zat dan energi apa  sehingga air samudra terbelah olehnya. Kalau besok paginya Anda minta  kepada Nabi Musa untuk membelah air laut lagi, percayalah air laut tak  akan terbelah. Sebab, yang membuat laut terbelah bukanlah Musa atau  tongkatnya, melainkan perintah atau perkenan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha Allah ini  pemegang saham dan the only resources dari seluruh "alam semesta ini  dengan segala ketentuan hukum dan perilakunya”. Hak absolut Allah untuk  menyuruh orang membelah laut dengan tongkat atau dengan meludahinya.  Kalau Musa pukulkan tongkat lagi ke laut tanpa perintah-Nya, dijamin tak  terjadi apa-apa. Atau besoknya Tuhan suruh Musa "Berteriaklah  keras-keras!", lantas tiba-tiba laut terbelah lagi ditambah gunung  ambruk dan air sungai membalik arah arus airnya, itu sepenuhnya  terserah-serah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhluk, juga dokter atau dukun, batasnya  adalah mengobati atau menjadi sarana proses menuju kesembuhan. Tapi  pengambil keputusan untuk sembuh atau hak dan kuasa untuk menyembuhkan  ada pada Allah. Terserah Dia juga mau bikin sembuh orang sakit pakai  cara bagaimana dan alat apa. Bisa tongkat, bisa batu, bisa air, bisa  karena ditempeleng, bisa dengan apa pun saja semau-mau Tuhan. Yang  diperintah oleh Tuhan untuk menjadi sarana penyembuhan terserah Dia  juga. Mau kiai, pendeta, pastor, rabi, tukang sol sepatu, Ponijo, Rasul,  Nabi, Markesot, atau siapa pun dan apa pun saja. Kalau Anda dan saya  tidak setuju, Tuhan "tidak patheken" juga. Dia Maha Pemilik Saham segala  sesuatu dalam kehidupan, Dia berhak ambil keputusan apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  seorang suami pergi lama tugas ke kota yang jauh, sehingga bawa celana  dalam istrinya, mohon jangan simpulkan bahwa dia penggemar celana dalam,  kemudian Anda coba rebut celana dalam itu untuk Anda selidiki, bahwa  dia mengandung zat-zat dan bebauan apa, sehingga seorang tokoh besar  membawa-bawanya ke mana pun pergi. Kalau pas di kamar hotel sendirian  suami itu mencium-ciumi celana dalam, mohon jangan dikonklusikan bahwa  ternyata ia punya penyakit jiwa dan harus dibawa ke psikiater. Ya Allah  ya Rabbi ya Karim, yang diciumi oleh suami itu bukan celana dalam,  melainkan cintanya kepada sang istri dan komitmen kesetiaan di antara  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kalau  saudara-saudaramu naik haji dan berebut mencium Hajar Aswad, itu bukan  karena mereka stone-mania atau ngefans sama batu. Mereka sedang  meneguhkan kesadaran bahwa mereka sangat butuh Allah dalam hidupnya,  maka mereka mengukuhkan cinta kepada makhluk yang paling dicintai Allah,  yakni Rasulullah Muhammad Saw. Dan karena dulu Muhammad juga mencium  batu hitam itu, padahal jelas beliau tidak punya hobi makan batu, maka  mereka menyatakan di hadapan Allah cinta mereka kepada Muhammad.  Mudah-mudahan dengan itu mereka kecipratan cinta Allah kepada Muhammad,  sehingga Allah memperlakukannya sebagai bagian dari yang paling Ia  cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya Nabi Musa ketika memimpin pasukan kejaran Firaun  itu mendadak sakit perut di tengah lari-lari. Musa mengeluh kepada  Allah, dan Allah memerintahkan agar Musa naik bukit ambil daun dari  sebatang pohon untuk menyembuhkan sakit perutnya. Musa naik dan, sebelum  menyentuh daun, perutnya sudah sembuh. Tolong jangan ambil konklusi  "Itu daun mujarab banget, belum disentuh, perut udah sembuh". Musa balik  ke pasukannya, mendadak sakit perut lagi. Ia langsung naik ke bukit,  tapi sesudah makan sekian lembar daun perutnya tak sembuh-sembuh juga.  Musa protes kepada Allah. Dalam logika saya, Allah menjawab dengan penuh  kegelian: "Hei, Sa. Emang siapa yang bilang bahwa daun bisa  menyembuhkan perutmu? Meskipun daun itu mengandung unsur-unsur yang  secara ilmiah memang rasional bisa menyembuhkan perutmu, Aku bisa bikin  tetap tidak menyembuhkan. Tadi waktu sakit perut yang pertama kau  mengeluh kepadaku, tapi pada yang kedua kau tak mengeluh dan langsung  saja lari ke bukit ambil daun. Karena kamu salah cara berpikirmu. Salah  pandangan ilmu dan cintamu kepada segala sesuatu. Kamu salah peradaban.  Kamu pikir daun bisa menyembuhkan. Itu tergantung mau-Ku. Aku  menyembuhkanmu bisa pakai daun, air putih, batu, lewat Gaza, Tursina,  Jombang, atau mana pun semau-mau-Ku.... Berapa lama sebuah anugerah  Kuberikan, itu rahasia-Ku, bisa sesaat, sebulan, setahun, terserah Aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Datanglah  ke dokter, minta obat, sebagaimana ratusan juta orang telah  melakukannya. Datanglah ke kiai, bawa air putih. Atau datanglah ke mana  pun kepada siapa pun. Asalkan kau tak posisikan mereka semua pada  maqam-Ku. Engkau berlaku musyrik atau tidak, terletak tidak pada pil dan  dokternya, tongkat dan Musa, air dan kiai, atau batu dan siapa pun yang  kutitipi batu sejenak. Letak syirik ialah pada pola pandangmu, pada  cara berpikirmu. Jangan percaya kepada Ponari, Dukun, Ponari atau Kiai,  tapi hormatilah mereka, karena siapa tahu mereka adalah hamba-hamba-Ku  yang Kutitipi sarana untuk kesembuhanmu. Minumlah pil dokter dan air  batu Ponari dengan kesadaran memohon kepada-Ku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku  dibentak oleh sebuah suara: "Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau  sok-sok berlagak mengurusi NKRI!" Terperangah aku. Terpaksa kupotong di  sini tulisanku ini, sebab aslinya panjang sekali. Kucari siapa  berani-berani membentakku. Tak ada siapa-siapa. Tapi malam di Kendari  menjelang aku tidur kelelahan usai bersalaman dengan ribuan undangan  pengantin anakku, bentakan itu datang lagi: "He! Perhatikan itu para  ahli kubur dari Jombang!" Ahli kubur? Aku tak ngerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin  pandangan-pandangan dan anggapan-anggapan dalam hidupmu dikubur habis  oleh mutilasi-mutilasi dari tangan seorang yang tersisih secara sosial,  yang menderita secara kejiwaan, yang terasing secara politik dan  sejarah. Sekarang kalian sedang dikubur oleh sebongkah batu yang nenek  itu menyebutnya Watu Gludug, yang dititipkan beberapa waktu kepada anak  SLB yang kesepian dan menderita tatkala dipindahkan ke SD. Pelajarilah  hari-hari besok dengan meluangkan waktu memperhatikan siapa saja dari  tempat itu yang tingkat ketersisihan dan keteraniayaannya lebih  dahsyat...." Mendadak ada suara lain yang membungkam suara itu: "Husysy!  Shut up!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini Koran Tempo, 21 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6041202401899052339?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6041202401899052339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6041202401899052339' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6041202401899052339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6041202401899052339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2011/06/para-ahli-kubur-dari-jombang.html' title='Para Ahli Kubur dari Jombang'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2948765924782605348</id><published>2011-05-06T00:41:00.000+02:00</published><updated>2011-05-06T00:41:18.121+02:00</updated><title type='text'>Lelaki Bunga</title><content type='html'>lelaki&lt;br /&gt;memandang ujung kaki&lt;br /&gt;di bangku taman berteman sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin tertawa mengejek dan menari&lt;br /&gt;kau pikir aku akan menolongmu&lt;br /&gt;menerbangkan mimpi-mimpimu&lt;br /&gt;dan menyemainya di putik-putik bunga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki&amp;nbsp; &lt;br /&gt;memandang ujung kaki&lt;br /&gt;di bangku taman berteman sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulbul kecil membisikkan melodi satir&lt;br /&gt;jadi kau ingin aku terbang ke negeri Saba&lt;br /&gt;dan mengambilkan sebutir permata...&lt;br /&gt;untukmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendengar itu&lt;br /&gt;sang lelaki berhenti mencintai bunga-bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, musim semi 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2948765924782605348?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2948765924782605348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2948765924782605348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2948765924782605348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2948765924782605348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2011/05/lelaki-bunga.html' title='Lelaki Bunga'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7713176105492853453</id><published>2011-05-03T00:24:00.000+02:00</published><updated>2011-05-03T00:24:58.884+02:00</updated><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>Mimpiku masih terbayang&lt;br /&gt;dalam mimpiku aku bermimpi&lt;br /&gt;aku terbang&lt;br /&gt;mimpi, hanya milikku&lt;br /&gt;milikku hanya mimpi&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp; yang terpinjam&lt;br /&gt;mimpiku yang milikku, semu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7713176105492853453?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7713176105492853453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7713176105492853453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7713176105492853453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7713176105492853453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2011/05/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1063892668322713308</id><published>2009-07-16T23:15:00.005+03:00</published><updated>2009-07-17T00:08:24.596+03:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggapai Purnama di Jabal Musa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (bag. 2)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Nekad-&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sl-ORhNB6qI/AAAAAAAAASY/hiVHLBfiwkM/s1600-h/img-village.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sl-ORhNB6qI/AAAAAAAAASY/hiVHLBfiwkM/s400/img-village.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5359158513216121506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;                                             &lt;span style="font-style: italic;"&gt;  Pemandangan di Lembah St. Katherine. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Image from &lt;a href="http://www.st-katherine.net/"&gt;www.st-katherine.net&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;6 Juli 2009&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku sempat ingin mencoba berangkat hari itu juga. Barangkali ada rute yang tak langsung ke St. Katherine. Ku urungkan. Pulang? Dengan persiapan dalam ransel seberat sekitar 10 kg di punggung? Bagiku pantang pulang sebelum berjuang, he..he…&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Keputusanku untuk hari itu adalah: pergi ke rumah kawan di Bab el-Sha’riya, lebih dekat dengan Terminal Ramses. Sam, nama kawanku itu. Ia tinggal dengan 2 orang kawan lainnya di Bab el-Sha’riya, sebuah kawasan yang padat penduduk namun eksotis, terasa sekali kehidupan masyarakat Mesir. Orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; jarang yang tinggal di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sam juga suka melakukan &lt;i&gt;backpacking&lt;/i&gt;. Namun ia menolak ketika kuajak mendaki Jabal Musa. Kapok, katanya. Ia pernah mendaki ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ketika mendaki terasa biasa saja karena malam hari. Namun ketika turun gunung ia merasa enggan. Ternyata ia terjangkit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;altophobia&lt;/span&gt;, sindrom takut ketinggian. Walaupun tampaknya tidak parah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Malam itu aku menginap di rumah Sam agar esoknya lebih mudah mengejar kendaraan. Di sana aku malah ada waktu menambah logistik dan “alutsista”; 3 biji telor ayam (direbus di rumah Sam), sekaleng sarden tuna, 2 bungkus Indomie, obat sakit perut, sebungkus permen coklat, peluit, travel mug dan tambahan lampus senter kinetik-buat jaga-jaga jika kehabisan baterei cadangan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;7 Juli 2009&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah sarapan, pukul 09.50 aku melangkahkan kaki meninggalkan rumah Sam. Perjalanan dari rumah Sam ke Ramses sekitar 15 menit dengan kendaraan umum. Aku belum pernah ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mahattah &lt;/span&gt;(Terminal) Turgoman. Kepada sopir microbus aku minta diturunkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Oleh seorang penumpang microbus yang baik hati aku diantar ke Mahattah Turgoman. Kebetulan – kebetulan? Tidak ada yang kebetulan di dunia ini- dengan izin Allah ia pergi searah menuju Mahattah Turgoman. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Mahattah Turgoman adalah terminal bis yang cukup mewah dan besar. Ruang tunggunya ber-AC. Letaknya di bilangan Ramses dan melayani perjalanan bis antar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di Mesir, bahkan juga antar negara.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;10.30&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku membeli tiket bis East Delta atas petunjuk para petugas di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, di loket nomor 2. Harga tiketnya LE 40 (sekitar Rp 72.000,-). Aku berdoa dalam hati, semoga kali ini tidak nyasar lagi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tepat ketika masuk ruang tunggu, terdengar pengumuman dari pengeras suara agar para penumpang yang menuju St. Katherine segera bersiap di pintu nomor 3. Belum sempat duduk aku langsung menuju pintu 3. Antara ruang tunggu dan tempat parkir dibatasi oleh dinding kaca tembus pandang. Puluhan bis berjajar menunggu penumpang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;11.00&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Bis East Delta yang aku tumpangi bergerak menuju Semenanjung Sinai. Jarang sekali aku merasakan ketepatan waktu ketika naik transportasi di Mesir seperti kali ini. Benar-benar tepat waktu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memang jarang ada jadwal transportasi yang tepat waktu di Mesir, selain Metro bawah tanah. Alhamdulillah, berarti aku tidak harus menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku mendapat kursi nomor 48. Letaknya paling belakang, sebelah kanan. Beruntung di posisi itu ada sedikit ruang di antara kursi dan jendela. Aku bisa meletakkan ransel 10 kg itu di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tidak harus menaikkanya di bagasi yang terletak di atas kursi penumpang. Jika perlu sesuatu aku tidak harus repot berdiri untuk mengambilnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selama perjalanan ada sekitar 4-5 pemeriksaan tanda identitas penumpang. Tak tahu kenapa dari pemeriksaan sebanyak itu seingatku hanya sekali pasporku dilihat. Kebanyakan hanya melihat sekilas, begitu tahu aku orang asing, sendirian, mereka tersenyum lalu berbalik. Ternyata perjalanan ini tidak seseram yang kubayangkan sebelumnya. Ketika dulu melakukan perjalanan dengan 3 orang kawan, sampai harus turun ke pos pemeriksaan karena ada seorang kawan yang “lupa” membawa paspor. Setelah menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswa Al-Azhar, akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Perjalanan kali ini tidak ada halangan berarti. Hanya cuaca yang agak panas karena AC dalam bis kurang bekerja dengan baik, bahkan sering mati atau dimatikan. Tapi pemandangan selama perjalanan cukup menghibur. Terutama setelah melewati Terowongan Ahmad Hamdi yang memotong Terusan Suez.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dari jendela bis sebelah kanan, gelombang-gelombang Laut Merah berkejaran ke pantai pasir di sepanjang jalan. Agak jauh dari pantai laut yang membiru kehijau-hijauan menyejukkan mata. Sementara sebelah kiri &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pasir yang dibayangi pegunungan batu. Pegunungan Sinai. Di daerah inilah dulu Bani Israel melarikan diri dari kejaran Firaun. Mereka diberkahi dengan makanan dan minuman oleh Sang Maha Pencipta. Sayang sekali mereka kemudian menyia-nyiakannya. Meremehkan &lt;i&gt;manna wa salwa&lt;/i&gt;, rahmat yang tiada &lt;st1:place st="on"&gt;tara&lt;/st1:place&gt; di gunung pasir gersang. Merendahkan mata air menyegarkan karuniaNya di bebatuan cadas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Di sebuah persimpangan East Delta membelok ke kiri, meninggalkan pantai berpasir nan elok. Jalan yang berkelok sekarang hanya ditemani oleh pegunungan batu. Beragam struktur dan warnanya, merah, putih, hitam, kuning, jingga. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;18.45&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tujuh jam lebih kami mengarungi samudera pasir berbatu. St. Katherine, terminal terakhir telah kami jelang. Turun dari bis aku masih belum tahu apa yang akan aku lakukan dan tempat mana yang akan aku tuju. Sebenarnya aku sudah menyiapkan peta &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kecil di Sinai itu. Peta itu ku dapat dari internet, tapi belum sempat dicetak karena keberangkatan yang terlalu mendadak. Aku pikir nanti bisa dicetak di tempat tujuan, tinggal cari warung internet. Sayang kesempatan itu tidak ada, karena aku tak tahu apakah di &lt;st1:place st="on"&gt;St.&lt;/st1:place&gt; Katherine ada warnet. Sebuah pelajaran lagi, jangan terlalu berharap ada warnet jika &lt;i&gt;backpacking&lt;/i&gt; ke suatu tempat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Di tengah sedikit kebingungan itu datanglah dua orang Badui menyapa. Mereka adalah orang Badui Jabaleya, penduduk asli wilayah St. Katherine dan sekitarnya. Hanya suku ini yang mempunyai otoritas menjadi pemandu di area itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tidak sekedar menyapa, dengan baik hati mereka juga menawarkan penginapan dan transportasi. Tidak serta merta aku menerima tawaran baik itu. Karena aku masih belum tahu kemana arah tujuanku. Awalnya mereka menyapa dengan bahasa Inggris, lama-lama ketahuan juga kalau aku bisa bahasa ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ammiyah&lt;/span&gt; (bahasa pergaulan Mesir), meski tak terlalu mahir. Sehingga mereka akhirnya tahu kalau aku tinggal lama di Mesir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku bilang sama mereka aku ingin naik gunung. "Kalau begitu kita ke hotel saja, bukankah kamu mendaki gunung nanti jam satu malam? Sekarang dimana kamu beristirahat? Makan? Mari saya antar ke hotel..." kata mereka. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pendaki Jabal Musa biasanya memang berangkat dari kaki gunung pukul 01.00 dini hari. Sambil menunggu biasanya mereka menginap di hotel atau penginapan di sekitar situ. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Saya meraba saku celana. "Saya tidak ingin ke hotel,"kataku. Karena terlalu lama menjawab tawaran mereka. Akhirnya seorang dari mereka meninggalkan aku dan temannya. Ia tampaknya sopir taksi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;"Kalau begitu bagaimana kalau ke kafetaria, kamu bisa makan atau minum di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;?" Aku termangu, masih ragu. Ia mulai memahami kebingunganku. "Kalau begitu aku antar ke lokasi monasteri saja, di &lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt; juga ada penginapan dan kafe, kamu bisa menunggu sampai waktu mendaki di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;." Ini lebih logis untuk saku dompet tipisku. &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Monasteri St.&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt; Katherine adalah titik awal bagi para pendaki ke Jabal Musa. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;"Mau berapa?"&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;"20 Pound karena kamu sendirian." &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ku coba menawar,"Kalau 15 Pound gimana?" &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;"Wah nggak bisa, 20 Pound," katanya mantap.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;"Ayo lah!" Ku pikir untuk orang yang masih meraba situasi tidak terlalu mahal. Masih bisa terjangkau kantong. Kami menuju sebuah kendaraan - semacam angkot kalau di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;- berwarna putih. Tampak masih bagus dan terawat. Penumpangnya hanya aku dan seorang kawan pengemudi itu, orang Mesir. Tampaknya ia penduduk setempat. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Sebetulnya tidak terlalu jauh jarak antara terminal dengan Monasteri St. Katherine – pendudul lokal menyebutnya Deir Sant Katrin. Sekitar 10 menit sampailah kami di Deir. Begitu turun ku ulurkan selembar 50 Pound pada pemilik kendaraan itu. "Tak ada uang kecil ya?" tanyanya. Aku menggeleng. Ia lalu mengajakku ke sebuah kafetaria untuk menukar uang. Sekalian saja aku pesan teh manis. Dua gelas. Kenapa dua gelas? Ya, satu gelas lagi untuk pemilik kendaraan yang mengantarku tadi. Karena dia ramah dan tidak berusaha memberi harga transportasi semahal mungkin. Aku pikir harga yang ia berikan cocok dengan jarak yang aku tempuh dari terminal ke Deir. Meski sedikit lebih mahal tapi masuk akal, ini daerah wisata. Yang kedua, segelas teh itu adalah diplomasi keakraban dengan kearifan lokal. Hasilnya, sebelum pergi ia mengenalkan aku dengan pemilik kafetaria dan memberikan kartu namanya. "Kalau perlu apa-apa tinggal telpon saja, namaku Husein."&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku duduk di sebuah gazebo kecil di luar kafe. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; (Paman) Abduh, pemilik kafetaria itu membawa dua gelas the panas. Satu lagi dalam gelas plastik untuk Husein. Ia langsung mengambil teh panas itu dan pamit pergi. Orang Mesir memang hebat, bisa membawa teh panas dalam gelas –ya panas, bukan hangat-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sambil mengemudi mobil atau bis, tanpa tumpah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh mengajakku masuk ke ruang dalam. Sebuah ruangan yang cukup rapi dengan interior khas Arab. Ruang seluas 7 x 5 meter itu mempunyai atap yang tinggi, dindingnya ditutupi dengan tenunan warna-warni. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sofa memanjang menempel di sekeliling dindingnya. Tata ruang seperti ini biasanya ada di tenda-tenda peristirahatan orang Arab Badui. Beberapa meja kecil menghiasi ruangan. Di pojok, sebuah tempat lebih tinggi digunakan untuk menyiapkan minuman. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Siapa namamu?” suara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh menghentikanku dari observasi visual pada tempat asing itu. Aku sebutkan namaku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Nama yang bagus katanya, kamu belajar di Al-Azhar?” Aku mengangguk. Abduh tersenyum. Ia sudah diberitahu Husein bahwa aku seorang Muslim. Tampaknya ia senang jika ada pelancong Muslim singgah di tempatnya. Ia lalu bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu ada beberapa pelajar Al-Azhar asal &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mampir di tempatnya. “Mereka baik sekali, &lt;i&gt;muhtarimiin&lt;/i&gt;,” katanya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Sekarang kalau mau istirahat, mau tidur atau mau apa saja silahkan. Sesukamu. Kalau mau ke kamar mandi ada di sebelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.” Sambil menunjuk lurus ke sebuah bangunan kira-kira 30 meter dari tempat itu. Aku berterima kasih. Lalu ia keluar sambil menata meja dan kursi yang sebagian sudah tertata di luar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Puji Tuhan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alhamdulillah&lt;/span&gt;, bisa cepat akrab dengan warga lokal. Tampaknya memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penduduk local di St. Katherine ini lebih ramah dari orang Kairo pada umumnya. Tentu saja tawaran ramah itu seakan oase bagi musafir di negeri asing. Tampaknya kearifan lokal bangsa Arab masih membekas dalam kehidupan masyarakat Badui di sini; memuliakan tamu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tapi, tidur? Untuk apa jauh-jauh datang dari Kairo kalau untuk tidur? Bagaimana mungkin aku melewatkan keindahan lembah St. Katherine kala senja? Dengan rasa terima kasih pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh, aku pindahkan the panasku ke sebuah meja di luar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ku jatuhkan tubuhku pada sebuah kursi. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Hawanya segar sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh..” kataku pada lelaki pemilik kafe itu, ia tersenyum melihatku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;Senjakala di St. Katherine.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;19.24&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Udara di sini benar-benar segar. Suasananya tenang, jauh dari hidruk pikuk Kairo yang kadang “menyesatkan” pikiran. Sudah sangat lama aku tak mereguk ketentraman seperti ini. Aku duduk sendiri di kafe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu &lt;/span&gt;Abduh. Belum ada satu pun pelancong yang datang. Tenang sekali. Angin sepoi-sepoi membelai pundak dan leherku. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Allah, sungguh indah duniaMu. Bebukitan batu yang merona jingga di temaram senja mengelilingi lembah kecil di semenanjung Sinai itu. Perlahan matahari menuju peraduan, meninggalkanku untuk menemuinya esok fajar di puncak Jabal Musa. Kulantunkan zikir senja….&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amsaina wa amsal mulku lillah….&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;20.09&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Maghrib menjelang, udara terasa lebih dingin. Terasa sekali cuaca cepat berganti dari senja yang hangat menjadi malam yang gelap dan dingin. Tapi aku rasakan dinginnya masih dapat aku tahan, belum saatnya mengeluarkan jaket.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Di lembah yang tenang dan agak jauh dari pemukiman itu suara azan hanya sayup-sayup lirih dari kejauhan, hampir tak terdengar. Matahari baru saja tenggelam meninggalkan warna merah dan jingga di langit barat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh segera mengajakku untuk sholat Maghrib, ia menuju tempat wudhu di samping mushola.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Aku bangkit dari kursi. Beberapa saat ketika sampai di lembah itu aku sempat mengambil wudhu. Aku tinggalkan ranselku di kursi kafe. Naluriku mengatakan aman untuk meninggalkannya, melihat keramahan penduduk lokal. Tapi jangan coba sekali-kali melakukannya di Kairo bahkan ketika di masjid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Langkah kakiku menuju sebuah mushola sederhana di samping tempat wudhu. Tak ada bangunan apa pun. Hanya tikar yang dikelilingi pagar kayu membentuk persegi. Di setiap sudutnya ada pepohonan yang daunnya menjadi atap mushola itu di siang hari. Sholat bisa di mana saja.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dua orang polisi berbaju hitam-hitam melepas sepatu, memasuki area mushola. Aku ucapkan salam pada mereka. Iqomah dikumandangkan, kami sholat maghrib berjamaah. Seorang di antara mereka yang tampaknya seorang perwira, menjadi imam. Salut juga, bacaan dan hafalan Qur’annya lumayan bagus untuk seorang polisi. Sebetulnya memang tidak ada yang aneh jika ada militer atau polisi muslim yang pandai dan hafal Qur’an.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selesai sholat aku kembali ke kursi semula. Udara makin dingin. Aku teruskan membaca tulisan Martyn Forrester tentang bagaimana bertahan hidup di gurun pasir. Biar hafal sekalian persiapan mental untuk segala situasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku begitu menikmatinya, membaca buku di sebuah lembah yang tenang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tak berapa lama datang seorang laki-laki ke kafe &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh. Orang Mesir, pikirku. Ia memesan secangkir kopi, lalu duduk di kursi sebelah sambil berucap salam menyapaku. Aku perhatikan ia sebenarnya sudah sampai di lembah itu menjelang Maghrib, sendirian. Meletakkan ranselnya di kursi lalu menuju pos keamanan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;E zayyak &lt;/span&gt;(apa kabar)&lt;span style="font-style: italic;"&gt;?&lt;/span&gt;” kataku berbasa basi memulai pembicaraan. Kami lalu berkenalan, namanya Ahmad El-Tubqi. Usianya 33 tahun. Aku mengira ia adalah seorang pemandu wisata yang sedang menunggu para pelancong untuk mendaki Jabal Musa karena ia datang sendirian saja. Kejutan pertama, ternyata orang Mesir yang sangat ramah ini juga seorang backpacker!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selama ini aku jarang sekali menemukan orang Mesir yang melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpack&lt;/span&gt;. Jika melancong, kebanyakan mereka pergi bersama rombongan atau keluarga. Dari situ kami saling bercerita. Ternyata ia telah sering mendaki Jabal Musa. Aku lalu mengundangnya bergabung ke mejaku. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ahmad berasal dari Kairo, tepatnya di Kasr Nile &lt;st1:place st="on"&gt;St.&lt;/st1:place&gt;, Down Town. Dia ketika berangkat ia telah melihatku. Kejutan kedua, sebenarnya kami berangkat dalam satu bis dari Kairo. Lebih mudah baginya untuk mengetahuiku karena dalam East Delta yang kami tumpangi karena hanya aku orang asing di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sedangkan aku cukup susah mengingat jika Ahmad berada di antara puluhan penumpang yang semuanya orang Mesir. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ia juga melihatku ketika aku bercakap-cakap dengan dua orang Badui di terminal. Kukatakan mereka menawarkan jasa kendaraan. Ahmad lalu tersenyum ketika aku beritahu bahwa ongkos dari terminal ke Deir 20 Pound. Perkiraanku jaraknya sekitar 5-6 km. “Aku tadi jalan kaki, makanya sampai ke sini belakangan,” kata Ahmad. Aku menimpali,”Lain kali kalau aku ke sini lagi, aku mau jalan kaki saja.” Seakan menyesal, memang, tapi sedikit. Lalu kami tertawa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;21.30 &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Isya menjelang. Abduh mengajakku sholat. Aku bilang jika sudah aku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jama’&lt;/span&gt; dengan Maghrib tadi. Aku meneruskan obrolan dengan Ahmad. Penasaran kenapa ia datang sendirian. Ia bilang ingin melepaskan kepenatan dari Kairo yang padat. Ia lalu menawarkanku untuk mendaki berdua. Tawaran yang tentu saja tak mungkin ku lewatkan. Aku baru pertama ke sini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Selesai sholat Isya’ beberapa polisi bertubuh kekar datang ke kafe Ammu Abduh. Mereka membawa seperangkat permainan semacam domino namun bukan berbentuk kartu melainkan batangan plastik keras. Mereka menyebutnya, &lt;i&gt;dhamnah&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; polisi itu lalu menggelar permainan di meja sebelah kami. Tampaknya permainan ini bagi mereka adalah untuk membunuh kebosanan di antara tugas di lembah sunyi ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sambil mengobrol tentang berbagai hal. Seperti halnya di kafe-kafe di Kairo. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tiba-tiba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh datang dengan dua gelas teh panas di tangannya. Kaget, segelas di antaranya diletakkan di depanku padahal aku tak pesan apapun. “Minumlah!” katanya ramah. Masih setengah kaget aku lalu berterima kasih. Aku tersentuh dengan keramahan mereka. Di tempat wisata seperti ini kearifan lokal masih terjaga. Sudah jamak diketahui, biasanya para penjual di tempat wisata menilai segala sesuatu dengan materi (baca: uang). Tapi di sini tidak. Jadilah, segelas teh panas di hadapanku menghangatkan tubuhku di dinginnya Lembah St. Katherine. Keramahan masyarakat di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; menghangatkan hatiku&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh lalu bergabung dengan para polisi di sebelah. Tak lupa mengajakku dan Ahmad bergabung. Kami tersenyum saja. Walau begitu sesekali kami saling bercakap. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh mengenalkanku pada para polisi itu. Mereka tahu bahwa aku dan Ahmad hendak mendaki Jabal Musa. Jadilah obrolan kami dengan para polisi itu tentang pendakian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ahmad mencoba bertanya pada salah satu petugas itu tentang pemandu. Polisi yang aku lupa namanya itu bilang bahwa tiap orang atau kelompok yang ingin mendaki harus menyewa pemandu. Ahmad lalu berseloroh bahwa ia sudah sering mendaki ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan tanpa pemandu. Polisi itu bersikukuh bahwa peraturannya memang begitu. Selain itu juga dimaksudkan untuk memberi penghasilan pada penduduk lokal, orang-orang Badui Jabaleya. Kami lalu membawa kursi ke dekat mereka, supaya lebih akrab.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Wah tapi 80 Pound untuk pemandu itu mahal sekali…,” kata Ahmad. Aku faham ia mencoba agar bisa berangkat tanpa pemandu. Toh ia sudah sering ke Jabal Musa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“85 Pound,” kata petugas itu membetulkan. Ahmad tersenyum, “&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; cuma beda 5 Pound?” Aku ikut tersenyum.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; jalur pendakiannya &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;?” Ahmad mencoba berdiplomasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Beberapa bulan yang lalu ada beberapa turis dari Rusia terpisah dari rombongan pendaki. Lalu mereka tersesat di gunung dan ditemukan tewas beberapa hari kemudian. Itu terjadi siang hari…” cerita Pak Polisi, seakan memperingatkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seram juga ceritanya, pikirku.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh lalu memberi saran. “Kalian berangkat dengan rombongan turis saja nanti jam satu dini hari!” Kami terdiam sebentar. Lalu ada yang mulai mengalihkan pembicaraan. Mereka menanyai asalku, studiku di Al-Azhar dan tempat tinggalku selama di Mesir dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu&lt;/span&gt; Abduh lalu mengajakku bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhamnah&lt;/span&gt; dengan mereka. Aku tertawa saja. “Aku tidak bisa main,“ kataku. “Kalian tampaknya sudah sering bermain permainan ini.” &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Mereka tertawa, “Bukan sering lagi, 24 jam!” Aku juga tertawa mendengarnya. Kami cepat akrab, tampaknya mereka senang dengan keberadaanku. Langkah awal yang bagus, pikirku. Ahmad masih ngobrol dengan petugas tadi. Tampaknya ia masih berdiplomasi tentang pemandu. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Kalian tadi datang cuma berdua?” Tanya Pak Polisi pada Ahmad. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Sebenarnya aku datang sendirian, tapi kami berada satu bis, dan baru kenal dengan dia di sini.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pak Polisi berkumis itu menoleh padaku. Sambil tersenyum aku bilang, ”sekarang aku tidak sendirian, ada Ahmad.” Pak Polisi terkekeh mendengar cerita kami. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Jadi kalian mau mendaki jam berapa?” Tanya Pak Polisi. Gayung kami mulai bersambut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Kalau tidak ketemu kawan dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini mungkin aku mau berangkat jam-jam segini.  Dia baru pertama ke sini, jadi kami mau mendaki bersama saja. Mungkin kami bisa gabung rombongan turis nanti malam.” &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Ya sudah, sekarang kalian berdua ikut ke pos, coba aku bicarakan sama komandan.” &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kami berbinar, tanpa pikir panjang aku sambar ranselku. Aku keluarkan lampu senter. Ammu Abduh masih khawatir,”Kalian yakin? Apa tidak sebaiknya gabung sama rombongan turis saja?”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Insya Allah&lt;/span&gt; kami akan baik-baik saja,” kataku mantap. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;“Baiklah, hati-hati semoga selamat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma’assalamah&lt;/span&gt;,” Ammu Abduh melepas kami. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Dari sini aku mulai belajar bagaimana berdiplomasi dengan orang Mesir. Sabar, pelan-pelan dan ambil hatinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;(bersambung...)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1063892668322713308?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1063892668322713308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1063892668322713308' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1063892668322713308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1063892668322713308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2009/07/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sl-ORhNB6qI/AAAAAAAAASY/hiVHLBfiwkM/s72-c/img-village.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-901856272976330182</id><published>2009-07-14T20:54:00.007+03:00</published><updated>2009-07-16T23:01:27.880+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aneh'/><title type='text'>Marwa el-Sherbini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Slz8wBwgfXI/AAAAAAAAASQ/MNBtsdUmSv0/s1600-h/200px-Marwa_el-sherbini._Funeral_meeting_dresden_-_germany.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Slz8wBwgfXI/AAAAAAAAASQ/MNBtsdUmSv0/s400/200px-Marwa_el-sherbini._Funeral_meeting_dresden_-_germany.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358435558699859314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                                                                         image from wikipedia.org&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1 Juli 2009 yang lalu seorang muslimah asal Mesir ditusuk sebanyak 18 kali sampai mati di sebuah pengadilan di Jerman. Anehnya media massa bungkam. Aku baru tahu beritanya hari ini, 13 hari setelah kejadian. Harusnya kasus luar biasa ini sudah aku ketahui dari media massa dan internet yang hampir tiap hari ku akses. Apa yang terjadi dengan dunia yang bungkam? Mana media yang dulu sibuk dengan kematian Michael Jackson?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwa el-Sherbini, 32 tahun, istri seorang akademisi asal Mesir yang sedang belajar di Jerman. Ia sendiri juga seorang apoteker. Pada saat dibunuh ia dikabarkan sedang hamil 3 bulan. Persoalannya bagaimana mungkin sebuah pengadilan - yang tentunya ada pengawalan dari pihak keamanan- melakukan keteledoran dengan membiarkan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami Marwa, Elwi Okaz yang berusaha menolong istrinya malah menjadi sasaran penembakan oleh polisi yang mengawal sidang itu. Kini ia dikabarkan masih dirawat di rumah sakit. Bagaimana dengan pembunuhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex, 28 tahun, seorang Jerman keturunan Rusia pada tahun 2008 yang lalu melakukan tindakan rasis pada Marwa dengan mengeluarkan kata-kata "teroris" dan menarik hijab yang dipakainya. Namun 2 minggu yang lalu Alex menusuk Marwa dengan pisau di sebuah mahkamah. Di depan para pengadil, pihak keamanan, suami dan anaknya yang berumur 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin blog ini menjadi media massa baru di dunia maya. Silahkan cari keterangan selengkapnya tentang kasus ini di internet. Saya hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi di sebuah negara yang -katanya- maju dan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mengatakan bahwa hal ini hanya tindakan kriminal biasa dan tidak mencerminkan masyarakat dan negara Jerman. Silahkan bicara begitu. Tapi kasus ini diawali dengan tindakan rasial pelaku. Dan coba fahami apa yang dipikirkan oleh polisi Jerman yang menembak suami Marwa. Begitukan cara pandang orang Eropa mengenai muslim. Jika Anda seorang muslim, maka Anda punya potensi yang sangat besar untuk menjadi penyerang yang arogan(?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan juga seandainya yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang wanita barat yang sedang hamil 3 bulan ditikam 18 kali di sebuah pengadilan di negara muslim, di depan anak dan suaminya. Jika memang mereka menganggap bahwa kejadian ini hanyalah pelaku individual mereka juga harus menanggalkan pemikiran serupa terhadap Islam. Menganggap secara merata bahwa Islam  adalah agama kekerasan karena tindakan individual umatnya. Saatnya orang Barat bisa membedakan antara mana perilaku muslim dan mana ajaran Islam. Tidak semua perilaku muslim sesuai dengan ajaran Islam. Semoga mata mereka segera terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan maksud tulisan ini bahwa jika seorang non-muslim meninggal dengan cara serupa kemudian menjadi tidak penting dari kasus ini. Saya lebih perhatian dengan kasus ini karena Marwa memperjuangkan haknya yang diatur HAM. Kebebasan beragama dan menjalankan agamanya. Dan ia mempejuangkan keIslamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam diajarkan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak (alasan yang dapat dipertanggungjawabkan) adalah sama dengan membunuh umat manusia seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengulang kembali beberapa pertanyaan yang belum terjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sang pembunuh bisa membawa pisau di sebuah tempat terhormat seperti pengadilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan para petugas keamanan saat pelaku bisa menusukkan pisau sebanyak 18 kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dipikirkan polisi ketika menembak suami korban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana sebagian besar media internasional yang sangat sibuk dengan kematian Michael Jackson?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sampai sekarang saya belum menemukan beritanya di media massa nasional di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa berdoa semoga Marwa mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya bersama para syuhada dan sholihin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-901856272976330182?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/901856272976330182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=901856272976330182' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/901856272976330182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/901856272976330182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2009/07/marwa-el-sherbini.html' title='Marwa el-Sherbini'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Slz8wBwgfXI/AAAAAAAAASQ/MNBtsdUmSv0/s72-c/200px-Marwa_el-sherbini._Funeral_meeting_dresden_-_germany.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2923456002920968526</id><published>2009-07-11T23:09:00.009+03:00</published><updated>2009-07-17T10:15:55.453+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggapai Purnama di Jabal Musa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (bag. 1)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-Catatan Perjalanan Seorang Backpacker Nekad-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keputusan untuk melakukan perjalanan seorang diri ke Jabal Musa-Sinai kutentukan dalam tempo yang cukup singkat. Sebenarnya rencana untuk mendaki Jabal (Gunung) Musa sudah terpikirkan jauh hari sebelumnya. Bahkan menjadi sebuah keinginan selama bertahun-tahun sejak menginjakkan kaki di bumi Musa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjalanan I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sedikit cerita mundur. Waktu itu tanggal 23 April 2004, aku dan tiga orang teman; Fuad, Abid dan Hasan dengan nekat menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; ke Sinai. Acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpack&lt;/span&gt; dadakan itu disebabkan keterlambatan kami mengikuti rombongan tour. Mau kembali sudah kepalang tanggung, malu dengan kawan-kawan di rumah yang malam sebelumnya  tahu kami bersiap untuk berwisata. Dengan modal pas-pasan dan kenekatan akhirnya kami memutuskan untuk menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; ke semenanjung bagian timur Mesir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tanya sana-sini dengan bahasa Arab yang masih terbatas, sampailah kami di Mahattah Dauliyah Abbasiyah atau Terminal Internasional Abbasiyah. Terminal ini adalah gerbang keluar-masuk bis-bis antar kota dan antar negara di Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan kami adalah mendaki Jabal Musa di St. Katherine-Sinai. Waktu itu status kami masih mahasiswa yang baru beberapa bulan di Mesir, masih baru. Ketika membeli tiket dan ditanya tujuannya kami sempat bertukar pandangan. Kemana? Tak ada satupun yang tahu pasti. Yang penting ke Sinai, tempat Musa bertemu Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan segenap rasa percaya diri, kami sebutkan sebuah nama tempat yang kami yakin berada di semenanjung Sinai. Tempat itu juga disebutkan dalam al-Qur’an, Thursina. Dari sini sebuah perjalanan yang tak terlupakan sepanjang hayat –insya Allah- dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membayar tiket seharga masing-masing LE 35 (Tiga puluh lima Egyptian Pounds atau waktu itu setara sekitar Rp 50.000,-) kami ditunjukkan oleh penjaga loket bahwa bis yang akan kami tumpangi segera berangkat. Tampak sebuah bis bertuliskan East Delta dengan penumpang yang sudah naik semuanya.  Mesinnya sudah menyala dan hampir saja kami terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 4-5 jam dalam perjalanan, bis berhenti di sebuah kota kecil. Sopir bis memberi  tahu bahwa kami telah sampai tujuan, Thursina. Turun dari kendaraan, kami menuju sebuah terminal. Setelah bertanya tentang tujuan kami pada orang-orang di sana, sadarlah kami bahwa kami telah KESASAR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya sejak di Kairo kami harus memesan tiket bis menuju St. Katherine untuk mendaki Jabal Musa bukan ke Thursina. Untuk melanjutkan perjalanan ke St. Katherine cukup sulit  karena uang kami  sudah menipis. Mungkin hanya cukup untuk beli makanan dan beli tiket balik ke Kairo. Begitulah resiko &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; nekat dan tanpa persiapan berarti. Tidak disarankan bagi siapapun untuk melakukan seperti yang kami lakukan. Kecuali bisa mengakhirinya seperti apa yang kami lakukan; menerima kesesatan itu dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kesasar pun tidak seseram yang kami bayangkan ketika pertama kali tahu bahwa kami tersesat. Kekecewaan kami terobati ketika kami menemukan sebuah pantai lokal yang eksotis dan indah di Thursina. Sebuah teluk di Laut Merah yang tenang. Tak ada ombak besar, hanya riak dan gelombang air laur tertiup angin. Akhirnya kami menghabiskan senja yang indah di sana sebelum malamnya kembali ke Kairo, membawa kenangan tak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SljzYolbC1I/AAAAAAAAASA/IXwN0YbVe3k/s1600-h/a_romantic_sunset_in_thursina.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 279px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SljzYolbC1I/AAAAAAAAASA/IXwN0YbVe3k/s400/a_romantic_sunset_in_thursina.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357299361293994834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                                                                                                                                                                                                        &lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Senja di Pantai Thursina&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. Dokumentasi pribadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjalanan II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005 (atau 2006, aku agak lupa), aku ikut rombongan tour –bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt;- yang hendak mendaki Jabal Musa. Selain mendaki gunung rombongan juga menuju pantai  Syarm el-Syeikh. Untuk yang kedua kalinya, aku belum diberi kesempatan oleh Allah untuk napak tilas perjalanan Nabi Musa di pegunungan Sinai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah jalan bis mogok, mesinnya “ngambek”. Kami harus menunggu bis pengganti dari Kairo sampai 3 jam lebih di Ras Sidr, tempat kami berhenti. Diputuskan ke pantai dulu baru nanti sorenya ke St. Katherine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami terhenti di tengah jalan menuju St. Katherine. Kendaraan kami dilarang melanjutkan perjalanan. Jalan menuju St. Katherine sedang diperbaiki, kendaraan dilarang masuk pada malam hari. Pihak travel menawarkan untuk menambah perjalanan hingga esok hari. Tapi kebanyakan peserta tour dan panitia menolak. Akhirnya kami kembali ke Kairo. Padahal aku sudah ingin sekali mendaki ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Allah lalu mengganti penantian selama bertahun-tahun itu dengan pengalaman luar biasa yang mungkin tidak banyak orang merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjalanan III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebulan sebelum melakukan perjalanan, aku dan dua orang kawan sudah berencana akan mendaki Jabal Musa. Menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt;, berangkat tanpa ikut rombongan tour/travel. Kawanku sempat memberi saran agar ikut rombongan tour. Lebih murah dan lebih mudah. Tapi bagiku, menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; adalah saatnya belajar lebih banyak. Lebih dekat dengan alam, masyarakat dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Backpacker&lt;/span&gt; bagiku adalah seorang yang melakukan perjalanan dengan bekal pas-pasan namun mendapat  pengalaman yang segudang. Bagaimana mengatur dan memutuskan untuk menggunakan bekal itu sebaik-baiknya. Seru sekaligus menegangkan.  Dari situ aku banyak belajar, bertanya dan menikmati pertualangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku menjadi seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; nekad – bukan nekat-. Kalau nekad itu dengan penuh tekad, artinya dengan keberanian menghadapi berbagai resiko namun berusaha mengurangi kemungkinan resiko itu dengan perencanaan yang cukup. Kalau nekat itu seperti bonek, tanpa persiapan yang berarti, asal berangkat. Namun pengertian dalam paragraf ini mungkin tidak akan Anda dapati di kamus, karena memang karanganku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelum keberangkatan kedua kawan saya tadi tidak jadi ikut ide &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpack&lt;/span&gt; yang aku tawarkan karena beberapa hal. Sehingga dengan mundurnya 2 orang anggota tim itu, aku harus merencanakan ulang keberangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir jika harus menunda lagi, mungkin kesempatan tidak akan datang lagi. Minggu depan adalah hari-hari kembali pada rutinitas yang cukup padat. Dan yang terpenting mumpung bekal  yang ada masih memungkinkan untuk berangkat. Namanya juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt;, kalau bekal banyak namanya turis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5 Juli 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Malam, aku berusaha mencari teman barangkali ada yang mau menyertaiku. Sejak awal aku bertekad –bukan nekat- jika memang tidak ada teman, sendiri pun jadi, menikmati alam simbol keagungan Allah. Namun malam itu muncul keraguan. Apakah akan berangkat sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan itu juga mendapat saham dari situasi keamanan yang lumayan “seram”. Beberapa hari sebelumnya ada kejadian salah tangkap empat mahasiswa Indonesia oleh Polisi Mesir, yang menjadi berita nasional di Indonesia. Dua orang yang disiksa Polisi Mesir itu adalah teman baik dan satu angkatan denganku. Semoga kalian diberi kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ketiduran karena malam semakin larut, belum ada keputusan. Persiapan khusus untuk perjalanan  pun belum kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6 Juli 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setalah Sholat Subuh aku mantapkan niat untuk pergi, sendiri. Saat itu juga aku melakukan persiapan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpack&lt;/span&gt;. Jaket, pakaian ganti, handuk kecil, bolpoin, buku tulis dan peralatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;survival&lt;/span&gt; sesuai saran Martyn Forrester dalam bukunya yang juga masuk tas punggungku: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Survival, a complete guide to staying alive&lt;/span&gt;. Ia menyarankan untuk membawa plester luka, perban  roll, lilin, pemantik api, kacamata hitam, pisau/cutter, gunting, tisu steril, lampu senter, obat-obatan, peluit, dll. Dari daftar itu yang ada di rumah hanya plester luka, perban roll dan kacamata hitam dan beberapa obat-obatan, hehe.. lengkap sudah penderitaan. Aku putuskan untuk mencari barang-barang itu di perjalanan sekaligus membeli logistik (makanan dan minuman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10.30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari rumah, tujuan pertamaku  adalah Ragab Sons di bilangan Hay Tsamin, dekat rumah. Supermarket serba ada itu tampaknya cukup representatif untuk memenuhi beberapa keperluanku. Walaupun akhirnya tidak semuanya ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kedua adalah rumah seorang kawan yang mempunyai kamera foto. Maksudnya mau pinjam kamera karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; satu ini tidak –eh belum punya kamera sendiri. Sebelumnya ia sudah kutelpon aku mau pinjam kamera. Kebetulan aku telah persiapkan baterei cadangan cukup banyak termasuk yang bisa diisi ulang. Ternyata kameranya rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin berusaha cari yang lain sudah tak ada waktu lagi. Kuputuskan berangkat tanpa kamera. Agak sayang memang. Tapi tak apalah. Kalau mau mundur berangkat karena tak ada kamera, cukup sulit. Dalam hati aku merasa bahwa kesempatannya adalah hari ini, atau harus menunggu lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;11.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di saat seperti itu, Opick, seorang kawan yang berkecimpung di dunia travel menelepon. Ia bertanya sesuatu padaku. Kebetulan, aku langsung bertanya tentang transportasi ke St. Catherine untuk memastikan. Pengalaman tahun 2004 lalu sudah terlalu lama untuk diingat detailnya.  Inilah jawaban Opick,”Pergi saja ke Mahattah (Terminal) Turgoman di Ramses, ada bis yang berangkat pukul 11.00, tiap hari hanya ada satu kali perjalanan ke St. Katherine, untuk balik dari St. Katherine ke Kairo juga sekali sehari pukul 6 pagi.” Aku lihat jam tangan, sudah pukul 11.00 lebih. Ya, aku terlambat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung....)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2923456002920968526?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2923456002920968526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2923456002920968526' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2923456002920968526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2923456002920968526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2009/07/menggapai-purnama-di-jabal-musa-bag.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SljzYolbC1I/AAAAAAAAASA/IXwN0YbVe3k/s72-c/a_romantic_sunset_in_thursina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6494759025152469634</id><published>2009-06-07T04:34:00.005+03:00</published><updated>2009-06-07T04:55:08.945+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Mutiara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>PINJAMAN SAJA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sisdq84bjSI/AAAAAAAAAR4/__wGMHr_69o/s1600-h/life.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 293px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sisdq84bjSI/AAAAAAAAAR4/__wGMHr_69o/s400/life.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344398006539750690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hidup ini hanya pinjaman dari Allah untuk manusia, jadi aturan dan ketentuan yang berlaku untuk sebuah pinjaman adalah aturan dan ketentuan dari yang memberi pinjaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;CN&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6494759025152469634?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6494759025152469634/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6494759025152469634' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6494759025152469634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6494759025152469634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2009/06/pinjaman-saja.html' title='PINJAMAN SAJA'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/Sisdq84bjSI/AAAAAAAAAR4/__wGMHr_69o/s72-c/life.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7140258112932800264</id><published>2009-04-16T01:09:00.005+02:00</published><updated>2009-04-16T02:36:40.576+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Mutiara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Hayat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SeZ6Ir3pBxI/AAAAAAAAARw/AkI19V9-86o/s1600-h/081209-TerusBerusaha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 219px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SeZ6Ir3pBxI/AAAAAAAAARw/AkI19V9-86o/s400/081209-TerusBerusaha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325077899045832466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah...!&lt;br /&gt;Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya&lt;br /&gt;BUKAN, untuk menerima sebanyak-banyaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau belum ketemu buaya di jalan,&lt;br /&gt;belumlah jauh perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                               &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disarikan dari:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                                 Laskar Pelangi (2008)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7140258112932800264?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7140258112932800264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7140258112932800264' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7140258112932800264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7140258112932800264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2009/04/episode-hayat.html' title='Hayat'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SeZ6Ir3pBxI/AAAAAAAAARw/AkI19V9-86o/s72-c/081209-TerusBerusaha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2638767309961459063</id><published>2008-09-18T22:27:00.004+02:00</published><updated>2008-09-18T22:36:04.879+02:00</updated><title type='text'>Telah Terbit; LASKAR SYUHADA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SNK7GIkqmoI/AAAAAAAAAMg/vT5opwbkY7E/s1600-h/Laskar+Syuhada.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SNK7GIkqmoI/AAAAAAAAAMg/vT5opwbkY7E/s400/Laskar+Syuhada.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247462229894929026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Laskar Syuhada&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;Penulis : Saiful Bahri, dkk.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;Penyunting : Azzura Dayana&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Lingkar Pena Publishing House&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;Kategori : Non-fiksi remaja&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;Jumlah halaman : 198 hal.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;br /&gt;ISBN : 979-1367-62-0&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke mana menelusuri semangat juang yang tercabut dari dada umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sejumlah penulis muda dari Cairo berusaha menjawab pertanyaan itu dengan menyusuri kisah para kesatria Islam pilihan. Sebuah upaya yang seperti menguak kembali kejayaan sekaligus kepedihan sejarah Islam di masa lalu. Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. ini telah melahirkan pejuang-pejuang tangguh yang menegakkan Islam dengan pemikiran, harta, tenaga, hingga pengorbanan nyawa. Mereka yang dengan tulus menjadikan Allah sebagai satu-satunya pilihan hidup.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengungkapkan catatan kepahlawanan sepuluh syuhada mulai dari Hamzah bin Abdul Muthalib, Sang Singa dari Bani Hasyim yang menjemput syahid di Perang Uhud; Imam Husein bin Ali, cucu pemberani Rasulullah Saw. yang menyandang gelar Sayyidus Syuhada; Sayyid Quthb, pejuang pena dari Mesir yang mendapat syahidnya di tiang gantungan; Yahya Ayyash, Rubah Gurun yang menggelar aksi-aksi bom syahid; Syaikh Ahmad Yasin, sang lumpuh dan ringkih namun pemimpin HAMAS yang tangguh; hingga Imam Hasan al-Banna, sang pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin yang ketika telah syahid pun makamnya dijaga ketat berminggu-minggu oleh para musuh yang masih takut kepadanya!&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Masih banyak kisah-kisah lain. Dituturkan dengan gaya bahasa yang mengalir, kuat berhikmah dan tentu saja; membangkitkan kembali semangat juang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Segera dapatkan di toko buku terdekat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2638767309961459063?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2638767309961459063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2638767309961459063' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2638767309961459063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2638767309961459063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/09/telah-terbit-laskar-syuhada.html' title='Telah Terbit; LASKAR SYUHADA'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2T5dsUNiQ00/SNK7GIkqmoI/AAAAAAAAAMg/vT5opwbkY7E/s72-c/Laskar+Syuhada.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-8137221872960839494</id><published>2008-07-18T00:18:00.003+03:00</published><updated>2008-09-06T00:29:47.343+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisanku'/><title type='text'>Cerita Guruku Tentang Orang Indonesia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dalam sebuah kelas Bahasa Arab yang saya ikuti, suatu hari saya mendapatkan sebuah pengalaman yang mengesankan. Mungkin bagi orang lain adalah hal biasa. Namun pengalaman itu menggedor-gedor jantung saya. Bangga dan bersyukur terlahir sebagai bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu sore yang cerah di musim panas, saya hadir dalam kelas itu. Kami sekelas mengikuti pengajar menerangkan seperti biasa, dengan diktat khusus yang menjadi pegangan peserta. Pengajar ini termasuk tipe pengajar yang saya sukai. Metode pengajarannya bagus, dinamis, berpengalaman, komunikatif dan berwawasan luas. Beliau memperoleh gelar Doktor dari Universitas Al-Azhar dan telah menulis banyak buku dalam Bahasa Arab. Meski demikian beliau rendah hati dan cukup humoris, sehingga banyak siswa yang menyukainya. Kegiatan beliau sehari-hari adalah mengajar bahasa Arab bagi orang asing. Profesi itu telah  beliau jalani sejak lebih dari 12 tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sore itu beliau mengajar seperti biasa. Biasanya selain bahasa Arab ketika menerangkan sebuah kalimat atau tata bahasa beliau kadang-kadang merujuk pada Qur'an Hadist atau kisah-kisah dan ajaran Islam. Selain Walaupun Islam itu tidak harus Arab namun bahasa Arab sangat erat dengan Islam karena kitab suci umat Islam diturunkan dalam Bahasa Arab. Selain dalam studi Bahasa Arab beliau juga mendapat gelar Master (S2) dalam Studi Islam, jadi pengetahuan keislamannya tidak diragukan. Pun begitu, beliau mempunyai jiwa besar yang terbuka. Umur beliau sekitar 40-tahunan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika mengajar beliau sering sekali menyelipi dengan humor. Suasana kelas jadi tidak kaku. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika pelajaran selesai dan waktu masih ada maka beliau mengajak kami untuk melakukan Dialog dan Percakapan. Dalam sesi ini beliau mengajak siswanya untuk aktif berbicara, lalu beliau memberi pertanyaan dan komentar. Hal ini dimaksudkan agar siswanya terbiasa berbicara dalam Bahasa Arab.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau memberikan beberapa pilihan tema diskusi agar dipilih oleh siswanya. Akhirnya kebanyakan kami memilih "Sopan Santun Seorang Pelajar Muslim". Beliau membebaskan kami untuk mengutarakan pendapat apapun dengan tema itu. Kebetulan dalam kelas itu siswanya berasal dari berbagai negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Pakistan, Inggris, Nigeria, Rusia, China dan Ukrania. Kami berjumlah sekitar 30 orang dan kebanyakan dari Indonesia dan Malaysia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya suatu ketika seorang siswa dari Indonesia mendapat kesempatan untuk berbicara. Siswa ini berpendapat bahwa seorang pelajar Muslim harus memperhatikan 3 hal yaitu adab dengan guru, adab dengan buku dan adab dengan tempat belajar. Adab dengan guru misalnya tidak meninggikan suara di depan guru, tetap santun dalam ketika berbeda pendapat, dan sebagainya. Sedangkan dengan buku, seorang pelajar harus menjaganya sebaik mungkin, merawatnya, tidak meletakkannya di sembarang tempat dan sebagainya. Selain itu seorang pelajar tidak menjadikan tempat belajarnya sebagai tempat bermain-main.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pendapat siswa tadi tentu tidak asing bagi santri pesantren di Indonesia. Apalagi ia juga mengatakan bahwa pendapatnya merujuk pada sebuah buku berjudul Ta'lim al-&lt;em&gt;Muta'allim&lt;/em&gt;, sebuah buku sopan santun seorang pelajar yang sangat masyhur di kalangan pesantren di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendengar pendapat tersebut beliau lalu memberikan komentarnya. Beliau mengatakan bahwa pendapat tersebut cocok sekali dengan pengalaman beliau selama mengajar Bahasa Arab untuk orang asing selama belasan tahun. Beliau juga telah pergi ke berbagai negara di Eropa, Asia dan Amerika untuk menjadi pengajar bahasa Arab.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau mengungkapkan bahwa selama pengalaman mengajar sekian lama ia sangat mengagumi pelajar Indonesia dan Malaysia dalam hal sopan santun. Cocok sekali dengan pendapat tadi. Bahkan beliau menegaskan bahwa kekagumannya ini bukan basa-basi semata. Sebelumnya beliau sempat berseloroh,"Saya tidak dibayar orang Indonesia untuk mengatakan ini." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang Indonesia dan Malaysia itu sangat santun pada guru melebihi bangsa manapun di dunia ini. Karena dalam kelas itu dari bermacam negara, beliau buru-buru menjelaskan bahwa bukan berarti pelajar-pelajar dari negara lain tidak santun. Beliau bilang bahwa negara lain juga banyak yang santun namun secara umum bahwa orang Indonesia dan Malaysia berada di urutan teratas. Beliau tidak membedakan negara manapun ketika mengajar. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendengar pernyataan tersebut tentu saja kami bangga bercampur haru. Namun dalam hati kami agak segan juga, takut siswa negara lain tidak enak hati. Ternyata kalimat beliau tidak berhenti sampai di situ. Beliau malah memberikan bukti-buktinya. Semakin merahlah muka kami. Beliau bilang, jika kalian tidak percaya tanyakan pada semua kawan-kawan saya sesama pengajar, akan kalian dapat jawaban yang sama. Dua negara itu adalah yang terbaik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau lalu bercerita, selama sekian tahun mengajar beliau tidak pernah mendapati sekalipun ketidaksopanan dari pelajar Indonesia dan Malaysia. Jika bertemu di jalan mereka selalu menyapa memberikan jalan tidak pernah sekalipun menghalangi jalan. Bahkan ketika beliau bertemu orang Indonesia dan Malaysia di koridor kelas yang sempit, mereka akan merapat ke dinding sebisa mungkin. Memberikan jalan pada beliau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahkan suatu ketika beliau bertemu mereka di halte, sama-sama sedang menunggu kendaraan. Ketika bis yang ditunggu datang, mereka mempersilahkan beliau naik terlebih dahulu. Apa yang terjadi kemudian? Ternyata mereka tidak ikut naik dan menunggu bis berikutnya. Dari ungkapan beliau sangat kentara kalau beliau mengagumi akhlak pelajar-pelajar Indonesia dan Malaysia. Makin tidak enak hati kami. Di situ tidak hanya orang Indonesia dan Malaysia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beliau juga bercerita, suatu hari datang serombongan mahasiswi berjumlah 23 orang dari berbagai negara ke rumah beliau. Kursi di ruang tamu rumah beliau tidak terlalu luas menampung semuanya. Lalu beliau memperhatikan sebagian dari mereka duduk di lantai. Ternyata semua yang duduk di lantai adalah mahasiswi Indonesia, sedangkan yang duduk di kursi dari negara-negara lain. Bagi beliau orang Indonesia itu sederhana dan santun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bertahun-tahun mengajar orang Indonesia dan Malaysia beliau berfikir bahwa sopan santun seperti itu tentu berasal dari sebuah bangsa yang santun. Setiap orang tua dari pelajar itu tentu memberikan ajaran sopan santun terhadap guru. Tentu ayah atau ibu mereka berkata,"Nak, pergilah belajar dan hormatilah gurumu!" Mereka mendidik sopan santun dengan baik kepada anak-anaknya sebelum keluar rumah. Dengan rendah hati beliau mengungkapkan, "Dalam hal kesantunan kami ingin belajar dari orang Indonesia dan Malaysia." Menurut beliau seperti itulah seharusnya akhlak seorang Muslim.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semakin tidak enak hati kami ketika beliau membandingkan dengan negara lain. Tentu saja sebagai seorang akademisi beliau juga menyadari bahwa banyak faktor yang melatar belakangi tindak tanduk suatu masyarakat seperti kondisi alam, letak geografis, kondisi sosio-kultural dan kenyataan sejarah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena kecintaan beliau dengan pelajar Indonesia dan Malaysia, beliau tidak pernah menolak undangan mereka untuk mengisi suatu acara. Beliau sering diundang pelajar-pelajar asing untuk mengisi seminar dan pelatihan. Jika ada pelajar Indonesia atau Malaysia yang mengundang maka ia pasti menghadirinya. Walaupun beliau sibuk, beliau pasti berusaha menghadiri undangan tersebut. Bahkan ketika ada dua undangan dalam satu waktu, beliau memilih untuk hadir di undangan pelajar Indonesia walau tanpa honor sementara undangan lainnya beliau akan mendapat honor besar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak saya sangka, selama belajar dari beliau sejak beberapa bulan yang lalu baru kali ini beliau mengungkapkan pernyataan seperti itu. Namun saya lihat beliau tidak pernah membeda-bedakan siswanya ketika mengajar, selama siswa-siswa yang belajar dengan beliau menjaga adab dan sopan santun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendengar semua itu saya jadi berfikir, benarkan demikian? Apakah sebegitu hebat moral bangsa Indonesia di mata negara lain? Sehingga kita seringkali tidak menyadari dan menyia-nyiakan kekuatan moral bangsa kita. Pengajar kami itu berbicara sesuai dengan pengalaman beliau bertahun-tahun. Tidak dapat kita serta-merta menyalahkan pendapat beliau atau membenarkannya secara langsung. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya lalu terfikir tentang adab dan kesopanan orang Jepang. Mereka juga sangat sopan bahkan dalam beberapa hal melebihi orang Indonesia. Saya fikir mungkin guru saya itu jarang atau tidak pernah  mendapat siswa orang Jepang. Mungkin karena kebanyakan orang Jepang bukan Muslim sehingga jarang yang belajar bahasa Arab. Mungkin seandainya guru saya itu juga mengajar orang Jepang mungkin pendapat beliau akan lain. Ya, tentu saja karateristik sopan santun dalam Islam mempunyai perbedaan dengan ajaran lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian saya ingat juga cerita tentang pelajar-pelajar Indonesia yang belajar di Eropa atau Amerika dan negara-negara lainnya. Tidak sedikit dari mereka yang pada awalnya sangat kental dengan adab ketimuran dan sopan santun lalu berubah drastis setelah lama di luar negeri. Banyak juga yang pertamakalinya mengalami kejutan budaya lalu menjadi terbiasa. Bagi kita yang belum pernah ke Belanda (saya juga belum :), jangan senang dulu jika suatu saat mendapat undangan makan malam dari seorang kawan dari negeri Kincir Angin itu. Setelah makan kita harus bayar makanan  yang kita makan atau esoknya datang tagihan melalui email kita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Intinya saya bangga dan bersyukur dilahirkan sebagai bangsa Indonesia yang mewarisi nilai-nilai moral dan budi pekerti luhur sejak dahulu. Bahkan sebelum Islam masuk ke Indonesia. Islam diterima di Indonesia dengan baik tanpa peperangan seperti yang terjadi di negeroiiTidak heran lagi jika nilai-nilai seperti itu terumuskan dalam UUD negara kita. Seringkali kita tidak sadar banyak orang yang mengagumi bangsa kita dari segi kepribadian dan keluhuran bangsa. Sayangnya banyak orang Indonesia sendiri tidak menyadari hal itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mendengar pendapat guru saya yang orang Mesir itu saya menengok ke tanah air. Keprihatinan saya tegugah, nilai-nilai luhur itu mulai terkikis dan tergerus budaya asing yang merusak. Akankah kita mampu mempertahankannya dhingga anak cucu nanti? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairo,   17 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-8137221872960839494?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/8137221872960839494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=8137221872960839494' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8137221872960839494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8137221872960839494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/07/cerita-guruku-tentang-orang-indonesia.html' title='Cerita Guruku Tentang Orang Indonesia'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-695610120662025710</id><published>2008-05-08T22:12:00.002+03:00</published><updated>2008-05-08T22:16:38.992+03:00</updated><title type='text'>KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Catatan TAUFIQ ISMAIL*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan&lt;br /&gt;dia berkata, " Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba&lt;br /&gt;menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang&lt;br /&gt;tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu&lt;br /&gt;Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti&lt;br /&gt;selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang&lt;br /&gt;lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu&lt;br /&gt;dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik&lt;br /&gt;diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya,&lt;br /&gt;yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi&lt;br /&gt;relijius.&lt;br /&gt;Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka&lt;br /&gt;betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu&lt;br /&gt;juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai&lt;br /&gt;gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran.&lt;br /&gt;Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet,&lt;br /&gt;apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye&lt;br /&gt;keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf ya,&lt;br /&gt;macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu.&lt;br /&gt;Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu,&lt;br /&gt;ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy&lt;br /&gt;syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa&lt;br /&gt;tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu&lt;br /&gt;yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami&lt;br /&gt;akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata&lt;br /&gt;kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang&lt;br /&gt;telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang&lt;br /&gt;Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!&lt;br /&gt;Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas&lt;br /&gt;memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada&lt;br /&gt;mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu&lt;br /&gt;akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan&lt;br /&gt;teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai.&lt;br /&gt;Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.&lt;br /&gt;Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah&lt;br /&gt;selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul&lt;br /&gt;inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika&lt;br /&gt;berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis,&lt;br /&gt;menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.&lt;br /&gt;Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye –&lt;br /&gt;Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:&lt;br /&gt;Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat&lt;br /&gt;sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan&lt;br /&gt;misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benarbenar&lt;br /&gt;mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu&lt;br /&gt;itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali&lt;br /&gt;menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba&lt;br /&gt;lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya&lt;br /&gt;yang tidak biasa terhadap sebuah lagu.&lt;br /&gt;Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan&lt;br /&gt;Kaki Berkata.&lt;br /&gt;Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan,&lt;br /&gt;betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam&lt;br /&gt;saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan&lt;br /&gt;saya.&lt;br /&gt;"Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata&lt;br /&gt;Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena&lt;br /&gt;sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca&lt;br /&gt;isinya.&lt;br /&gt;Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan&lt;br /&gt;kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi.&lt;br /&gt;Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur,&lt;br /&gt;sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti&lt;br /&gt;ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!&lt;br /&gt;Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah&lt;br /&gt;senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung&lt;br /&gt;mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa&lt;br /&gt;ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak&lt;br /&gt;Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk&lt;br /&gt;mendoakan saya.&lt;br /&gt;Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga&lt;br /&gt;selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah&lt;br /&gt;menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda&lt;br /&gt;mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling&lt;br /&gt;autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya&lt;br /&gt;mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!&lt;br /&gt;Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang&lt;br /&gt;pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar&lt;br /&gt;meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam&lt;br /&gt;selama menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya&lt;br /&gt;terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya,&lt;br /&gt;dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka&lt;br /&gt;sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir&lt;br /&gt;di hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi&lt;br /&gt;dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau&lt;br /&gt;pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada&lt;br /&gt;baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu&lt;br /&gt;sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam&lt;br /&gt;peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan&lt;br /&gt;honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya.&lt;br /&gt;Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak&lt;br /&gt;orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya&lt;br /&gt;cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak&lt;br /&gt;menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya&lt;br /&gt;akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.&lt;br /&gt;Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian&lt;br /&gt;saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan&lt;br /&gt;jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar&lt;br /&gt;administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah,&lt;br /&gt;mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"&lt;br /&gt;Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras&lt;br /&gt;menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya&lt;br /&gt;solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris&lt;br /&gt;Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar&lt;br /&gt;masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang&lt;br /&gt;mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan&lt;br /&gt;isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album&lt;br /&gt;proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi&lt;br /&gt;yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya&lt;br /&gt;kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki&lt;br /&gt;Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tangan dan Kaki Berkata&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Lirik : Taufiq Ismail&lt;br /&gt;Lagu : Chrisye&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datang hari mulut dikunci&lt;br /&gt;Kata tak ada lagi&lt;br /&gt;Akan tiba masa tak ada suara&lt;br /&gt;Dari mulut kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata tangan kita&lt;br /&gt;Tentang apa yang dilakukannya&lt;br /&gt;Berkata kaki kita&lt;br /&gt;Kemana saja dia melangkahnya&lt;br /&gt;Tidak tahu kita bila harinya&lt;br /&gt;Tanggung jawab tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbana&lt;br /&gt;Tangan kami&lt;br /&gt;Kaki kami&lt;br /&gt;Mulut kami&lt;br /&gt;Mata hati kami&lt;br /&gt;Luruskanlah&lt;br /&gt;Kukuhkanlah&lt;br /&gt;Di jalan cahaya.... sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon karunia&lt;br /&gt;Kepada kami&lt;br /&gt;HambaMu yang hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Disalin dari &lt;/span&gt;&lt;a style="font-style: italic;" href="http://aridiplomat.blogspot.com/"&gt;Blog ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-695610120662025710?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/695610120662025710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=695610120662025710' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/695610120662025710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/695610120662025710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/05/ketika-mulut-tak-lagi-berkata.html' title='KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6536132828853529706</id><published>2008-05-06T22:21:00.003+03:00</published><updated>2008-05-06T22:42:34.647+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pramuka'/><title type='text'>SUKSESKAN RAIMUNA NASIONAL 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SCCwRsR5IUI/AAAAAAAAAME/ujU4_vtz8JU/s1600-h/Indonesia+Rover+Moot+2008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197347787976024386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SCCwRsR5IUI/AAAAAAAAAME/ujU4_vtz8JU/s400/Indonesia+Rover+Moot+2008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kunjungi : &lt;a href="http://rainas2008.org/"&gt;rainas2008.org&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6536132828853529706?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6536132828853529706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6536132828853529706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6536132828853529706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6536132828853529706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/05/sukseskan-raimuna-nasional-2008.html' title='SUKSESKAN RAIMUNA NASIONAL 2008'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SCCwRsR5IUI/AAAAAAAAAME/ujU4_vtz8JU/s72-c/Indonesia+Rover+Moot+2008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2912521612856081616</id><published>2008-04-19T15:43:00.003+02:00</published><updated>2008-04-19T15:59:51.479+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisanku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mahasiswa dan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rengasdengklok, 16 Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langit Karawang hari itu menjadi saksi berkibarnya Merah Putih di beberapa sudut Rengasdengklok. Angin semilir meniup dwiwarna yang suci bagi bangsa ini. Melambai-lambai seolah memekikkan pada setiap yang lewat, “Indonesia akan segera merdeka!”&lt;br /&gt;Sejak hari sebelumnya, tonggak-tonggak bambu yang ujungnya terikat kain persegi empat berwarna merah putih dipancangkan di depan beberapa rumah. Para pejuang muda Rengasdengklok sudah tidak sabar, Indonesia harus merdeka sekarang juga!&lt;br /&gt;Pagi buta, saat ayam jantan masih menyisakan kokok nyaringnya serombongan orang datang dari Jakarta. Di antara mereka, seorang pria setengah baya yang tampak berwibawa berjalan tegap di depan rombongan. Sesekali ia berbicara dengan pria berkacamata yang tak kalah wibawa di sampingnya. Mereka kemudian masuk sebuah rumah sederhana, milik seorang Tionghoa. Beberapa orang yang telah menunggu menyambut dengan pekikan, “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Hatta, Indonesia sudah merdeka, Jepang sudah modar!”&lt;br /&gt;Sebuah ruang tamu yang tidak seberapa luas menjadi saksi pertemuan golongan tua dan golongan muda itu. Mereka berunding, membicarakan sesuatu yang penting. Masa depan bangsa mereka yang berabad-abad menjadi bulan-bulanan penjajah.&lt;br /&gt;“Anda harus segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia segera!” Seorang pemuda angkat bicara pada dua orang yang berwibawa itu.&lt;br /&gt;“Segera?”&lt;br /&gt;“Ya, segera! Hari ini, di sini! Kami sudah menyiapkan naskahnya,” tambah pemuda itu.&lt;br /&gt;“Tidak! PPKI* sedang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan kami bertanggung jawab selaku pimpinannya.” Sergah orang yang baru datang dari Jakarta itu.&lt;br /&gt;“Tidak bisa, PPKI adalah tipu muslihat Jepang, bangsa ini harus merdeka tanpa campur tangan penjajah...!” Pemuda itu makin tidak sabar. Suasana dalam ruangan itu makin memanas. Namun, dua orang “tetua” yang sedang dalam “penculikan” dan sedang “dituntut” oleh orang-orang muda itu bergeming dengan pendiriannya.&lt;br /&gt;Para pemuda itu kemudian berunding menghadapi keteguhan sikap senior mereka. Beberapa di antara mereka menyusun perebutan kekuasaan tapi tidak semuanya mendukung rencana itu. Perjuangan mereka penuh liku-liku. Berat memang, memadukan keinginan-keinginan yang bersilangan.&lt;br /&gt;Kabar berita dari rekan-rekan mereka di Jakarta tiada kunjung datang. Seorang pria muda dari kumpulan itu bergegas menuju Jakarta, hendak berunding dengan kawan-kawan seperjuangan mereka di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jakarta, 17 Agustus 1945&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam membentuk kurva bersudut 120 derajat, menunjukkan pukul 08.00. Pria berwibawa yang biasanya tampak tegap itu masih meringkuk di atas tempat tidur. Ia menggigil, meriang.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pating greges...&lt;/span&gt;*,” katanya pada dokter yang merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malaria tertiana&lt;/span&gt; menyerang pria berwibawa itu. Semalaman ia begadang dengan kawan-kawannya untuk merumuskan “masa depan” tanah air mereka di rumah itu. Rumah seorang laksamana Jepang yang simpati.&lt;br /&gt;Sebuah suntikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chinineurethan intramuculair&lt;/span&gt; dan pil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brom chinine&lt;/span&gt; dari dokter membuatnya merasa lebih baik. Pukul 09.00 ia bangkit dari tempat tidur, wibawanya telah kembali. Dikenakannya pakaian putih-putih yang semakin menampakkan kegagahannya.&lt;br /&gt;Jum’at pagi itu, halaman rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 Cikini itu terlihat sibuk. Beberapa orang tampak menegakkan sebuah tiang bambu, tepat di depan rumah. Beberapa lagi menyiapkan mikrofon. Mereka menyiapkan sebuah hajat besar dengan peralatan dan upacara sederhana, kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;Pria berpakaian putih-putih itu berjalan tegap keluar menuju halaman. Rekannya yang berkacamata mendampinginya. Orang-orang yang hadir di rumah itu segera bersiap.&lt;br /&gt;Pukul 10.00 pria berpakaian putih-putih itu membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Siaran radio menyiarkan langsung ke seluruh pelosok negeri. Di ujung kesederhanaan sebatang bambu, Merah Putih berkibar gagah di langit nusantara, Jum’at pagi itu. Pria-pria muda yang hadir menyaksikan peristiwa itu berpandangan, lalu tersenyum. Mereka menarik nafas lega, Indonesia sudah merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alexandria, medio Juli 1945&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pantai di Laut Tengah pada malam itu masih mendeburkan ombak pada karangnya, seperti biasa. Semilir angin laut mengalunkan rhapsody kehidupan, seolah menyampaikan pesan dari satu tempat ke tempat lainnya. Kerlip lampu perahu nelayan melengkapi orkestra alam.&lt;br /&gt;Sebuah jam kayu di dinding ruangan menunjuk 22.00, saat itu. Empat puluh kelasi kapal berwajah melayu berkumpul, membincangkan sesuatu. Perkumpulan itu dipimpin beberapa mahasiswa yang berwajah melayu juga. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Suasana malam di ruangan itu terasa emosional. Para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di negeri Musa itu berpesan agar para kelasi itu mulai menabung. Jika setiap saat jihad kemerdekaan dikumandangkan, sebaiknya mereka meninggalkan kapal-kapal sekutu agar tidak menodai perjuangan.&lt;br /&gt;Para kelasi yang sehari-hari berada di lautan samudra itu menyanggupi, “Jika fatwa sudah turun, kami akan memenuhi.”&lt;br /&gt;Sumpah para kelasi itu tidak main-main. Tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, dua orang kelasi Indonesia berjalan kaki dari Tunisia menuju Kairo. Mereka ingin bergabung dengan mahasiswa dari tanah airnya yang banyak bermukim di Mesir, untuk melanjutkan perjuangan.&lt;br /&gt;“Kami menerima fatwa yang dibawa teman-teman kami dari Indonesia, tentang haramnya bekerja di kapal penjajah,” jawab kedua kelasi itu ketika ditanya kawan-kawannya di Mesir tentang perjalanan jauh yang mereka tempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kairo, suatu masa di 1946&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok mahasiswa Indonesia itu melakukan demonstrasi. Beberapa pemuda berwajah Arab mendampingi rekan-rekan mereka di kampus Al-Azhar. Mereka melakukan long march ke beberapa sudut Kairo. Meneriakkan kemerdekaan bagi negerinya. Kemerdekaan yang seharusnya tidak perlu lagi diteriakkan dan sudah menjadi hak semua bangsa di muka bumi. Kemerdekaan tanpa penindasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Di beberapa gedung, bendera-bendera negara sekutu diturunkan. Menyamarkan agar tidak menjadi sasaran demonstrasi. Di depan kedutaan Hindia Belanda, pelajar-pelajar perantauan itu secara heroik mencampakkan paspor-paspor Hindia Belanda milik mereka.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tak lama setelah itu, sebuah sesi persidangan Liga Arab di kota ini berlangsung haru. Beberapa mahasiswa Indonesia mendengarkan dengan seksama ketika sebuah resolusi tentang negeri mereka dibacakan. Akhirnya mereka lega, upaya diplomasi mereka dalam forum itu membuahkan hasil. Mereka menjadi saksi dukungan asing untuk kemerdekaan Republik Indonesia untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kairo, Agustus 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abdi berjalan dengan gontai meninggalkan lorong koridor Fakultas Ushuluddin. Pengumuman hasil ujian membuatnya bermuram durja. Ia harus mengulang lagi satu tahun di Tingkat Pertama ini. Al-Azhar tidak semudah yang dibayangkannya. Dengan lesu ia melangkahkan kaki meninggalkan gerbang universitas tua itu.&lt;br /&gt;Saat memasuki rumah, Hasan menyambutnya dengan wajah muram. Ia segera menegrti nasib sahabatnya itu sama dengannya. Harus mengulang satu tahun lagi. Tanpa banyak berkata-kata Abdi duduk di samping Hasan yang sedang terpekur.&lt;br /&gt;“Kita harus berbuat sesuatu!” Hasan memecah kesunyian.&lt;br /&gt;“Ya, sebenarnya aku sadar bahwa aku terlalu aktif di organisasi, bergerak ke sana dan kemari sampai akhirnya sulit membagi waktu untuk belajar, tak tega aku menolak ajakan senior,” Abdi mulai curhat tanpa diminta.&lt;br /&gt;“Aku pun begitu, terlalu sering berdiskusi dan terlalu asyik dengan geng-ku sehingga pelajaran di kuliah kurang ku perhatikan,” tutur Hasan.&lt;br /&gt;Mereka lalu terdiam.&lt;br /&gt;Abdi menarik nafas lalu berujar,“Sebenarnya apa yang kita lakukan tidak salah, namun seringkali kita kelewatan.....terutama soal waktu.”&lt;br /&gt;“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” tanya Hasan.&lt;br /&gt;“Tampaknya kalo bersama-sama kita akan lebih kuat menghadapi semua ini!”&lt;br /&gt;“Ya, aku setuju. Kamu boleh tetap aktif di organisasimu dan aku juga tidak akan berhenti dengan diskusi-diskusi di kelompokku. Hanya saja kita harus merancang sesuatu agar kita bisa tetap bertahan pada koridor tujuan awal kita.”&lt;br /&gt;Hasan dan Abdi meneruskan ide-ide yang ada dalam otak mereka. Mereka berdua sepakat akan berkampanya melawan rasib* di kalangan mahasiswa Indonesia. Hasan menghubungi kawan-kawan diskusinya, mengajak mereka memecahkan masalah perkuliahan bersama-sama. Abdi melakukan hal yang sama pada kawan-kawan organisasinya. Beberapa kali, para mahasiswa bebeda latar belakang ini berkumpul untuk merancang program demi Kampanye Anti-Rasib.&lt;br /&gt;Hari demi hari, kampanye yang dimotori Hasan, Abdi dan kelompok mereka masing-masing semakin gencar. Orang-orang muda ini berusaha menciptakan suasana dan lingkungan berorientasi pada perkuliahan tanpa harus menarik diri latar belakang mereka; aktivis, pemikir, jago diskusi, bisnismen dan yang lainnya. Mereka juga menyampaikan kampanyenya ke PPMI agar bisa membuat rancangan program Kampanye Anti-Rasib yang lebih nyata dan terlihat hasilnya. Pucuk dicinta ulam tiba, Presiden PPMI dan kabinetnya segera mengadakan pertemuan membahas ide yang muncul dari “rakyat” mahasiswa Indonesia di Mesir.&lt;br /&gt;Tak lama, PPMI merencanakan program Kampanye Anti Rasib secara lebih menyeluruh. Salah satunya adalah merancang bimbingan belajar yang mendatangkan dosen-dosen Al-Azhar. Melalui lobi yang mereka lakukan pada pihak rektorat, didampingi KBRI Kairo, akhirnya Al-Azhar memfasilitasi program itu dan menyediakan fasilitas dan dosen-dosen yang tulus ikhlas membimbing para mahasiswa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kairo, 18 Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siang yang terik itu, tidak mengurangi semangat para mahasiswa itu hadir di Auditorium Muhammad Abduh. Wajah para mahasiswa Indonesia yang hadir saat itu tersenyum cerah. Sabtu siang yang cerah itu, PPMI Mesir akan menerima penghargaan dari Universitas Al-Azhar  atas keberhasilan mereka dalam Kampanye Anti-Rasib yang dapat mengurangi angka rasib hingga 90 persen.&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah kampanye itu diresmikan oleh PPMI, organisasi persatuan pelajar Negara lain mengikuti kampanye yang dilakukan mahasiswa Indonesia. Kini, PPMI Mesir menjadi percontohan organisasi persatuan pelajar asing di Mesir. Karena itu Al-Azhar kini tidak hanya membimbing mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa asing lainnya.&lt;br /&gt;Di sebuah sudut auditorium luas itu, Abdi dan Hasan tersenyum puas. Ternyata kebersamaan membuat mereka merasa lebih kuat. Entah rancangan apalagi yang ada di otak mereka sekarang.  Penghargaan hari itu adalah kado terindah Peringatan Kemerdekaan RI ke-63 bagi mahasiswa Indonesia di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;*) Keterangan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;PPKI : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pating greges (Jawa):&lt;/span&gt; Meriang semua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rasib (Arab) :&lt;/span&gt; Gagal dalam ujian&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerpen di atas adalah sebuah cerpen fiksi-sejarah yang saya ikutkan lomba di peringatan 17-an di Kairo tahun 2007 lalu, dan alhamdulillah belum menang :). Jadi dari pada blog ini nganggur melulu dan membosankan, akhirnya cerpen ini saya posting di sini. Karena itu segala kritik, saran dan komentar terbuka lebar untuk semua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2912521612856081616?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2912521612856081616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2912521612856081616' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2912521612856081616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2912521612856081616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/04/mahasiswa-dan-indonesia-rengasdengklok.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2044589351116490614</id><published>2008-01-27T21:21:00.001+02:00</published><updated>2008-01-27T21:43:32.775+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Selamat Jalan Pak Harto</title><content type='html'>Selamat jalan Pak Harto&lt;br /&gt;Semoga amal baikmu diterima-Nya&lt;br /&gt;Cepat atau lambat,&lt;br /&gt;kami akan menyusulmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 27 Jan 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2044589351116490614?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2044589351116490614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2044589351116490614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2044589351116490614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2044589351116490614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-pak-harto.html' title='Selamat Jalan Pak Harto'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1884691911075391838</id><published>2007-10-08T08:44:00.000+02:00</published><updated>2007-10-08T12:15:47.716+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aneh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'>BOLA AJAIB</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bagi para Masisir, ingatkah Anda dua tahun yang lalu di Cairo Int'l Book Fair 2005, ketika ada orang Jerman bisa melayang di samping tembok hanya dengan menempelkan satu tangannya di tembok tersebut. Sayang sekali saya tidak mendapatkan foto atraksi yang dalam beberapa hari sudah bikin heboh suasana Cairo Book Fair 2005 saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ada lagi yang aneh (yang katanya) buatan orang Jerman. Kita namakan saja bola ajaib.&lt;br /&gt;Silahkan buka &lt;a href="http://www.messe-ideen.de/upload/magische-zauberkugel.swf"&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara bermain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bayangkan dalam pikiran Anda sebuah angka dengan dua digit. Misalnya: 10, 15, 27, 58, sampai 99.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jumlahkan 2 digit dari angka yang Anda bayangkan. Misalnya angka tersebut adalah 32, maka jumlahkan 3+2=5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kurangi angka yang Anda bayangkan dengan hasil penjumlahan dua digit tadi. Jadi, 32-5=27.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lihat hasil penghitungan tadi, di sini 27, lalu ingat-ingat simbol angka hasil penghitungan itu di deretan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Langkah terakhir klik lingkaran/bola besar yang berwarna biru. Lihat bagaimana hasilnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Kira-kira ada yang bisa memecahkan bagaimana Bola Ajaib itu bekerja, apa secara ilmiah bisa dijelaskan atau....? Mohon beri komentar jika ada yang tahu! Soalnya setiap saya coba berkali-kali hasilnya selalu tepat. Dan, bagi yang mudah merasa merinding silahkan berhati-hati mencoba Bola Ajaib ini, sebab saya tidak bertanggung jawab jika ada hal-hal yang tidak diinginkan! Misalnya karena kaget terus loncat sampai menjebol atap rumah, atau loncat dari jendela apartemen! Hehe...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br&gt;Catatan: Sekitar 1 jam setelah postingan ini dibuat dan bermeditasi sebentar ;), saya sudah menemukan bagaimana Bola Ajaib ini menebak pikiran kita! Tapi tidak usah saya kasih tahu biar pengunjung bisa menikmati keanehannya! Syukur-syukur kalau pengunjung sekalian bisa ikut mengetahui. Ayo, buat paranormal, dukun pijat, dukun santet, dukun bayi, para ilmuwan, ahli web dan internet, para hackers sampai tukang becak, tunjukkan bahwa orang Indonesia juga tidak kalah dengan orang Jerman! :)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1884691911075391838?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1884691911075391838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1884691911075391838' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1884691911075391838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1884691911075391838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/bola-ajaib.html' title='BOLA AJAIB'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-9150409426193451783</id><published>2007-10-04T13:01:00.000+02:00</published><updated>2007-10-18T16:11:25.780+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='English'/><title type='text'>ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [4]</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTISQQ7dVI/AAAAAAAAALc/ZxtdAlrC8WM/s1600-h/12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117435292528899410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTISQQ7dVI/AAAAAAAAALc/ZxtdAlrC8WM/s400/12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;.....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suneo &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: It is certainly that I'll never forget him, isn't?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; : That kid...suddenly disappeared and came back to the future...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: DORAEMON...we all...after all...after all what we had done, I thought we are friends?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;BRAKKK.....&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: What was that, he even didn't say good bye!? Just easily leaving us!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suneo&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Just forget about his leaving to the future...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: He was suddenly leaving us is a fact that we have to receive. Beside that, about Nobita...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Do you know about 'time paradox'?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTIawQ7dWI/AAAAAAAAALk/8MoyjZ4CY34/s1600-h/13.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117435438557787490" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTIawQ7dWI/AAAAAAAAALk/8MoyjZ4CY34/s400/13.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;Suneo&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: 'Time paradox'? A theory about contradiction during travel through the time because many things that potentially changing history?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: That's right, Suneo.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Nowadays, our civilization's developing is bogging and faces deadlock, right? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Whereas, looking to the fact that had been showed by Doraemon when we're children...developing of human being know is too slow.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Oh, yes, that's right. When we were children, we often imagining that a trip to space in our adult age is something ordinary.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suneo&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: That's true. Going anywhere with time door, a machine that produce meals only with one button, even a maid robot, right?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Yes, I'm thinking like that. That's why, as an observer, I am struggling seriously and carefully for such those things possibly happen. Waiting for DORAEMON era.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I even didn't take a part in your adventures every summer holiday, did you know that?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Dekisugi?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTItgQ7dXI/AAAAAAAAALs/yqgzu8GUOBo/s1600-h/14.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117435760680334706" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTItgQ7dXI/AAAAAAAAALs/yqgzu8GUOBo/s400/14.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Tonight, an invention that will bring all human civilization to new era in one big step has been finished by an inventor. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;: Because this project has a high risk and able to change history and time continuity..."the future" has informed me, as very important person in the world this time, that intervention on that invention is prohibited.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Giant&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Hey... It's OK you talking about that with us.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suneo&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Don't say that the inventor is...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: In his childhood, He swore...and I understand...nothing changed with him...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dekisugi&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: No doubt, this is 'a time paradox', but.....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;....actually 35 years ago, dreams of the whole world has been entrusted to him...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTI2wQ7dYI/AAAAAAAAAL0/TJeJcusoUq8/s1600-h/15.jpg"&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117435919594124674" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTI2wQ7dYI/AAAAAAAAAL0/TJeJcusoUq8/s400/15.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Honey...Shizuka, please come here!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Shizuka&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Didn't you say that this place is dangerous and restricted, did you? Honey...Nobita?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Shizuka&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Doraemon...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: I'll try to switch on, now...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117437401357841810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTKNAQ7dZI/AAAAAAAAAL8/xtURugrzJ6A/s400/16.jpg" border="0" /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I want this.....&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I want that...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;DORAEMON&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; : Nobita! Have you done your homeworks?&lt;br&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;br&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I want these and those, so many,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;All, all, all, can be achieved&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Can be achieved by amazing pocket...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I want to fly freely in the sky.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;'Hey, bamboo chopper!!'&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;La,la,la ~!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I do love Doraemon!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I do love Doraemon!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[THE END!]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-3.html"&gt;Back to part 3...&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-9150409426193451783?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/9150409426193451783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=9150409426193451783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/9150409426193451783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/9150409426193451783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-4.html' title='ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [4]'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTISQQ7dVI/AAAAAAAAALc/ZxtdAlrC8WM/s72-c/12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1917402656083637073</id><published>2007-10-04T12:58:00.000+02:00</published><updated>2007-10-18T16:08:27.770+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='English'/><title type='text'>ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [3]</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHcwQ7dRI/AAAAAAAAAK8/7GybfzC4pZE/s1600-h/8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117434373405898002" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHcwQ7dRI/AAAAAAAAAK8/7GybfzC4pZE/s400/8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dorami&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: ...Alright. I understand. I know you never want Doraemon's memories of you losing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Thank you, nice to see you, Nobita. I hope one day you will be able to repair my brother. I'm sure for that.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Nobita&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Me...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHmQQ7dSI/AAAAAAAAALE/9EZfR5rHp1s/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117434536614655266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHmQQ7dSI/AAAAAAAAALE/9EZfR5rHp1s/s400/9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;NATIONAL TEST RESULT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nobita 498&lt;br /&gt;2. Dekisugi Hidetoshi 475&lt;br /&gt;3. Yamato Koufu 410&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Shizuka&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Nobita...you're great! You get the highest score even in National Test!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dekisugi&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Congratulation Nobita! No one matches you anymore.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Nobita&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Thank you.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Nobita&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: But score isn't what I want. It's the knowledge...better knowledge. I have to struggle more.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Shizuka&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Don't push your body too hard. That won't good for your health. It's have been long time since last time we went to the hill at the school's backyard. Let's go there now!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Nobita&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Thanks Shizuka, but there are things that has to be analized.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHtwQ7dTI/AAAAAAAAALM/gvmh7coapWc/s1600-h/10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117434665463674162" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHtwQ7dTI/AAAAAAAAALM/gvmh7coapWc/s400/10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dekisugi&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Nobita has changed.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Shizuka&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: No! He hasn't.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Though Nobita is careless, frivolous, like to peek into my bathroom, and not diligent, but...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;He always strives wholeheartedly. He also gives attention to people surrounding, though he's often unlucky but he always smile. He is a strong person, you see!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Shizuka&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: After Doraemon has gone, he continously forces himself without saying anything. I understand his feeling. Nobita... Nobita is...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dekisugi&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Shi...Shizuka...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Shizuka&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: I'll certainly invite him to picnic!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Eventhough, I have to die, I'll make him following the picnic!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Nobita...!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTH3QQ7dUI/AAAAAAAAALU/5bwXAglxV8c/s1600-h/11.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117434828672431426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTH3QQ7dUI/AAAAAAAAALU/5bwXAglxV8c/s400/11.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;TV Presenter&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; : And, our guest star today is Technician Robotic Leader, Dr. Nobi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Nobita&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; : Halo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dekisugi&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Yes, Nobita-kun! The pioneer of high technology of Japan. He is amazing, isn't he?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Suneo&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: You are the great President Dekisugi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Giant&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Hey, Nobita just came from abroad, didn't he? Want to call hem?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Suneo&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: Oh right, it has been long time we have not made a gathering.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Dekisugi&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;: No, no need. Today I want to talk with both of you only.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Remember Doraemon....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-4.html"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Go to Part 4...&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-2.html"&gt;Back to Part 2...&lt;/a&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-2.html"&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHmQQ7dSI/AAAAAAAAALE/9EZfR5rHp1s/s1600-h/9.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1917402656083637073?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1917402656083637073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1917402656083637073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1917402656083637073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1917402656083637073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-3.html' title='ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [3]'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTHcwQ7dRI/AAAAAAAAAK8/7GybfzC4pZE/s72-c/8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6587925890006846081</id><published>2007-10-04T09:50:00.000+02:00</published><updated>2007-10-15T09:31:08.024+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='English'/><title type='text'>ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [2]</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwSdkAQ7dLI/AAAAAAAAAKM/mMrU2C_bGyo/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117388318471582898" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwSdkAQ7dLI/AAAAAAAAAKM/mMrU2C_bGyo/s400/4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Enough! Let me bring him to his factory in the future.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Nobita!!!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Blaarrrrr.....)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;You can't do that. Intervention in your present era is being prohibited.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Since hearing there was something wrong, I had tried&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;to go there. But Time Patrol won't allow me passing them.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;They even did't listen to me. This thing never happens before. &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;So, what should I do?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTB_QQ7dQI/AAAAAAAAAK0/J2OOvPWN1lo/s1600-h/5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117428369041618178" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwTB_QQ7dQI/AAAAAAAAAK0/J2OOvPWN1lo/s400/5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;If I put back his ears, the memory will remain, right? There must be a tool can be used in his pocket?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;You cannot use his pocket while he is in functional interruption. Moreover, I don't think we are able to handle such precise modification.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;If so, call his creator!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: His creator's whereabout is very important and secretly covered. Even my memory has been modified for keeping the secret.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: (puufh)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Nobita, perhaps they will confiscate this Time Television soon....&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;There are just two choice now.... &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: First, bring my brother to his factory to cange the battery.May be we can pass The Time Patrol if we move quickly.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Although losing his memory, I'm sure you can live together with him once more....&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Secondly, we'll be waiting someone from the future fixing my brother.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwSyCwQ7dNI/AAAAAAAAAKc/7tJLBbNP75c/s1600-h/6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117410836985115858" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwSyCwQ7dNI/AAAAAAAAAKc/7tJLBbNP75c/s400/6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Nobita's Mom&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Nobita! Doraemon! Dinner's ready!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita's Dad&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Why are they?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita's Mom&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: I don't know, there is no even an answer. Maybe they are quarreling again.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: ...Doraemon&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Do you remember the first time we met?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwS2FQQ7dPI/AAAAAAAAAKs/gkUrZ2-tbI4/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117415277981299954" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwS2FQQ7dPI/AAAAAAAAAKs/gkUrZ2-tbI4/s400/7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: That time was on new year, right?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;I was very surprised because you immediatelly jumped and said "You are very gravely!"&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: We have gone to many various places, future and past time...mysterious things, Atlantis, Space...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: I don't know how many time we escaped danger. Everytime got panic, you always become useless...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Everytime someone mocked me, you're thinking of me as it your own problem...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;I never told you right, but actually I was very happy.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: We're always fighting because a simple thing! But we also made up again, didn't we?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Hey, say something Doraemon! Just a word...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: Doraemon, ugh...please...speak...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;to be continued...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-3.html"&gt;Go To Part 3...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/end-of-my-childhood-favorite-stories-1.html"&gt;Back To Part 1....&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;                                              &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6587925890006846081?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6587925890006846081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6587925890006846081' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6587925890006846081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6587925890006846081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/10/end-of-my-childhood-favorite-stories-2.html' title='ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [2]'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RwSdkAQ7dLI/AAAAAAAAAKM/mMrU2C_bGyo/s72-c/4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6987705628125687151</id><published>2007-09-30T10:43:00.000+02:00</published><updated>2007-09-30T17:11:49.018+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='English'/><title type='text'>ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [1]</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Hei, baling-baling bambu!"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anyone ever heard that yell? Yes, that's a yell in Doraemon Series soundtrack which means "Hi, bamboo-chopper!". &lt;/div&gt;&lt;div&gt;When i was a boy in primary dan secondary school, I almost never missed this film. As some of you remember, it was showed in RCTI, one of Indonesian TV channels every Sunday morning at 8 o'clock. I don't know whether it is now still running in RCTI or another Indonesian TV or not.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;I love it's stories about adventures through time machine, hi-tech and another things impossible -for recent time-. Perhaps in the future those stories can be real in our life, who knows? So i can fly with bamboo-chopper. ;P &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Since leaving my home for staying in boarding school, I just rarely watched it. Sometimes i read it's books. I borrowed them from my friends or book rental. It has been 4 years i didn't read them. Just once or twice i watched the film in computer during these time. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;One more, a cartoon series that i loved much, TIME QUEST (TQ). The adventures of TQ brought me to many different happenings in different times. As example they go to the time when Leonardo Da Vinci still alive, etc. But as i remember, it's stories had been ended so fast after several months shown in tv. It's unlike Doraemon which has comics and shown in tv for many years. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Several time ago, i got an information from a friend of mine that the story of Doraemon has been ended. Haha...I will be missing them. Nobita, the crying boy. Shizuka, the beautiful girl. Giant, the big and annoying boy. Suneo, the rich and bigheaded boy. Dekisugi, the clever boy. Dorami and of course DORAEMON, a robot cat with fantastic pocket.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Here it is...i tried to translate from Bahasa Indonesia into English with my very down to earth English. If you find any mistake regarding the translation, feel free to give me an advice. Hope you enjoy it! Or feel sad because it ended?!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-H-QQ7dGI/AAAAAAAAAJk/7EO2-rCz0YA/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115957205303784546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-H-QQ7dGI/AAAAAAAAAJk/7EO2-rCz0YA/s400/1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Doraemooon! Thing at that time, borrow me thing I ever used that time please! &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Doraemon&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: (silent)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;: This time, i have no patience with Giant!&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Doraemon&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;(kluk)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Ou...what's going on with you, Doraemon? Hey, talk to me! Oh please, are you thinking of mocking me too? Or you're angry?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Doraemon&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;(stay still)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;:&lt;em&gt;Hey, Doraemon i'm calling you!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Doraemon&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;(falling; bump...)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-5bgQ7dKI/AAAAAAAAAKE/MapGcoriXPw/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116011583884719266" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-5bgQ7dKI/AAAAAAAAAKE/MapGcoriXPw/s400/2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;...Doraemon?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;umm...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;How is it? Dorami? Doraemon doesn't make any move since I arrived, nothing change.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;It seems he is out of battery.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Out of battery? Ah...that easy thing. So just replace the battery quickly.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-hXgQ7dJI/AAAAAAAAAJ8/OW82N9IqPQk/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5115985126886175890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-hXgQ7dJI/AAAAAAAAAJ8/OW82N9IqPQk/s400/3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;It's not that easy. Old robotic-cat version as my elder brother should have support circuit memory in his ears. It's used when changing battery&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;??&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;But my brother has lost his ears so his memory has no support.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;(uptight)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;In other words, if the battery changed, his memory will be lost. His memory of YOU will be lost too, forever!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Nobita&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;What??? Doraemon's memories will be lost?! &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;I don't understand, it's just out of battery. I think if we change the battery he'll soon be recovered.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Dorami&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Calm down Nobita! All type robot needs energy. Even the fabulous one only keep important memories. More like humans... &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;To be continued.....&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6987705628125687151?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6987705628125687151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6987705628125687151' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6987705628125687151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6987705628125687151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/end-of-my-childhood-favorite-stories-1.html' title='ThE End Of My ChildhOOd Favorite STories [1]'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rv-H-QQ7dGI/AAAAAAAAAJk/7EO2-rCz0YA/s72-c/1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-8585174977222804263</id><published>2007-09-26T08:50:00.000+02:00</published><updated>2007-09-26T12:25:22.542+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Mati Adalah Pasti</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tulisan ini diperoleh dari surat elektronik yang dikirim oleh S. Muchlis ke Milis Gamajatim Mesir. Penulisnya belum saya ketahui.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;_____________________________&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ 'Menyaksikan Orang Disiksa Dan InginKembali ke Dunia'.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan Instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr. Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs www.lifeafterlife.com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aslina berasal dari keluarga sederhana, IA telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA IA termakan racun. Tersebab itu IA menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun IA terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,'' jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu IA dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti orang Ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,'' ungkapnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaannya. ''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu IA mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa IA juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang. ''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutnya, terlalu sakit mati itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,'' tambahnya. Di saat itu IA sempat diajarkan oleh Pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru. Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, IA menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan IA juga melihat jasadnya yang terbujur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu." Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu IA dibawa ke alam barzah. ''Tak Ada teman kecuali amal,'' tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu IA tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di alam Barzah IA melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut. Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi IA mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di alam barzah, IA melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu IA ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu IA memanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan Ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah Ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.'' Ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai''. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.'' Akulah (amal) kamu.'' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap: Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ''Saya mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Di makam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.'' Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan manusia itu berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.'' Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.'' Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama. ''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, '' ujarnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A. Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.'' &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ''Aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100: Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). ''(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).'' Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan. Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirin pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama Aslina. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;NB : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Ternyata hidup ini hanya sementara, dan hanya amal serta hati yang bersih yang menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-8585174977222804263?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/8585174977222804263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=8585174977222804263' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8585174977222804263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8585174977222804263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/mati-adalah-pasti.html' title='Mati Adalah Pasti'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2880516973584424729</id><published>2007-09-17T12:53:00.000+02:00</published><updated>2007-09-20T06:55:48.337+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'>22</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Bu,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ingatkah engkau dulu? Pada hari seperti hari ini, pagi-pagi sekali engkau sudah sibuk di dapur. Engkau memasak bubur merah dan bubur putih. Di atas tampah beralas daun pisang, bubur itu engkau taburi gula merah dan parutan kelapa. Lalu kita undang kawan-kawan bermainku, pagi-pagi sekali sebelum mereka berangkat ke sekolah. Lalu mereka melingkar mengelilingi tampah berisi bubur merah dan putih itu di dapur yang dindingnya bambu. Kami duduk jongkok sambil menengadahkan tangan. Engkau mulai berdoa dan kami semua mengamini. Selesai berdoa, dengan lahap mereka menyantap bubur itu dengan menggunakan sendok &lt;em&gt;suruh, &lt;/em&gt;potongan daun pisang yang ditekuk. Ya, mereka riang sekali, walau hanya bubur. Oh ya Bu, waktu itu aku juga ikut makan, nikmat sekali rasanya. Engkau hanya mengawasi kami yang sibuk makan sambil tersenyum, engkau tidak ikut makan. Hari itu engkau puasa, untukku. Doa, orang berpuasa itu makbul kata para ulama. Selesai makan, daun pisang disingkap dan mereka berebut uang logam pecahan 100 Rupiah yang sejak awal sudah engkau taruh di sana. Ya, mereka berebut sambil tertawa-tawa. Dari hasil berebut ada yang dapat 2 keping, ada yang dapat 3 keping, ada yang dapat cuma 1, tapi ada juga yang tidak dapat sama sekali. Akhirnya engkau berusaha bertindak adil dengan memahamkan mereka yang dapat lebih dari satu untuk memberikan kepingan logam itu pada yang tidak dapat. Akhirnya semuanya dapat kepingan logam itu, sama rata karena memang sudah engkau siapkan sesuai undangan. Mereka gembira sekali, saya juga gembira. Lalu mereka pamit sambil mendoakan,"&lt;em&gt;Kabul kajate&lt;/em&gt;!" Ungkapan singkat yang kira-kira berarti,"Semoga Tuhan mengabulkan hajat kita!"&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br&gt;Bu,&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Kadang, tidak hanya tanggal seperti ini saja engkau mengadakan "pesta" seperti itu. Pada hari &lt;em&gt;weton&lt;/em&gt;-ku, &lt;em&gt;Selasa Pahing&lt;/em&gt; engkau juga membuat bubur merah dan putih. Bahkan seringkali engkau puasa pada hari itu. Jadi kadang dalam setahun aku punya "pesta" ulang tahun lebih dari satu kali. Aku selalu gembira jika kawan-kawan datang dan ikut berdoa di rumah kita. Walau tanpa lilin. Walau tanpa kado dan tanpa nyanyian selamat ulang tahun, aku benar-benar gembira. Bu, ingin rasanya masa itu datang lagi. Kapan Bu, engkau membuatkan untuk kami bubur merah putih dengan taburan kelapa dan gula merah, di atas tampah beralas daun pisang, seperti dulu?&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;br&gt;Anakmu, &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;yang merindukan bubur merah putih buatanmu.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2880516973584424729?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2880516973584424729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2880516973584424729' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2880516973584424729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2880516973584424729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/22.html' title='22'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7975531473968412622</id><published>2007-09-14T11:09:00.000+02:00</published><updated>2007-09-14T11:10:34.890+02:00</updated><title type='text'>Ramadhan Sudah Tiba</title><content type='html'>SELAMAT DATANG...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7975531473968412622?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7975531473968412622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7975531473968412622' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7975531473968412622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7975531473968412622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/ramadhan-sudah-tiba.html' title='Ramadhan Sudah Tiba'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-2461440749089599886</id><published>2007-09-10T14:54:00.000+02:00</published><updated>2007-09-14T11:52:47.483+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'>Kemarin</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kemarin, sepulang dari kampus saya jalan-jalan ke Pusat Belanja Khan el-Khalili - Husein, sendirian. Hati saya agak kesal atau tepatnya sesal karena berangkat tidak tepat waktu ke kampus, pukul 13.00 baru berangkat. Sampai di kampus pukul 14.15, terang saja terlambat, loket administrasi tutupnya pukul 14.00 bahkan kalo pegawainya malas bisa lebih cepat tutup. Dan saya gagal mendapatkan &lt;em&gt;tashdiq&lt;/em&gt; (surat keterangan kuliah) yang sangat saya butuhkan esok harinya. Masalahnya keterlambatan saya bukan karena malas, tapi ada sesuatu yang lain yang menghambat saya untuk berangkat tepat waktu. Masalah itu sengaja tidak saya tuliskan di sini agar tulisan ini tidak bertele-tele. Yang jelas saya agak suntuk, kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kesuntukan saya juga tidak bertele-tele, akhirnya saya langkahkan kaki ke Husein. Sedikit melupakan kekesalan sambil mencari kartu ucapan buat dikirim ke kawan di Indonesia. Rupanya hari itu jalanan di pasar Khan el-Khalili sedang dibongkar untu memperbaiki pipa air. Padahal pengunjung juga ramai, jadi saya harus jalan pelan-pelan, antri jalan dengan pengunjung lain yang juga banyak bule.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat celingukan, saya belum juga melihat orang jual kartu ucapan. Mungkin agak ke masuk ke lorong-lorong yang lebih sempit, pikir saya. Saya teringat sekali kalau mau beli kartu ucapan pusatnya adalah di bawah jembatan Tol dekat Kantor Pos Pusat Mesir di Attaba. Di sana banyak sekali kartu pos, kartu ucapan, papyrus sampai perangko bekas bagi yang senang filateli, hobi yang sudah lama saya terlantarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya sampai di perempatan deket penjual kaos, dari situ saya langkahkan kaki kearah kanan. Baru beberapa langkah, mata saya langsung terpikat sama pajangan barang antik (baca: bekas) yang umurnya sudah uzur. Hehe..kayak manusia aja uzur. Ada sebagian barang di jajarkan di depan toko, namanya lupa. Mulai dari pedang, koin, mesin ketik, kamera zaman butut, sampai barang-barang yang saya tidak tahu namanya. Di dekat saya seorang Bapak melirik saya dengan wajah dingin. Lalu mengucapkan sesuatu dengan Bahasa Inggris yang kurang jelas saya tangkap. Saya diam menatapnya sesaat. Lalu dia bilang,"&lt;em&gt;Aiz ee?&lt;/em&gt; (Mau apa?)" dengan bahasa Mesir, karena rupanya dia tahu saya mahasiswa Al-Azhar. Masih dengan wajah dingin. Lalu saya lempar senyum. Dia tetap dingin sambil asyik makan sandwich. Rupanya dia pemilik toko barang antik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat di dalam toko lebih banyak kamera bekas dan barang-barang antik lainnya. Saya masuk, ingin melihat-lihat sambil melupakan sesal. Barangkali juga ada barang yang bisa ditawar (hehe sok mau beli). Di dalam ada seorang anak muda sedang menelepon, mungkin pekerjanya. Sekitar 3 menit melihat-lihat, ada 2 orang bule masuk. Anak muda tadi tiba-tiba bertanya pada saya,"&lt;em&gt;Bitdhowwar 'ala hagah mu'ayyanah?&lt;/em&gt;" (Kamu sedang mencari barang tertentu?). Saya jawab,"&lt;em&gt;La, ana asyuf bas, induku hagat kuwayyisiin&lt;/em&gt;?" (Nggak kok, saya hanya melihat-lihat saja, kalian punya barang bagus-bagus?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria pemilik toko yang sedang berdiri di luar lalu memanggilku. &lt;em&gt;"Ta'al!"(&lt;/em&gt;Kemarilah!). Lalu saya keluar, pikir saya biasanya kalo sudah begitu kita akan ditunjukkan barang yang menarik. Lalu&lt;em&gt;,"Imsyi!"&lt;/em&gt; (Pergi!) katanya. "Heh!" saya memiringkan kepala. Jangan-jangan saya salah dengar,"&lt;em&gt;Aiwa, imsyi keda!"&lt;/em&gt; (Ya, pergi saja!). Benar, tidak salah dengar, saya diusir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, sebagai manusia yang sangat biasa tentu saja saya kaget, campur kesal, campur marah, sakit hati dan se. Tiba-tiba saja, hilang sudah rasa sesal karena tidak mendapatkan &lt;em&gt;tashdiq &lt;/em&gt;di kampus. Pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tidak lama, beberapa detik kemudian saya sudah bisa menguasai diri. Tak ada gunanya melayani orang ini, tambah kesal nantinya. Saya hanya menatapnya sesaat, ia dengan cuek menghabiskan sandwichnya, tak acuh. Lalu dengan tenang saya tinggalkan orang itu. Saya tak ada urusan dengannya. Biar saja ia menghabiskan makan siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya arahkan langkah saya makin masuk lorong itu. Entahlah, waktu itu saya hanya bertanya dalam hati, kenapa saya diusir? Ah, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya. Saya tidak mau menebak-nebak kenapa saya diusir, biar saja. Dalam hati saya berdo'a, semoga orang itu dibuka hatinya oleh Allah. Dan semoga tidak ada lagi korban pengusiran setelah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong yang saya lewati sore itu banyak yang tutup. Saya sering lewat lorong itu jika jalan-jalan ke Khan el-Khalili. Karena di situ ada beberapa penjual barang antik, mulai dari yang punya etalase seperti toko tadi sampai di ujung gang sempit yang banyak debu. Tak lama saya belok ke kanan lagi. Di sana ada beberapa penjual barang-barang antik. Saya melihat-lihat lagi. Belum ada barang yang menarik saya. Ada beberapa kamera bekas, koin-koin dan lainnya, tapi berserakan begitu saja di pinggiran gang yang kiri-kanannya tembok kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya sampai di penjual paling ujung. Saya didatangi seorang anak muda. &lt;em&gt;"Andunisia?"&lt;/em&gt; tanyanya. &lt;em&gt;"Na'am, ana min Andunisia. E zaiyyak?"&lt;/em&gt; (Ya, saya dari Indonesia. Apa kabar?) saya berbasa-basi. "&lt;em&gt;Kwaiyyis."&lt;/em&gt; (Baik) katanya. &lt;em&gt;"Syuf gowwah fil mahal!"&lt;/em&gt; (Silahkan lihat di dalam juga ada!") ia menawarkan. "Terima kasih." Lalu saya masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu lebar, pintunya berbentuk setengah lingkaran seperti mihrab, warnanya hitam kusam. Daun pintunya dari kayu, juga kusam. Di dalam saya menemukan banyak barang dipajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngobrol banyak dengannya. Dia orangnya cukup ramah. Orang Azhar juga. Fakultas Bahasa katanya. Namanya Mokhtar Osman, ibunya orang Mesir dan ayahnya asli Sierra Leone. Ia dengan sabar menungguiku yang sekedar melihat-lihat, dan menjawab pertanyaan yang aku ajukan. Sayangnya dia memberikan harga yang cukup tinggi untuk barang-barang antiknya. Ha..ha..biasa lah, pembeli kan carinya yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama melihat-lihat saya belum menemukan barang yang bisa membuat saya jatuh cinta dan Mokhtar ini dengan sabar menunggu. Sampai saya menemukan sebuah foto lama Masjid Mohammad Ali (Masjid Alabaster) berukuran sekitar 3x5 cm. Saya tanyakan harganya pada Mokhtar, ia menjawab LE 5. Wah, saya bilang harga segitu mahal, soalnya selain foto hitam putih itu sudah kena noda juga tanpa keterangan apapun seperti waktu pengambilan, fotografer, dan kamera apa yang digunakan. Lalu dia jawab dengan senyuman, "Begitulah, tapi ini kan barang lama, antik." Tak lama kemudian saya dapatkan lagi 2 foto dengan ukuran yang sama dengan obyek Masjid Mohammad Ali (berbeda sudut) dan Masjid Ahmad Hassan. Saya ambil juga sebuah koin Amerika Serikat 5 cent keluaran tahun 1973 dan sebuah lagi koin Malaysia 10 sen, lupa tahunnya. Lalu barang-barang itu kutunjukkan ke Mokhtar,"Kalau ini lima pound boleh nggak?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Wah, nggak boleh, lima pound untuk 2 foto itu baru boleh." jawabnya sambil tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya karena masih belum dapat kesepakatan harga, saya putuskan nggak jadi mengambil barang-barang itu. Karena sudah terlalu lama ngobrol dengan Mokhtar, akhirnya saya pamit tak lupa mengucapkan terima kasih. Teringat saat itu sedang ada &lt;a href="http://www.sajakmasisir.com/"&gt;PETIR (Pesta Penyair) Masisir&lt;/a&gt; di Hadiqah Tifl, Makrom Abied. Saya, meski bukan penyair, ingin juga hadir di sana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya pikir saat itu terlambat, karena sudah pukul 16.00 ketika saya bertolak dari Husein. Padahal rencananya kawan-kawan berkumpul pukul 15.00. Tidak apalah, daripada saya tidak datang sama sekali. Saya langsung meluncur ke Hadiqah Tifl (&lt;em&gt;Children Park&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiba di depan taman itu sekitar pukul 17.00, saya melihat kawan-kawan berkumpul di halte. Wah, saya terlambat, mereka sudah mau pulang. Seorang dari mereka melambaikan tangan dari kejauhan. Rupanya Tabrani Basya sang "Presiden" Sajak Masisir. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Wah, sudah selesai yah?" saya memulai percakapan. "Belum kok," sahut mereka. Ah, syukurlah, saya lega. Malahan rupanya mereka sedang menunggu kawan-kawan yang belum datang. Tak lama, kemudian kami masuk taman setelah beli tiket LE 2 per orang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Wah, rupanya tiketnya naik, beberapa hari yang lalu masih LE 1.5." celetuk Nanang Musha.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"He..he...beginilah negeri padang pasir, masuk taman gini aja harus bayar," saya asal menyahut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hari itu lumayan banyak yang hadir, ada Tabrani Basya, Nanang Musha, Samingan, Luthfi, Hanafi, Bohemian, Yogi, Hiayat, Titis, Wafi, Laily Qomariah, Nia, Hayla, Lely Dz, Si Cantik Fika :) dan masih banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu (yang gak kesebut jangan marah, atau kalau mau nampang silahkan daftarkan diri lewat komentar, hehe :P). Bahkan setelah Maghrib, Pangapora datang dengan kawan-kawannya membawa cinta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kami memulai pertemuan sore cerah itu dengan membahas penyair Indonesia Joko Pinurbo atau Jokpin. Saya baru saja mengenal Jokpin karena undangan kawan-kawan untuk hadir di PETIR ini. Satu sajak yang saya sukai karya Jokpin, judulnya DUEL.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;DUEL&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ayo, buku, baca mataku!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(2007)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jokpin &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah sholat Maghrib, acara kami lanjutkan dengan deklamasi puisi. Setiap yang hadir wajib baca ke depan forum. Wah, sudah 17 tahun lamanya saya tidak berdeklamasi di depan umum. Kini di daulat untuk berdeklamasi. Satu per satu yang hadir berdeklamasi. Ada yang membacakan sajaknya sendiri atau membacakan sajak penyair-penyair lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya malam itu, saya mau tidak mau harus menjadi penyair (?). Di bawah buaian lampu taman saya bacakan sebuah puisi yang baru saya tulis di dalam bis 80 Coret ketika menuju ke taman itu. Judulnya "&lt;em&gt;&lt;a href="http://www.sajakmasisir.com/"&gt;YA LAHWI&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;!". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sela-sela membaca bait-bait YA LAHWI!, saya ceritakan bahwa malam itu, adalah kedua kalinya sejak terakhir kali saya berdeklamasi di depan umum sejak 17 tahun yang lalu. Waktu itu sekitar tahun 1990, saya masih TK. Saya berdeklamasi di kecamatan untuk mengikuti lomba, kalau tidak salah ingat judulnya "Ibu Kartini". Di tengah semangatnya berdeklamasi-tanpa teks- saya terlupa bait selanjutnya. Waktu itu saya langsung diam, muka saya terasa merah. Dan, akhirnya saya menangis keras-keras di atas panggung di depan mikrofon. Wah, saya tak ingat betapa malunya saya. Ibu Guru yang mendampingi saya langsung naik panggung dan menggendong saya turun. Begitulah, akhirnya saya gagal berdeklamasi untuk pertama kalinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam itu semangat untuk berdeklamasi menjadi berkobar. Karena kawan-kawan begitu bersemangat untuk mencintai puisi. Walaupun dingin angin malam menusuk tulang, kami masih bersemangat mengikuti acara sampai selesai. Jam sembilan lebih tiga puluh menit kami meninggalkan taman yang cukup hening itu. Dan rasa sesal di hati saya sudah pergi, dihalau sajak-sajak cinta kawan-kawanku, para penyair Masisir.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cairo, 10 September 2007&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-2461440749089599886?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/2461440749089599886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=2461440749089599886' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2461440749089599886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/2461440749089599886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/kemarin.html' title='Kemarin'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-8718339666090974991</id><published>2007-09-07T10:32:00.000+02:00</published><updated>2007-09-07T11:55:38.634+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'>BLOGONESIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://mingle2.com/blog-addiction" style="color: #D64B32; text-decoration: none; display: block; width: 286px; height: 128px; padding-top: 50px; padding-left: 17px; background: url(http://mingle2.com/img/bb/blog_addiction/badge.jpg) no-repeat; font-family: Times New Roman, sans-serif; font-size: 30px;"&gt;81%&lt;span style="display: none;"&gt;How Addicted to Blogging Are You?&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;&lt;small&gt;Mingle&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; - &lt;a href="http://mingle2.com" style="color: #ccc;"&gt;Dating Site&lt;/a&gt;&lt;/small&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://agusset.wordpress.com/blogonesia/"&gt;Blogonesia &lt;/a&gt;adalah sebuah sindrom baru yang ditemukan oleh Agus Setiawan, PhD., seorang blogwan asal Indonesia yang pernah bermukim di Hamburg, Jerman. Pertama kali dipublikasikan melalui blognya sejak tanggal yang tidak disebutkannya, karena tidak tertera di artikelnya. Mungkin sekitar tahun 2005, karena dia menyebutkan Nadine, Putri Indonesia 2005 dalam publikasinya tentang Blogonesia. Untuk lebih jelasnya dapat ditanyakan langsung melalui blog beliau di: http://agusset.wordpress.com .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Setiawan menemukan sindrom ini setelah mengalaminya sendiri. Ia mengatakan tentang BLOGONESIA bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"bisa jadi ia merupakan suatu jenis “penyakit” kronis yang tengah saya derita. Jika ada penyakit yang bernama amnesia, dimana memori seseorang mengalami gangguan akibat suatu hal, maka blogonesia bisa jadi merupakan sebuah penyakit yang menyerang memori saya sehingga mengalami ketergantungan untuk nge-blog dan blog walking. “Penyakit” ini cukup berbahaya karena dapat menular dengan mudah melalui dunia maya, meskipun komputer anda dipasangi firewall."&lt;/em&gt; (Agus Setiawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menyebutkan bahwa salah satu gejala pengidap Blogonesia adalah melonjaknya tagihan telepon bagi pengguna internet dial up. Selain itu beliau mengatakan bahwa Blogonesia akan menyerang manusia dalam durasi yang cukup lama setiap kali kambuh - minimal 1 jam- walaupun sudah pakai &lt;em&gt;RSS Reader &lt;/em&gt;atau layanan &lt;em&gt;feed reader &lt;/em&gt;sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Setiawan menulis juga&lt;em&gt;,"Sejauh ini –berdasarkan pengalaman– penyakit blogonesia yang sering kambuh di kantor akan menurunkan kinerja dan produktivitas kita dalam urusan kantor: terlihat serius bekerja di depan komputer tetapi ternyata sedang asyik nge-blog atau kasih comment di blog tetangga." &lt;/em&gt;Tentu saja hal ini membahayakan kelangsungan hidup masyarakat, terutama jika misalnya PNS di Indonesia banyak yang terjangkit sindrom ini. Bisa dibayangkan berapa banyak pekerjaan yang terbengkalai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan dunia blog atau dikenal dengan &lt;em&gt;blogsphere&lt;/em&gt; kini sudah ditemukan alat pengetes untuk mengetahui seberapa jauh Blogonesia sudah menjangkiti sesorang. Seperti yang anda lihat di panel yang saya pasang pada permulaan tulisan ini, dari hasil tes saya sudah mengidap 81% Blogonesia. Meskipun tingkat akurasinya belum teruji secara luas dan tampaknya belum ada riset yang menguji fasilitas ini- atau saya yang memang belum tahu-tidak ada salahnya bagi kita untuk mencobanya. Untuk mencoba tes ini silahkan klik panel di atas. Dengan mencoba barangkali kita bisa menyadari sejauh mana sindrom itu menyerang otak kita. Karena banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya terjangkiti sindrom ini sejak &lt;em&gt;blogspere&lt;/em&gt; digemari sejumlah besar penduduk bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan penulis, Blogonesia tidak melulu merugikan manusia namun ada maanfaat setelah sesorang terjangkiti oleh sindrom ini. Salah satunya menurut saya adalah meningkatkan aktivitas membaca dan menulis. Harapan penulis, suatu saat ada pakar blog yang dapat mengarahkan para pengidap sindrom Blogonesia dari efek-efek negatif yang ditimbulkan menjadi hal-hal yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*Catatan: pembaca sebaiknya tidak terlalu serius membaca tulisan ini apalagi sampai mengerutkan dahi, karena tulisan ini adalah sebuah keisengan setelah mencoba tes di mingle2.com. Selain itu tulisan ini tidak didasarkan pada riset ilmiah apapun, namanya juga iseng!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-8718339666090974991?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/8718339666090974991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=8718339666090974991' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8718339666090974991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8718339666090974991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/blogonesia.html' title='BLOGONESIA'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-8424470457329616453</id><published>2007-09-05T14:15:00.000+03:00</published><updated>2007-09-05T16:29:28.078+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='English'/><title type='text'>A Comment</title><content type='html'>This writing actually is a comment i want to write for &lt;a href="http://malaysia-today.net/blog2006/newsncom.php?itemid=7664#nucleus_cf"&gt;a news in Malaysia Today&lt;/a&gt;, but to make a comment in this site i have to sign in first. It's a little much difficult. So to make it simple, i write it down here.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Susilo said he offered an apology to Malaysia and also to Singapore last year when the two countries were disturbed by haze from forest fires in Indonesia." (Malaysia Today)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia and Singapore should have realized that before they were disturbed by haze from forest fires in Indonesia, they also had breathed oxigen from Indonesian forest for uncounted years. Even so, Indonesian President offered an apology, and i agree with him because that case actually happened in Indonesian territory and it means under his responsibility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And again i agree with him....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I apologized sincerely. So now, in the present case, I leave it to the Malaysian side. To me, justice and the law must be upheld and the spirit of friendship should, of course, be preserved, including how we should manage things like this with full mutual understanding, with due regard for our feelings, Indonesia's feelings"&lt;br /&gt;--President Susilo Bambang.(Malaysia Today)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apologizing is easier than forgiving. And I'm sure for it. In the case of Indonesian Karate Referee (Donald Luther Kolopita), after Prime Minister of Malaysia made an apologizing by phone, i'm sure that most of Indonesian people will forgive what has happened. &lt;br /&gt;One example, the victim his self. &lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/31/time/121528/idnews/824111/idkanal/10"&gt;Read this link.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even there are some people that still don't satisfied by night calling of Mr. Badawi to Mr. Yudhoyono....(&lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/02/time/172014/idnews/824579/idkanal/10"&gt;Detiknews&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hope a case like this will never happen again in Malaysia and also in Indonesia. I hope Malaysia and Indonesia will live with respectful and understanding. That is called neighborhood in our culture, isn't it?&lt;br /&gt;This case of abusing to Indonesian Karate Referee and another cases like &lt;a href="http://rfirmans.wordpress.com/2007/09/05/turis-indonesia-diancam-oknum-polisi-malaysia-lagi/"&gt;(read) this  one &lt;/a&gt;are shameless but sweeping Malaysian citizen in Indonesia will not solve the problem. If an apologize has been asked, nothing best to do but forgiveness. Quarrel will make no benefit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If not...."Kalah jadi abu, menang jadi arang" that's what our ancestor's teaching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Best regard,&lt;br /&gt;Faisal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-8424470457329616453?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/8424470457329616453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=8424470457329616453' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8424470457329616453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8424470457329616453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/comment.html' title='A Comment'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7442452328809620274</id><published>2007-09-03T14:27:00.000+03:00</published><updated>2007-09-03T14:48:16.449+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Nabi</title><content type='html'>Sudahlah...&lt;br /&gt;Kemuliaannya tak akan hilang&lt;br /&gt;Setetes pun&lt;br /&gt;Meski kau siramkan padanya &lt;br /&gt;:samudera hinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Sya'ban 1428&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7442452328809620274?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7442452328809620274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7442452328809620274' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7442452328809620274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7442452328809620274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/09/nabi.html' title='Nabi'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-3360837207083780512</id><published>2007-08-30T14:39:00.000+03:00</published><updated>2007-09-03T15:54:13.555+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesiaku'/><title type='text'>Hanya Ingin Menuliskan Sesuatu</title><content type='html'>&lt;em&gt;Qiro'ah lil Jami'.&lt;/em&gt;Slogan itu adalah kampanye pemerintah Mesir untuk meningkatkan budaya membaca di kalangan masyarakat Mesir. &lt;em&gt;Qiro'ah lil Jami' &lt;/em&gt;kurang lebih berarti Membaca Untuk Semua. Sebenarnya perhatian pemerintah Mesir dalam kampanye budaya membaca sudah di mulai sejak bertahun-tahun. Namun, tahun ini saya melihat kampeanye itu lebih di giatkan lagi. Sekilas, saya melihat bahwa iklan-iklan kampanye &lt;em&gt;Qiro'ah lil Jami'&lt;/em&gt; memenuhi lebih dari 50% jumlah iklan di pinggiran jalan Cairo. Spanduk, banner dan iklan berwarna dominan oranye Qiro'ah lil Jami' menghiasi jalanan, terminal dan metro subway. Foto-foto menarik yang menggambarkan bahwa membaca dapat dilakukan di mana saja seperti di kendaraan, di halte dan di tempat-tempat umum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara alokasi dana pendidikan nasional di Indonesia diturunkan, harga buku di Mesir tetap murah seperti biasanya. Maktabah Usroh adalah lembaga penerbitan buku yang dimotori oleh Ibu Negara Mesir Suzanne Mubarok. Penerbit ini mempunyai program menerbitkan berbagai buku dengan harga yang "sangat miring". Saya pernah memperoleh terjemahan buku dalam bahasa Arab -saya lupa judulnya- karya orientalis Anne Marie Schimmel setebal kira-kira 300 halaman cuma seharga LE 2,- atau sekitar Rp. 3.500,-. Saya tidak yakin -saat ini dan jika ada- buku serupa dalam terjemahan Bahasa Indonesia dapat dijual di Indonesia dengan harga yang sama. Bukan saya menjelek-jelekkan negara sendiri, namun adalah suatu impian bagi saya bahwa negeri saya tercinta Indonesia mempunyai program yang sama untuk mencerdaskan bangsanya. Karena saya yakin bahwa Indonesia jauh lebih kaya dari Mesir. Saya tidak bersikap skeptis, karena saya yakin dan punya harapan bahwa bangsa saya akan lebih menjunjung tinggi keadilan dan dapat membuat bangsanya sendiri sejahtera. Entahlah, mungkin karena terlalu banyak tikus yang menggerogoti padi-padi ranum itu. Meninggalkan batang-batang kering berserakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjajahan kapitalisme telah melanda seluruh sendi kehidupan bangsaku. Para konglomerat yang tidak bekerja dan hanya duduk-duduk, liburan, plesir kesana kemari, bersenang-senang semakin menumpuk kekayaan sementara para buruh kasar yang berkerja untuk mereka membanting tulang selama 36 jam "sehari", padahal sehari hanya ada 24 jam. Terima kasih buat Saudara saya Mawhiburrahman yang telah mengirimkan &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=8firb73r67g"&gt;link ini &lt;/a&gt; ke milis PMIK Kairo sehingga saya lebih tahu keadaan bangsa saya sendiri. Anehnya, kebanyakan dari kita masih bersedia dan bangga untuk dijajah. Buktinya, produk-produk kapitalis itu tetap laris manis di pasaran walau dengan harga selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terngiang di telinga saya, saat Bapak saya mendendangkan tembang dari Koes Plus sambil mengelus-elus kepala saya yang tidur-tiduran di bangku beranda rumah. Waktu itu saya yang masih duduk di bangku TK, hanya mendengar saja sambil sesekali mengikuti. Saat itu tentu saja saya tidak tahu apa makna lirik yang sedang didendangkan oleh Bapak. Tapi sekarang, bagi saya maknanya mendalam sekali. Ada sesuatu yang aneh ketika saya mendendangkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Bukan lautan hanya kolam susu&lt;br /&gt;Kali dan jala cukup menghidupimu&lt;br /&gt;Tiada topan tiada badai kau temui&lt;br /&gt;Ikan dan udang menghampiri dirimu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata orang tanah kita tanah surga&lt;br /&gt;Tongkat kayu dan batu jadi tanaman&lt;br /&gt;Kata orang tanah kita tanah surga&lt;br /&gt;Tongkat kayu dan batu jadi tanaman..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Koes Plus)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-3360837207083780512?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/3360837207083780512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=3360837207083780512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/3360837207083780512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/3360837207083780512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/08/hanya-ingin-nulis-sesuatu.html' title='Hanya Ingin Menuliskan Sesuatu'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6758475925899015691</id><published>2007-08-28T10:21:00.000+03:00</published><updated>2007-08-28T13:06:32.447+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'>Kenangan</title><content type='html'>Setelah teringat kampung saat tujuhbelasan, kini ingatan saya tentang masa kanak-kanak tiba-tiba muncul begitu saja, di dalam benak. Sebuah lagu/pantun lama yang tiba-tiba muncul saat membersihkan kamar mandi beberapa hari yang lalu. Pertama kali diajari pantun ini waktu masih TK, seingat saya. Entahlah, atau mungkin saat saya masih balita. :P...Begini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bocah cilik-cilik&lt;br /&gt;Jejer larik-larik&lt;br /&gt;Sandangane Resik &lt;br /&gt;Tumindake becik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam agamaku&lt;br /&gt;Allah Pengeranku&lt;br /&gt;Muhammad Nabiku&lt;br /&gt;Al-Qur'an Kitabku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya kira-kira begini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil-kecil&lt;br /&gt;Berjajar rapi&lt;br /&gt;Pakaiannya bersih&lt;br /&gt;Tingkah lakunya sopan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam agamaku&lt;br /&gt;Allah Tuhanku&lt;br /&gt;Muhammad Nabiku&lt;br /&gt;Al-Qur'an Kitabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa saya sadari lagu ini berkesan mendalam bagi saya, sebuah pendidikan bagi tunas Islam yang masih sangat muda, dengan cara yang mudah dicerna oleh anak-anak yaitu melalui pantun yang dilagukan. Membuatnya tidak terlupakan selama hayat dikandung badan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6758475925899015691?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6758475925899015691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6758475925899015691' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6758475925899015691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6758475925899015691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/08/kenangan.html' title='Kenangan'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7674153204920313148</id><published>2007-08-19T15:19:00.000+03:00</published><updated>2007-08-28T10:21:23.810+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ringan'/><title type='text'>17 Agustus</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tujuh belas Agustus tahun empat lima&lt;br /&gt;itulah hari kemerdekaan kita&lt;br /&gt;hari merdeka&lt;br /&gt;nusa dan bangsa &lt;br /&gt;hari lahirnya bangsa Indonesia&lt;br /&gt;merdekaaa...&lt;br /&gt;s'kali merdeka tetap merdekaaa..&lt;br /&gt;selama hayat masih dikandung badan&lt;br /&gt;kita tetap setia&lt;br /&gt;tetap sedia&lt;br /&gt;membela negara kita...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu di atas dahulu sering saya nyanyikan bersama kawan-kawan di sekolah dasar. Kesempatan paling sering adalah saat mengikuti karnaval mengelilingi beberapa desa di kecamatan kami, Sumobito. Saat paling terkenang adalah saat menjadi polisi cilik, dengan kumis melintang dan senjata plastik terkokang..hahaha...jadi terkenang.:(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga tak kalah meriah adalah lomba Agustusan di kampung masing-masing. Biasanya karang taruna setempat mengadakan berbagai lomba. Saya yang waktu itu masih imut-imut selalu ikut setiap ada lomba, kecuali satu "Panjat Pinang". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dusun saya Kaliwungu, jarang ada pinang sehingga sebagai ganti pinang kami menggunakan pohon pisang raja yang tingginya sekitar 3-4 meter. Tidak terlalu tinggi memang tapi batang pisang yang licin itu diguyur oli.....nah ini yang membuat saya nggak mau ikut. Mending nonton aja dari pada badan dan rambut kena oli, susah dihilangkan. Kalau nonton kan gak kotor tapi ikut gembira..hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi lomba yang tak terlupakan seumur hidup, Sepak Bola Sarung. Setiap pemain harus memakai sarung dan mukanya ditutup dengan topeng berbentuk kerucut. Topeng ini hanya ada satu lubang kecil di ujungnya. Inilah yang membuat sepak bola ini meriah. (hahahaha.....jadi tertawa sendiri sebelum cerita) Bayangkan saja dengan lubang kecil para pemain tentu gelagapan mencari kemana bolanya lari, termasuk saya. Tidak jarang kami bertabrakan baik dengan pemain sendiri atau pemain lawan...&lt;em&gt;gedebag...gedebug &lt;/em&gt;. Tapi tetap tertawa-tawa dan gembira, penontonnya juga. Keunikannya tidak hanya itu, seringkali di saat menggiring bola suara musik dangdut memaksa para pemainnya harus berjoget di tempat...(huahahah...gak bisa berhenti senyum2 sendiri membayangkannya). Walau RT tempat tinggal saya gak pernah menang, tapi gak merubah keceriaan kami sedikit pun. (Sayang dulu belum ada kamera di kampung kami jadi gak bisa upload gambar di sini &gt;&gt;&gt; &lt;em&gt;Emang sekarang udah ada yah?&lt;/em&gt; :P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lomba-lomba lain yang pasti seru, kocak, mengasyikkan, dan ceria. Ada balap karung, makan kerupuk, kepruk kendhil (memukul kendi), menggigit koin yang di tancapkan di jeruk bali yang diberi abu, memasukkan paku dalam botol, balap kelereng, tarik tambang dan masih banyak lagi kreasi orang kampung. Beda kampung pasti ada ciri khas dan perbedaan jenis lomba. Kalau di kampung Anda bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustusan di Kairo? Saya tak mampu cerita banyak. Hampir tiada  kesan. Kapan yah Masisir punya lomba Sepak Bola Sarung...? Lebih gila dan lebih semarak dari pada kompetisi sepak bola yang sering dilanda "hawa panas". Kalau ada, saya mau ikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nah, sehari setelah saya posting tulisan di atas, ada berita dari kampung halaman di Radar Mojokerto Jawa Pos Group...berikut salinannya....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Radar Mojokerto Jawa Pos&lt;br /&gt;Senin, 20 Agt 2007 &lt;br /&gt;Karnaval, Hiburan Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JOMBANG - Pawai karnaval dan pawai mobil hias yang diikuti peserta dari sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs yang digelar Minggu (19/8) kemarin siang seolah menjadi oase bagi masyarakat yang haus hiburan gratis selama ini. Terbukti, sepanjang rute sejak garis start di Alun-Alun menuju Jl KH Ahmad Dahlan-Jl dr Sutomo-Jl Kusuma Bangsa-Jl Urip Sumoharjo-Jl KH Wahid Hasyim-Jl Diponegoro dan berakhir di Alun-alun dipenuhi ribuan massa. Sejak sekitar pukul 12.00, massa telah mulai memadati tepi jalan di rute yang dilalui rombongan. Petugas Satlantas Polres Jombang harus berusaha ekstrakeras mengatur arus lalu lintas dengan sistem buka tutup. Meski demikian, kepadatan hingga kemacetan lalu lintas di sejumlah ruas jalan tak terelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Suyanto, Wabup Ali Fikri, Sekkab Widjono Soeparno dan jajaran Muspida yang terdiri dari Ketua DPRd Abd Halis Iskandar, Kajari Sumardi SH, Ketua PN Agung Suradi serta Dansat Radar 222 TNI AU Kabuh Letkol Roy Romanza turut menyaksikan di tribun kehortaman yang dipasang di simpang empat Jl dr Wahidin Sudirohusodo-Jl dr Sutomo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana lalu lintas di sekitar rute sempat mengalami kekacauan lantaran pada pukul 15.30, hujan turun cukup lebat. Sejumlah peserta yang masih melintas sebagian besar memilih bertahan meski penonton berlarian mencari tempat berteduh. Sejumlah peserta drm band bahkan nekat bertahan meneruskan perjalanan meski dengan resiko kerusakan alat musik akibat kehujanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, panjangnya rangkaian peserta karnaval dan pawai kendaraan hias mengakibatkan penambahan rute secara mendadak. Semestinya, setelah melintas di Jl KH Wahid Hasyim dan mendekati simpang empat Kebon Rojo, peserta menempuh rute ke selatan. Lantaran saat itu, masih ada peserta yang masih belum diberangkatkan di grais start, peserta nomor urut pertama terpaksa diminta berputar mengelilingi utara, barat dan selatan Kebon Rojo sebelum melanjutkan rute ke Jl KH Wahid Hasyim dan berakhir di Alun-alun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, karnaval dan pawai kendaraan hias untuk jenjang SMA dan umum akan dilangsungkan siang hari ini dengan rute yang diperluas dari rute untuk peserta kemarin. (lal)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7674153204920313148?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7674153204920313148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7674153204920313148' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7674153204920313148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7674153204920313148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/08/17-agustus.html' title='17 Agustus'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-307205012501045143</id><published>2007-07-18T16:09:00.000+03:00</published><updated>2007-07-18T17:25:01.933+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tuhan Sembilan Senti&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh Taufiq Ismail&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,&lt;br /&gt;tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sawah petani merokok,&lt;br /&gt;di pabrik pekerja merokok,&lt;br /&gt;di kantor pegawai merokok,&lt;br /&gt;di kabinet menteri merokok,&lt;br /&gt;di reses parlemen anggota DPR merokok,&lt;br /&gt;di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,&lt;br /&gt;hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,&lt;br /&gt;di perkebunan pemetik buah kopi merokok,&lt;br /&gt;di perahu nelayan penjaring ikan merokok,&lt;br /&gt;di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,&lt;br /&gt;di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi&lt;br /&gt;perokok,&lt;br /&gt;tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,&lt;br /&gt;di ruang kepala sekolah.ada guru merokok,&lt;br /&gt;di kampus mahasiswa merokok,&lt;br /&gt;di ruang kuliah dosen merokok,&lt;br /&gt;di rapat POMG orang tua murid merokok,&lt;br /&gt;di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunancara merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkot Kijang penumpang merokok,&lt;br /&gt;di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,&lt;br /&gt;di loket penjualan karcis orang merokok,&lt;br /&gt;di kereta api penuh sesak orang festival merokok,&lt;br /&gt;di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,&lt;br /&gt;di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta&lt;br /&gt;diajari pula merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,&lt;br /&gt;tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar orang merokok,&lt;br /&gt;di warung Tegal pengunjung merokok,&lt;br /&gt;di restoran, di toko buku orang merokok,&lt;br /&gt;di kafe di diskotik para pengunjung merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,&lt;br /&gt;bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur&lt;br /&gt;ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling&lt;br /&gt;menularkan HIV-AIDS sesamanya,&lt;br /&gt;tapi kita tidak ketularan penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok&lt;br /&gt;di kantor atau di stopan bus,&lt;br /&gt;kita ketularan penyakitnya.&lt;br /&gt;Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur didunia,&lt;br /&gt;dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa&lt;br /&gt;ketularan kena,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,&lt;br /&gt;di apotik yang antri obat merokok,&lt;br /&gt;di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,&lt;br /&gt;di ruang tunggu dokter pasien merokok,&lt;br /&gt;dan ada juga dokter-dokter merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahat main tenis orang merokok,&lt;br /&gt;di pinggir lapangan voli orang merokok,&lt;br /&gt;menyandang raket badminton orang merokok,&lt;br /&gt;pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,&lt;br /&gt;panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen&lt;br /&gt;sepakbola&lt;br /&gt;mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,&lt;br /&gt;di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,&lt;br /&gt;di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang&lt;br /&gt;goblok merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang&lt;br /&gt;perokok,&lt;br /&gt;tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,&lt;br /&gt;Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat&lt;br /&gt;merujuk kitab kuning&lt;br /&gt;dan mempersiapkan sejumlah fatwa.&lt;br /&gt;Mereka ulama ahli hisap.&lt;br /&gt;Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.&lt;br /&gt;Bukan ahli hisab ilmu falak,tapi ahli hisap rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala&lt;br /&gt;kecil,&lt;br /&gt;sembilan senti panjangnya,&lt;br /&gt;putih warnanya,&lt;br /&gt;kemana-mana dibawa dengan setia,&lt;br /&gt;satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,&lt;br /&gt;tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,&lt;br /&gt;cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.&lt;br /&gt;Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang&lt;br /&gt;sedikit golongan ashabus syimaal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.&lt;br /&gt;Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.&lt;br /&gt;Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.&lt;br /&gt;Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.&lt;br /&gt;Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.&lt;br /&gt;Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.&lt;br /&gt;25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.&lt;br /&gt;15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.&lt;br /&gt;4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimulkhabaaith.&lt;br /&gt;Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,&lt;br /&gt;sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini PR untuk para ulama.&lt;br /&gt;Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,&lt;br /&gt;lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.&lt;br /&gt;Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi&lt;br /&gt;itu, yaitu ujung rokok mereka.&lt;br /&gt;Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.&lt;br /&gt;Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai&lt;br /&gt;terbatuk-batuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,&lt;br /&gt;sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.&lt;br /&gt;Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu&lt;br /&gt;lintas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,&lt;br /&gt;cuma setingkat di bawah korban narkoba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat&lt;br /&gt;berkuasa di negara kita,&lt;br /&gt;jutaan jumlahnya,&lt;br /&gt;bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,&lt;br /&gt;dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,&lt;br /&gt;diiklankan dengan indah dan cerdasnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,&lt;br /&gt;tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,&lt;br /&gt;karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan&lt;br /&gt;api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(dikutip dari Mailling List Alumni SMUN 2 Jombang teranggal 11 Juli 2007)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-307205012501045143?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/307205012501045143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=307205012501045143' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/307205012501045143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/307205012501045143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/07/tuhan-sembilan-senti-oleh-taufiq-ismail.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1634206001967965122</id><published>2007-07-07T10:22:00.000+03:00</published><updated>2007-07-07T11:29:05.596+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dewan PERWAKILAN Rakyat di Indonesia, kampungan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit wakil rakyat "YANG TERHORMAT" di Indonesia yang kampungan, kasusnya tidak satu dua, dari DPR-RI sampai DPRD. Kamuflase studi banding untuk jalan-jalan ke luar negeri...sementara rakyat kelaparan dan banyak ditimpa bencana....untuk menetapkan hari jadi JATIM saja mereka harus melakukan studi banding ke Belanda dan menelan jutaan rupiah. Apa mereka memang sudah pekak? Memangnya mereka nggak bisa apa buka internet terus kirim email ke lembaga berwenang di Belanda? Alat komunikasi sudah semakin canggih kok DEWAN YANG TERHORMAT tidak memanfaatkan, kan pakai bisa pakai LAPTOP!&lt;br /&gt;Dengan begitu kan lebih efektif.....kalo penelitian cari hari jadi JATIM, saya yakin dengan waktu kunjungan yang singkat itu, tidak akan efektif sama sekali (insya Allah). Wakil rakyat yang seharusnya menjadi abdi rakyat malah hura2 pakai uang rakyat. Mereka kebanyakan memang kampungan....dan kita tahu semua sudah kasus seperti ini berkali-kali  terjadi. Bahkan beberapa waktu lalu Mesir juga jadi tujuan acara "merampok" uang negara itu. Protes terjadi, PPMI Mesir melakukan protes melalui Press Release, tapi nihil. Mereka summun, bukmun, umyun dan "jalan-jalan" tetap jalan terus. Kalau tidak salah beberapa waktu lalu PPI Belanda juga melakukan protes serupa ke wakil rakyat yang "STUDI BANDING" ke sana, eh... sekarang ada lagi...ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan dibandingkan dengan negeri yang pernah menjajah bangsa Indonesia, Belanda. Wakil rakyat yang duduk di parlemen semakin bersahaja. Bahkan kabarnya, di saat wakil rakyat "YANG TERHORMAT" dari Indonesia melakukan studi banding ke sana, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;parlemen Belanda sedang melakukan reses untuk liburan musim panas,&lt;/span&gt; tapi dengan uang pribadi lah. Lha wong ngombe kopi ae dikongkon nggowo dhewe, tapi iku nang Londo rek. (Bahkan untuk minum kopi mereka harus membawa termos dan kopi/teh sendiri).&lt;br /&gt;Berita selengkapnya silahkan lihat di &lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/22/time/165800/idnews/796786/idkanal/10"&gt;Detiknews ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya para wakil rakyat itu harus sering-sering baca berita &lt;a href="http://www.detiksurabaya.com/indexfr.php?url=http://www.detiksurabaya.com/index.php/detailberita.main/y/2007/m/07/d/06/tts/202520/idkanal/466/idnews/802135"&gt;seperti ini&lt;/a&gt;. Karena ingin membebaskan istrinya yang ditahan RS membuat Mustakim nekat mencuri tape. Istri Mustakim ditahan RS karena tidak mampu bayar biaya persalinan. Hohoho....what an ironic?&lt;br /&gt;[FYI, di Mesir biaya persalinan biasa hanya LE 100 (sekitar Rp 160.000), kalau dengan operasi Caesar hanya LE 200 dan kalau operasi Caesar bayi kembar LE 500.&lt;br /&gt;Kata kawan saya yang sudah punya istri dan istrinya sudah melahirkan bahwa biaya ini jauh lebih murah dari pada di Indonesia. Saya juga nggak tahu apakah itu benar atau tidak karena saya belum punya istri dan saya juga tidak melahirkan, jadi tidak merasakan sendiri.hehe... :P]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah rek...negoro kok dadi dagelan....kalo dagelan Kirun atau Srimulat bagus, menghibur bahkan mengajarkan moral. Lha ini..? Embuh lah aku nulis ini juga dalam keadaan agak emosi, lha gimana nggak emosi, kejadiannya berkali-kali.  Sampe mblenger (bosan) moco nang koran. Anggaplah ini suara rakyat kecil yang katanya sudah terwakili di gedung dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini saya kutipkan berita dari Jawa Pos:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;JAWA POS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sabtu, 07 Juli 2007,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dewan Nekat ke Belanda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketua Komisi A: Kalian Itu Kampungan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SURABAYA - Di tengah hujan kritik dari berbagai kalangan, anggota Komisi A DPRD Jatim tetap nekat mewujudkan "impiannya" melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Belanda. Kemarin sore, sembilan anggota komisi yang membidangi urusan pemerintahan itu berangkat ke Denhaag, Belanda, untuk kunjungan selama tujuh hari, 8-14 Juli. Di negeri penjajah itu, mereka akan melakukan studi khusus untuk mencari hari jadi Provinsi Jawa Timur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebenarnya, para wakil rakyat yang terhormat itu sudah berusaha menyembunyikan rencana keberangkatannya ke negeri Kincir Angin. Sebab, rencana kepergian Komisi A ke Belanda itu sempat memicu polemik panjang. Salah satu penyebabnya, karena urgensi keberangkatan mereka dianggap mengada-ada. Betapa tidak. Hanya untuk menetapkan hari jadi Provinsi Jatim saja, mereka harus melakukan "penelitian" ke negara Eropa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Meski berupaya ditutup-tutupi, toh kepastian keberangkatan para anggota Komisi A ke Belanda itu bocor juga. Tak ayal, begitu melihat wartawan nyanggong di Bandara Juanda, rombongan dewan itu terlihat jadi salah tingkah. Raut wajah mereka tampak pucat. Adegan kucing-kucingan dengan wartawan pun sempat terjadi. Mereka berupaya menghindari kerumunan wartawan yang memergoki keberangkatan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Para anggota dewan itu mulai berdatangan ke Bandara Juanda pukul 16.15. Yang tampak kali pertama adalah Ketua Komisi A Sabron Djamil Pasaribu. Dengan mengenakan safari warna hitam, anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) itu menenteng tas bagasi besar. Tahun lalu, Sabron juga mengikuti kunker ke Belanda dengan tujuan sama atas ajakan tim pemprov.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semula, anggota Komisi A menunjukkan sikap ramah. Namun, wajah mereka mulai berubah ketika beberapa wartawan mengajukan pertanyaan seputar kunker itu. "Kalian ini kampungan! Jangan terlalu berlebihan, dong. Gak usah kampungan seperti itu!" teriak Sabron.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bahkan, dia sempat mendorong kamera milik wartawan yang berusaha mengambil gambar dirinya. "Sekali lagi, kalian ambil gambar saya, saya banting kamera kalian!" ancam Sabron sambil menudingkan telunjuknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usai ketegangan itu, para anggota dewan akhirnya memilih menghindari wartawan. Sambil menunggu anggota lain, mereka duduk-duduk di sebuah kafe di dekat selasar bandara. Tak lama kemudian, beberapa anggota lain berdatangan. Di antaranya, Suharto (Fraksi Demokrat Keadilan/FDK), Zainal Abidin (FPDIP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1634206001967965122?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1634206001967965122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1634206001967965122' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1634206001967965122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1634206001967965122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/07/dewan-perwakilan-rakyat-di-indonesia.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-6709298090289410095</id><published>2007-05-28T13:08:00.000+03:00</published><updated>2007-06-14T21:59:36.184+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Humor'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:130%;" &gt;Senyum Yok....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah Argo, seorang mahasiswa asal Indonesia di Mesir yang keturunan Arab. Mukanya gak mirip orang Indonesia walaupun dia ini asli WNI dan lahir di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Suatu hari ia pulang kuliah dari kampusnya di bilangan Husein ke rumahnya di Hay el-Tsamin. Ketika naik bus 80 Coret, ia langsung dapat tempat duduk karena waktu itu agak lengang. Namun lama-kelamaan bus itu tambah penuh sesak, dan sesampai di Kuliah Banaat naiklah 3 mahasiswi Indonesia yang juga pulang kuliah. Akhirnya sampailah ketiga mahasiswi itu berdiri di dekat tempat duduk Argo. Sementara Argo dengan cueknya baca Al-Ahram, koran paling beken di Mesir. Usil, ketiga mahasiswi itu ngomongin Argo yang enak-enakan duduk sambil baca koran, mengira omongannya gak bakal dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Mahasiswi 1&lt;/span&gt;: &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Duh, dasar orang Arab gak punya perasaan sama cewek, udah tahu bus penuh sesak gini tapi gak ngasih kursi buat kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dikatain begitu Argo nggak marah, malah senyum2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Mahasiswi 2&lt;/span&gt;: I&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;ya tuh, kalo cowok gentle kan ngasih tempat duduk buat cewek, apalagi penuh sesak gini, pake senyum2 lagi....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Mahasiswi 3&lt;/span&gt;: &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Heh, kalian itu ngomongin orang nggak bagus lagi...lagian kita kan masih kuat kecuali kalo kita ini nenek...&lt;/span&gt;(memperingatkan kedua kawannya)&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Mahasiswi 2&lt;/span&gt;: &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Biarin aja, kapan lagi bisa ngatain orang di depannya tapi dia kagak ngerti.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Mahasiswi 1&lt;/span&gt;: &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;He'eh, yang penting puas&lt;/span&gt; (sambil cengengesan)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celotehan mereka baru berhenti ketika Argo berdiri karena hampir sampai di halte tujuan.&lt;br /&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;Dan....Argo pun minta izin lewat dengan bahasa Indonesianya yang fasih&lt;/span&gt; : &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Permisi saya mau turun!&lt;/span&gt; (tetap senyum dan cool)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu ketiga mahasiswi tadi langsung melongo...kayak patung Firaun. Tapi akhirnya minggir juga mempersilahkan "cowok Arab" itu melenggang penuh kemenangan.&lt;br /&gt;Makanya jangan suka ngomongin orang...... &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Nama di atas hanya bukan nama sebenarnya, mohon maaf jika ada pembaca yang mempunyai nama sama.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-6709298090289410095?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/6709298090289410095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=6709298090289410095' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6709298090289410095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/6709298090289410095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/05/senyum-yok.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-7340228788907438304</id><published>2007-05-20T17:12:00.000+03:00</published><updated>2007-05-20T18:00:49.071+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Mutiara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'></title><content type='html'>Begitu mudahnya kita melihat hidung orang lain,&lt;br /&gt;tapi...&lt;br /&gt;untuk melihat hidung sendiri, kita membutuhkan cermin.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 20 Mei 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-7340228788907438304?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/7340228788907438304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=7340228788907438304' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7340228788907438304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/7340228788907438304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/05/begitu-mudahnya-kita-melihat-hidung.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1435270680087135630</id><published>2007-05-20T16:09:00.000+03:00</published><updated>2007-05-20T18:25:53.335+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Mutiara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Hari ini...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik, fikirkanlah tentang sesorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengeluh tentang rasa makanan, fikirkanlah tentang sesorang yang tidak punya apapun untuk dimakan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengeluh tidak punya apa-apa, fikirkanlah tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita mengeluh bahwa kita buruk, fikirkanlah tentang seseorang yang berada pada keadaan terburuk dalam hidupnya&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, sebelum kita mengeluh tentang hidup, fikirkanlah tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan, tersenyumlah, dan berterimakasihlah kepada Tuhan bahwa kita masih hidup!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari Catatan Kecil Jurnal Averroes&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;No.1, April - Juni 2007&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1435270680087135630?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1435270680087135630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1435270680087135630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1435270680087135630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1435270680087135630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/05/hari-ini-sebelum-anda-mengatakan-kata.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-1151173513398249860</id><published>2007-04-25T14:52:00.000+02:00</published><updated>2007-04-25T15:07:00.535+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisanku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SUASANA KULIAH DI MESIR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus Al-Azhar di Kairo mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Namun, ada beberapa hal yang mungkin belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tentang Mesir, salah satunya adalah bagaimana suasana perkuliahan di Kairo. Tulisan ini akan mengupas—walau tidak semua—suasana kuliah di Mesir dengan latar belakang kampus Al-Azhar, khususnya menyangkut mahasiswa-mahasiswi asal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Azhar didirikan tahun 970 M oleh Panglima Jauhar As-Shiqili pada masa Khalifah Muiz Lidiinillah dari Dinasti Fathimiah. Bersamaan dengan itu embrio kampus Al-Azhar pun lahir dalam bentuk &lt;em&gt;halaqoh-halaqoh&lt;/em&gt; (pengajian-pengajian) di beberapa ruangan masjid yang disebut &lt;em&gt;Ruaq&lt;/em&gt;. Seiring berjalannya waktu Al-Azhar menjadi universitas sebagaimana lazimnya semua universitas lainnya dengan berbagai disiplin ilmu baik ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu sains. Namun dalam pandangan masyarakat internasional Al-Azhar lebih dikenal dengan studi tentang agama Islam. Saat ini Al-Azhar mempunyai lebih kurang 400.000 mahasiswa dari dalam dan luar negeri yang tersebar hampir di seluruh cabangnya di penjuru Mesir, selain di Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri khas Al-Azhar adalah sistem kuliahnya yang masih memelihara tradisi lama. Meskipun sudah diselaraskan dengan sistem modern, namun suasana belajar tradisional masih sangat terasa. Sistem penyampaian kuliahnya adalah dosen menyampaian materi dan mahasiswa mendengarkan. Dalam satu kelas jumlah mahasiswa bisa lebih dari 100 orang sehingga kesempatan mengenal dosen secara dekat cukup sulit. Tanya jawab hanya diberikan kesempatan di akhir penyampaian materi, namun kesempatan ini seringkali sulit didapatkan terutama untuk program S-1. Pada program S-2 kesempatan untuk tanya jawab dan mengenal dosen lebih besar karena mahasiswanya cenderung lebih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program S-1 bidang &lt;em&gt;adaby&lt;/em&gt; (sosial) di Al-Azhar ditempuh dalam waktu 4 tahun. Sama seperti di Indonesia, satu tahun mata kuliah dibagi menjadi dua semester. Jika di Indonesia dibagi dengan SKS, kuliah di Al-Azhar jauh lebih simpel. Kehadiran di kuliah tidak diwajibkan sehingga penilaian dosen hanya didasarkan pada hasil ujian. Mahasiswa disediakan buku diktat yang dibeli dari tiap fakultas. Tugas membuat makalah, paper, dan skripsi bisa dikatakan hampir  tidak dikenal oleh mahasiswa S-1 Al-Azhar. Hanya beberapa fakultas atau dosennya saja yang memberi tugas ini pada mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tidak wajib, kehadiran di kuliah akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mengetahui karateristik dosen sehingga dapat memprediksi soal-soal yang akan keluar saat ujian nantinya. Bahkan di Al-Azhar ada tradisi bagi kebanyakan dosen—tidak semua—untuk memberikan kisi-kisi materi yang akan keluar dan disebut &lt;em&gt;tahdid &lt;/em&gt;(batasan materi). Pada saat menyampaikan kuliah, dosen seringkali menyebut beberapa istilah untuk materi yang sedang disampaikannya seperti &lt;em&gt;muhim jiddan&lt;/em&gt; (sangat penting), &lt;em&gt;muhim&lt;/em&gt; (penting), &lt;em&gt;qiro’ah&lt;/em&gt; (dianjurkan untuk dibaca), atau &lt;em&gt;mahdzuf&lt;/em&gt; (tidak diperlukan). Sebuah materi yang diberi label &lt;em&gt;muhim jiddan&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;muhim&lt;/em&gt; mempunyai kemungkinan besar untuk keluar saat ujian, sedangkan &lt;em&gt;qiro’ah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mahdzuf&lt;/em&gt; sering digunakan oleh dosen untuk materi yang tidak diujikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ujian di Al-Azhar dilaksanakan dua kali dalam setahun. Sistem ujian dibagi menjadi dua bagian yaitu ujian lisan (&lt;em&gt;syafawi&lt;/em&gt;) dan ujian tulis (&lt;em&gt;tahriri&lt;/em&gt;). Ujian lisan meliputi Al-Qur’an dan mata kuliah khusus fakultas/jurusan, sedangkan ujian tulis meliputi seluruh mata kuliah. Untuk bisa naik tingkat, mahasiswa minimal harus mendapatkan nilai &lt;em&gt;maqbul&lt;/em&gt; (cukup) di setiap mata kuliah, standard nilai ini berbeda-beda tiap fakultas. Jika seorang mahasiswa mempunyai lebih dari dua mata kuliah yang tidak mencapai nilai &lt;em&gt;maqbul&lt;/em&gt;, maka dia tidak dapat naik tingkat. Artinya, Al-Azhar memberikan toleransi maksimal 2 mata kuliah yang tertinggal untuk naik tingkat dan tetap mengulang pada tingkat selanjutnya. Bila dalam tiga tahun berturut-turut seorang mahasiswa tidak naik tingkat, maka ia dinyatakan DO (Drop Out) dari fakultas. Jangan coba-coba untuk mencontek atau berlaku curang dalam ujian, karena ancamannya adalah dikeluarkan dari universitas. Pengawasannya sangat ketat, dalam satu ruangan ada lebih dari dua pengawas, bahkan di sejumlah tempat ada polisi kampus. Tapi tidak perlu terlalu tegang, karena peserta ujian bisa memesan teh hangat atau air putih selama ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sistem belajar mengajar Al-Azhar saat ini, mahasiswa mempunyai kebebasan seluas-luasnya menyangkut penyerapan ilmunya. Hal ini membuat karateristik lulusan Al-Azhar sangat bervariasi. Seorang mahasiswa di Al-Azhar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dalam ujian, namun hal ini tidak menjamin kualitas keilmuannya. Al-Azhar menekankan kemandirian pencarian dan riset keilmuan pribadi mahasiswanya. Jika mahasiswa aktif mencari di luar kampus maka kesempatan itu terbuka luas karena suasana keilmuan di Kairo sangat terasa sekali. Kajian keilmuan tersebar hampir di seluruh penjuru Kairo dengan pemateri doktor-doktor yang mumpuni di bidangnya. Selain itu buku-buku bisa didapatkan dengan mudah dan murah khususnya ilmu-ilmu keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Al-Azhar memisahkan antara kampus untuk mahasiswa dan kampus untuk mahasiswi. Kegiatan di luar kuliah dalam kampus (ekstrakulikuler) bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Organisasi mahasiswa dalam kampus hanyalah Senat Fakultas, namun tidak ada satupun mahasiswa asing yang aktif di organisasi ini. Kegiatan senat ini pun tidak banyak diketahui oleh mahasiswa asing. Mahasiswa Indonesia lebih banyak membuat kegiatan dengan sesama kawan dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dan pelajar asal Indonesia di Mesir saat ini berjumlah sekitar 4000 orang. Sebagian besar sedang menyelesaikan program S-1 di Al-Azhar baik di Kairo maupun di kampus Al-Azhar di kota provinsi seperti Zaqaziq, Thanta atau Manshurah. Selain di Al-Azhar, sebagian kecil ada yang kuliah di Universitas Cairo, Ain Syam, Institut Liga Arab, Universitas Al-Menia, American University in Cairo dan lainnya. Pelajar dari Indonesia juga mulai banyak mendaftar di Ma’had Al-Azhar yang mempunyai kurikulum setingkat SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (disebut Masisir) membentuk sebuah induk organisasi bernama Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang berdiri sejak tahun 1995 dan mulai 3 tahun lalu menggunakan &lt;em&gt;Student Government System&lt;/em&gt; (SGS) atau  Sistem Pemerintahan Mahasiswa. Dalam SGS ini PPMI seolah-olah sebuah negara kecil yang mempunyai system pemerintahan seperti di Indonesia. PPMI dipimpin oleh seorang Presiden yang bersama kabinetnya menjadi badan eksekutif mahasiswa. PPMI juga mempunyai Majelis Permusyaaratan Anggota (MPA) sebagai lembaga tertinggi organisasi dan Badan Perwakilan Anggota (BPA) sebagai lembaga legislatif sekaligus yudikatif organisasi PPMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPMI disebut induk organisasi persatuan pelajar dan mahasiswa Indonesia karena dalam lingkungan PPMI banyak terdapat organisasi-organisasi dengan berbagai corak dan kepentingan. Dalam lingkungan PPMI ada beberapa organisasi kekeluargaan yang dibentuk berdasarkan asal daerah dan ditetapkan sebagai badan otonom PPMI. Terdapat 16 organisasi kekeluargaan yang menaungi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;Di antara organisasi tersebut adalah Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA), Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM), Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB), Kelompok Studi Walisongo (KSW) untuk pelajar dari Jawa Tengah, Keluarga Masyarakat Jawa Timur (GAMAJATIM), Forum Silaturahmi Keluarga Madura (FOSGAMA), Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS), dan lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain organisasi yang bercorak kekeluargaan dan asal daerah, berbagai organisasi dengan berbagai latar belakang dan kepentingan juga banyak bermunculan menghiasi dinamika mahasiswa Indonesia di Mesir. Ormas-ormas besar di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan Al-Washliyah mempunyai cabang resmi di Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia jurnalistik, mahasiswa Indonesia di Mesir  mempunyai banyak sekali buletin, majalah atau jurnal. Media-media pers Masisir ada yang independen dan ada juga yang berada dalam naungan organisasi lain. Beberapa media Masisir yang banyak dikenal adalah Terobosan (independent), Informatika (ICMI), Tanwirul Afkar (NU), Sinar Muhammadiyah, dan sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Forum Lingkar Pena (FLP) yang bergerak di bidang kepenulisan dan mempunyai banyak cabang di berbagai kota di Indonesia juga dideklarasikan di Kairo. FLP Mesir beberapa waktu yang lalu mengundang penulis-penulis Indonesia seperti Gola Gong, Pipiet Senja, Fauzil Adhim, Helvi Tiana Rosa, dan Irwan Kelana untuk memberikan pelatihan bagi Masisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang seni dan budaya juga mempunyai perkembangan pesat dalam beberapa tahun ini. Grup nasyid, tim shalawat dan band mulai bermunculan di kalangan Masisir. Bahkan grup nasyid Da’i Nada sudah membuat album pertamanya di Kairo. Salah satu organisasi yang sering menarik minat orang Mesir untuk mengundang tampil dalam berbagai acara adalah Tim Shalawat dari Ikatan Persaudaraan Qari’ Qari’ah Indonesia (IPQI) – Mesir. Anggota IPQI sering diundang untuk mengalunkan tilawah ayat Al-Qur’an dan shalawatan oleh orang Mesir hingga tampil di beberapa saluran televisi Mesir. Mereka sangat kagum jika ada orang tidak berbahasa Arab (&lt;em&gt;'Ajam&lt;/em&gt;) namun fasih baca Al-Qur'an, bahkan dengan tilawah atau dilagukan dengan kaidah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi yang juga banyak terdapat di Masisir adalah organisasi almamater. Organisasi almamater ini beranggotakan alumni sekolah atau pondok pesantren tertentu di Indonesia, seperti Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor - Ponorogo, Forum Silaturahmi Alumni Bahrul Ulum (FISMABA) Tambak Beras – Jombang, dan lain sebagainya. Demikianlah gambaran singkat suasana pekuliahan dan mahasiswa Indonesia di Mesir.(sal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tulisan ini juga dimuat di minimagz As-Salam Edisi II yang diterbitkan oleh Ikatan Alumni PP Sunan Ampel (IKAPPSA) Jombang dengan beberapa perubahan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-1151173513398249860?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/1151173513398249860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=1151173513398249860' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1151173513398249860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/1151173513398249860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/04/suasana-kuliah-di-mesir-kampus-al-azhar.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-8469115117751324297</id><published>2007-03-04T00:08:00.000+02:00</published><updated>2007-03-04T00:28:37.249+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisanku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Umat Islam di Indonesia Saat Ini; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mewaspadai Ancaman dan Tantangan*&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Baru (Orba), perkembangan umat Islam di Indonesia kurang begitu menggembirakan dikarenakan tekanan dari penguasa yang menghalangi laju pergerakan dan kebangkitan umat Islam. Setelah rezim Orba jatuh (Reformasi 1998), umat Islam lebih bebas untuk bergerak dalam berbagai hal, terutama politik. Terbukti dengan bermunculannya berbagai partai politik yang membawa nama Islam. Namun pemasalahan umat Islam tidak berhenti begitu saja. Berbagai isu yang berkembang di kalangan umat Islam tidak jarang membawa perpecahan antar saudara seakidah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Umat Islam yang menjadi bagian terbesar masyarakat Indonesia pun tidak terlepas dari kemajemukan. Berbagai golongan dan madzhab berkembang dalam tubuh umat Islam Indonesia. Golongan-golongan tersebut secara jelas tampak pada berbagai organisasi sosial, politik dan kemasyarakatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini muncul istilah Islamfobia dalam kehidupan masyarakat, ketakutan terhadap Islam. Yang mengherankan, di beberapa kalangan umat Islam sendiri terjadi ketakutan akan adanya penerapan syariat Islam. Beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang belum lama ini ditetapkan, di antaranya mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Prov. Sumbar, Kab. Padang Pariaman), Pendidikan Al-Qur’an bagi Pelajar dan Calon Pengantin (Kab. Solok, Kota Padang, Prov. Sulsel, Kab. Maros,) Pemakaian Busana Muslimah (Kab. Solok, Kota Padang, Pasaman Barat, Kab. Gowa, Kab. Sinjai), Larangan Pelacuran (Kab. Gresik, Jember, Tangerang), Peredaran Minuman Keras (Gresik, Pamekasan); (Republika, 17/06/2006) membuat sebagian pihak menuding adanya upaya Islamisasi undang-undang dan peraturan. Harian Republika (17/5/2006) memberitakan protes yang dilakukan oleh salah satu anggota DPR dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Konstan Ponggawa, terhadap pemberlakuan sejumlah perda yang bernuansa Syariat Islam. Ia menilai perda-perda seperti itu inkonstitusional dan bertentangan dengan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal perda-perda tersebut tidak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai landasan Ideal dan landasan Konstitusional negara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelaah lebih lanjut adalah wajar jika misalnya umat Islam harus bisa membaca al-Qur’an dan memakai pakaian syar’i bagi Muslimah. Toh hal tersebut tidak akan diterapkan pada non-muslim. Indonesia adalah negara mayoritas Muslim yang paling toleran pada umat beragama lain. Muslim Indonesia tidak pernah mengusik kehidupan beragama non-Muslim. Salah satu contohnya adalah perayaan Nyepi di Bali, kaum Muslim di sana menghormati hari raya orang Hindu tersebut. Lantas mengapa upaya untuk menjalankan syariat Islam selalu ditentang habis-habisan? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu sebuah isu kontroversial yang dapat memicu perpecahan ramai diberitakan media massa. Dalam sebuah Dialog Lintas Agama dan Etnis di Purwakarta, Jawa Barat tanggal 23 Mei 2006 dihembuskan isu pengusiran Gus Dur dari acara tersebut. Isu tersebut dengan cepat menyebar di masyarakat sehingga menimbulkan berbagai reaksi yang berlebihan di beberapa daerah. Ada upaya adu domba antar umat Islam, dalam kasus ini secara spesifik antara massa Fron Pembela Islam (FPI) dan massa pendukung Gus Dur. Padahal Gus Dur sendiri menyatakan tidak ada pengusiran dalam kasus Purwakarta tersebut. Sebelum acara Gus Dur mengatakan kepada panitia bahwa ia tidak akan mengikuti acara sampai habis, dan sudah menjalankannya (Kompas, 27/5/2006). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa contoh di atas dapat kita lihat adanya indikasi upaya adu domba dan melemahkan kekuatan umat Islam yang notabene adalah umat terbesar bangsa ini. Jika umat Islam saling berseteru antar kelompok maka akan ada pihak yang bertepuk tangan dan mengambil keuntungan demi kepentingan dan tujuannya sendiri. Pihak seperti inilah yang menghendaki perpecahan di tubuh umat Islam terus berjalan dengan menciptakan berbagai isu, seperti pembelokan berita dan menciptakan opini negatif tentang Islam pada masyarakat secara terus menerus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Indikasi adanya konspirasi penghancuran dan melemahkan umat Islam di Indonesia ini datang dari dalam dan dari luar. Untuk itu umat Islam harus waspada dalam menghadapinya baik yang dari dalam dan dari luar. Kedua kemungkinan sama-sama kuatnya, bahkan bisa berjalan beriringan dan saling mendukung. Penghancuran Khilafah Islam di Turki tahun 1924 yang dijalankan oleh Mustafa Kemal Attaturk –yang notabene adalah muslim- dan menggantinya dengan negara sekuler adalah sebuah sejarah penghancuran umat Islam dari dalam yang mendapat sokongan Inggris dan Perancis. Hendaknya hal itu tidak akan terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;Upaya menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya sudah tampak jelas di Indonesia dengan jargon-jargon Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme. Berbagai penafsiran tentang ajaran Islam secara liar terjadi dan terbuka luas, bahkan sudah lama masuk pada kampus-kampus Islam seperti UIN, IAIN dan STAIN. Organisasi-organisasi yang mengasong jargon-jargon tersebut mendapatkan dana yang tidak sedikit dari pihak asing. Sangat naïf jika dikatakan bahwa penyandang dana tersebut tidak mempunyai maksud dan tujuan tertentu, bukankah mereka tidak mengenal amal jariyah? Hasilnya pun sudah tampak jelas; penghinaan terhadap Allah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung oleh sejumlah mahasiswa, dilegalkannya praktek perkawinan homoseksual oleh sejumlah akademisi di IAIN Semarang, dilegalkannya pernikahan muslimah dengan laki-laki non-muslim oleh dosen fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan masih banyak lagi pemikiran dan ajaran nyeleneh yang disebarkan di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekularisme adalah paham yang memisahkan sama sekali antara agama dan kekuasaan. Artinya pemerintah tidak mempunyai kepentingan untuk mengatur kehidupan umat beragama. Jelas ini paham yang mengobrak-abrik ajaran agama Islam. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam selain menjadi pemimpin agama juga sebagai kepala negara di Madinah. Kejayaan Islam selama berabad-abad juga berada di bawah kekhalifahan yang berjalan di atas rel agama. Para pengusung sekularisme sudah sejak lama berusaha membuat Indonesia menjadi negara sekuler. Namun sampai sekarang tidak berhasil, hal ini dikarenakan ajaran agama sudah melekat kuat sejak lama pada masyarakat Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia diciptakan dalam berbagai macam suku, ras, warna kulit dan berbagai perbedaan lainnya. Hal inilah yang disebut dengan pluralitas atau keanekaragaman. Namun Pluralisme Agama yang diusung oleh beberapa kalangan akademisi di Indonesia menimbulkan keraguan masyarakat akan agamanya sendiri yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama dan semuanya menuju jalan kebenaran. Mereka (para pengasong Pluralisme Agama yang mengaku muslim) menganggap Islam bukanlah yang paling benar. Teologi gombal seperti ini bahkan sudah ditolak oleh Vatikan pada tahun 2001 dengan dikeluarkannya dekrit “Dominus Jesus” oleh Paus Yohanes Paulus II. Jadi setiap agama berhak mengklaim kebenaran pada agamanya. Toleransi antar umat beragama itu tidak masuk pada tataran akidah. Sesuai dengan ajaran al-Qur’an, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” jelas dan tidak ambigu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi seperti sekarang ini liberalisasi nilai-nilai moral agama memunculkan ide-ide dekonstruktif dari lingkungan IAIN dan sejumlah perguruan tinggi Islam yang membuat moral masyarakat muslim tidak berdaya menghadapi sebuannya di media massa. Serbuan-serbuan dekonstruksi moral yang dilakukan sebagian alumni IAIN atau sejenisnya tentu saja lebih dahsyat dari pada serbuan dari luar-seperti yang dilakukan sebagian orientalis. Sebab, para alumni atau akademisi IAIN dan sejenisnya mempunyai legitimasi sebagai ‘ulama’ yang seharusnya menjaga agama, sebagaimana diamanahkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam (Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi; Adian Husaini, GIP, 2006).&lt;br /&gt;Sedangkan upaya melemahkan kekuatan umat Islam dari luar hendaknya juga diwaspadai. Amerika Serikat dan Barat tentu tidak tinggal diam dalam menanggapi prediksi Samuel Huntington bahwa setelah komunis (Rusia), ancaman bagi peradaban Amerika dan barat adalah Islam. Jika kita sering mengikuti perkembangan di Irak, Afghanistan dan Palestina maka akan tampak jelas standar ganda AS, Israel dan barat yang menyuarakan perdamaian namun menginvasi negara-negara Islam. Karena tujuan sebenarnya adalah untuk melemahkan umat Islam. Kita tahu bahwa AS dan barat berusaha keras menggagalkan proyek energi nuklir Iran sedangkan AS sendiri menggiatkan pengayaan Uranium (Republika, 27/06/2006). Secara simpel dapat kita simpulkan bahwa negara adidaya itu berusaha untuk melemahkan negara-negara Islam satu per satu. Sejak peledakan gedung WTC (11 September 2001), AS telah memproklamasikan perang terhadap terorisme dan hanya membuat dua pilihan, “Either with us or with terrorist (Bersama kami atau bersama teroris).” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat apa yang dilakukan AS dan sekutunya terhadap negara-negara Islam dapat kita tarik benang merah dengan keadaan umat Islam di Indonesia. Indonesia adalah negara besar dengan umat Islam terbesar di dunia. Beberapa waktu lalu beberapa petinggi AS dan Inggris berkunjung ke Indonesia. PM Inggris Tony Blair berkunjung ke Indonesia pada akhir Maret 2006 yang lalu. Tony Blair menegaskan maksud kedatangannya ke Indonesia adalah karena urgensi sebagai negeri muslim yang menurutnya dapat menjadi simbol penyatuan demokrasi dan Islam. Padahal dalam kesempatan lain Blair menyatakan bahwa Islam merupakan ideologi jahat/Evil Ideology (BBC News, 16/7/2005). Dalam waktu yang berturut-turut Menlu AS Condoleezza Rice dan Menhan AS Donald Rumsfeld juga berkunjung ke Indonesia. Tampaknya hal-hal seperti itu harus dicermati dengan baik oleh umat Islam. AS melalui petinggi-petinggiya berusaha meyakinkan pemerintah Indonesia agar bergabung dengan Proliferation Security Initiative (PSI). PSI adalah sebuah kerjasama keamanan permanen yang dengan itu AS dapat masuk dengan atau tanpa izin ke wilayah Indonesia dengan dalih menjaga keamanan dan memberantas teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Media Massa dan Opini Masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Peranan media massa dalam membentuk opini masyarakat sangatlah penting. Media mampu membuat sebagian besar pembacanya mempunyai pandangan tertentu dalam menanggapi sebuah pemberitaan sesuai dengan misi media tersebut. Karena itu umat Islam harus waspada terhadap segala pemberitaan yang menyangkut kepentingan umat. Dalam kasus di Purwakarta misalnya pemberitaan yang simpang siur menyebabkan terjadinya berbagai reaksi yang hampir berakibat fatal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wacana tentang Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme dapat hidup dan berkembang pesat di Indonesia juga karena jasa media massa. Para pengasongnya dengan gencar melakukan sosialisasi di berbagai media. Sehingga apa yang mereka bawa dari peradaban di luar Islam sedikit demi sedikit mempengaruhi masyarakat terutama generasi muda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dekonstruksi moral yang meracuni masyarakat berkembang pesat melalui media massa di Indonesia. Dari IAIN Yogyakarta, Muhidin M. Dahlan menulis buku memoar berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur: Memoar Luka Seorang Muslimah” (SriptaManent dan Melibas, 2005, cet. ke-7) yang memuat kata-kata: “Pernikahan yang dikatakan sebagai pembirokrasian seks ini, tak lain tak bukan adalah lembaga yang berisi tong-tong sampah penampung sperma yang secara anarkis telah telah membelah-belah manusia dengan klaim-klaim yang sangat menyakitkan.” Sungguh sebuah pernyataan yang berbahaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Playboy asal Amerika dengan sangat gigih diperjuangkan agar bisa terbit di Indonesia. Padahal masyarakat yang menolak dan menentang cukup banyak. Bahkan kantornya diisukan pindah ke Bali pada saat baru menerbitkan edisi perdananya karena banyak protes masyarakat. Tampaknya ada upaya sistematis dan terus-menerus untuk menyebarkan hal-hal yang bertentangan dengan adab dan budaya masyarakat Indonesia. Dekonstruksi moral yang pada awalnya dianggap tabu, dapat menjadi hal yang biasa bagi masyarakat bila disebarkan secara terus-meneru dan berulang-ulang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adian Husaini dalam bukunya, Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (GIP, 2006) mengisyaratkan adanya skenario dan grand design dibalik apa yang sedang terjadi pada umat Islam di Indonesia. Masyarakat harus waspada menghadapi berbagai fenomena yang terjadi. Hendaknya kita tidak mudah terpancing dan menelan mentah-mentah apa yang datang baik dari luar maupun dari dalam. Persatuan umat sangat penting untuk menghadapi berbagai arus negatif yang mengalir di masyarakat. Wallahu a’lam bishowab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di Buletin TERAS yang diterbitkan oleh Forum Silaturahmi Alumni Bahrul Ulum Tambak Beras di Kairo, dan secara iseng saya muat di sini sekedar mengumpulkan kembali tulisan2 saya yang berceceran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-8469115117751324297?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/8469115117751324297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=8469115117751324297' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8469115117751324297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/8469115117751324297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/03/umat-islam-di-indonesia-saat-ini.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-293452137289537003</id><published>2007-02-24T19:03:00.000+02:00</published><updated>2007-02-26T08:21:01.275+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;hari kedua di Luxor...(2)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Luxor, 2 Feb 2007&lt;br /&gt;Suasana segar segera memenuhi kamar 407 Hotel Karnak, tempat kami menginap begitu saya membuka jendela kamar. Pemandangan mega merah yang mulai terang dan hijaunya sawah serta kebun penduduk lokal menyejukkan mata. Kabut masih menyelimuti sela-sela daun-daun dan pepohonan di bawah sana. Kami baru saja selesai sholat subuh dan sedang menunggu makan pagi pada pukul 5.30. Guide kami mengatakan bahwa hari itu kita akan melanjutkan kunjungan lagi pada pukul 6.30.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan pagi kami semua sudah berkumpul di lobi hotel. Pagi yang dingin itu menjadi hangat dengan gurau dan canda peserta tour. Selama di Luxor selain Madam Irfat dan Madam Nadia ada seorang Guide yang akan menemani kami menjelaskan berbagai hal dalam perjalanan. Ia juga sudah menemani kami ketika mengunjungi Kuil Karnak dan dan Kuil Luxor hari sebelumnya, namanya Pak Nabil, kalau tidak salah, soalnya sudah agak lupa.:) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Lembah Para Raja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hampir tepat pukul 6.30 kami berangkat menuju Wadi el- Muluk (Valey of The Kings). Sebelum rombongan kami berangkat, bus diarahkan menuju sebuah tempat, disana beberapa kendaraan sudah menunggu. Di Mesir terutama di wilayah provinsi, semua rombongan turis harus mengikuti prosedur keamanan dengan pengawalan khusus Polisi. He..he..kayak presiden aja dikawal. Agar efisien, para rombongan turis ke Lembah Para Raja yang melakukan kunjungan pada hari itu disatukan. Tampaknya setiap kunjungan ke tempat wisata yang agak jauh dan melewati gurun harus mendapat pengawalan serupa, dan itu sudah menjadi prosedur tetap keamanan di Mesir selama ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir setengah jam menunggu rombongan lain dari berbagai negara, kami meluncur menuju Wadi el-Muluk. Saya lihat ada lebih dari 10 kendaraan baik besar maupun kecil dalam rombongan itu, ditambah dengan dua kendaraan Polisi berisi sejumlah pasukan bersenjata otomatis laras panjang, termasuk Automatic Kalashnikov 47 alias AK-47. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju Wadi el-Muluk membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Terletak di West Bank (Bar el-Gharbiy), sebelah barat sungai Nil, di mana banyak peninggalan peradaban Mesir kuno ditemukan. Tak salah bila orang menyebut Luxor, sebagai Museum Terbuka terbesar di dunia.Hotel kami terletak di sebelah timur sungai Nil, sehingga untuk mencapainya rombongan harus memutar ke selatan melewati bendungan sekaligus jembatan yang menghubungkan daratan barat dan timur sungai Nil. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemandangan yang terbentang sepanjang perjalanan sungguh sangat indah dan terasa kontras. Di sekitar sungai Nil dataran hijau membentang dengan sawah-sawah dan pepohonan sedangkan dikejauhan tampak padang pasir yang kekuningan. Keduanya membentuk sebuah lukisan alam yang indah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035172703192996786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCG5WSP27I/AAAAAAAAAI8/Z85ISGs0SfY/s400/IMG_0165.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari daerah pedesaan yang hijau kami memasuki pegunungan pasir dan batu-batu cadas. Bis yang kami tumpangi melewati sebuah jalan beraspal halus di lembah yang berkelok-kelok dengan batu cadas tinggi pada kiri kanan jalan. Akhirnya kami sampai di ujung lembah yang dikenal dengan Lembah Para Raja atau Valey of The Kings. Orang Mesir menyebutnya Wadi el- Muluk dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijuluki Lembah Para Raja karena di tempat itu banyak ditemukan makam-makam para Raja Mesir kuno dari berbagai masa dan Dinasti. Makam-makam itu digali dan dipahat pada gunung batu di sekeliling lembah. Sungguh sebuah peradaban yang sangat menakjubkan di mana belum ada peralatan modern seperti saat ini, merek dapat membangun, memahat, menggali dan menggukir bebatuan dengan tulisan-tulisan serta ornamen-ornamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Mesir tampaknya cukup perhatian terhadap peninggalan peradaban leluhur mereka. Lembah yang terletak di tengah gurun pasir dan banyak dikunjungi turis ini sudah memiliki berbagai fasilitas yang memadai. Tempat parkir kendaraan yang luas dan sebuah bangunan yang diguakan sebagai pintu gerbang masuk telah dibangun di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memasuki gerbang itu, para pelancong harus melalui pemeriksaan dengan melewati pendeteksi logam. Sedangkan semua tas yang dibawa harus masuk ke dalam sensor sinar-X yang lazim digunakan petugas keamanan di bandara. Begitu memasuki bangunan kami disambut dengan miniatur Lembah Para Raja yang tampaknya terbuat dari Fiberglass dan diletakkan dalam kotak kaca tembus pandang. Dalam miniatur itu, para pengunjung bisa melihat banyaknya lorong dan labirin yang menembus bebatuan di lembah itu.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035149351455808050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReBxqGSP2jI/AAAAAAAAAEc/qWLrL3BhdIM/s320/IMG_0004.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035149355750775362" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReBxqWSP2kI/AAAAAAAAAEk/tXqTZkqQlRE/s320/IMG_0005.JPG" border="0" /&gt;Di dalam gedung sebelah kanan ada sebuah ruangan kira-kira cukup untuk menampung 70 orang dan dilengkapi dengan kursi-kursi dan layar lebar. Ruangan itu berfungsi sebagai ruang display yang memutar film tentang sejarah, pemugaran dan hal-hal yang berkaitan dengan Lembah Para Raja. &lt;/p&gt;Keluar dari ruangan berpendingin udara itu, kami berhadapan langsung dengan sebuah lembah berpegunungan batu di sisi kiri dan kanannya. Sebuah tanah lapang beraspal tempat para turis menunggu kendaraan menuju lokasi terbentang. Hari itu suasana hiruk pikuk dan ramai sekali. Manusia dari berbagai negara berkumpul di sana. Di sebelah kanan para penjual souvenir menjajakan dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035150635651029586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReBy02SP2lI/AAAAAAAAAEs/m9tMTTBtjY4/s400/IMG_0012.JPG" border="0" /&gt; Awalnya kami kira perjalanan ke lokasi makam para raja itu cukup jauh, sehingga kami harus bayar 2 Pound Mesir untuk naik kendaraan yang disediakan oleh petugas. Ada beberapa kereta kelinci yang membawa para turis hilir mudik dari gerbang utama ke lokasi. Ketika hampir sampai di lokasi, manusia sudah memenuhi jalanan di lembah itu sehingga kereta kelinci yang kami tumpangi tdak dapat masuk lebih jauh lagi. Kami pun terpaksa turun dan jalan kaki menuju lokasi. Beberapa anggota rombongan agak menggerutu karena jarak yang ditempuh cuma sekitar 300 meter dan harus membayar 2 Pound. Padahal jika berjalan kaki tidak akan lebih dari 10 menit. Rupanya jarak itu tidak dapat kami lihat dari gerbang utama karena jalanan berkelok dan ditutupi sebuah bukit batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Cuaca saat itu cukup panas namun tidak sepanas ketika musim panas. Saya harus membuka jaket saya karena kegerahan, padahal pagi sebelum berangkat tadi udara terasa dingin. Matahari bersinar terang tanpa awan sedikitpun di langit. Ratusan turis lokal dan asing berbaur menuju gerbang kedua yang merupakan lokasi sebenarnya makam para raja Mesir kuno.&lt;br /&gt;Di gerbang kedua, orang yang masuk harus membeli tiket terlebih dahulu. Sedangkan kami langsung masuk setelah Guide kami menunjukkan rekomendasi Kementrian Pariwisata. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gerbang kedua ini hanya berupa pagar besi dan bangunan loket untuk membeli tiket. Agak ke dalam ada sebuah tempat berteduh dengan kursi-kursi untuk melepas lelah. Tempat ini dibangun bertingkat sehingga di bagian dapat berfungsi sebagai panorama view. Sebuah papan pengumuman tertulis untuk melarang pengunjung menggunakan kamera video di tempat itu. Sementara kamera foto digital hanya boleh digunakan diluar ruangan makam. Memotret tanpa izin adalah hal terlarang di dalam semua ruangan peninggalan Mesir kuno, seperti di dalam Pyramida atau makam-makam raja lainnya. Tertulis juga dalam bahasa Arab dan Inggris bahwa Guide dilarang memberikan penjelasan di dalam makam untuk dengan alasan keamanan dan kelestarian makam. Sebelum memasuki makam, Guide memberikan penjelasan tentang beberapa hal mengenai Lembah Para Raja. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di kiri kanan jalan terdapat banyak sekali pintu masuk menuju lorong-lorong makam. Saya tidak menghitung berapa jumlahnya, yang jelas cukup banyak. Mungkin untuk masuk ke seluruh lorong dan makam itu tidak cukup dalam waktu sehari. Guide kami mengarahkan rombongan menuju sebuah makam,saya lupa makam raja siapa, yang berada di tempat cukup tinggi. Untuk masuk makam itu kami harus naik sebuah tangga buatan dari besi setinggi kurang lebih 20 meter. &lt;/p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035152400882588258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB0bmSP2mI/AAAAAAAAAE0/JKMYQ23X4GA/s400/IMG_0025.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Menaiki tangga itu kami harus berhati-hati karena selain sudut kemiringannya yang cukup tajam, hari itu banyak sekali orang yang berkunjung. Satu per satu kami naik anak tangga dengan berpegang pada sebuah besi yang berfungsi sebagai pegangan. Di ketinggian ada sebuah lorong menurun. Pelan-pelan kami menuruninya, sementara di sisi lain tangga para pengunjung yang sudah selesai melihat menyemut naik. Udara di dalam lorong itu pengap dan panas meskipun sudah dipasang pengatur sirkulasi udara di semua ruangan makam itu. Banyaknya pengunjung pada hari itu membuat oksigen dalam ruangan menipis. Karena itu banyak pengunjung yang cepat-cepat keluar sebelum kehabisan nafas.&lt;br /&gt;Dalam lorong menurun itu ada beberapa ruangan kosong yang saya belum mengerti fungsi setiap ruangan itu di buat. Ada dua ruangan besar yang terletak di dasar lorong. Sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong itu terdapat sebuah peti mati yang terbuat dari batu. Peti mati itu sudah kosong. Di sekeliling dinding dan atap ruangan itu terukir Hieroglyph dan lukisan-lukisan dengan warna-warna yang masih asli sejak ribuan tahun yang lalu. Lampu-lampu menyinari setiap sudut ruangan dan tangga membantu pengunjung melewati dan melihat ukiran-ukiran di dinding. Kaca tembus pandang dipasang di sekeliling tulisan dan ukrian di dinding batu itu untuk menghindari kerusakan akibat tangan-tangan para pengunjung yang kebanyakan ingin menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berada di dalam lorong itu sekitar 5 menit dan segera naik tangga kembali untuk keluar karena tidak tahan dengan udara pengap dan panas. Peluh saya bercucuran dari dahi dan dada terasa agak sesak. Akhirnya kami berhasil keluar meskipun pengunjung lain yang baru datang masih menyemut turun untuk melihat isi lorong. Sambil menunggu yang lain keluar, kami berfoto ria dengan struktur bebatuan yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035154595610876546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB2bWSP2oI/AAAAAAAAAFE/7UJmpLsIXgM/s400/IMG_0051.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istirahat sebentar kami mengunjungi makam kedua yang terletak sekitar 200 meter dari makam yang kami kunjungi tadi. Makam ini milik Raja Tausert/Setnahkt dari Dinasti ke 19/20. Tepatnya tidak tinggi seperti makam yang pertama. Pintu masuknya lebar dengan berbagai lukisan dan Hieroglyph berwarna di kedua sisinya. Lorong itu lebar dan cukup tinggi sehingga kami pengunjung bisa leluasa memasukinya. Di ujung lorong terdapat sebuah sarkofagus (peti mati batu) yang juga telah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035154591315909234" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB2bGSP2nI/AAAAAAAAAE8/7F-_BiL_Vk4/s400/IMG_0060.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunjungi makam yang kedua itu, rombongan keluar melalui gerbang yang sama ketika masuk, hanya saja jalurnya dibedakan. Setelah keluar dari gerbang kedua, beberapa peserta tour terpisah dari rombongan karena banyaknya orang. Kami kembali naik kereta kelinci untuk kembali ke gerbang pertama dan tempat parkir, namun kali ini tanpa dipungut biaya karena ongkos yang kami bayar dihitung pergi-pulang. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kuil Hatshepsut&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah kembali ke dalam bus, rombongan diberi tahu bahwa lokasi kunjungan selanjutnya adalah Kuil Hatchepsut. Sebuah kuil atau bangunan peninggalan yang dibangun oleh seorang arsitek bernama Senmut untuk Ratu Hatchepsut, seorang Firaun perempuan dari Dinasti ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi Hatchepchut sebenarnya berada di balik gunung tempat makam para raja berada. Namun untuk mencapainya kami harus melalui jalan yang memutar di sisi pegunungan itu. Perjalanan itu ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan. Sebelum memasuki lokasi tampak di kejauhan Kuil yang besar itu dibangun dan dipahat pada sisi tebing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035160269262674594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB7lmSP2qI/AAAAAAAAAFs/xdq-gd8R2bo/s400/IMG_0070.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari bis, deretan kios-kios souvenir didirikan sepanjang jalan menuju gerbang masuk. Sama seperti di Valey of The Kings, di gerbang ini para pengunjung diperiksa, hanya bedanya tidak ada bangunan berpendingin udara. Setelah gerbang masih dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kuil sekitar 200 meter. Atau kalau tidak ingin capek, bisa naik kereta kelinci yang di sediakan. Peserta rombongan tersenyum ketika ditawari naik kendaraan atau jalan kaki oleh Guide. Dengan kompak kami menjawab, "Nahnu namsyi faqoth!" alias "Kita jalan kaki saja, Pak!" Selain karena jaraknya tidak terlalu jauh, kita juga bisa mengambil gambar ketika perjalanan. Terik Matahari yang cukup menyengat tidak membuat semangat kami kendur untuk melihat kemegahan Kuil Hatchpesut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035160264967707282" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB7lWSP2pI/AAAAAAAAAFk/TaFbCpja1p8/s400/IMG_0066.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 50 meter dari tangga masuk ada sebuah gerbang lagi untuk pemeriksaan tiket. Sambil menunggu giliran masuk saya mengambil gambar sepuasnya karena panoramanya cukup indah. Waktu itu sekitar pukul 12.00 tengah hari. Hampir saja saya lupa kalau pada hari itu biasanya saya harus pergi ke Masjid untuk sholat Jum'at karena selama di Luxor dan Aswan selain sholat shubuh kami melakukan sholat jama' dan qashar. Sombong rasanya jika tidak melaksanakan keringanan yang diberikan Allah bagi umatnya yang melakukan perjalanan jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035162768933640882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB93GSP2rI/AAAAAAAAAF0/NxkxJQZRvM8/s400/IMG_0075.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangga batu terbentang di depan kuil layaknya sebuah tangga menuju istana. Di kuil raksasa yang mempunyai dua tingkat itu banyak terdapat pilar-pilar dan patung-patung besar. Ukiran dan tulisan Hieroglyph juga tidak terlewat menceritakan keadaan Ratu Hatchepsut pada saat itu. Salah satu dindingnya menceritakan ekspedisi ratu yang dikisahkan sangat cantik itu ke Somalia. &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035162777523575490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB93mSP2sI/AAAAAAAAAF8/2oFRLVkz-rM/s400/IMG_0079.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035162777523575506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB93mSP2tI/AAAAAAAAAGE/1JaYCFOrAQQ/s400/IMG_0086.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035165908554734386" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCAt2SP2zI/AAAAAAAAAG0/tc1cU-DSpks/s400/IMG_0122.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat paling atas terdapat sebuah ruangan yang dilarang dimasuki oleh pegunjung. Ruangan itu mempunyai pintu yang tinggi namun kami tidak dapat melihat dinding di dalamnya karena tidak ada cahaya matahari yang masuk. Seorang turis membawa sebuah cermin bulat dan memantulkan cahaya Matahari ke dinding ruangan. Melalui pantulan sinar matahari kami dapat melihat lukisan-lukisan berwarna di dinding. Beberapa pengunjung berdesakan untuk melihat lebih dekat. &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035164830517943042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB_vGSP2wI/AAAAAAAAAGc/KmOkU_fTZiw/s400/IMG_0097.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035165904259767074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCAtmSP2yI/AAAAAAAAAGs/0ZhMVZLEt9A/s400/IMG_0111.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035164830517943026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB_vGSP2vI/AAAAAAAAAGU/U_w3g7o9tOM/s400/IMG_0096.JPG" border="0" /&gt; Setelah puas saya bermaksud keluar dan turun dari tingkat paling atas, namun harus berdesak-desakan untuk keluar karena pengunjung yang naik ke tingkat atas juga banyak. Di pelataran kuil itu beberapa bagian patung dibiarkan berserakan dan belum selesai dilakukan restorasi. Setelah mengambil foto-foto, rombongan kembali ke bis dan bersiap menuju tujuan berikutnya, sebuah kota kuno bernama Habu. &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035165904259767058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCAtmSP2xI/AAAAAAAAAGk/o6tvCw5JWK4/s400/IMG_0106.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035164826222975714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReB_u2SP2uI/AAAAAAAAAGM/ALjEkUy3oz8/s400/IMG_0094.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kota Habu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kota Habu mempunyai sebuah komplek bangunan yang mempunyai banyak sekali gerbang dengan tembok raksasa. Di tembok itu terukir huruf-huruf Hieroglyph dan lukisan-lukisan para Dewa Mesir kuno. Diukir juga cerita mengenai keadaan kota Habu pada masa itu.sama seperti komplek kuno lainnya di Luxor, di dalam komplek itu juga terletak banyak sekali pilar-pilar raksasa berukir dan patung-patung. Lukisan-lukisan itu masih menyisakan warna-warna yang masih asli, merah, biru, hijau, kuning dan warna-warna lain. Warna-warna itu sudah berumur ribuan tahun, namun masih awet hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035168932211710882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCDd2SP26I/AAAAAAAAAIY/MavdqYrvsfQ/s320/IMG_0160.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035167338778843970" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCCBGSP20I/AAAAAAAAAHo/0IHz71cP0Xs/s320/IMG_0130.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035168927916743570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCDdmSP25I/AAAAAAAAAIQ/RuW5hKxLN7s/s320/IMG_0157.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035167338778843986" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCCBGSP21I/AAAAAAAAAHw/6Eu4tpqRtRY/s320/IMG_0135.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035167343073811298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCCBWSP22I/AAAAAAAAAH4/VWw-A9uorXM/s320/IMG_0136.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035168923621776258" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCDdWSP24I/AAAAAAAAAII/n36uIKIgvjM/s320/IMG_0152.JPG" border="0" /&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5035168923621776242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCDdWSP23I/AAAAAAAAAIA/akbCuSGuVxY/s320/IMG_0146.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunjungi kota Habu, kami kembali ke hotel. Di dalam bis, saya merasa cukup capek dan ngantuk sekaligus lapar. Namun semua itu terobati dengan membawa foto-foto dan kenangan mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu. Agar tidak bosan, kami bercakap-cakap dan berseloroh selama perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan saya bercerita bahwa sebelum masuk ke Kota Habu dia berjalan dekat dengan kawan-kawan dari Thailand yang berjumlah 6 orang. Mereka berasal dari Pattani yang memakai bahasa Yawi, salah satu logat dalam bahasa Melayu. Sejak sampai di Luxor hari seelumnya semua yang kami kunjungi adalah kuil-kuil dan bangunan bersejarah. Ketika masuk ke lokasi Kota Habu, salah satu kawan Thailand tadi nyeletuk,"Batu lagi, batu lagi...!". Mendengar cerita itu kami tertawa karena memang sejak kemarin kita mengunjungi batu. He he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita perjalanan mengunjungi Lembah Para Raja, Hatchepsut dan Kota Habu sudah usai, namun perjalanan belum selesai sampai di sini. Ceritanya masih belum ada separuh perjalanan, jadi tunggu saja kisah perjalanan kami selanjutnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Gerbang Tiga, Madinet Nasr, Cairo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Catatan: Semua foto diambil dengan kamera BenQ DC C510, semoga berkenan dan jangan kapok bacanya....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-293452137289537003?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/293452137289537003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=293452137289537003' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/293452137289537003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/293452137289537003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/02/hari-kedua-di-luxor.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/ReCG5WSP27I/AAAAAAAAAI8/Z85ISGs0SfY/s72-c/IMG_0165.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-117169928732174814</id><published>2007-02-17T09:52:00.000+02:00</published><updated>2007-02-17T14:01:06.948+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;BUSH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUSH means BUll SHit&lt;br /&gt;He said bull shit about Afghanistan&lt;br /&gt;and killing people over there&lt;br /&gt;He said bull shit about WMD in Iraq too&lt;br /&gt;and killing people over there too&lt;br /&gt;And the same way in Somalia&lt;br /&gt;Thousands civillians have been killed&lt;br /&gt;Men, women, and children&lt;br /&gt;And now he's telling bull shit again about Iran&lt;br /&gt;He is going to kill people there too, i think&lt;br /&gt;So, who's next after Iran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Feb 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-117169928732174814?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/117169928732174814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=117169928732174814' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/117169928732174814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/117169928732174814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/02/bush-bush-means-bull-shit-he-said-bull.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-117087461373067795</id><published>2007-02-07T20:16:00.000+02:00</published><updated>2007-02-19T09:43:01.426+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalananku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;LUXOR (1)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Huahhh...setelah sekian lama ujian (untuk lima mata kuliah perlu waktu 3 minggu di Azhar), kini saatnya kembali ngeblog. Ujian term 1 tahun ini sudah selesai, sekarang mulai liburan 2 minggu, libur tengah tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu, tanggal 31 Januari 2007 yang lalu saya telah memulai sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan ke dua kota di selatan Mesir, Luxor dan Aswan. Namun untuk cerita kita kali ini, saya akan bercerita tentang Luxor telebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhT57nvqpI/AAAAAAAAAAM/ia-Oxm7mpOI/s1600-h/IMG_0002.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032864838308571794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="234" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhT57nvqpI/AAAAAAAAAAM/ia-Oxm7mpOI/s320/IMG_0002.JPG" width="309" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Waktu itu pukul 20.00 waktu Cairo, dibawah sinar bulan yang hampir purnama, saya menggendong ransel perang pinjaman dari kawan dan berangkat menuju Station Kereta Api Ramses - Cairo. Saya berangkat sendirian untuk bergabung dengan rombongan terakhir Nadi Wafidin (Klub Orang Asing) Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sedikit tentang klub ini. Nadi Wafidin ini mengakomodasi pelajar asing di Mesir yang ingin mengikuti tour ke hampir seluruh tempat di Mesir. Untuk menjadi anggotanya tidak terlalu sulit, hanya memberikan dua lembar foto, identitas diri dan uang pendaftaran sebesar EGP 60 (atau sekitar USD 10). Dengan menjadi anggotanya, kita bisa mengikuti seluruh program tour yg diadakan klub ini. Namun seringkali kehabisan tempat kalau tidak segera mendaftar. Seperti tour Luxor - Aswan ini, saya kebagian tempat di rombongan terakhir dari total 4 group. Uhh..hampir saja terlambat. Oh ya, dengan menjadi anggota klub ini, kita juga bisa hemat sekitar 30 % biaya dibandingkan ikut travel atau rombongan lain. Karena Nadi Wafidin adalah sebuah lembaga di bawah naungan Kementrian Pariwisata Republik Arab Mesir, selain itu banyak fasilitas khusus untuk anggota yang tidak bisa didapatkan jika bepergian melalui biro travel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke perjalanan, sesampai di Stasiun Ramses saya menemui banyak teman seperjalanan dari berbagai negara Yaman, Siria, Aljazair, Mauritania, Thailand, Turki, Vietnam, Kazahkstan, Uzbekistan, dan 8 orang kawan dari Indonesia sendiri yang kebanyakan baru saya kenal dalam tour ini. :) Guide kami, Madam Irfat dan Madam Nadia mengecek para anggotanya satu persatu sebelum berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun Ramses yg semula dingin dan mengigil, seakan menjadi hangat ketika kami mulai saling berkenalan, berfoto dan bertukar nomor HP, jaga-jaga barangkali saja tertinggal dari rombongan agar tetep bisa komunikasi. Padahal kebanyakan dari kami sebelumnya belum saling kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta dengan kursi wana biru yang kami tumpangi bertolak menuju Luxor pukul 23.00. Wah, nyaman juga naik kereta kelas Bisnis di Mesir, cuma saya rasakan jalannya tidak secepat kereta api di tanah air. Mungkin cuma sekitar 60 km/jam. Seorang pengendara sepeda motor saja bisa mengimbangi kecepatan kami, bahkan melebihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di samping kursi saya, mahasiswa Universitas Cairo asal Vietnam, namanya Chan Than Dat. Panggilannya Dat. Ia baru dua minggu di Cairo untuk belajar bahasa Arab. Namun selama perjalanan kami lebih sering menggunakan bahasa Inggris. Soalnya, buat dia bahasa Arab percakapan masih membuatnya kikuk. Sebenarnya bisa, tapi membutuhkan waktu yg lebih lama dan lebih banyak tenaga. :) Wah jadi ngelantur.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan selama 13 jam akhirnya kami sampai di stasiun Luxor. Tak berapa lama sebuah Bus menjemput kami menuju Hotel Karnak. Sebuah hotel bintang 3 yang cukup nyaman. Kolam renang, kafetaria, meja billiard tersedia di sana, sayang sekali cuaca dingin, keinginan saya untuk berenang pun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhWoLnvqsI/AAAAAAAAAAk/CvbLDyi6kPE/s1600-h/IMG_0004.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032867831900777154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhWoLnvqsI/AAAAAAAAAAk/CvbLDyi6kPE/s320/IMG_0004.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat itu pukul 12.30 waktu Luxor, kami langsung dapat kamar dan istirahat menunggu makan siang pukul 13.30. Ada kejadian menarik sewaktu istirahat, salah satu teman kami terkunci di kamar mandi selama sekitar 15 menit, karena kunci KM tiba-tiba macet. Untunglah petugas hotel segera datang, kalau tidak bisa terlambat makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luxor adalah sebuah kota tua, yang pada masa Mesir kuno disebut dengan Thebes. Dalam bahasa Arab, Luxor disebut dengan Al-Aqsor atau Al- Uqsur. Luxor disebut juga sebagai Museum Terbuka Terbesar di Dunia, karena disana banyak sekali penginggalan berupa Kuil-kuil dan bekas peninggalan Mesir kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan siang dan istirahat sebentar, pukul 14.30 kami berangkat menuju Kuil Karnak yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari hotel. Kuil Karnak dimulai pembangunannya pada abad ke-16 sebelum Masehi. Hampir 30 Firaun yang mempunyai andil dalam pembangunannya. Komplek kuil Karnak ini dipersembahkan untuk dewa Mesir kuno, Amon-Ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhY8bnvqtI/AAAAAAAAAAs/1Sv7cZ0gRLY/s1600-h/IMG_0015.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032870378816383698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhY8bnvqtI/AAAAAAAAAAs/1Sv7cZ0gRLY/s320/IMG_0015.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Memasuki komplek kuil, deretan patung kambing yang sedang duduk menyambut di kiri dan kanan jalan masuk. Kemudian, sebuah gerbang raksasa terbentang dengan ukiran dan tulisan-tulisan Hieroglyph. Meskipun dinding sebelah kiri belum terselesaikan pembangunannya, sehingga dinding debelah kanan lebih tinggi. Tidak jelas mengapa pembangunannya belum selesai. Gerbang seperti ini banyak sekali terdapat di Aswan dan Luxor, besar dan megah. Karena itu Luxor dikenal juga dengan kota seratus Gerbang. Di dalam komplek ini saja ada sekitar 10 gerbang dengan ukuran yang berbeda, semuanya berukuran raksasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dibelakang gerbang kuil, terdapat sebuah area cukup luas dengan beberapa patung raksasa berdiri di sana. Diantaranya adalah patung Ramses II dan istrinya Nefertari. Ramses II inilah yang membangun pilar-pilar raksasa setinggi kurang lebih 20 meter dan garis tengah sekitar 1.5 meter. Jumlahnya berapa saya lupa, yang jelas ada lebih dari 20 buah pilar masing-masing berjarak sekitar 3 meter satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032876984476085058" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rdhe87nvq0I/AAAAAAAAABk/nGSJPFPw5SM/s400/IMG_0038.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhZ3rnvquI/AAAAAAAAAA0/PetbDLw2qts/s1600-h/IMG_0020.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032871396723632866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhZ3rnvquI/AAAAAAAAAA0/PetbDLw2qts/s320/IMG_0020.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di belakang pilar-pilar yang tak beratap ini ada dua buah Obelisk, orang Mesir menyebutnya Masallah. Dua Obelisk ini mempunyai ketinggian masing-masing sekitar 21 meter dan 29 meter dan berat sekitar 143 dan 320 ton. Menurut Guide kami, ada satu Obelisk yang dibawa ke Roma setinggi 30 meter. Obelisk adalah sebuah tonggak yang dibuat dari batu utuh, berbentuk seperti pensil segi empat yang ujungnya lancip. Di keempat sisinya terdapat tulisan-tulisan Hieroglyph. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang membuat saya kagum dari kebudayaan Mesir kuno adalah setiap membangun suatu bangunan mereka pasti menuliskan sesuatu hingga memenuhi dindingnya untuk menceritakan berbagai keadaan mengenai pembangunannya, siapa yang membangunnya dan untuk maksud apa pembangunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelah kanan komplek utama terdapat sebuah danau kecil, mereka menyebutnya Danau Suci. Danau kecil berbentuk segi empat ini digali oleh Tuthmosis III, yang digunakan untuk prosesi mensucikan diri pada masa itu. Ada banyak hal yang belum saya ketahui tentang kuil Karnak, sehingga tidak dapat saya ceritakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032872775408134898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhbH7nvqvI/AAAAAAAAAA8/C--tUPo9aic/s320/IMG_0027.JPG" border="0" /&gt; Bukhairah Muqaddasah atau Empang Suci Firaun:) &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Tempat kedua yang kami kunjungi sore itu adalah Kuil Luxor. Jaraknya sekitar 2 km dari Kuil Karnak. Suasana senja membuat kuil itu tampak megah dengan bayang-bayang dan lampu kekuningan di setiap sudutnya yang mulai menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032877620131244882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rdhfh7nvq1I/AAAAAAAAABs/da1wQbOX718/s400/IMG_0058.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu beda dengan Kuil Karnak, Kuil Luxor juga mempunyai gerbang yang tinggi dan megah, juga patung-patung dan pilar-pilar raksasa. Hanya tata letaknya yang berbeda. Komplek Kuil Luxor lebih kecil daripada komplek Kuil Karnak. Kuil Luxor dibangun oleh Amenhotep III dan Ramses II di tepi sebelah timur Sungai Nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan gerbang tinggi, ada sebuah Obelisk terpancang dan dua buah patung raksasa Ramses II sedang duduk. Menurut Guide kami, sebenarnya ada dua Obelisk, namun sekarang hanya tinggal satu yang masih berdiri. Memasuki gerbang kami disambut dengan patung-patung dan pilar-pilar raksasa seperti di Kuil Karnak.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032878096872614754" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rdhf9rnvq2I/AAAAAAAAAB0/cLZNv_tN3wU/s400/IMG_0061.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa Pagan, kuil ini menjadi tempat Gereja Kristen pada masa Romawi yang ditandai dengan beberapa Lukisan Gerejawi di beberapa dinding kuil. Kemudian ketika datang masa Islam, dibangun Masjid Abu el-Haggag pada abad ke-13 yang sampai sekarang masih digunakan. &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032878869966728050" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rdhgqrnvq3I/AAAAAAAAAB8/YemCuBc-sYk/s400/IMG_0087.JPG" border="0" /&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032879612996070274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhhV7nvq4I/AAAAAAAAACE/7SNihGImf-E/s400/IMG_0079.JPG" border="0" /&gt; Masjid Abu el-Haggag di Kuil Luxor &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kami baru keluar dari Kuil Luxor setelah gelap malam mulai menyelimutinya, namun lampu-lampunya memberikan kesan yang indah pada ornamen, pilar-pilar dan patung-patung di dalam kuil. Apalagi, saat itu cuaca cerah dan udara tidak terlalu dingin, dan dilangit sana bulan tanggal 14 mengalunkan melodi purnama. Saya mencoba mengambil gambar bulan dengan framing patung atau dinding kuil, sayang sekali kamera yang saya bawa masih terlalu sederhana, sehingga gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032880012428028818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhhtLnvq5I/AAAAAAAAACM/x6jqgX_TKRE/s400/IMG_0082.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Saat liburan begini, hampir semua tempat wisata di Luxor dan Aswan dipadati turis lokal maupun asing. Kalau para turis itu harus beli tiket masuk, pemimpin rombongan kami Madam Irfat hanya menunjukkan surat jalan dari Kementrian Pariwisata, hehehe alias gratis.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032880467694562210" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhiHrnvq6I/AAAAAAAAACU/ZDgxDpexzLc/s400/IMG_0103.JPG" border="0" /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032881571501157314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhjH7nvq8I/AAAAAAAAACk/uO9v4yVPzqM/s400/IMG_0129.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Dari kuil Luxor, kami kembali ke hotel untuk beristirahat malam itu. Tidak ada jadwal lagi, para peserta tour bisa bebas memanfaatkan waktu. Mau jalan-jalan, duduk di kafetarian atau tidur di kamar. Pada saat di hotel seperti ini adalah saat terbaik untuk mengisi baterai kamera, HP dan memindahkan isi memory card ke laptop kawan. Perjalanan esok hari masih panjang, tapi memori kamera saya sudah penuh.Untunglah, kawan saya Sudarmawan bawa laptop, jadi memory card saya yang cuma 128 MB bisa dikosongkan kembali untuk besok.&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5032882374660041698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/Rdhj2rnvq-I/AAAAAAAAAC0/iFbSP3XOEXs/s400/IMG_0137.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri jalan-jalan sebentar di sekitar hotel sehabis makan malam, lalu kembali ke kamar dan tidur di kamar 407 Karnak Hotel. Kami dapat kamar triple-bed dengan dua kawan, Saiful Bahri dan Kastawi yang baru saja pulang ke Indonesia seminggu setelah tour ini. Kastawi yang orang Palembang itu, tahun ini berhasil menyelesaikan program S-1 di Al-Azhar. Selamat ya Wi!&lt;br /&gt;Dan sekarang cerita perjalanan hari pertama sudah usai, tapi belum semuanya usai. Ceritanya masih panjang...jadi tunggu saja kelanjutannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam dari Gerbang Tiga, Kairo&lt;/p&gt;&lt;p&gt;18 Februari 2007&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-117087461373067795?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/117087461373067795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=117087461373067795' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/117087461373067795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/117087461373067795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2007/02/luxor-1-huahhh.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/RdhT57nvqpI/AAAAAAAAAAM/ia-Oxm7mpOI/s72-c/IMG_0002.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116681943894452409</id><published>2006-12-22T22:27:00.000+02:00</published><updated>2006-12-22T22:48:42.016+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;strong&gt;IBU&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Apa kabarmu hari ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;~Teruntuk Ibuku tersayang dan seluruh ibu di dunia~&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hari Ibu, 22 Desember 2006&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116681943894452409?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116681943894452409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116681943894452409' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116681943894452409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116681943894452409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/12/ibu-apa-kabarmu-hari-ini-teruntuk.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116475685300769221</id><published>2006-11-29T01:30:00.000+02:00</published><updated>2007-05-20T17:54:50.278+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasehat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kata Mutiara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Ketika....</title><content type='html'>Ketika nyawa di tenggorokan...&lt;br /&gt;Rasa sesal tak terperikan...&lt;br /&gt;Kalau ampunan tak didapatkan...&lt;br /&gt;Hanya neraka tempat hukuman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Emha Ainun Najib dan KK)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116475685300769221?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116475685300769221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116475685300769221' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116475685300769221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116475685300769221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/ketika.html' title='Ketika....'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116415260185804877</id><published>2006-11-22T01:39:00.000+02:00</published><updated>2006-11-24T00:58:35.383+02:00</updated><title type='text'>Ayat-Ayat Cinta</title><content type='html'>Hatiku gerimis setelah membacanya. Begitulah kira-kira kesan saya setelah membaca karya Habiburrohman el-Shirazy, seperti yang ditulis di dalamnya. Ayat-Ayat Cinta (AAC) adalah sebuah novel yang bisa membuat pembacanya larut dalam alur cerita. Tokoh utama, Fahri, dalam novel ini digambarkan sebagai seseorang yang bersemangat dalam hidupnya dan bisa membuat orang iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya meringkas karya Kang Abik (panggilan akrab Habiburrohman) ini lebih sulit dibandingkan meringkas muqorror (diktat kuliah) Universitas al-Azhar. Setiap detail konfliknya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Hampir tiap bab novel yang telah dicetak lima kali dalam 3 tahun ini, terdapat ajaran moral yang tinggi. Referensi yang mengiringinya lebih dari 10 buku, termasuk al-Qur`an. Namun entah kenapa Kang Abik tidak mencantumkan al-Qur`an dalam daftar pustakanya. Novel pakai daftar pustaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali yang membedakan AAC dengan novel-novel yang lain adalah banyaknya buku rujukan. Bagi saya ajaran moral dan agama yang didasarkan pada referensi-referensinya menjadi penyeimbang novel-novel (maaf) cabul yang mulai banyak bertebaran di Indonesia. Hal-hal yang dianggap tabu di kampung saya untuk dibicarakan sekarang dibungkus dengan label sastra oleh beberapa penulis. Bukankah lebih baik dinikmati saja dan tidak perlu diumbar? Dalam AAC kita akan menemukan bahasa yang lebih santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, agar tidak melebar akan sedikit saya ringkaskan alur novel best seller ini. Fahri Abdullah adalah pemuda kampung yang sedang menempuh program Magister di Universitas al-Azhar, Kairo. Sebelumnya ia juga mendapat gelar sarjananya juga dari al-Azhar. Sudah 7 tahun ia belum pernah pulang ke kampungnya, sebuah desa di Jawa. Untuk ukuran Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir), ia termasuk lancar dalam menempuh studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahri adalah seorang yang aktif. Jadwal kegiatan sehari-harinya sangat padat hingga terkadang kesulitan untuk membuat janji baru. Sebagai mahasiswa S2 al-Azhar Fahri cukup sibuk walaupun sudah tidak aktif di organisasi. Selain mempersiapkan tesis, Fahri juga sering diminta mengisi khutbah Jum’at di Masjid Indonesia Kairo Ia juga harus menyetor bacaan dan hafalan Qur’annya pada seorang Sheikh yang cukup mashur di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahri terlahir bukan dari kelarga berada sehingga ia dituntut bisa mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia menerjemahkan literatur-literatur berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Selama ini ia mendapatkan kontrak dari penerbit di Jakarta. &lt;br /&gt;Menempati sebuah flat, Fahri tinggal bersama empat kawannya.di Hadayek Helwan, lokasi yang jauh dari komunitas masyarakat Indonesia. Ia bertetangga dengan keluarga Kristen Koptik yang mempunyai seorang anak gadis bernama Maria. Fahri dan kawan-kawannya telah menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan keluarga Maria sejak beberapa tahun mereka tinggal di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam terjadi keributan dalam keluarga salah satu tetangga mereka. Seorang gadis Mesir diusir oleh keluarganya karena suatu sebab. Fahri yang tidak tahan dengan suara tangisan perempuan, menyuruh Maria untuk menolong Noura, nama gadis itu. Maria mengajak Noura untuk masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui kejadian tersebut, ayah Maria menginginkan Noura untuk pindah ke tempat orang yang seakidah, karena takut terjadi salah pengertian dengan keluarga Noura yang muslim. Salah faham yang akan terjadi dapat meluas menjadi sebuah permasalahan besar menyangkut umat Islam dan Kristen Koptik di Mesir yang selama ini hidup rukun dan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Fahri meminta Nurul -seorang mahasiswi Indonesia- untuk menampung dan menyembunyikan Noura dari keluarganya sambil mengorek informasi tentang sebab pengusirannya. Nurul adalah ketua Persatuan Mahasiswi Indonesia di Mesir (WIHDAH).&lt;br /&gt;Tokoh aku (Fahri) digambarkan sebagai seorang yang sabar dan berpengetahuan luas. Selain Bahasa Arab, ia juga menguasai bahasa Jerman dan Inggris. Pertemuan dengan Aisha dan tiga turis Amerika membuktikan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah insiden di Metro (kereta bawah tanah) Fahri dan Aisha berkenalan. Fahri membantu Aisha yang terpojok dalam konflik dengan orang Mesir. Fahri menjadi penengah dan berhasil menyelesaikan masalah tanpa menyakiti siapa pun. Aisha adalah muslimah Jerman yang masih berdarah Turki dan Palestina. Ia pun tertarik mendalami Islam dari Fahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir cerita terkuaklah bahwa Maria, Noura, Nurul dan Aisha yang mempunyai latar belakang berbeda itu jatuh hati pada orang yang sama yaitu Fahri Abdullah. Kang Abik menceritakannya dengan alur yang indah. Dipenuhi dengan detail-detail yang akan mengurangi keutuhan cerita bila dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik batin tokoh utama Fahri yang diungkapkan dalam sudut pandang orang pertama juga bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Kadang pembaca bisa dibuat sedih, suatu saat penasaran dan kadangkala tersenyum sendiri. Seakan kita ikut merasakan kelelahan Fahri berjalan saat musim panas di atas 40° Celcius atau bagaimana gemetarnya Fahri ketika akan berjumpa calon istrinya. Kita juga seakan dibawa memasuki penjara bawah tanah Mesir ketika Fahri dimasukkan ke dalamnya-yang menurut saya lebih dramatis dari apa yang digambarkan Kang Abik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar tempat yang digambarkan Kang Abik mengenai Mesir, terutama Kairo, cukup detail. Dengan membaca AAC kita jadi tahu seberapa luas pengetahuan penulisnya tentang Kairo. Bagi orang yang pernah tinggal cukup lama di Kairo novel ini bisa menjadi nostalgia tersendiri. Di dalamnya banyak dituliskan istilah-istilah bahasa Arab gaul atau dikenal dengan istilah Arab ‘Ammiyah. Bahasa Jerman dan Inggris membuat perwatakan tokoh utamanya semakin lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan judulnya yang mencantumkan kata cinta, AAC juga akan membuat pembaca tenggelam dalam irama romantis sepasang kekasih. Tentu saja tanpa melanggar batas-batas moral dan syari’ah Islam. Mungkin karena tokoh dan penulisnya sama-sama Azhary (sarjana al-Azhar) yang dalam pandangan masyarakat Mesir adalah orang-orang yang terpelajar, khususnya mengenai Islam. Di sana orang-orang Azhari menjadi panutan bagi orang-orang awam. Sehingga akan sangat memalukan jika orang Azhari bersikap atau berbuat sesuatu di luar koridor syari’ah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa paragraf saya melihat sedikit kejanggalan, misalnya ketika Fahri dan kawan-kawannya makan malam bersama di atap apartemen. Sepengetahuan saya hampir semua atap apartemen di Kairo itu gelap tanpa penerangan sama sekali. Tidak diceritakan Fahri dan kawan-kawannya membawa penerangan apapun. Jadi apakah mereka menikmati ayam bakar dengan meraba-raba??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh aku seharusnya tidak mengetahui jalan pikiran atau perasaan tokoh lain. Barang kali Kang Abik lupa, misalnya ketika Maria sakit dan orang tuanya meminta bantuan pada Fahri. Bagaimana Fahri bisa mengetahui perasaan ibu Maria yang bersedih tanpa dicantumkan kalimat langsung atau tak langsung. Barangkali jika diungkapkan dengan dialog hal ini tidak akan terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membaca AAC saya pernah membaca dalam sebuah milis forum sastra yang menyebutkan bahwa tokoh aku digambarkan terlalu sempurna. Bagi saya itu sah-sah saja. Pada sampul depan dituliskan Ayat-Ayat Cinta, Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Bagaimana novel ini bisa membangun jiwa jika tokohnya tidak bisa menyindir atau membuat iri pembaca karena belum bisa seperti sang tokoh yang punya semangat dan akhlak bagus -untuk tidak mengatakan sempurna. Tidak cocok rasanya jika tokohnya mempunyai banyak kelemahan. Nyatanya Fahri juga tidak terlalu sempurna, ia juga masih banyak meminta bantuan orang lain. Barang kali di beberapa bagian, penyampaian pesan moral penulisnya, menurut saya masih agak kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada novel yang sempurna, namun sedikit kelemahan yang saya ungkapkan di atas, insya Allah tidak akan mengurangi kenikmatan membaca AAC. Sebagai novel pembangun jiwa, AAC seakan menjadi oase di tengah degradasi nilai moral masyarakat. Di dalamnya berisi toleransi antar agama dan sesama, kesahajaan seorang penuntut ilmu, cinta, dan kesabaran menghadapi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin apa yang saya tuliskan di sini sangat subjektif. Untuk menikmati sudut-sudut konflik dan romantismenya, tulisan ini sangat jauh dari cukup. Siapakah dari keempat tokoh perempuan yang akhirnya mendapatkan cinta Fahri? Akan anda temui dalam Ayat-Ayat Cinta. Selamat membaca!(FZ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasr City-Cairo, 23 Januari 2006&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116415260185804877?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116415260185804877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116415260185804877' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116415260185804877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116415260185804877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/ayat-ayat-cinta.html' title='Ayat-Ayat Cinta'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116336561518752268</id><published>2006-11-12T21:21:00.000+02:00</published><updated>2006-11-12T23:30:00.600+02:00</updated><title type='text'>Antri di Al-Azhar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sejak pagi sudah siap-siap berangkat ke kuliah, siapkan "baju perang" untuk menahan dingin udara bulan November. Senjata yang terdiri dari paspor dan kertas-kertas penting lainnya disiapkan. Bukan untuk perang tapi untuk membuat "karneeh" alias Kartu Tanda Mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jam 9.00 waktu Kairo dah siap tempur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Baru saja membuka pintu, udara dingin langsung menerpa wajah "cesss", membuat malas keluar rumah. Musim dingin begini paling enak meringkuk di bawah selimut. :)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Sampai di halte langsung nunggu kendaran tempur terbuat dari seng, bis bernomor "80 Coret", atau "65 kuning". Asal tahu aja meski jelek dan mirip "blek krupuk", dua kendaraan ini jadi favorit Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Walaupun berdesak-desakan, kalau dua bis itu datang jadi rebutan. Apalagi pagi hari sampai siang. Maklumlah, cuma itu yang murah meriah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Belum sampai lima menit untunglah 65 kuning dengan gagah menjemput pasukan tempurnya yang mau berangkat kuliah. Langsung saja menghambur, biar dapat tempat. Benar saja, seperti biasa, berdesakan dan penuh dengan penumpang. Sudah biasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Kalo musim mahasiswa baru begini banyak copet bergentayangan, meski tidak seganas di Indonesia. Pernah kejadian, ada copet yang berhasil merogoh dompet kawan orang Indonesia. Tapi ketahuan, wes, langsung aja bak...buk..bak...buk...gubrak..... Kebetulan waktu itu dalam bis banyak kawan Indonesia yang rata2 udah "&lt;em&gt;gethem-gethem&lt;/em&gt;" sama copet Mesir (apa yah bhs Indonesianya &lt;em&gt;gethem-gethem&lt;/em&gt;? Yang jelas ciri2nya muka merah padam, dan gigi gemeretak dan terkatup erat:) . Selain mhs Indo, ada juga orang Mesir yang ikut mukulin. Wuih, bis sedang berdesakan, dan mereka berebut mukulin, pas di depan saya yang waktu itu masih berdiri dekat tangga pintu belakang. Untungnya kemudian bisnya berjalan pelan di belokan dan si copet langsung melompat keluar, wah kalo nggak pasti babak belur. Waktu itu saya langsung mefet-mefet ke belakang, takut kena pukulan maut salah sasaran. Gak ikut memukul, gak tau kenapa, mungkin waktu itu gak tega. Padahal kalo mendengar berita kawan kena copet juga ikut "&lt;em&gt;gethem-gethem&lt;/em&gt;". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Dua puluh menit kemudian sampai di Husein, langsung jalan 200 meter dan masuk ke kampus. Waks, kaget antrian dan panjangnya belasan meter, yah kurang pagi. Maklum tiap awal tahun Azhar yah seperti ini. Kalo urusan "ijro'at" alias ngurus administrasi mesti ngantri, istilah Mesirnya "thobur". Wah jadi agak males-males mau. Akhirnya nunggu di bawah pohon sambil baca buku dan jadi pengawas aja....hehe...Nunggu antrian agak berkurang, capek berdiri terus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Thobur adalah makanan sehari-hari di Al-Azhar, mau daftar kuliah thobur, mau bikin karneh thobur, mau ngurus visa thobur, beli diktat kuliah aja thobur...pokoknya hampir semuanya harus antri. Dan jangan dikira antri hanya satu atau dua jam, ada juga pengalaman kawan-kawan yang antri dari jam 8 pagi sampai 2 siang, eh urusan belum selesai, nah lho...berani coba? Kalau saya sih belum separah itu...paling parah ngantri sih sekitar 4 jam-an itu pun urusan selesai, alhamdulillah. Biasanya kalo lagi ngantri saya harus menyiapkan kondisi lahir batin biar ngantrinya enak...Secara lahir badan harus sedang fit (hehe smua orang juga tau), senjatanya bawa buku biar gak bosen dan yang paling penting adalah batin...cie.. Setiap kali ngantri saya nikmati aja, enjoy gitu dan kuncinya adalah sabar. Apalagi di Mesir, jadi bagi siapa saja kalau mau ke Mesir siapkanlah senjata ampuh bernama "Sabar". Saat-saat antri tidak jarang yang main serobotan...nah ada juga yang main dorong-dorongan. Iya, kadangkala kayak anak TK gitu. Dan inilah fenomena antri di lembah sungai Nil. Kalo udah gitu senjata tadi ampuh banget loh....Meski begitu kalau ada yang nyerobot aku ingetin aja, kalo masih ngeyel ya udahlah, keluatlan senjata super dan anggap yang tadi anak kecil yang nggak bisa diomongin. Kenyataannya yang sering nyerobot adalah orang-orang Mesir dan tampaknya mereka orang-orang &lt;em&gt;baladi&lt;/em&gt; alias dari pelosok kampung "ujung dunia":). Ada juga sih orang kita yang saya lihat main serobotan tapi nggak banyak, biasanya yang lagi putus asa dan takut nggak selesai urusan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalo saya sih nyantai aja yang penting nggak nyerobot dan nggak bikin orang mangkel, karena saya sendiri kadang mangkel kalo diserobot orang. Kalo urusan nggak selesai karena loket udah ditutup yah pulang, yang penting nggak meninggalkan mangkel. Enjoy the life!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Cerita serobotan, jadi inget kejadian 2 tahun yang lalu. Waktu itu ngantri buku, dah ngantri agak panjang. Tiba-tiba datang orang Mesir satu per satu gak mau ngantri maunya dapat cepet. Karena berdesak-desakan akhirnya petugasnya marah-marah dan menutup loketnya. Huh, sempat kesel juga. Tapi aku tahu kebiasaan petugas itu, entar lagi juga dibuka lagi kalo para penyerobot itu dah mau ngantri atau pergi. Aku bertahan untuk tidak meninggalkan posisi sambil ngobrol sama orang Afrika yang ada di depanku. Niatku sih sambil nyindir para penyerobot yang kebetulan ada di dekatku tadi biar mau antri. Aku dan kawan dari Afrika tadi nyantai aja ngobrol, kenapa kok yang lain gak mau antri? Kan kasihan kawan-kawan yang dah antri lama. Terus aku bilang aja kalo di negaraku orang ngantri itu tertib dan bisa diatur, dan kawan Afrika tadi menimpali dengan perkataan yang sama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Orang Mesir di sebelahku yang tampak bandel, cuek-cuek aja memandangi kami. Akhirnya aku agak kesel juga, nih orang kok bergeming. Akhirnya aku membandingkan dengan negara-negara maju dan aku bilang,"Bahkan di negara non-muslim aja mereka mau ngantri....". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rupanya orang Mesir di sampingku merasa tersindir. Dengan muka agak merah bilang ke saya, "He, omongan kamu berbahaya....!". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku diam aja, dan hanya kutatap matanya. Dalam hati bilang,"Kelakuan ente yang berbahaya, nggak mau antri, nggak bisa diatur dan bikin orang lain marah!!!" Tapi nggak kuucapkan, kayaknya dia sudah cukup merasa tersindir. Sudah seperti itu pun tampaknya belum sadar juga, ia masih nggak mau ngantri ketika loket dibuka lagi. Oalah, Mesir...Mesir....ada-ada aja.....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Al-Azhar, kampus tercinta memang unik. Salah satu universitas tertua di dunia yang kayak ilmu pengetahuan terutama keislaman. Tapi kalau urusan &lt;em&gt;ijro'at&lt;/em&gt; masih payah, masih membuat mahasiswanya mengeluh. Maklum aja data-datanya kebanyakan masih manual, komputerisasi masih belum menyeluruh di al-Azhar. Meski begitu yang bikin heran data-data mahasiswa lengkap dan tersimpan dengan baik, padahal jumlahnya ribuan orang. Herannya dari dulu nggak berubah, masak Majma' Buhust al-Azhar as-Syarief (Lembaga Riset al-Azhar) belum mengetahui dan menyentuh masalah ini? Atau tanya kenapa? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Kembali ke kuliah...Duduk di bawah pohon dan baca buku hampir satu jam-an, antrian nggak berkurang, bahkan tambah panjang,heh? Sampai azan Dzuhur berkumandang dari Masjid al-Azhar, akhirnya ketemu kawan diajak sholat dan makan. Yah udah...sholat dulu, kali aja nanti masih ada waktu ngantri. Kalo nggak yah besok aja hari Selasa datang lebih pagi....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Habis sholat kembali ke kampus, dan lumayan antrian tinggal sedikit, dan akhirnyasetelah berjibaku dan berdesak-desakan, sampai juga di depan loket...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya hari itu cuma ambil formulir kemudian bayar uang kuliah (yang cuma LE 65 setahun), abis itu kartunya jadi sepuluh hari lagi....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Petugas di loket ini mukanya tampak suntuk, dari pagi ngurusin mahasiswa yang berdesak-desakan. Sempet juga tadi terdengar dia marah-marah, udah biasa denger yang kayak gitu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Di depan loket langsung terjadi dialog dengan "Syu'un Tullab" (Pegawai Urusan Mahasiswa), bukan Syu'un mie putih kecil-kecil semrawut..........:P&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ST (Syu'un Tullab)&lt;/strong&gt; : Mau apa?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aku&lt;/strong&gt;: Mau bikin kartu, pak...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ST:&lt;/strong&gt; Berapa nomor induk kamu?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aku:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Itna 'asyar alaaf&lt;/em&gt; .....(maksudku 12203, karena lupa habis berdesakan tadi, langsung aku keluarkan kertas lalu aku kasih dia...) Nih, pak lihat sendiri....!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ST:&lt;/strong&gt; Mana foto kamu?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(waks, pake foto juga? Perasaan biasanya ngambil formulir dulu habis itu foto menyusul)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aku :&lt;/strong&gt; Aduh Pak, lagi gak bawa...lalu bla...bla...bla (ngerayu biar, kali aja boleh..he..he).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;ST:&lt;/strong&gt; (dengan muka galak) Nggak bisa...semuanya harus pake foto....!!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Aku:&lt;/strong&gt; (Apess...mana di belakang orang udah dorong-dorong)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br&gt;Ya udah lah, balik kanan maju....jalan!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oalah.............&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116336561518752268?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116336561518752268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116336561518752268' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116336561518752268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116336561518752268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/antri-di-al-azhar.html' title='Antri di Al-Azhar'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116314487702837797</id><published>2006-11-10T09:14:00.000+02:00</published><updated>2006-11-10T10:38:14.476+02:00</updated><title type='text'>Tersenyum Sejenak Ala Mesir</title><content type='html'>Sebuah kisah nyata....&lt;br /&gt;Kawan saya bercerita bahwa suatu ketika ia naik taksi bersama beberapa kawan lainnya.&lt;br /&gt;Sang sopir yang orang Mesir asli ini kayaknya pemarah, tapi kocak dan agak nyentrik.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan, di sebuah jalan tiba-tiba ada mobil yang dengan seenaknya nyelonong (memotong jalan atau menyalip kurang tahu ;), sehingg membuat sopir taksi itu mengumpat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira dialognya begini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sopir Taksi&lt;/strong&gt; : &lt;em&gt;Enta ya khumar!!!!&lt;/em&gt; (Hei,...keledai lu!!!!)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kawan Saya&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Aho..aho...ya sawwa' kullu mashriyyin khumar ya'ni?&lt;/em&gt; (Hei Pak Sopir, apa semua orang Mesir itu keledai?)&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;(Dengan PeDe dan dingin sang Sopir menjawab....)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sopir Taksi&lt;/strong&gt; : &lt;em&gt;La'a Ana Hishon!!!&lt;/em&gt; (Nggak kok, aku kuda!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Kalo ada orang Mesir bilang &lt;em&gt;ya khumar!!!&lt;/em&gt; berarti dia sedang mengumpat..... :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116314487702837797?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116314487702837797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116314487702837797' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116314487702837797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116314487702837797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/tersenyum-sejenak-ala-mesir.html' title='Tersenyum Sejenak Ala Mesir'/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116260251920353564</id><published>2006-11-04T02:42:00.000+02:00</published><updated>2006-11-04T03:36:46.190+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Rumahku dan Sekitarnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, aku tinggal di sebuah flat bersama 4 orang kawan. Sebuah flat sederhana di lantai dasar sebuah gedung berlantai 6. Umur gedung ini mungkin hampir seumuran denganku, tapi entahlah aku tidak tahu berapa tua gedung ini. Gedung ini berdiri kokoh di samping sebuah jalan raya Kairo di bilangan Hay el-Asyir, Nasr City. Nama kampung yang kami tinggali juga cukup unik, Swissry. Diambil dari pengucapan Arab untuk Switzerland. Konon gedung-gedung apartemen di daerah ini proyeknya didapat dari pinjaman pemerintah Swiss. Tapi itu kabar yang ku dengar, kebenarannya masih harus dicek lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang Mesir memang suka menyebut negerinya sebagai Umm el-Dunya, Ibunya Dunia. Entah kenapa mereka menyebut negerinya seperti itu. Di Mesir banyak sekali nama-nama tempat yang mengadopsi nama tempat lain di dunia ini. Seperti El-Menia untuk Jerman, Maidan Libnan untuk Lebanon Square, Hadiqah Yabaniah (Taman Jepang), bahkan mereka membuat sebuah taman yang mempunyai miniatur ciri khas negara-negara di dunia. Anda bisa berfoto dengan latar belakang patung Liberty kecil atau kincir angin Belanda di sana. Mereka menyebutnya Hadiqah el-Dauliyah atau Taman Internasional, meskipun aku sendiri merasa agak kesal karena Indonesia tidak kutemukan di sana. Bukankah Presiden Soekarno adalah kawan karib Presiden Gamal Abdul Nasser? Tapi biarlah, suka-suka yang buat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bekas kemesraan Indonesia - Mesir yang dikenal sampai sekarang adalah buah mangga. Mereka menyebutnya mangga Sukarnu (orang Arab susah ngomong "O" dan "P"). Konon bibit mangga itu pertama kali dibawa oleh Presiden Soekarno dan berkembang hingga kini. Pernah juga aku melihat papan nama jalan menuju Alexandria bertuliskan Shari’ (Jalan) Ahmad Soekarno. Hehe bikin semakin bangga jadi orang Indonesia....&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa yang patut menjadi contoh dari orang Mesir adalah kecintaan mereka pada negerinya. Sehingga kebanyakan mereka lebih suka membeli produk lokal dari pada barang impor. Meskipun tampaknya sekarang mulai berubah. Anak-anak muda Mesir sekarang sedang gandrung produk-produk luar negeri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kawan-kawan Indonesia seringkali merasa jengkel akibat terlalu cintanya orang-orang Mesir pada negerinya, terutama orang-orang Baladi (orang kampung). Mereka seringkali terasa terlalu berlebihan membanggakan negerinya. Jika sudah begitu ada baiknya ditanggapi dengan bercanda saja, dari pada makan hati. Chauvinisme yang kadang terlalu. Memuji negeri sendiri kelewat batas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada pengalaman unik....Suatu ketika seorang kenek Tramco (angkot) mengagumi negerinya dengan mengatakan Mashri umm el-dunya (Mesir Ibu Dunia). Saya dan kawan-kawan yang jadi penumpang pada waktu itu langsung menimpali, "Andunisi abuha" (Indonesia Bapaknya). Ia langsung mendelik dan tidak setuju.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu kami katakan,”Loh kasihan dong, masak punya Ibu nggak punya Bapak?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ia tampak berpikir sejenak lalu tersenyum tanda setuju. Hehe…kena kamu. Dan kejadian saperti ini tidak hanya sekali dua kali, tapi sering dan kami punya senjata untuk menandinginya, seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/1600/Senyum%20Kampung.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/320/Senyum%20Kampung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali ke rumah kami, di samping rumah kami terdapat sebuah ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan ruang kamarku, 3 kali 4 meter, bahkan kelihatannya lebih kecil. Dalam kamar itu juga termasuk dapur dan kamar mandi. Dan di ruangan itu tinggallah sebuah keluarga dengan 6 anggotanya. Mereka adalah keluarga Bawwab (penjaga gedung apartemen) yang menjaga sekaligus menjadi pembersih di gedung yang kami tempati. Sha’ban, istrinya, ibu mertuanya yang sudah tua, serta tiga anak mereka Walied, Mona, dan Halimah. Mereka berasal dari kampung di Provinsi Bani Suwef. Sudah bertahun-tahun mereka tinggal di Kairo, aku tidak tahu sejak kapan mereka di situ. Mungkin sejak gedung ini berdiri seperti kebanyakan Bawwab lainnya. Mereka dibayar dari uang yang dikumpulkan dari penghuni gedung sebesar 30 Pound Mesir (sekitar lima puluh ribu Rupiah) tiap flat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(&lt;em&gt;Gambar di atas adalah foto Sya'ban, waktu itu ada kamera lalu saya suruh senyum dan klik....he..he&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di gedung yang kami tinggali ada 24 flat, namun beberapa tampaknya tidak dihuni. Tapi gini2 dalam rumah Sya'ban lengkap ada televisi 14 inch, ada lemari es, ada mesin cuci dan kompor gas, bahkan baru2 ini mereka beli HP Nokia men....wuih......Kalo di kampung saya nggak ada yang kayak gini nih...tipi aja boro2. Tapi rata2 penjaga gedung di Kairo emang kayak gini sih. Meski rumah sempit tapi dalamnya lengkap, apalagi kalo di jaga apartemen elit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sha’ban adalah seorang buta huruf , umurnya sekitar 40-an. Ia selalu memakai jalabiyah (jubah) khas kampung Arab dengan sorban yang dililitkan di kepala. Seringkali ia menumpang untuk menelepon di rumah kami. Biasanya ia akan meminta kami menekan digit-digit telepon dari kertas bertuliskan nomor telepon yang ia bawa. Kadang aku geli juga dengannya, kalau menelepon minta tolong memijit nomornya tapi kalo soal hitung menghitung duit, tanpa kalkulator pun sudah mahir. Jika menelepon suaranya keras, kalau di kampungku desibel sebesar itu udah dianggap berteriak-teriak. Dulu pertama kali kukira ia marah-marah, tapi ternyata begitulah nada bicara kebanyakan orang Arab. Pada dasarnya ia baik, namun kadang juga menjengkelkan, tidak punya sungkan. Pernah kutegur karena nyelonong begitu saja ketika baru saja kubukakan pintu, atau ketika menelepon lebih dari 10 menit. Dasar Arab…pati nggenah. He..he…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Istrinya juga buta huruf. Tapi lebih halus dari suaminya. Mungkin perangai seorang Ibu. Tapi tetap saja nada suaranya tinggi ketika menelepon. Kami sudah terbiasa. Kami sering berbagi bumbu dapur dengan keluarga itu. Ketika kami kehabisan bawang merah tinggal menyampaikannya lewat jendela, begitu juga ketika mereka kehabisan gula, wajahnya akan nongol di jendela dapur. Transaksi itu sering kami lakukan jika malas keluar atau ketika perlu cepat. Sehingga keakraban antara kami terjalin. Dengan anak-anaknya pun kami kenal baik.Walied kini sedang menempuh kuliah tahun pertama di fakultas teknik. Entah di univeritas mana. Inilah salah satu yang aku kagumi dari Mesir, pendidikan murah dan mendapat prioritas. Aku memimpikan akan terjadi di negeriku, Indonesia. Negeri yang jauh lebih luas dan lebih subur dari pada Mesir yang sebagian besar hanya gurun pasir gersang. Bahkan buku-buku banyak dijual murah melalui program Ibu Negara Suzanna Mubarok, Maktabah Usroh (Pustaka Keluarga). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Umur Walied sekitar 19 tahun. Ia seorang yang ramah dan kakak yang baik bagi adik-adiknya. Aku tidak tahu apakah Walied anak pertama atau tidak. Kata senior-seniorku ia punya kakak perempuan yang tinggal di kampung. Aku sendiri tidak pernah bertanya tentang itu. Ia menjadi tempat kami bertanya ketika kesulitan memahami bahasa Arab atau Ammiyah (Bahasa Arab Gaul). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mona adalah adik Walied, umurnya sekitar 17 tahun, sedang belajar di Madrasah Tsanawiyyah (setingkat SMU) jurusan Elektronika. Pernah kami menanyakan tentang tempat penjualan sebuah komponen Magic Jar kami yang rusak. Tampaknya ia belum tahu, tapi dengan senang hati dibawanya komponen itu ke sekolah dan bertanya pada gurunya. Ia juga peramah tapi agak pemalu. Wajarlah, tetangga yang tinggal di dekat rumah kecilnya cowok semua sih. He-he…&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Halimah adik Mona adalah seorang ABG yang masih duduk di Madrasah I’dadiyyah (setingkat SMP). Dua tahun yang lalu ketika pertama kali tinggal di sini, ia seorang gadis kecil yang agak nakal. Suka usil dan bernyanyi keras-keras. Sekarang lebih mirip kakaknya, pemalu.Sedangkan nenek mereka tidak pernah ku dengar bicara. Lebih sering di dalam kamar. Sha’ban bilang ia sering sakit-sakitan. Mereka adalah keluarga yang cukup baik. Sha’ban meskipun ia buta huruf tetapi terus mendorong anaknya untuk giat belajar. Anak-anaknya pun rajin-rajin. Mereka biasanya belajar di luar. Di depan kamar, Sha’ban membuat tempat duduk dari semen dan pasir berukuran sekitar 1,5 kali 3 meter. Di atasnya digelar tikar plastik. Walied dan adik-adiknya sering belajar di situ. Bisa dianggap di situlah ruang keluarga bagi mereka. Di malam hari Sha’ban dan Walied bergantian tidur di luar dengan selimut tebal. Jika malam ini Walied, besoknya ayahnya yang tidur di luar, begitu seterusnya bergantian. Selain itu mereka ikut bertanggung jawab atas keamanan gedung dan para penghuninya, terutama yang tinggal di lantai dasar seperti aku dan kawan-kawan. Karena pernah juga ada orang yang berusaha mencuri jemuran pakaian kami. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kawan-kawan yang pernah tinggal di rumah kami pasti akrab dengan keluarga tersebut. Bahkan kawan yang sudah lama pulang ke tanah air pun mereka masih ingat. Mereka sering bercerita tentang orang-orang yang tinggal di rumah ini. Sudah belasan tahun rumah ini disewa oleh mahasiswa Indonesia secara turun temurun. Angkatan yang baru menggantikan mereka yang kembali ke tanah air dan seterusnya. Selain posisinya strategis dekat jalan besar, tuan rumah kami termasuk murah memberi harga sewa. Sekarang saja harga sewa flat kami 400 pound per bulan, sementara rumah-rumah lain di daerah itu sewanya paling murah 500 pound (1 pound sekitar 1700 rupiah), bahkan ada yang menawarkan sampai 1000 pound sebulan dengan fasilitas lengkap. Tuan rumah kami yang seorang janda mengatakan sudah 13 tahun ini ia tidak menaikkan harga sewa rumahnya. Ia tidak mengatakan sebabnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bersebelahan dengan rumah kami sekitar 10 meter, ada sebuah Masjid. Namanya masjid Shahabah. Masjid yang selalu ramai dengan jamaah ketika sholat, siang dan malam. Masjid itu tidak punya imam tetap sehari-harinya namun punya imam tetap untuk Sholat Jum’at. Tampaknya imam itu tinggal jauh dari daerah kami. Sehingga ia datang pada hari biasanya menjadi Imam pada hari Kamis, Jum’at dan Sabtu. Sedangkan hari-hari lainnya para jamaah yang mempunyai bacaan lebih bagus dan hafal Qur’an bergantian menjadi imam. Sehari semalam sholat lima waktu tidak pernah kurang dari tiga baris. Yang menjadi jamaah pun bermacam-macam. Aku sering menerka dari mana mereka berasal dari bentuk wajah, bahasa dan pakaian yang mereka pakai ketika bicara dengan kawan sesama negaranya. Sehingga aku terbiasa menerka orang-orang yang kujumpai di kampus maupun di mana saja sejak aku tinggal di Kairo, walaupun kadang meleset.Bermacam bangsa, bahasa dan warna kulit bersatu dan berbaur ketika sholat berjamaah. Aku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan ketika di kampung. Ada orang USA, Inggris, Perancis, Rusia dan negara-negara pecahannya, Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Pakistan, Maladewa, negara-negara dari benua hitam Afrika, dan yang terbanyak orang-orang Arab. Tidak ada diskriminasi, tidak ada masalah dengan warna kulit, dan rasisme akan mentah di masjid Shahabah. Semua sama di hadapan Allah. Sungguh indah. Kalau ada waktu silahkan datang ke tempat kami.Lucu juga ketika melihat orang Inggris dan Perancis bercakap-cakap satu sama lain. Mungkin karena merasa sama-sama dari Eropa mereka tampak lebih akrab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu saat saya melihat mereka bercakap-cakap. Orang Inggris itu tidak bisa bahasa Perancis begitu sebaliknya. Mereka terbata-bata menggunakan bahasa Arab karena belum lancar. Aku terenyum simpul, beginilah kalo bule-bule bicara bahasa Arab, tampak kesusahan. Tapi tidak sedikit juga yang aku lihat lancar, terutama mereka yang sudah lama tinggal di Mesir. Kebanyakan mereka membawa keluarganya untuk hijrah ke Mesir karena ingin belajar Islam dan bahasa Arab lebih dalam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu ketika ada seorang muslim Perancis yang membuat saya terharu dengan kegigihannya. Namanya Badr, seorang lumpuh yang harus berjalan dengan kursi roda. Jenggotnya hitam lebat, umurnya sekitar 30-an. Pertama kali ia hanya sholat di depan tangga Masjid. Kemudian para jamaah lain tahu hal itu, sehingga mereka menolongnya dengan mengangkat kursi rodanya melewati tangga agar ia bisa sholat di dalam masjid. Biasanya ia ditemani Isa, seorang "Bilal bin Robah" asal Inggris yang juga kawan serumah Badr. Beberapa hari kemudian Isa membuatkan landasan dari kayu di atas tangga agar bisa dilewati kursi rodanya. Itu lebih memudahkannya. Pada dasarnya ia berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun ketika naik Isa masih membantunya, namun ketika turun ia berusaha sendiri. Pernah suatu ketika aku memegang kursi rodanya agar dia tidak tergelincir ketika turun, tapi ia menolaknya. Kursi roda itu aku lepas lagi untuk menghormatinya. Aku faham perasaannya. Ia tentu ingin berusaha sendiri sebisa mungkin, dan ia memang tidak jatuh, mungkin sudah pengalaman. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Badr rajin sholat di masjid, bahkan saat subuh dingin mengigit tulang.Aku pernah memuji negaranya, Perancis adalah negeri yang indah. Ia malah menyangkal, “Oh tidak saudaraku, di sini lebih baik, aku bisa beribadah lebih tenang. Di Perancis banyak maksiat.” Malah ia mengatakan ingin hijrah ke Mekkah agar bisa mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ketika berjamaah di Masjidil Haram. Oh, aku terkesima. Semangat hidup terpancar jelas dari kedua matanya. Senyumnya yang selalu tersungging mengiringi semangat itu. Membuatku malu dengan keadaanku yang tanpa kursi roda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari aku minta doa dari Badr karena akan menghadapi ujian. Ia berjanji akan mendoakanku dan menyarankanku untuk memelihara sholat malam. “Sholat malam akan membuatmu kuat dan tenang, aku sudah merasakannya,” Oh, sebuah pelajaran yang tak akan ku lupa dari seorang Badr, bule Perancis itu. Namun sudah satu bulan lebih aku tidak melihatnya lagi berjamaah. Aku juga tidak tahu ia pindah atau kembali ke negaranya karena Isa juga tidak terlihat. Waktu itu aku segan mencari tahu karena aku sendiri sibuk mempersiapkan ujian. Yang belum terpenuhi sebelum Badr pergi adalah kami saling beziarah ke rumah masing-masing. Aku pernah menolak tawarannya untuk berkunjung ke rumahnya karena besok akan ujian. Rupanya kesempatan itu tidak datang dua kali, karena aku makin banyak kegiatan. Semoga Allah selalu melindungimu, Badr.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salam Hangat dari Gerbang Tiga, Kota Nasr, Kairo&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;ditulis tanggal 26 April 2006 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116260251920353564?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116260251920353564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116260251920353564' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116260251920353564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116260251920353564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/rumahku-dan-sekitarnya-sekarang-aku.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116252223149901297</id><published>2006-11-03T04:28:00.000+02:00</published><updated>2006-11-03T04:50:31.510+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/1600/Masjid%20Ibnu%20Thoulun%202.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/320/Masjid%20Ibnu%20Thoulun%202.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ISENG 2 GRATIS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keisengan saya adalah jeprat-jepret dengan kamera. Jika jalan-jalan ke suatu tempat tanpa bawa kamera seakan-akan ada yang kurang. Hati gelisah, keluar keringat dingin, dan nggak tenang....&lt;br /&gt;Oleh karena itu beberapa hasil iseng saya akan saya pajang di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan buat menghias blog saya yang cukup polos ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di samping ini adalah salah satu sudut Masjid Ibnu Thoulun. Sebuah masjid kuno yang terletak di Misr al-Qadimah (Mesir Lama). Daerah ini adalah kota awal berdirinya Kairo pada masa permulaan pemerintahan Islam di Mesir. Sekarang Masjid besar ini tidak digunakan lagi, dijadikan museum. Masuk masjid boleh pake sepatu asalkan sepatu/alas kaki dibungkus dulu dengan kain yang disediakan oleh penjaga Masjid. Masjid ini punya ciri khas menara yang punya arsitektur model Irak dengan tangga menara berada di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/1600/Masjid%20Ibnu%20Thoulun%201.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/320/Masjid%20Ibnu%20Thoulun%201.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masjid ini bentuknya seperti benteng yang bagian tengahnya terbuka tanpa atap. Ditengah-tengah "lapangan" masjid ini ada tempat wudhu yang berbentuk seperti kubah (gambar 1).&lt;br /&gt;Kata penjaganya, dulu di dalam kubah itu mengali air seperti air mancur yang digunakan untuk berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan tampak pemandangan Benteng Sholahuddin dan Masjid Muhammad Ali (Masjid Alabaster) yang terletak di ketinggian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali saya tidak bisa naik ke atas menara karena pintunya sedang dikunci.&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan situs kuno dan gedung-gedung di Mesir, aslinya masjid ini agak kusam dan berdebu, namun fotonya udah sedikit diolah digital, jadi lebih berwarna, sedangkan satunya saya buat hitam putih biar tampak klasik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116252223149901297?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116252223149901297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116252223149901297' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116252223149901297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116252223149901297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/11/iseng-2-gratis-salah-satu-keisengan.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116172391968160081</id><published>2006-10-24T21:40:00.000+02:00</published><updated>2006-10-24T23:05:21.110+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Lebaran 1427 H dan "Tsunami" yang Membasahi Rumah Kami&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Udara di Kairo mulai sejuk, pertanda musim gugur menjelang. Tidak seperti musim gugur di Eropa dengan daun berguguran di jalanan, di Kairo musim hanya ditandai dengan udara yang mulai dingin. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebaran 1427 H di Kairo dirayakan pada hari Selasa, tanggal 24 OKtober 2006. Di malam harinya  yang - kalau di Indonesia-  di penuhi takbir, tahmid dan tahlil di masjid-masjid dan surau, tapi di Kairo tidak ada tradisi semacam itu. Tidak ada takbir keliling kampung bawa obor. Tidak ada, kebanyakan senyap dalam rumah dan masjid tetap terkunci seperti sebelum Ramadhan. Takbiran hanya ada selepas Shubuh sampai Sholat Ied didirikan. Itu pun dengan nada yg - menurut saya- "garing" dan tidak semerdu di Indonesia. Datar dan kurang mengalun. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam itu juga setelah berkumpul dengan kawan-kawan, diiringi rekaman takbiran ala Indonesia dari komputer, aku mulai mengeluarkan selimut tebal yang sudah sekitar 6 bulan terbungkus rapi di bawah bufet. Sekitar jam 2 dini hari baru terlelap setelah melahap Mie Aceh buatan seorang kawan serumah asal Bireuen, NAD. Kenyang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi-pagi sehabis subuh, dengan mata masih mengantuk, telingaku mendengar suara kawan-kawan yang ribut. Ada yg nyeletuk "banjir...", ada yang iseng sambil membangunkan aku, "Bangun ada tsunami masuk rumah....". Duh, ono opo seh? Langsung aja aku bangun. Hah, karpet ruang tengah kok jadi basah? Karpet kamar sebelah dan ruang tamu juga ikut basah dan air menggenang di beberapa tempat. Untungnya air nggak masuk ke dalam kamarku. Loh, Tsunami dari mana nih? Seketika ngantukku buyar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam waktu beberapa detik kami menurunkan tim investigasi dan mereka berhasil menemukan penyebabnya, aku langsung masuk kamar mandi, wudhu lalu sholat shubuh, keburu telat. Laporan dari tim investigasi menyatakan bahwa penyebab "tsunami" yang membasahi karpet di beberapa bagian flat kami adalah adanya gempa tektonik dari kran wastafel dapur, dengan kekuatan yang belum diketahui, diperkirakan terjadi pukul 04.00 sampai kepergok saksi mata sekitar pukul 05.15..hehe.. jadi laporan ahli geologi campur pengungkapan kasus kriminal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singkatnya tadi malam air ledeng tidak mengalir, lalu ada penghuni rumah yang buka kran dan belum ditutup. Akhirnya ketika air mengalir langsung meluber keluar wastafel yang penuh dengan cucian piring kotor. Akhirnya tsunami membasahi rumah kami. :)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selesai sholat subuh, kami serumah akhirnya kerja bakti mengeringkan karpet dan mengepel lantai. Hmm, lebaran yang penuh berkah dan benar-benar beda dengan tahun-tahun sebelumnya, plus acara ngepel rumah. Beberapa kawan yang semalam ikut nginep di rumah kami, akhirnya juga diterjunkan ke TKP untuk mengatasinya. Untungnya sholat Ied yg diadakan KBRI agak siang, sekitar pukul 08.00, jadi masih bisa dijangkau. Selain itu tempatnya juga dekat rumah, jalan kaki cuma 5 menit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sehabis ngepel dan menjemur karpet di samping rumah Bawwab (Penjaga Apartemen), kami pergi ke Masjid Assalam, lokasi Sholat Ied bagi warga Indonesia. Masjid ini pada pagi harinya dipakai orang Mesir untuk sholat, lalu gantian khusus orang Indonesia dengan khutbah berbahasa Indonesia. Dari 4000-an WNI di Mesir, diperkirakan sekitar 70 % lebih hadir dalam acara tahunan itu. Diperkirakan juga sekitar 3000-an kotak nasi dengan berbagai menu dari Sabang sampai Merauke ludes dalam dua jam, hehe..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika khotbah Ied selesai, semua yang hadir langsung menuju taman dan tenda di belakang masjid yang telah tersedia nasi kotak dengan berbagai menu. Yang tidak ada adalah ketupat, opor ayam, lepat ketan dan sambal terasi. Tes...dan liur pun menetes. Kalaupun ada ketupat, itu hanya untuk hiasan dan terbuat dari pita warna-warni. :P &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sambil makan-makan,  kami semua bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan dengan sedikit berdesakan ketika masuk. Meskipun berdesakan suasananya ceria sekali, benar-benar khas tanah air. Sehingga sedikit sudah bisa melupakan tsunami di rumah. :P Kalo sudah begitu, kenangan berlebaran di tanah air berseliweran di kepala. Memang tidak ada yang mengalahkan suasana lebaran di kampung halaman. Udah di luar negeri masih saja teringat, jadi suasananya dibuat semirip mungkin seperti di kampung. Laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, diplomat, mahasiswa, pekerja, orang Aceh, Medan, Padang, Jambi, Palembang, Jakarta, Sunda, Jawa, Madura, Banjar, Lombok, orang Sulawesi sampai orang Papua (yang gak disebut jangan marah) semuanya bermaaf-maafan. Nah ini dia yang gak bisa di dapat di kampung. Ketemu dengan orang-orang dari hampir seluruh Indonesia adalah suatu berkah berlebaran di Kairo, dan tentu saja makanannya juga dong...Silahkan makan sampai kenyang... (kalo persediaan masih ada-Red). :)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain bermaafan dan silaturrahmi plus makan-makan, kami foto bareng sebagai kenang-kenangan. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini WNI di Kairo berlebaran tanpa Dubes karena Dubes baru belum juga datang. Namun tidak mengganggu kekhidmatan dan lezatnya makanan Idul Fitri kali ini.:)  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selesai sholat - sekitar pukul 11.00, biasanya kami pergi ke rumah kawan-kawan atau pejabat KBRI yang kita kenal untuk shilaturahmi. Atau mau pilih opsi yang kedua, pulang ke rumah dan istirahat sampai jam 14.00 lalu sorenya baru bertandang ke rumah kawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang Mesir sendiri menyambut Idul Fitri tidak semeriah di Indonesia. Warga Mesir lebih meriah ketika menyambut Ramadhan dan Idul Adha. Pada Idul Fitri kebanyakan mereka akan memenuhi tempat-tempat wisata atau berkumpul dan makan-makan bersama keluarga di rumah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat meraih kemenangan, taqobballahu minna wa minkum, shiyamanaa wa shiyamakum, kullu aam wa antum bikhoir, minal aidin wal faidzin, maafkan segala khilaf dan salah, kmbali suci di hari yang fitri......&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salam hangat di musim gugur Kairo,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selasa, 1 Syawal 1427 H/24 Okt 2006&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116172391968160081?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116172391968160081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116172391968160081' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116172391968160081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116172391968160081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/10/lebaran-1427-h-dan-tsunami-yang.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116136422663133107</id><published>2006-10-20T18:43:00.000+02:00</published><updated>2006-10-20T19:10:26.660+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ibadah Kita Kurang Penting dibanding Buang Air?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tak tahu mengapa dalam otak saya tiba-tiba muncul sebuah pikiran seperti judul di atas. Rasanya saya baru sadar bahwa saya sendiri sering merasakan hal itu. Saya teringat petuah seorang ustadz, jadikanlah ibadah itu sebuah kebutuhan, jangan sampai ibadah kita kalah dengan kebutuhan kita ke kamar kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo ingat itu rasanya seperti cambuk buat saya, kadang-kadang kita berlambat-lambat pergi ke Masjid atau pada saat sudah menginjak waktu sholat. Tapi kalo ke kamar kecil, mau nggak mau detik itu harus pergi. Karena ke kamar kecil adalah kebutuhan yg tidak boleh tidak selama kita masih hidup.&lt;br /&gt;Artinya bagaimana menjadikan ibadah itu sebuah kebutuhan yang tidak boleh tidak. Kebutuhan kita akan ibadah sebagai hamba Allah. Ya kebutuhan kita....karena Allah tidak butuh sholat kita, Allah tidak perlu puasa kita, tanpa kita menyembahNya pun Keagungan dan ke-Maha Besar-an Allah tidak akan berkurang sedikit pun. Kita lah yg memerlukan untuk beribadah kepadaNya. Sudah kewajiban kita sebagai makhluk yg diciptakan oleh-Nya untuk beribadah kepadanya. Wallahu al'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tulisan ini saya post biar bisa jadi pengingat diri sendiri yg sering lupa dan lalai.&lt;br /&gt;Sekalian mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H, kullu 'aam wa antum bikhoirin, taqobbalallahu minna wa minkum.&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116136422663133107?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116136422663133107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116136422663133107' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116136422663133107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116136422663133107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/10/ibadah-kita-kurang-penting-dibanding.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-116054632245617523</id><published>2006-10-11T07:57:00.000+02:00</published><updated>2006-10-11T07:58:42.473+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Matikan HP-mu!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum usai ku ulukkan salam terakhir&lt;br /&gt;jingle bell berdering dalam masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-116054632245617523?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/116054632245617523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=116054632245617523' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116054632245617523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/116054632245617523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/10/matikan-hp-mu-belum-usai-ku-ulukkan.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-115948305533815157</id><published>2006-09-29T00:08:00.000+02:00</published><updated>2006-10-04T00:01:29.530+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Tarawih, di Indonesia dan di Mesir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan, bulan penuh berkah dan bulan yang menjadi favorit kaum muslimin untuk berburu di ladang amal. Selain puasa, ibadah khas bulan Ramadhan &lt;span &gt;adalah sholat Tarawih. Sholat yang dilaksanakan setiap selesai mengerjakan sholat Isya' selama bulan ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Umat Islam melaksanakan sholat tarawih sebanyak 8 rakaat atau 20 rakaat. Ada perbedaan pendapat dalam jumlah rakaatnya. Tapi, hal itu sebaiknya tidak menjadikan perpecahan dan perselisihan dalam umat. Silahkan melaksanakan mana yang kita anggap paling mantap di hati kita. Yang paling mengkhawatirkan adalah yang paling sering berdebat dalam hal jumlah rakaat tapi tidak melaksanakannya. Yah, sama saja bohong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil saya suka melaksanakan tarawih di surau kecil dekat rumah. Tapi biasanya pilih-pilih, kalau imamnya agak lambat biasanya bolos atau pergi ke masjid yang imamnya cepet. Bisa dibilang tarawih di masa kecil hampir sama lah memilih tiket kereta, cari yang express. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah di Kairo, suasananya berbeda sekali dengan di tanah air. Kalau di Indonesia dulu pada saat awal Ramadhan masjid-masjid dan mushola penuh dengan jamaah, saat pertengahan surut sedikit demi sedikit, bahkan satu shaf saja tidak penuh. Nanti kalau mau lebaran penuh lagi.&lt;br /&gt;Sedangkan di Kairo, setiap hari selalu penuh, bahkan beberapa masjid favorit seperti al-Azhar, Amru bin Ash, dan Masjid As-Salam di Distrik Nasr City selalu penuh orang dan meluber ke trotoar walaupun masjid-masjid itu tergolong masjid besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih membuat suasana berbeda adalah bacaan suratnya. Kalau di kampung dulu tiap rakaat rata-rata cuma surat pendek dalam juz Amma (juz 30), namun di Mesir sebagaian besar masjid mempunyai tradisi mengkhatamkan al-Qur'an 30 juz selama bulan ramadhan tiap tarawih. Jadi imam sholat tarawih rata-rata membaca 1 juz dalam satu malam. Namun masjid-masjid favorit yang saya sebutkan diatas mempunyai iman-iman yang bagus bacaannya, sehingga walaupun (agak) lama namun jamaah tetap enjoy dan menikmati. Bahkan tidak jarang di beberapa ayat yang menceritakan ancaman siksa akhirat atau tentang dosa-dosa, imam dan para jamaahnya menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang masih agak telmi (telat mikir) dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an, masih susah untuk spontan menangis.:(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam 27 Ramadhan, di Masjid Amr bin Ash, masjid pertama di Mesir selalu ramai dikunjungi jamaah dari penjuru Kairo bahkan luar kota. Masjid besar itu bahkan tak cukup menambung jamaah yang ribuan sehingga jalanan sepanjang sekitar 500 meter di kiri-kanan masjid pun dihampari tikar dan karpet untuk sholat jamaah. Para jamaah yang ingin mendapat tempat di shaf terdepan harus berangkat sebelum Dzuhur (sama kalo mau nonton bola di stadion :P)!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat masyarakat tertarik adalah selain Imamnya adalah Syeikh Jibril yang suaranya merdu dan syahdu juga do'a qunut ketika sholat witir yang berdurasi waktu 1 jam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sedikit gambaran sholat terawih di Kairo jika dibandingkan dengan di Indonesia. Masih banyak lagi perbedaan menjalankan puasa di tanah air dan di negeri para nabi ini. Ada yang mau mencoba?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-115948305533815157?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/115948305533815157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=115948305533815157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/115948305533815157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/115948305533815157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/09/tarawih-di-indonesia-dan-di-mesir.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34866534.post-115930904906492327</id><published>2006-09-27T00:13:00.000+02:00</published><updated>2006-09-27T00:17:29.080+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/1600/fotoku.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1235/3869/320/fotoku.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca, baca, dan baca...&lt;br /&gt;Tulis, tulis, dan tulis....&lt;br /&gt;Cari, pahami, resapi, diskusikan...&lt;br /&gt;Mantapkan hati dan amalkan....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34866534-115930904906492327?l=faisal-zulkarnaen.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/feeds/115930904906492327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34866534&amp;postID=115930904906492327' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/115930904906492327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34866534/posts/default/115930904906492327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faisal-zulkarnaen.blogspot.com/2006/09/baca-baca-dan-baca.html' title=''/><author><name>Faisal Zulkarnaen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07918437717072099293</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://bp0.blogger.com/_2T5dsUNiQ00/SFhgvVfdxsI/AAAAAAAAAMQ/exx2c8-R_eo/S220/1_885781999m.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
